
Jam makan siang telah tiba. Asmoro yang berdasarkan perutnya sudah keroncongan menatap wajah Stella. Pria itu langsung berdiri dan membuka dasinya. Kemudian Asmoro mendekati Stella sambil menyapanya, "Stella."
"Ah... Iya Tuan, ada apa?" tanya Stella yang terkejut dengan kedatangan Asmoro.
"Kamu nggak makan?" tanya Asmoro sambil menghempaskan bokongnya di samping Stella.
"Aku mau makan apa ya? Aku bingung," jawab Stella yang mencium aroma maskulin dari tubuh Asmoro.
"Sebentar lagi Alexa bersama anak-anaknya akan ke sini," ucap Asmoro.
"Terima kasih Tuhan. Engkau telah mengirimkanku dua pangeran kecil dan satu bidadari kecil di hadapanku.jujur saja aku di sini sangat bosan sekali bersama Tuan Asmoro," batin Stella.
"Apa benar mereka akan ke sini?" tanya Stella.
"Iya itu benar. Mereka ke sini hanya untuk bertemu aku. Tapi aku tadi sempat bertukar pesan kepada Edward. Kalau di sini ada kamu. Kamu tahu nggak apa isi pesan itu?" tanya Asmoro yang membuat Stella penasaran.
"Aku nggak tahu. Lagian juga ponselmu berada di meja sana," jawab Stella.
"Oh iya ya... Katanya begini. Aku akan menyuruh Mama Untuk mengantarkan ke sini. Jika Mama tidak mengantarkanku. Aku berjanji akan berdemo dan tidak menyapa mama. Itulah ancaman Edward kepada Alexa," ucap Asmoro yang membuat Stella membulatkan kedua bola matanya.
"Astaga... Itu anak Sudah berani mengancam orang tua," kesal Stella.
"Kamu tahu nggak. Kalau mereka itu adalah anak yang tidak bisa menerima orang asing sekalipun. Mereka susah sekali berkenalan dengan orang luar. Saat mereka menyukai seseorang. Mereka sudah mengunci orang itu untuk menjadi temannya selamanya. Makanya kamu nggak boleh protes ngomong seperti itu. Karena kamu adalah orang yang sangat spesial bagi mereka," ucap Asmoro.
"Tapi nggak gitu kali. Kalau ingin bertemu denganku. Aku akan ke sana. Tapi aku tidak ada yang mengantarkannya," ujar Stella.
"Itu mudah. Aku akan meminta pengawalku untuk menjadi sopir pribadimu. Kamu bisa kapan saja ke sana. Tapi kamu harus berjanji padaku. Jangan pernah pergi ke pusat perbelanjaan tanpa ada diriku di sampingmu. Aku tahu mereka masih mengincarmu. Aku tidak ingin kamu terluka untuk kesekian kalinya gara-gara orang itu," jelas Asmoro.
"Kalau begitu ya sudahlah. Aku akan menurut denganmu," jawab Stella.
Ceklek.
Pintu terbuka.
Adelia dan Ian masuk ke dalam ruangan itu. Mereka melihat Asmoro bersama Stella sedang duduk bersama. Pasangan kekasih itu pun tersenyum bahagia dan menatap wajah Stella.
"Akhirnya big boss tidak menjadi jomblo selamanya," ledek Ian tanpa basa-basi.
__ADS_1
Jujur saja Asmoro sangat terkejut sekali atas kedatangan mereka. Asmara memandang Ian sambil berkata, "Harusnya kamu mendoakan aku biar cepat menikah!"
Iab hanya terkekeh mendengar sang bos kesal. Namun Ian ke sini memberitahukan ada kabar gembira. Kemudian sepasang kekasih itu pun menghempaskan bokongnya secara bersamaan dan menatap Asmoro.
"Aku punya kabar gembira," ucap Ian.
"Kabar apa?" tanya Asmoro.
"Berkas-berkas yang aku masukkan ke kantor catatan sipil ternyata sudah disahkan. Kamu dan bersama calonmu itu sudah bisa menandatanganinya. Setelah itu kamu resmi menjadi seorang suami dari wanita pilihanmu," jawab Ian yang mulai memanas-manasi keadaan.
"Memangnya Tuan Asmoro menikah dengan siapa?" tanya Stella yang penasaran dengan calon istrinya Asmoro.
"Dia adalah seorang perempuan yang sangat cantik sekali. Diam-diam perempuan itu sangat polos sekali. Jujur sepertinya gadis itu sangat cocok sekali," jawab Ian sambil memegang tangan Adelia.
"Syukurlah... Tuan Asmoro sekarang tidak sendiri lagi. Semoga saja gadis itu mau hidup bersama untuk selamanya," ucap Stella dengan tulus yang tidak sadar dengan perkataannya sendiri.
Sedangkan Asmoro tertawa dalam hati. Namun dirinya seakan mendapat sekeranjang bunga yang harum baunya. Bunga itu seakan-akan menyebar dari ujung rambut ke ujung kaki. Ingin rasanya Asmoro berteriak kegirangan. Tapi Asmoro mengurungkan niatnya agar tidak bereuforia di depan Stella.
"Ian," panggil Asmoro.
"Ada apa?" tanya Ian.
Ian menuruti perkataan Asmoro. Lalu pria itu segera mengambil ponselnya dan membuka aplikasi untuk memesan makanan.
Di lobby Martin bersama anak istrinya keluar dari mobil secara bersamaan. Mereka disambut oleh para security yang sedang berjaga.
"Selamat siang tuan Martin dan nyonya Alexa," sapa salah satu security itu.
"Selamat siang. Di mana bosmu berada?'' tanya Martin.
"Saya tidak melihat Pak bos dan asistennya keluar. Kemungkinan besar mereka masih berada di atas," jawab sang security itu.
"Kalau begitu terima kasih," ucap Martin sambil mengajak mereka masuk ke dalam.
Siang ini keadaan kantor S&T company sedang sepi. Para karyawan sudah meninggalkan kantor tersebut untuk makan siang. Lalu mereka melihat beberapa orang yang sedang berlalu lalang.
"Papa," panggil Sean.
__ADS_1
"Ada apa Sean?" tanya Martin.
"Kok sepi ya pa?" tanya Sean.
"Mereka sedang beristirahat sayang. Jadi kantor ini agak sepi sedikit," jawab Martin.
"Tapi sayang pa. Edward tidak menemukan kakak-kakak yang cantik itu yang sedang berlalu-lalang di sini," celetuk Edward yang membuat Martin matanya membulat sempurna.
Dengan cepat Martin mendekati Edward lalu menggendongnya. Martin menatap wajah Edward sambil bertanya, "Memangnya kamu mengerti di sini banyak kakak-kakak cantik?"
"Bagaimana ya aku harus mengatakannya?" tanya Edward.
"Dari mana kamu belajar bilang kata cantik?" tanya Martin yang mulai curiga.
Edward mulai cengengesan dan bingung mau menjawabnya. Dirinya menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu sambil tersenyum manis.
Melihat sang anak mulai berulah, Martin hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar. Bagaimana bisa anak sekecil ini sudah tahu kakak-kakak cantik? Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Sesampainya di lift Martin tidak melepaskan Edward sama sekali. Namun Edward ingin melepaskan dirinya tapi tidak bisa.
"Papa tahu nggak? Kalau mama itu sangat cantik sekali," ucap Edward.
"Apa yang kamu katakan sayang?" tanya Martin.
"Masak Papa nggak tahu sih, kalau mama itu sangat cantik sekali?" tanya Edward dengan nada kesal.
"Kenapa Putraku tiba-tiba saja merayu istriku?" tanya Martin dengan curiga.
"Dia memang istri papa. Tapi istri Papa adalah Mamanya Edward," jawab Edward.
Jujur Martin pusing dengan perkataan Sang putra. Ketimbang Martin melanjutkan pembicaraan yang sangat membingungkan itu. Martin memilih untuk diam.
Ketika diam Edward memandang mata sang papa. Pria kecil itu langsung mendekati telinga Martin dan membisiki sesuatu, "Papa... Bagaimana kalau mamanya buat Edward saja ya?"
"Terserah deh apa katamu. Papa pusing sekali jika berdebat denganmu," jawab Martin.
"Kalau begitu Mama biarkan saja tidur bersama kami ya. Papa akan tidur sendirian di dalam kamar. Dan keputusan aku tidak boleh diganggu gugat!" titah Edward sambil menatap wajah Martin.
__ADS_1
"Astaga... Ada apa ini bocah? Seenaknya saja meminta Alexa tidur bersamanya. Aku tidak akan membiarkan Alexa tidur bersama anak-anak. aku harus cari cara agar mereka tidak memblokade istriku. Mereka belum tahu jika istriku tidak ada di sampingku. Aku tidak akan bisa tidur nyenyak," batin Martin.