
Sesampainya di kantor Asmoro memakirkan mobilnya di basement. Ia tidak mau seluruh karyawan berteriak menggila. Karena rata-rata yang bekerja di perusahaannya itu sebagian dari mereka adalah wanita. Memang hal ini tidak bisa dipungkiri. Sebab wanita-wanita itu sering berteriak ketika melihat pria tampan sedang lewat.
"Jujur aku baru saja masuk ke dalam perusahaan ini. Padahal sadari dulu Aku ingin bekerja di sini. Tapi nggak bisa karena pendidikanku yang rendah itu. Masuk ke sini memiliki ijazah S1. Lah aku sendiri memiliki ijazah SMA. Itu pun aku nggak tahu ijazah aku sekarang berada di mana. Kalau masih tersimpan ya dijualin sama Patty," ucap Stella dengan wajah sendunya.
"Bener-bener deh Itu orang. Bisa-bisanya dokumen pentingmu dijual! Memangnya mereka tidak mempunyai uang apa? Ini sangat aneh sekali," jelas Asmoro yang kesal terhadap mereka.
"Entahlah. Aku sendiri juga nggak paham dengan keuangannya. Tapi yang lucunya mereka membeli barang branded lalu dipamerkan ke aku dan menjelek-jelekkan diriku," kesal Stella.
"Kamu itu memang aneh. Memiliki keluarga yang temperamental. Apalagi dengan putrinya itu," ucap Asmoro.
"Ya gitu deh. Aku nggak habis pikir sama mereka. Apakah kita akan di sini terus hingga malam tiba?" tanya Stella yang memutar bola matanya dengan malas.
"Kalau kamu mau nggak apa-apa kita di sini sampai malam," jawab Asmoro.
"Ya sudah deh ngapain kita ke sini kalau kamu nggak kerja?" Tanya Stella.
"Pekerjaanku bisa di mana saja. Aku bisa mengerjakan di rumah maupun di cafenya Alexa. Berbicara soal cafe aku jadi rindu. Kapan-kapan aku akan mengajakmu ke sana," jawab Asmoro yang membuka pintu dan keluar.
Akhirnya setelah memutuskan untuk keluar dari dalam mobil. Ia segera mendekat Asmoro sambil berkata, "Jangan mengajakku ke cafe. Karena aku belum siap untuk bertemu dengan orang gila itu."
"Kamu harus mau karena harus menurutiku," ucap Asmoro yang menarik tangan Stella.
"Mau gimana lagi. Kamu itu orangnya pemaksa. Kalau nggak mau ditarik saja."
"Sudah tahu gitu loh. Terus kamulah orang yang pertama kali memegang tanganku ini."
Entah kenapa gadis berbalas cantik itu langsung membuang tangan Asmoro dari tangannya. Stella benar-benar ingin marah kepada Asmoro. Tapi itu tidak mungkin dilakukannya. Karena Stella masih sangat membutuhkannya. Atau gadis itu jatuh cinta? Entahlah... Hanya Stella yang tahu.
Asmoro langsung mengajak Stella naik ke lantai tiga puluh lima. Di dalam lift, Stella melihat pantulan wajah Asmoro yang tampan. Jujur Stella sangat mengagumi wajah tersebut. Meskipun pemaksa Stella sangat menyukainya.
"Aku rasa ada Adelia di sana," celetuk Asmoro.
__ADS_1
"Kenapa Adelia ikut?" Tanya Stella.
"Aku memang menyuruhnya untuk belajar manajemen. Lagian kalian harus kompak belajar mengurusi perusahaan," jawab Asmoro.
"Jika kami nggak mau?"
"Harus mau. Karena Kurumi membutuhkan kalian bertiga. Meskipun lulusan kamu hanya SMA. Jika kamu mampu Kenapa nggak. Kamu bisa membungkam keluarga Patty dengan prestasimu. Bukan hasil menjarah dari orang lain. Apakah kamu ngerti maksudku itu?"
"Apakah mereka nggak capek apa? Hampir setiap hari membuat masalah."
"Mana ada capeknya orang seperti itu. Kalau dibahas pun bakalan lama nggak habis-habis. Coba kamu pikir sendiri. Setiap hari merasa ketakutan jika nggak memiliki apa-apa. Ditambah lagi bibimu itu masuk ke dalam jaringan sosialita. Aku sendiri pengen tertawa melihat bibimu itu."
"Kenapa ingin tertawa? Apakah kamu nggak takut sama orang itu?"
"Jujur aku sangat takut jika bertemu dengan orang-orang seperti itu. Baru saja bertemu langsung agresif mendekatiku dan ingin menjadikanku seorang kekasihnya."
"Apakah itu benar?"
"Ya itu benar. Memang... Mereka sudah mempunyai rencana seperti itu. Apalagi ditambah dengan putrinya. Nggak peduli pria itu tampan atau tidak. Langsung didekatinya dan dipepetnya hingga dapat."
"Mereka memang tidak pernah cerita kepada kamu. Kalau cerita otomatis kamu bisa melaporkan kejadian ini ke kepolisian. Meskipun mereka sengaja menutupinya. Tapi semua orang tahu kok. Kamu tenang saja. Nggak usah terlalu berpikiran macam-macam soal mereka."
"Aku nggak mikir macam-macam tentang mereka. Biarkanlah saja. Lagian juga mereka bukan keluargaku."
"Sepertinya kamu harus mencari silsilah keluarga asli."
"Aku pun sama."
"Rencana kamu selanjutnya apa? Aku nggak ingin kamu berpangku tangan dan membiarkan mereka lewat begitu saja. Suatu Hari Nanti kamu harus memiliki rencana matang untuk membalasnya. Jika tidak kamu yang akan menjadi bulan bulanannya mereka. Aku serius mengatakan itu karena sering mengalami kejadian seperti ini di dalam dunia bisnis."
"Nanti deh aku pikirkan ke depannya bagaimana. Soalnya aku juga sangat penasaran sekali sama mereka."
__ADS_1
"Nggak usah penasaran sama mereka. Buang jauh-jauh semuanya. Jika kamu penasaran sama mereka, kamu yang akan menjadi korban selanjutnya."
"Rasanya aku ingin menghajar mereka habis-habisan."
"Kamu harus bisa melakukannya. Jangan selalu diam dan menjadi patung saat mereka sudah bergerak dan menjatuhkan kamu. Apalagi perusahaan Kurumi adalah perusahaan terbesar di kawasan Asia tenggara. Nama kamu akan tersangkut dalam permainan mereka."
"aku harus mencari seseorang untuk membantuku. Tapi aku nggak bisa membayarnya. Apakah aku harus mengganti uang itu dengan tubuhku ini? Tapi sayang tubuhku sangat kurus sekali. Bahkan daging pun juga nggak ada. Rasanya aku ingin menangis saja."
"Buat apa kamu menjual tubuhmu itu?"
"Untuk mengganti upah seseorang membantuku menghancurkan keluarga mereka."
"Nggak perlu. Lebih baik kamu menikah saja denganku. Meskipun kamu kurus, aku tetap menghormatimu sebagai wanita. Karena diriku lahir dari seorang wanita."
Pintu lift pun terbuka.
"Perasaan tadi kita naik lift kok nggak sampai-sampai ya?" Tanya Stella.
"Bener juga. Padahal lift ini adalah lift bagi para petinggi. Kalaupun rusak harusnya ada konfirmasi," jawab Asmoro yang baru sadar mereka berada di dalam lift sangat lama.
Di saat melangkah para pekerja maintenance mendekati Asmoro. Lalu mereka bertanya, "Apakah ada masalah dengan lift itu?"
"Coba kamu lihat saja sendiri. Bisa-bisanya aku berada di dalam lift dalam jangka sepuluh menitan. Lebih baik aku menaiki tangga saja," kesel Asmoro kepada mereka.
"Maaf tuan. Aku belum memberitahukan kepada para petinggi. Kalau lift sedang berada maintenance," ucap salah satu dari mereka.
"Makanya. Kirim pesan terlebih dahulu Kalau litfnya sedang maintenance. Untung saja Aku ini orang baik dan tidak marah-marah kepada kalian. Oh iya... Di mana Tuan Ian?" Tanya Asmoro.
"Ada di dalam tuan. Tuan Ian bersama seorang gadis cantik. Kemungkinan besar gadis cantik itu adalah kekasihnya," jawab orang itu lagi.
"Nggak usah diperjelas. Karena aku sudah mengetahuinya," ucap Asmoro sambil menarik tangan Stella dan meninggalkan lift rusak itu.
__ADS_1
Untung saja mereka tidak terjebak di dalam sana. Kalau terjebak Stella sangat ketakutan sekali dengan lift rusak itu. Karena Stella memiliki pengalaman yang menyakitkan.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Asmoro yang membuka pintu ruangan kerjanya.