
"Makanya Kak Asmoro sangat tersakiti oleh orang lain. Bahkan jika Kak Asmoro sendiri ketika bertemu dengan wanita lain.Beliau tidak akan mau memanggilnya. Jangankan memanggilnya, lihat pun juga tidak sudi," ucap Adelia yang membuat pernyataan sesuai dengan kenyataan.
"Apa yang kamu lihat selama ini di rumah Kak Alexa memang benar. Papa Asmoro tidak tertarik sama perempuan manapun. Saat kami mencari seorang wanita buat Papa. Malah ditolak mentah-mentah," ujar Natalie.
"Tapi bagaimana dengan tipe perempuan dengan Patty?" tanya Stella.
"Patty... lewat jauh. Patty memang memiliki jiwa yang sama dengan Bella. Jadi kalau dipikir-pikir papa tidak akan menyukainya dan tidak akan meliriknya," jawab Natalie. "Papa itu memilih seorang wanita yang bisa merawatnya hingga menghembuskan nafasnya terakhir. Beliau memang tidak pernah pilih-pilih untuk dijadikan seorang istri. Tapi setiap wanita ditemuinya itu sama seperti Bella."
"Hehehe... memang sulit untuk dikatakan buat Kak Asmoro. Tapi mau bagaimana lagi," ucap Adelia yang membuat mereka menganggukkan kepalanya.
Beberapa saat kemudian, ponsel Stella berdering. Ia meraih ponselnya itu dan melihat nama yang tertera di layar ponselnya itu.
"Siapa?" tanya Dilla yang sangat penasaran sekali.
"Dia suamiku," jawab Stella. "Dia sedang mengirimkan sebuah pesan untuk menagih janji."
"Janji apa?" tanya Adelia.
"Tidak tahu," jawab Stella yang benar-benar melupakan janjinya tadi.
Ini percakapan pesan Asmoro dengan Stella.
Asmoro : "Yang... pulang dulu ke kamar."
Stella : "Ada apa sayangku?"
Asmoro : "Aku sedang menagih janji kamu."
Stella : "Janji apa sih sayangku?"
Asmoro : "Janji yang dimana janji itu bisa membuat aku berbahagia."
Stella : "Apa itu?"
Asmoro : "Berolahraga malam sampai lima ronde sekaligus."
Stella : "Perasaan aku enggak membuat janji seperti itu?"
"Asmoro : "Kamu yang membuat janji seperti itu."
Percakapan pesan itu telah berakhir. Stella segera bangun dari ranjang dan menatap mereka.
"Maaf aku harus pergi," pamit Stella.
"Sukses ya atas olahraga ranjangnya. Semoga kalian memiliki banyak anak," ucap mereka serempak dengan menyemangati Stella.
"Hehehe... semoga cepat ya," balas Stella lalu cepat-cepat pergi meninggalkan mereka.
Melihat kepergian Stella, mereka tersenyum manis. Mereka sangat bahagia sekali dan mulai membuat rencana.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita membuat kelompok Amazing Woman. Yang dimana Amazing woman yang sengaja dibuat untuk mencurahkan segala isi hati dan keluh kesah. Entah itu tentang rencana tentang penyerangan. Atau juga kita berdiskusi yang sedang happening banget, atau lainnya," ucap Natalie.
"Boleh. Lalu anggota kita?" tanya Dilla.
"Anggota kita ya cuma ini saja. Kita tanya saja sama Kak Alexa mau bergabung dengan mereka?" tanya Natalie.
"Setuju. Tapi apakah tidak mengganggu kegiatan Kak Alexa?" tanya Dilla. "Yang aku tahu sendiri adalah Kak Alexa sedang sibuk dengan restorannya."
"Enggak juga. Kalau sibuk ya berarti para karyawan maupun karyawatinya sedang tidak berada di tempat. Entah itu libur atau di mutasi ke tempat lain," jelas Natalie.
"Nanti dech kita bicarakan dengan lanjut. Soalnya kita sendiri masih belum yakin," ucap Dilla. "Stella juga belum di kasih tahu."
Mereka menganggukan kepalanya dan tersenyum manis. Lalu Dilla dan Adelia segera memutuskan untuk keluar dari kamar Jacob. Mereka memutuskan beristirahat untuk merenggangkan ototnya.
Disisi lain, Stella masuk ke dalam kamar. Ia melihat Asmoro yang sudah tidak memakai sehelai benang apapun. Kecuali boxernya yang masih menempel jelas di tempatnya dengan sempurna.
"Kamu lagi apa?" tanya Stella yang mengerutkan keningnya sambil memandang wajah Asmoro sedang berbaring meminum wine dengan elegan.
"Lagi menunggu seseorang yang sudah membuat janji kepadaku,' jawab Asmoro yang sedang tersenyum licik menandakan dirinya sedang menjebak Stella.
"Janji apa?" tanya Stella yang melepaskan jaketnya sambil kebingungan melihat Asmoro.
"Janji lima ronde hingga selesai. Malam ini aku akan diam saja. Kamu boleh melakukannya dan mendominasi permainan," jawab Asmoro sambil menaruh gelas kosong itu di atas meja.
"Apa?" pekik Stella.
Stella langsung membulatkan matanya. Ia hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar. Bisa-bisanya sang suami memiliki perasaan seperti itu.
"Hmmmp... bolehkah aku bertanya? Apa yang kamu ingat dengan janji itu?" tanya Stella yang sengaja memundurkan langkahnya.
Asmoro langsung terdiam dan melangkahkan kakinya sambil memancing Stella. Ia tidak mengatakannya sama sekali. Karena dirinya membiarkan sang istri ingat akan sendirinya.
"Sepertinya janji itu kamu ucapkan belum ada dua jam lebih. Masa kamu lupa sih?" tanya Asmoro.
"Janji apa sih Kak?" tanya Stella yang benar-benar lupa.
"Katanya aku tidak boleh menghadapi mereka. Kamu saja menghadapi mereka. Lalu jika aku memilih diam dan kamu hadapi. Lalu kamu menjanjikan aku memberikan hadiah lima ronde sekaligus," jawab Asmoro sambil tersenyum menyeringai dan menatap sayu.
Seketika Stella mengingat janji itu. Lalu Stella menundukkan kepalanya sambil menghembuskan nafasnya sambil berkata, "Mati aku!"
Jujur karena ucapannya itu, Stella sangat terkejut sekali. Ia memutuskan untuk menunduk dn tidak berani memandang wajah Asmoro.
Asmoro sendiri malah mendekati Stella. Tangannya mulai bergerak dan bergerak sambil menarik tali baju Stella. Setelah itu baju yang dipakai Stella langsung terbuka di bagian atasnya.
"Hmmmp... sangat indah sekali makhluk ciptaan Tuhan satu ini," puji Asmoro dengan suara parau.
Sedari tadi Stella menunduk, baru saja sadar kalau di balik boxernya Asmoro, ada yang ingin keluar. Ia hanya memperhatikannya saja. namun hatinya meringis. Mau tidak mau Stella langsung memberikan kehangatan terhadap Asmoro. Pasti tahulah, kehangatan yang akan diberikan Stella itu apa.
Jakarta Indonesia.
__ADS_1
Pagi yang cerah, Gio yang sedang menikmati teh hijau dan juga membaca koran terkejut membaca pesan. Gara-garanya adalah Guntur muncul secara tiba-tiba tanpa memberikan kode alam. Untung saja dirinya tidak memiliki penyakit jantung.
"Brother," seru Guntur.
"Apa-apaan kamu setan?" teriak Gio dengan suara menggelegar.
"Aku bukan setan," seru Guntur.
"Ada apa? Kamu muncul secara tiba-tiba?" tanya Gio.
"Merry telah berhasil membuat obat-obatan dengan campuran cairan berwarna biru," jawab Guntur.
Mata Gio membulat sempurna. Ia mengepalkan tangannya sambil menahan amarahnya. Ia tidak bisa membayangkan kalau obat-obatan terlarang itu beredar dengan luas.
"Hehehe... aku mendapatkan informasi tersebut dari raja Noe," ucap Guntur.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Gio. "Apakah kita bisa mengendalikan obat tersebut dalam genggaman kita?"
"Bagaimana ceritanya?" tanya Guntur.
"Lalu kami harus bagaimana?" tanya Gio balik.
"Tunggu titisannya Raja Noe kembali ke sini. Dia bahkan memiliki rencana untuk membasmi markas tersebut. Oh... ya satu lagi, kamu jangan melupakan sesuatu. Ajak titisan ratu Noe unutk menjalankan misi ini," jelas Guntur.
"Maksudnya apa?" tanya Gio.
"Nanti kamu akan tahu sendiri,' jelas Guntur yang sengaja membuat teka-teki buat Gio.
"Kamu kalau hadir memang unik ya? Kadang-kadang kamu sendiri muncul tanpa menggunakan alarm. Sekalinya hadir bisa membuat orang-orang terkejut. Bagi yang tahu. Kalau enggak begitu, kamu hadir dalam aroma parfumku yang sering aku pakai. Bahkan aromanya lebih menyengat. Kalau kata orang, wanginya itu bisa awet seminggu," omel Gio.
"Hehehe... parfumku habis. Aku belum membuatnya," sahut Guntur. "Iya ya... kenapa aku tidak mengeluarkan suara petir?"
"Gila ajha kamu.Bisa-bisanya kamu mengeluarkan suara petir di pagi hari," kesal Gio yang menatap tajam ke arah Guntur.
"Lalu apa salahnya?" tanya Guntur.
"Salah besar," jawab Gio. "Lagian juga kenapa kamu mengeluarkan suara petir yang cukup besar?"
"Hehehe... namanya juga kamu memberikan aku nama Guntur. Jadinya aku bisa mengeluarkan suara guntur dengan sangat keras sekali," jawab Guntur sambil meledek Gio yang kesal.
Gio dibuat tidak berdaya oleh sang penjaganya itu. Bisa-bisanya Guntur itu malah meledeknya.
"Lagian kalau memberikan nama yang agak bagusan dikit apa? Contohnya Gerald, Gee atau Goldy. Lha... semenjak kita bertemu, kamu sudah memanggil namaku menjadi Guntur," jelas Guntur yang tidak protes.
"Hey... kita bertemu di kantor Taurus Corps. Ketika kita bertemu, ada kejadian yang sangat menakutkan. Kejadian itu ketika ada petir yang sangat kencang. Untung saja kamu menyerang gedung aku. Jika kamu menyerang tiang listrik. Aku bisa stres setengah mati," papar Gio.
Guntur hanya bisa menghela nafasnya. Ia kalah telak berdebat dengan Gio. Memang pria paruh baya itu suka sekali berdebat dengan lawan. Hingga akhirnya sang lawan itu menyerah.
"Ada apa? Kok sedari tadi kalian ribut-ribut?" tanya Winda sembari melihat Guntur dan Gio sedang duduk berduaan.
__ADS_1