
“Iya itu benar. Kamu harus memakai baju yang bagus.
Biar kamu sangat tampan sekali. Aku tidak mau kamu kelihatan lusuh,” jawab
Stella yang membuat Asmoro yang menganggukkan kepalanya.
Agatha hanya terkekeh melihat ketua mafia Black
Horizon berubah menjadi drastis seperti anak kecil yang menurut kepada ibunya.
Bahkan seorang Asmoro yang memiliki sifat iblis langsung lenyap dalam waktu
sekejap.
“Bagaimana kalau Stella akan menginap disini
beberapa hari saja di kamar kami?” tanya Agatha yang sengaja meledek Asmoro.
Mata Asmoro langsung sendu. Ia sudah tidak mau lagi
menuruti keinginan Stella. Ia langsung menggelengkan kepalanya sambil berkata,
“Aku tidak mau ikut.”
Jedeeer...
Bagai petir di sore hari. Yang namanya Asmoro ketika
diledek langsung saja kesal pada papa mertuanya. Untung saja usia mereka hanya
terpaut beberapa tahun saja. Bayangkan saja seorang Asmoro diledek sama papa
mertuanya. Wajah yang ceria ketika mendapatkan angin segar langsung sendu.
“Ma, kakek nakal,” ucap Asmoro yang sengaja menatap
wajah Agatha sambil mengadu.
Mata Agatha membulat sempurna. Ia tidak marah
melainkan tertawa terbahak-bahak. Sebenarnya mereka berdua suka meledek satu
sama lain. Namun tidak saling berpandangan mata. Melainkan melalui pesan yang
berwarna hijau ada gambar teleponnya.
“Ma... nanti malam jangan menginap disini ya. Kakak
takut kalau sudah tidur sendirian. Bagaimana kalau aku kedinginan?” tanya
Asmoro yang sengaja membuat Agatha mengelus dadanya.
Bagaimana bisa putrinya mendapatkan seorang suami
yang sudah menjadi kakek seperti ini? Dalam waktu sekejap saja ia berubah
__ADS_1
menjadi seorang anak kecil. Inilah yang menjadi pertanyaan.
“Hmmp... Stella sepertinya ada yang salah dech,”
celetuk Agatha.
“Ada yang salah?” tanya Stella yang sengaja menatapp
wajah sang papa.
“Iya. Kamu kan menikah dengan seorang kakek. Kok
bisa-bisanya dia berubah menjadi anak kecil?” tanya Agatha yang sengaja
mengedipkan matanya agar Stella mendukung meledek Asmoro.
Stella yang paham akan kedipan sang ayah langsung
menganggukan kepalanya. Ia berpura-pura bingung dan mengehmpaskan bokongnya di
kursi.
“Iya nich. Stella sendiri bingung. Padahal Kak
Asmoro berubah menjadi bocah penurut seperti ini. Rasanya aku sangat gemas dan
ingin mencubit pipinya itu,” ledek Stella yang benar-benar gemas kepada Asmoro.
Asmoro segera membungkkukan badannya di hadapan
Stella. Tangan kekarnya langsung memegang punggung Stella dan menggendongnya di
“Hehehe... maafkan kakek Agatha. Aku harus membawa
mama Stella pergi dari sini,” ledek Asmoro yang membalikkan badannya dan segera
meninggalkan Agatha.
Agatha hanya bisa mengusap wajahnya berkali-kali.
Meskipun tidak berhadapan dengan para musuh, otaknya Asmoro bisa bekerja dengan
baik. Bahkan kelicikannya dapat bekerja dengan sempurna.
Anita segera masuk dan mencari keberadaan Stella. Ia
menatap wajah Agatha sambil mengerutkan keningnya sambil bertanya, “Kemana
Stella?”
“Stella diculik sama Kakek Asmoro,” jawab Agatha
yang tersenyum manis.
“Apa?” pekik Anita yang menatap wajah Agatha.
__ADS_1
“Iya. Dia enggak rela jika Stella menginap disini.
Padahal aku ingin sekali mengajak tidur bersama kamu. Anggap saja kita kembali
ke masa lalu dan mengeloni anak bayi,” jawab Agatha.
“Kmau itu selalu saja meledek menantu kamu itu.
Enggak di sosial media dan enggak di dunia nyata selalu saja begitu,” kesal
Anita.
“Biarkan saja. Aku memang ingin meledeknya. Lagian
juga dia sangat lucu sekali,” ujar Agatha.
“Bukannya dia seorang ketua mafia?” tanya Anita.
“Memang dia seorang mafia. Tapi aku suka gayanya
jika bertarung,” jawab Agatha.
Anita hanya menganggukan kepalanya. Ia sangat
mengkhawatirkan keadaan sang suami karema meledek Asmoro.
“Jangan terlau mengkhawatirkan aku. Meskipun Asmoro
mafia, dia adalah seorang manusia biasa. Yang dimana Asmoro sangat membutuhkan
hiburan. Dia tidak mungkin menjadi orang yang penuh dengan kekakuan. Karena
kalau terlalu kaku sangat tidak enak,” jelas Agatha.
“Ayo kita bersiap-siap!” ajak Agatha.
Stella yang berada di pundak Asmoro hanya bisa
pasrah. Bagaimana bisa Asmoro menggendongnya seperti karung beras? Mau berontak
juga rasanya percuma.
Asmoro segera menekan pintu lift dan menunggunya
hingga naik. Ia tersenyum kemenangan karena bisa menghindari Agatha. Sejujurnya
ia bisa bersilat lidah untuk membalas ledekan Agatha. Namun ia sangat malas
untuk melakukannya.
“Sepertinya ini bukan lift yang sering kita pakai?”
tanya Stella.
“Memang. Aku sengaja memilih lift ini untuk
__ADS_1
menggendong kamu seperti ini. Agar kamu tidak meledekku,” kesal Asmoro.
“Kenapa kamu kesal begitu?” tanya Stella.