Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Gara-gara Rayuan


__ADS_3

“Iya itu benar. Kamu harus memakai baju yang bagus.


Biar kamu sangat tampan sekali. Aku tidak mau kamu kelihatan lusuh,” jawab


Stella yang membuat Asmoro yang menganggukkan kepalanya.


Agatha hanya terkekeh melihat ketua mafia Black


Horizon berubah menjadi drastis seperti anak kecil yang menurut kepada ibunya.


Bahkan seorang Asmoro yang memiliki sifat iblis langsung lenyap dalam waktu


sekejap.


“Bagaimana kalau Stella akan menginap disini


beberapa hari saja di kamar kami?” tanya Agatha yang sengaja meledek Asmoro.


Mata Asmoro langsung sendu. Ia sudah tidak mau lagi


menuruti keinginan Stella. Ia langsung menggelengkan kepalanya sambil berkata,


“Aku tidak mau ikut.”


 Jedeeer...


Bagai petir di sore hari. Yang namanya Asmoro ketika


diledek langsung saja kesal pada papa mertuanya. Untung saja usia mereka hanya


terpaut beberapa tahun saja. Bayangkan saja seorang Asmoro diledek sama papa


mertuanya. Wajah yang ceria ketika mendapatkan angin segar langsung sendu.


“Ma, kakek nakal,” ucap Asmoro yang sengaja menatap


wajah Agatha sambil mengadu.


Mata Agatha membulat sempurna. Ia tidak marah


melainkan tertawa terbahak-bahak. Sebenarnya mereka berdua suka meledek satu


sama lain. Namun tidak saling berpandangan mata. Melainkan melalui pesan yang


berwarna hijau ada gambar teleponnya.


“Ma... nanti malam jangan menginap disini ya. Kakak


takut kalau sudah tidur sendirian. Bagaimana kalau aku kedinginan?” tanya


Asmoro yang sengaja membuat Agatha mengelus dadanya.


Bagaimana bisa putrinya mendapatkan seorang suami


yang sudah menjadi kakek seperti ini? Dalam waktu sekejap saja ia berubah

__ADS_1


menjadi seorang anak kecil. Inilah yang menjadi pertanyaan.


“Hmmp... Stella sepertinya ada yang salah dech,”


celetuk Agatha.


“Ada yang salah?” tanya Stella yang sengaja menatapp


wajah sang papa.


“Iya. Kamu kan menikah dengan seorang kakek. Kok


bisa-bisanya dia berubah menjadi anak kecil?” tanya Agatha yang sengaja


mengedipkan matanya agar Stella mendukung meledek Asmoro.


Stella yang paham akan kedipan sang ayah langsung


menganggukan kepalanya. Ia berpura-pura bingung dan mengehmpaskan bokongnya di


kursi.


“Iya nich. Stella sendiri bingung. Padahal Kak


Asmoro berubah menjadi bocah penurut seperti ini. Rasanya aku sangat gemas dan


ingin mencubit pipinya itu,” ledek Stella yang benar-benar gemas kepada Asmoro.


Asmoro segera membungkkukan badannya di hadapan


Stella. Tangan kekarnya langsung memegang punggung Stella dan menggendongnya di


“Hehehe... maafkan kakek Agatha. Aku harus membawa


mama Stella pergi dari sini,” ledek Asmoro yang membalikkan badannya dan segera


meninggalkan Agatha.


Agatha hanya bisa mengusap wajahnya berkali-kali.


Meskipun tidak berhadapan dengan para musuh, otaknya Asmoro bisa bekerja dengan


baik. Bahkan kelicikannya dapat bekerja dengan sempurna.


Anita segera masuk dan mencari keberadaan Stella. Ia


menatap wajah Agatha sambil mengerutkan keningnya sambil bertanya, “Kemana


Stella?”


“Stella diculik sama Kakek Asmoro,” jawab Agatha


yang tersenyum manis.


“Apa?” pekik Anita yang menatap wajah Agatha.

__ADS_1


“Iya. Dia enggak rela jika Stella menginap disini.


Padahal aku ingin sekali mengajak tidur bersama kamu. Anggap saja kita kembali


ke masa lalu dan mengeloni anak bayi,” jawab Agatha.


“Kmau itu selalu saja meledek menantu kamu itu.


Enggak di sosial media dan enggak di dunia nyata selalu saja begitu,” kesal


Anita.


“Biarkan saja. Aku memang ingin meledeknya. Lagian


juga dia sangat lucu sekali,” ujar Agatha.


“Bukannya dia seorang ketua mafia?” tanya Anita.


“Memang dia seorang mafia. Tapi aku suka gayanya


jika bertarung,” jawab Agatha.


Anita hanya menganggukan kepalanya. Ia sangat


mengkhawatirkan keadaan sang suami karema meledek Asmoro.


“Jangan terlau mengkhawatirkan aku. Meskipun Asmoro


mafia, dia adalah seorang manusia biasa. Yang dimana Asmoro sangat membutuhkan


hiburan. Dia tidak mungkin menjadi orang yang penuh dengan kekakuan. Karena


kalau terlalu kaku sangat tidak enak,” jelas Agatha.


“Ayo kita bersiap-siap!” ajak Agatha.


Stella yang berada di pundak Asmoro hanya bisa


pasrah. Bagaimana bisa Asmoro menggendongnya seperti karung beras? Mau berontak


juga rasanya percuma.


Asmoro segera menekan pintu lift dan menunggunya


hingga naik. Ia tersenyum kemenangan karena bisa menghindari Agatha. Sejujurnya


ia bisa bersilat lidah untuk membalas ledekan Agatha. Namun ia sangat malas


untuk melakukannya.


“Sepertinya ini bukan lift yang sering kita pakai?”


tanya Stella.


“Memang. Aku sengaja memilih lift ini untuk

__ADS_1


menggendong kamu seperti ini. Agar kamu tidak meledekku,” kesal Asmoro.


“Kenapa kamu kesal begitu?” tanya Stella.


__ADS_2