Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Terancam Bahaya.


__ADS_3

Hatori menganggukan kepalanya dan mematuhi perintah dari Agatha. Hatori berusaha tetap tenang dan membiarkan ini semuanya terjadi.


Sedangkan Agatha sendiri menghubungi seseorang memakai bahasa Jepang. Hatori bisa mendengarnya dengan jelas. Agatha memerintahkan orang tersebut untuk muncul ke permukaan.


Tak butuh waktu lama, orang yang disuruh oleh Agatha telah muncul. Agatha memberikan kode untuk mengikuti orang tersebut. Pria itu paham dan tidak bersuara sama sekali.


Orang yang memakai baju serba hitam tidak mengetahui. Kalau dirinya sedang masuk ke dalam perangkap Agatha. Kode yang dipakainya itu pun tidak ada yang tahu. Sebab Klan Kanagawa mempunyai kode sendiri.


Tak lama datang bis angkutan masal. Mereka akhirnya masuk ke dalam duduk di tengah-tengah bus.


Hatori yang sedang duduk dengan santai merasakan ada sesuatu tidak beres. Mengapa itu orang mengikutinya? Sedangkan Hatori melihat ada seseorang yang memakai pakaian formal. Ia sangat mengenal orang itu. Dia adalah seorang pelatih bela dirinya sendiri. Ia menatap Agatha sambil bertanya, "Kenapa ada Kak Hamtaro?"


"Papa tidak akan menjawabnya sekarang. Jika baru sampai kantor. Papa akan bercerita," jawab Agatha.


"Baiklah," balas Hatori.


Mereka memilih untuk diam dan menikmati perjalanan menuju ke sana. Sedangkan orang itu masih menatap mereka. Orang itu tidak mau kehilangan momen-momen yang membuatnya Agatha pergi.


Patty yang berada di rumah hanya bisa tertawa terbahak-bahak. Ia baru saja mendapatkan transferan uang sebanyak lima miliar. Lalu ia mencari cara agar bisa menghilangkan jejak. Atas pengambilan uang tersebut.

__ADS_1


"Sebentar lagi keturunan Kurumi akan pergi meninggalkan bumi ini. Setelah itu Stella dan adiknya. Aku bisa mengambil Kurumi dengan mudahnya. Bahkan Kurumi akan menjadi milikku selamanya," ucap Patty yang sudah merencanakan sesuatu.


"Kamu itu hanya bilang rencana. Kapan kamu mengeksekusi mereka? Jika kamu tidak mengeksekusi mereka. Biar aku saja!" geram Tutik yang sudah tidak sabaran dengan Patty.


"Tenang saja Ma. Aku akan mengeksekusi Hatori malam ini," kesal Patty yang menahan emosinya.


Jujur Patty sangat geram sekali dengan pernyataan Tutik. Ia ingin sekali menghajar Tutik dan ingin membunuhnya. Memang dirinya sudah tidak betah lagi tinggal bersama Tutik. Bahkan Tutik sendiri menyuruhnya untuk tampil dengan sempurna.


"Andai saja kalau diriku bisa membunuhnya. Pasti aku akan membunuhnya!" kesal Patty dalam hati.


Tiba-tiba saja Tutik mendengar isi hatinya Patty. Ia juga kesal dengan sang putri. Ia seakan ingin memakinya.


Melihat kepergian Tutik, Patty bertambah kesal. Ia lantas berpikir, darimana dirinya menjadi benalu pada Tutik. Inilah yang membuat Patty setengah mati.


Bis yang membawa Hatori dan Agatha telah sampai ke area kantor S&T. Mereka langsung turun dari bis itu dan meninggalkan halte. Akan tetapi orang yang memakai baju serba hitam masih mengikutinya. Ia berjalan di belakang Hatori.


"Hmmmp... sepertinya aku akan mendapatkan reward dari Nona Patty sebesar dua ratus juta," ucap pria itu.


Ketika sampai ke kantor, Agatha memberikan sebuah kode untuk menghabisinya. Hamtaro pun segera mencari celah untuk menangkap pria itu.

__ADS_1


"Ayo kita masuk. Pekerjaan sudah menunggu kita di meja," ajak Agatha.


Hatori tidak menjawab dan hanya menganggukan kepalanya. Mereka berjalan seolah-olah tidak ada yang terjadi.


Saat berjalan, karyawati wanita yang berada di kantor berteriak. Mereka sangat mengidolakan Hatori. Jujur wajah Hatori sangat tampan sekali. Matanya sipit, kulitnya putih dan sangat mulus sekali, menandakan kalau dirinya memang bisa menjadi kantor famous tersebut.


Di sisi lain, ada beberapa orang yang berteriak memanggil Agatha. Agatha yang sedang menebarkan pesona dirinya. Namun Agatha tidak jatuh hati kepada wanita siapapun. bahkan dirinya memilih setia.


Agatha memang sengaja menjadi pria ramah. Jujur ketika di Tokyo, dirinya menjadi pria es batu. Hal dikarenakan Agatha sendiri dituntut untuk memiliki sikap tegas dan kejam.


Sesampainya di kantai atas, mereka langsung menuju ke ruangannya masing-masing. Hatori ternyata sudah dulu masuk ke dalam. Soalnya jarak lift menuju ke ruangannya tidak terlalu jauh.


Beda lagi ruangan Manager Keuangan. Ruangannya agak terlalu jauh. Lebih tepatnya ruangan itu berjejer dengan ruangan para petinggi S&T Company.


Hatori mengerutkan keningnya dan melihat ada sebuah kertas berwana merah darah. Kertas itu ukurannya cukup besar di atas meja. Sebelum mengambil, Hatori memang sengaja duduk terlebih dahulu. Kemudian ia membuka laci dan melihat sarung tangan,


"Kertas ini bukanlah kertas milik perusahaan disini," batin Hatori yang mengetahui beberapa jenis kertas dipakai perusahaan.


Hatori langsung memakai sarung tangan itu. Setelah memakainya, Hatori mengambilnya dan membacanya.

__ADS_1


__ADS_2