
"Jangan terus-terusan Kakak hajar. Bagian aku mana?" pinta derek yang absurd.
"Sebentar aku belum puas mengajarnya. Karena aku sangat kesal ketika dia mengejekku sebagai kakek lemah," jawab Lampard yang benar-benar kesal.
Gio memperhatikan Derek agar suruh diam sebentar. Gio juga merasakan betapa sakit hatinya sang adik dikatakan kakek lemah. Penyusup itu belum tahu kalau Lampard memiliki stamina yang kuat. Bagi yang belum merasakan melawan Lampard, maka urungkan niat kalian terlebih dahulu. Sekali pukul Lampard bisa membantai lima orang sekaligus.
"Ternyata kak Lampard sangat ganas sekali Jika sudah menghajar orang itu," kata Derek yang mengiris.
"Makanya kamu ikhlasin saja kalau sang penyusup itu dihajar oleh kakakmu itu," bisik Gio yang melihat gaya Lampard menghajar orang secara brutal.
"Kalau begitu baiklah. Aku akan melakukannya lain kali saja," ucap Derek pasrah.
"Apakah kamu masih mengejekku sebagai kakek lemah! HA!" teriak Lampard yang tidak terima.
"Ampun emak! Aku salah Mak!" teriak penyusup itu sambil berteriak kesakitan.
"jangan pernah meremehkan orang seenaknya! Meskipun usia aku paruh baya, aku selalu berolahraga demi menjaga stamina!" bentak Lampard.
"Maafkan aku!" lirihnya.
"Sekarang gue tanya sekali lagi! Lu dari organisasi apa?" tanya Lampard.
"Apakah tuan akan membunuh saya jika aku berkata jujur?" tanya penyusup itu.
"Tergantung. Kalau lu jujur. Gue bisa mengecek dari mata lu. Lu bohong apa jujur!" tegas Lampard.
"Maafkan aku sebelumnya. Aku adalah pria biasa yang tidak memiliki skill pertarungan apapun. Sumpah demi Tuhan!" ucapnya lagi.
"Kenapa lu mau jadi anggota mafia? Kalau lu enggak bisa apa-apa? Bukannya anggota mafia memiliki skill untuk bisa bertarung?" tanya Lampard.
"Aku disuruh sama seseorang bruk mengikuti Tuan Gio kesini," jawabnya.
__ADS_1
"Apakah kamu mengenal Tuan Gio?" tanya Lampard yang curiga.
"Tuan Gio adalah atasanku. Aku hanya diperintah seseorang untuk mengikuti Tuan Gio ke manapun pergi," jawabnya dengan jujur.
"Lalu kenapa kamu mau?" tanya Lampard yang sangat penasaran dengan penyusup itu.
"Karena aku memang membutuhkan uang tuan. Istri saya sedang hamil dan akan melahirkan bayi kembar tiga. Sementara itu aku tidak punya biaya untuk operasi," jawabnya dengan jujur.
Lampard menatap mata pria itu dengan penuh serius. Ia tidak menemukan suatu kebohongan di dalam bola mata sang penyusup.
Akhirnya Lampard memutuskan untuk membantu pria itu. Lalu Lampard melihat Gio sambil mendekat, "Bagaimana ini kak?"
"Jika dia pegawaiku, kenapa dia menjadi pengkhianat?" tanya Gio balik.
"Aku tidak mengerti kak," jawab Lampard. "Tapi di matanya tidak ada kebohongan semata. Ia sangat jujur mengatakannya," jawab Lampard dengan serius.
"Kalau begitu terserah kamu. Kalau kamu ingin menolongnya, tahan pria itu sampai semuanya aman. Aku lihat pria itu sangat lugu dan terlampau polos. Jika dirinya dimanfaatkan berarti," ucap Gio yang menggantung.
"Baiklah kak. Aku akan mengambil tindakan tersebut," balas Lampard yang mendapat pencerahan.
Dengan penuh pertimbangan Lampard akhirnya memutuskan untuk membantu penyusup itu dengan beberapa syarat yang akan dibuatnya.
"Okelah aku membantumu," ucap Lampard yang penuh pertimbangan.
Mata pria itu berbinar dan air matanya mengucur deras. Ia tidak menyangka kalau orang yang diejek adalah orang baik. Penyusup itu langsung mengucap penuh syukur karena tidak dibantai seperti film-film mafia pada umumnya.
"Hey... janganlah kamu menangis! mau jadi ayah malah menangis!" cibir Lampard yang membuat Gio tersenyum lucu.
Pria itu terdiam dan memandang wajah Lampard. Ia menyunggingkan senyumnya sebagai ucapan terima kasih.
"Sekarang aku tanya kamu harus jawab dengan jujur," pinta Lampard yang langsung mendapatkan anggukan tanda setuju.
__ADS_1
"Baiklah tuan," balas penyusup itu dengan nada bergetar.
"Siapa yang menyuruh kamu?" tanya Lampard.
"Aku disuruh oleh seseorang pria berbaju hitam untuk mengikuti Tuan Gio. Namanya adalah Harlem. Ia akan memberikan uang sebesar seratus juta demi membunuh Tuan Gio," jawab penyusup itu.
Mata Lampard membulat sempurna. Bagaimana tidak nyawa sang kakak sedang terancam bahaya? Ditambah lagi ada seseorang pria menyuruh pria polos seperti ini. Bukankah orang polos itu sangat menakutkan? Ketimbang orang yang sudah berpengalaman? kalimat itu sudah mendarah daging dalam hidup mereka.
"Oh... Harlem," ucap Lampard datar.
"Ya... Tuan," jawab penyusup itu yang ketakutan.
"Ya udah... kamu akan di sini beberapa bulan sampai kondisi memungkinkan!" perintah Lampard.
"Tapi tuan," ujarnya menatap Lampard sambil meminta bantuan.
"Sepertinya kamu meminta bantuan?" tanya Lampard yang membuat penyusup itu menganggukan kepalanya. "Aku akan memberikan satu bantuan lagi. Cepat katakan!"
"Lindungi istri saya tuan. Saya sangat mencintainya!"" pinta sang penyusup itu.
Mendengar sang tawanan mencintai istrinya, Lampard akhirnya mengabulkan permohonannya. Lalu Lampard memanggil salah satu pengawal itu dan memberinya sebuah perintah. Ia menyuruh pengawalnya untuk memanusiakan penyusup itu.
Setelah selesai memberikan tugas, Lampard memutuskan untuk pergi meninggalkan ruangan itu. Ia sengaja menuju ke kamarnya. Kemudian ia melihat Stella yang sedang beristirahat.
Lampard sengaja mendekatinya sambil melihat wajah teduh itu. Hatinya mulai merasakan hangat dan menyunggingkan senyumnya. Bagaimana tidak wanita cantik itu dan berkelas hidupnya sangat menderita? Bisa dibayangkan kalau selama hidupnya tidak pernah merasakan kebahagiaan seutuhnya.
"Aku akan menjagamu hingga akhir hayatku. Jangan pernah meninggalkan aku. Walau usiaku sudah tua sekali. Aku ingin kamu hidup bersamaku," ucap Lampard dalam hatinya.
Kemudian Lampard memutuskan untuk berganti pakaian. Ketika berganti pakaian, Lampard merasakan jantungnya berdetak kencang. Jujur saja dirinya mengetahui kalau sedang jatuh cinta. Karena dulu ia pernah merasakan hal yang sama kepada seorang wanita.
"Aku sudah gila menyukai Stella. Benar-benar aku sudah gila. Bisa-bisanya aku menyukainya? Dia masih berusia muda lalu aku sudah berusia tua. Apakah dia mau menerimaku? Jika tidak Ya sudahlah. Aku menyerah pada keadaan. Setelah masalah ini selesai kemungkinan aku menjadi relawan. Relawan yang di mana untuk menjaga anak-anak di panti asuhan. Karena sedari dulu cita-citaku adalah ini. Bukan seorang mafia dan pembunuh berdarah dingin," ucap Lampard dalam hatinya.
__ADS_1
Selesai berganti pakaian, lempar mencari Ian untuk memberikan sebuah tugas. Ia ingin Ian membantunya untuk menyelamatkan keluarga penyusup itu. Sebelum berkata iya, Ian meminta konfirmasinya terlebih dahulu. Agar semuanya tidak dipermainkan oleh orang itu.
Lampard memintanya untuk pergi ke ruangan bawah tanah. Lalu di sana Ian bertanya soal kehidupan sang penyusup itu. Ian baru percaya karena sang penyusup itu sedang meminta bantuannya. Jujur Ian lebih memilih untuk memeriksanya ketimbang dari omongan orang. Meskipun itu bosnya sendiri.