
“Ada apa kak?” tanya Raka.
“Apakah kamu ingin memiliki keinginan untuk menghancurkan aku bersama perempuan di dalam kamar?” tanya Lampard serius.
“Maksud kakak apaan?” tanya Raka balik.
“Kenapa kamu menyuruh Stella masuk ke kamarku?” tanya Lampard dengan tatapan tajam.
“Oh itu... Kak Gio yang menyuruh Stella beristirahat di kamar kakak. Jika kami membawanya ke atas, kami akan kesulitan mengangkatnya,” jawab berapa membuat mata Lampard membelalak sempurna.
Lampard tidak menyangka kalau Gio benar-benar ingin menjodohkan dirinya dengan Stella. Pria bertubuh kekar itu pun bingung setengah mati. Kenapa bisa dirinya terjebak di dalam kamar itu? Bukan terjebak tapi Gio memang sengaja meminjam kamar Lampard untuk memulihkan keadaan Stella. Lalu bagaimana dengan lainnya? Mereka tidak pusing untuk memikirkan soal itu. Mereka berharap kalau Stella cepat sembuh dan bisa berkumpul dengan Alexa.
“Aku yakin Kakak marah. Tapi adegan seperti tadi itu ternyata sangat lucu. Kakak seakan-akan ingin menyentuh Stella. Namun nyatanya cuman ambil ponsel. Kalau aku sebagai Stella pasti,” ucap Raka yang menggantung.
“Jangan kamu terusin!” bentak Lampard.
“Kenapa?” tanya Raka.
“Kamu tahu, gadis itu sudah menantangku. Coba bayangkan seorang Lampard Snowden ditantang sama gadis sialan itu,” jawab Lampard dengan kesal.
“Jangan bilang begitu. Nanti kakak jatuh cinta sama Stella. Aku yakin setelah itu bukan wanita jahat seperti bekas pacarmu itu,” ucap Raka yang memberikan nasehat untuk Lampard.
“Ternyata susah ya... Ngomong sama kalian,” sindir Lampard.
“Aku nggak menyindir Kakak. Kakak pasti tahu soal peribahasa benci tapi ujung-ujungnya cinta? Kalau nggak tahu kakak tanya gih ke Kak Gio atau Martin atau Alexa atau juga Kak Nano. Mereka sudah ngalami hal itu kok. Yang lebih parahnya lagi Alexa dulu membenci Martin... Sekarang ujung-ujungnya cinta,” ejek Raka.
__ADS_1
“Apakah kamu juga seperti itu?” tanya Lampard.
“Enggaklah. Sedari dulu awal bertemu dengan Rinda itu karena cinta lokasi. Kami kuliah di fakultas yang sama. Kami juga sering menjadi relawan bencana alam di beberapa tempat. Kami juga memiliki hobi yang sama. Kami juga memiliki makanan favorit yang sama. Tapi kami nggak pernah membenci. Kami saling mencintai satu sama lain. Itulah kenapa kami tidak memiliki kata-kata benci Tapi rindu,” jelas Raka sejujurnya.
“Masa lalu adalah masa lalu. Masa depan adalah di mana kita mempersiapkan kebahagiaan. Hari ini adalah hari di mana yang harus kita jalani. Jika Kakak terdapat masa lalu, maka kakak tidak bisa memiliki pasangan hidup. Usia Kakak sudah terlalu tua. Jika kakak tidak menikah dan mempunyai keturunan, hidup Kakak menjadi suram. Ketika sakit tidak ada yang merawat. Ketika sarapan tidak ada yang membuat. Ketika tidur tidak ada yang menemani sepanjang malam. Harusnya Kakak sekarang sudah memiliki keluarga. Apalagi usia kakak bisa dikatakan usia mencapai kebahagiaan. Kakak bisa berkumpul kepada keluarga. Anak-anak Kakak sudah bertumbuh dewasa. Sebentar lagi kakak akan memiliki seorang cucu. Apakah kakak tidak senang memiliki keluarga seperti itu? Apakah kakak nggak mau mengikuti jejak kak Gio? Yang di mana Kak Gio memiliki segalanya. Pikirkan itu Kak. Jangan terlalu mikirin musuh terus. Musuh itu tidak ada habisnya Kak. Kalau habis pun tumbuh lagi. Kakak harus semangat untuk menjalani hidup dan mencari pasangan dijadikan sebagai sandaran hidup. Aku berharap Stella bisa menjadi istri Kakak,” ucap Ibra yang melihat kesedihan tersirat di wajah Lampard.
“Sekarang jadi pertanyaan buat aku, Apakah gadis itu mau sama aku? Sementara aku sudah menjadi kakek. Inilah yang membuat aku minder untuk jatuh cinta. Jujur di lubuk hatiku yang terdalam ingin merasakan memiliki keluarga besar. Menikah, memiliki anak dan yang terakhir memiliki cucu dan cicit yang banyak. Beberapa bulan ini aku mengetes seluruh karyawan perempuanku agar terpilih untuk menjadi istriku kelak. Tapi perlakuan mereka di luar ekspektasi. Jadi aku memutuskan untuk menutup diriku sendiri,” jelas Lampard.
“Kami bukan ceramah. Kami sangat menyayangi kakak seperti keluarga sendiri. Jadi janganlah kakak menutup diri lagi. Aku yakin Kakak bisa mendapatkan perempuan yang baik,” ujar Raka yang membuat Lampard mulai membuka hatinya secara perlahan.
“Aku akan berusaha untuk mendapatkan itu semua. Kalian tenanglah... Aku tidak ingin gegabah untuk mencari pasangan hidup. Pekerjaan masih banyak bro. Dan musuh masih mengintai,” kata Lampard.
Raka dan Ibra sangat peduli dengan Lampard. Bahkan mereka mendoakan agar Lampard mendapatkan jodoh yang baik.
Jacob yang sudah memantau keadaan ruangan itu langsung terkejut. Bagaimana bisa dirinya mendapatkan tugas seperti ini. Akhirnya Jacob memutuskan untuk pergi dari sana. Sebelum pergi salah satu Pengawal mendatanginya.
“Selamat malam Tuan Jacob,” sapa pengawal itu.
“Ada berita apa?” tanya Jacob.
“Di pelabuhan ada penyelundupan besar-besaran,” jawab pengawal itu.
“Kapan itu?” tanya Jacob lagi.
“Selasa malam jam satu lagi. Ada sebuah kapal dari Meksiko merapat. Kapal itu bukan kapal pengangkut barang yang biasanya. Menurut informasi kapal itu milik Exodus,” jawab Patrick nama pengawalnya itu.
__ADS_1
“Selasa malam jam satu pagi. Sepertinya kita harus bekerja keras untuk membumihanguskan kapal Apakah Kak Gio tahu soal ini?” tanya Jacob.
“Belum tuan,” jawab Patrick lagi.
“Baiklah kalau begitu,” balas Jacob. “Apakah kamu mau bergabung ke tempat sebelah?”
“Ada acara apa Tuan?” tanya Patrick.
“Kalau kamu mau masuklah. Aku mengizinkanmu untuk bersenang-senang di dalam bersama teman-temanmu. Aku harap kamu menikmatinya,” jawab Jacob yang tidak memberikan jawaban.
“Baik Tuan,” balas Patrick.
Jacob hanya menganggukan kepalanya. Ia segera meninggalkan Patrick sendirian di ruangan itu. Lalu Patrick sangat penasaran sekali dengan ruangan sebelah itu. Akhirnya Patrick memutuskan untuk bergabung di sana. Sedangkan Jacob pergi ke ruangan Imron. Ia memaki Lampard karena misi ini terlalu menjijikkan. Jujur Jacob lebih memilih untuk mendapatkan misi yang cukup sulit. Yaitu misi di mana memperbaiki sistem keamanan perusahaan. Mau tidak mau Jacob harus melaksanakannya.
Sesampainya di ruangan Imron, Jacob memandang Gio dan Martin. Dengan wajah kesalnya, Jacob menghempaskan bokongnya di sofa. Ia mencari keberadaan Lampard tapi tidak menemukannya.
“Di mana kakek tua itu?” tanya Jacob yang kesal.
Tiba-tiba saja Gio mendengar Jacob memanggil Lampard dengan sebutan Kakek tua. Dia menahan tawanya sambil memukul Martin. Jujur Gio sangat gemas sekali kepada Jacob ketika melontarkan kakek tua. Sedangkan Martin hanya bersikap datar. Martin tahu kalau Jacob bener-bener marah kepada Lampard. Lalu Martin menyandarkan punggungnya sambil bertanya, “Apakah misimu gagal?”
“Misiku tidak gagal sama sekali. Tetapi misi kali ini sangat sangat menjijikkan. Kalau boleh memilih, aku akan mengamankan sistem perusahaan kalian,” keluh Jacob.
“Kamu tahu, misi ini adalah misi penyelamatan saudara kembar. Mereka butuh pertolongan agar bisa menikmati hidup. Semakin lama mereka ingin menguasai aset Kurumi. Selama Stella belum ditemukan, mereka masih mencarinya. Jika sudah ditemukan mereka akan memaksa Stella menandatangani berkas-berkas pergantian ahli waris Kurumi Company. Setelah mendapatkannya mereka akan menjual Stella ke Liam Knock. Aku harap kamu mengerti. Kak Lampard sengaja melakukan ini untuk membuka kedok Patty di mata fansnya. Kalau kamu mau tahu, bagaimana Patty bersikap kepada fansnya maka kamu akan terkejut. Karena sifat asli tertutupi oleh keramahannya. Dan keramahannya itu hanya dibuat-buat saja,” jelas Martin.
“Apakah itu benar?” tanya Gio.
__ADS_1