Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Tanda Merah.


__ADS_3

"Itu benar. Mereka memang sangat jahil dan lucu. Sangking lucunya kamu akan dibuatnya tertawa," jawab Asmoro.


"Lebih baik kamu katakan aja yang sebenarnya. Jangan kamu menundanya. Sebab berita ini adalah berita yang membahagiakan buat mereka," saran Stella yang selesai mencuci piring.


"Baiklah... Nanti malam aku akan booking satu restoran dan keluarga Snowden bersama pengawalku makan bersama. Dengan cara inilah aku akan memberitahukan siapa istriku sebenarnya. Kamu juga harus mengundang kedua orang tuamu dan Adelia begitu juga dengan Hatori. Mereka harus ikut bersama," jelas Asmoro.


"Apakah kamu sudah siap menyandang sebagai status suami di hadapan mereka?" tanya Stella yang membalikkan badan dan menatap wajah Asmoro.


"Aku sudah siap secara lahir dan batin. Semoga saja kita bisa hidup bersama selamanya," jawab Asmoro yang mulai berdiri dan meraih ponselnya. "Apakah kamu sudah selesai mencuci piringnya?"


"Aku sudah selesai," jawab Stella.


"Ayo kita pergi ke bawah!" ajak Asmoro.


Pasangan suami istri itu pun akhirnya pergi ke bawah. Mereka akan mengunjungi Adelia dan Anita. Sesampainya di sana mereka masuk ke dalam. Lalu Stella menatap wajah Adelia.


"Adelia," panggil Stella.


Merasa mempunyai nama Adelia, gadis berambut panjang itu pun menatap wajah Stella. Ia tersenyum sumringah sambil mendekati Stella.


"Kak Stella," sahut Adelia yang tidak sengaja melihat tanda merah di leher Stella.


"Kamu ada acara nggak hari ini?" tanya Stella.


Sebelum menjawab Adelia mendekati Stella. Gadis itu menarik sang kakak masuk ke dalam kamarnya. Ia menatap wajah Stella sambil berkata, "Kakak ke sini nggak memakai slayer apa?"


"Ada apa memangnya? Ini sudah siang. Cuacanya juga panas. Aku tidak akan mungkin memakai slayer," jawab Stella.


"Coba lihat deh. Leher Kakak ada tanda merahnya," celetuk Adelia yang membuat mata Stella membola sempurna.


"Apakah itu benar?" tanya Stella yang baru saja sadar.


Lalu Stella menuju ke cermin yang berada di dinding. Ia mulai mengecek lehernya. Tiba-tiba saja setelah terkejut dan menjambak rambutnya.


"Banyak sekali tanda ini. Kenapa aku tidak menyadarinya ketika berjalan menuju ke sini?" tanya Stella yang malu kepada Adelia.

__ADS_1


"Lagian juga Kakak nggak mengecek leher sebelum ke sini. Untung saja jam segini lorong dalam apartemen sini sepi," jawab Adelia.


"Aku harus bagaimana? Apakah aku aku harus menggosoknya?" tanya Stella yang mulai panik dengan kenakalan Asmoro.


"Digosok pun percuma. Nanti malam akan bertambah lagi," jawab Adelia sambil tersenyum mengejek sang kakak.


"Astaga... Aku harus bagaimana?" tanya Stella.


"Udahlah Kak. Tidak apa-apa. Itulah kenapa para pria sangat nakal sekali. Bisa-bisanya Kak Asmoro menghiasi leher Kakak seperti itu," jawab Adelia yang tiba-tiba saja tertawa.


"Kamu malah mengejekku. Nggak mau memberikan solusi apapun," ucap Stella.


"Solusinya adalah memakai slayer. Itu sangat aman sekali. Sepertinya aku memiliki slayer yang berwarna cerah. Nanti aku ambilkan," ujar Adelia.


"Ngapain nanti Adelia? Berikan slayer itu sekarang. Aku tidak akan keluar dari kamar ini," kesal Stella melihat sang adik sambil mengomel.


Adelia tidak marah namun menahan tawanya. Jujur sang kakak ternyata sangat polos sekali. Bisa-bisanya sang kakak dikerjai oleh Asmoro.


Adelia membuka lemarinya dan mencari slayer berwarna cerah. Untung saja ia memiliki beberapa slayer berwarna cerah. Setelah itu Adelia memberikannya ke Stella.


"Baiklah. Ini semua gara-gara Kak Asmoro. Sepertinya aku harus meminta pertanggungjawaban," omel Stella.


"Ini mah jangan minta pertanggungjawaban Kak. Lebih baik nanti kakak minta pertanggungjawaban kepada Kak Asmoro," tunjuk Adelia ke arah perut Stella sambil tertawa.


"Baiklah baiklah...Aku tidak akan meminta pertanggungjawabannya sekarang," ujar Stella yang mengerti apa maksud Adelia sambil memakai slayer di lehernya.


"Kalau begitu kita keluar saja dari sini. Kakak sudah memakai slayer itu," jelas Adelia.


Selesai memakai slayer kedua adik kakak itu keluar dari kamar. Mereka mendekati Anita dan Asmoro yang sedang mengobrol. Stella sengaja duduk menjauh dari Asmoro. Karena ia sangat kesal sekali kepada sang suami.


"Kenapa Kamu duduknya berjauhan seperti itu Stella?" tegur Anita.


"Aku memang menjauhi Kak Asmoro ma" jawab Stella.


Tiba-tiba saja Adelia duduk di samping Anita. Adelia mendekatkan wajahnya ke wajah Anita sambil berbisik, "Mama, Kak Stella sedang marah dengan Kak Asmoro. Lehernya Kak Stella ada tanda merah banyak sekali. Jadi di saat perjalanan menuju ke sini. Kak Sheila tidak sadar kalau lehernya memerah seperti itu."

__ADS_1


Sontak saja Anita tersenyum. Anita memandang wajah Stella sambil tertawa. Ia baru sadar kalau sang Putri sudah melakukan malam pertama. Hingga akhirnya Anita berkata, "Jangan marahan sama suami kamu. Kasihan nanti suami kamu bersedih."


Anita sengaja mengejek Stella. Stella hanya bisa menghembuskan nafasnya sambil berkata, "Kenapa juga dikasihani ma. Kak Asmoro sudah gede. Malah usianya sama kayak papa."


Asmara yang tidak sengaja mendengar langsung tertawa. Semenjak kedatangan Stella, Asmoro bertukar pesan bersama ketiga cucunya itu. Ia tidak marah sama sekali ketika Stella berbicara seperti itu.


"Scarlett mau ke sini. Katanya dia sangat rindu pada Kakak kembar," ucap Asmoro.


"Apakah itu benar?" Tanya Stella yang semangat sekali untuk bertemu dengan Scarlett.


"Itu benar. Nanti aku ajak ke apartemenku," jawab Asmoro yang tidak enak dengan Anita.


"Kenapa juga dibawa ke apartemen kamu? Biarkanlah mereka di sini untuk meramaikan apartemen ini," pinta Anita yang sangat menyukai sekali anak-anak kecil.


"Rasanya itu ide yang sangat bagus. Aku memiliki banyak sekali mainan," sahut Adelia.


"Memangnya kamu memiliki mainan apa? Sepertinya Aku curiga sama kamu," tanya Stella.


"Aku memiliki banyak mainan. Mainan itu belum sempat aku bagikan kemarin. Kalau nggak salah aku masih di rumahnya kak Alexa. Setelah pulang dari pusat perbelanjaan bersama Kak Ian. Aku langsung tidur dan menyimpannya di lemari. Makanya pas waktu pindah ke sini. Aku membawa mainan itu semua," jawab Adelia.


"Ternyata kalian sangat menyukai anak-anak ya?" tanya Asmoro.


"Sedari dulu aku sangat menyukai anak-anak. Bahkan tinggal di kampung sana. Aku suka mengajak mereka bermain. Jika tidak ada pekerjaan apapun," jawab Stella.


"Kalau begitu ayo kita pulang!" ajak Asmoro yang membuat Anita dan Adelia matanya membulat sempurna.


"Ngapain kita pulang sekarang?" tanya Sheila yang bertanya-tanya dan memandang wajah Asmoro.


"Kita akan membuat anak sebanyak-banyaknya," jawab Asmoro yang tidak disaring kata-katanya.


Kedua wanita berbeda generasi itu langsung tertawa pecah. Bayangkan saja Asmoro mengatakan tanpa harus disaring seperti itu di hadapan Ibu mertuanya. Lalu Stella berdiri dan mendekati Asmoro. Setelah itu Stella menghempaskan bokongnya di samping Asmoro.


"Kalau begitu... Nanti malam aku akan tidur sama Adelia," ucap Stella sambil mengancam Asmoro.


Asmoro hanya diam membisu. Seketika dunia Asmoro gelap dan memandang wajah sang istri, "Apa yang kamu katakan?"

__ADS_1


__ADS_2