
"Kamu enggak tahu Kak Lampard saja,'' celetuk Jacob. "Enggak ada yang ngomong dia sudah tahu kok.''
"Apakah kak Lampard adala seorang cenayang?" tanya Imron.
"Bukan cenayang tapi dukun,'' jawab Lampard yang membuat Jacob menahan tawanya. "Dan kamu tahu Jacob lagi dekat dengan sepupunya Alexa?''
Bugh.
Jacob sangat kesal sekali kepada Lampard yang telah membuka idenditasnya. Jacob juga bingung kenapa Lampard tahu akan hal itu?
"Bagaimana kakak tahu soal itu?' tanya Jacob.
"Yang namanya dukun tahu apa yang kamu lakukan!" kesal Lampard ke Jacob.
Jujur saja Lampard sangat kesal kepada mereka. Masa tidak tahu kalau Lampard memiliki banyak mata-mata. Bahkan keluarganya sendiri juga dimata-matai sendiri. Eits... bukan mata-mata yang ingin mengetahui apa yang dilakukan oleh anggota keluarganya.
Lampard memang ketua mafia Black Horizon cabang Asia. Ia juga memiliki beberapa pasukan khusus sendiri untuk mengemban tugas tertentu. Ada satu pasukan khusus yang berjumlah seratus orang. Lampard telah menyebarkan ke keluarga James, Alexa dan Giovanni. Lampard memang sengaja memberikan keamanan bagi ketiga keluarga. Misi utama mereka adalah untuk mendeteksi para musuh yang masuk ke dalam mansion dengan cara menyusup. Lampard tidak ingin kecolongan.
"Kamu tahu kenapa aku bisa tahu?" tanya Lampard.
"Kakakkan lebih cerdik dari kami. Kakak diam-diam membuat pasukan khusus bersama Kak Giovanni. Yang dimana pasukan khusus itu melindungi kami dari serangan musuh tak kasat mata,'' jelas Jacob.
"Anak pintar. Mereka setiap hari selalu membuat laporan dari pagi ke pagi lagi'' ucap Lampard.
''Apakah itu benar?" tanya Jacob.
"Apakah kamu enggak tahu?" tanya Imron ke Ian.
"Jujur saja aku enggak tahu. Aku baru-baru ini tahu dari Alexa,'' jawab Ian.
"Ternyata Alexa lebih cerdik ketimbang kamu,'' sindir Lampard.
"Bukannya aku enggak tahu. Tapi aku memang mengurusi beberapa cabang yang akan dibuka beberapa bulan ke depan,'' jawab Ian.
"Sorry, I almost forgot about that,'' ucap Lampard. "Aku memang sengaja membuat pasukan itu hanya untuk melindungi kalian. Kamu tahukan semakin kita ke atas semakin kencang angin yang berhembus. Banyak orang yang tidak suka dengan kesuksesan kita. Dulunya teman baik bisa menjadi lawan. Dan mereka akan bermulut manis lalu menikam kalian dari belakang,'' jelas Lampard.
"Enggak apa-apa kak. Aku malah salut sama kakak. Meskipun sibuk kakak sangat memperhatikan kami. Jarang ada yang seperti ini. Kalaupun ada hanya satu banding sepuluh,'' puji Jacob yang salut kepada Lampard.
__ADS_1
"Itulah yang namanya keluarga. Sesibuk apapun jangan sampai melupakan orang yang berperan besar pada kesuksesan kita. Kita itu seperti rantai makanan yang saling membutuhkan satu sama lain. Istilahnya kita saling berpelukan dan saling menghangatkan,'' jelas Lampard yang mengingatkan mereka.
"Kakek!" teriak Scar.
Lampard tersenyum manis lalu mulai jongkok. Scar segera memeluknya dan mencium pipi gembul Scar. Kemudian Lampard menggendongnya sambil bertanya, "Apakah kamu capek?"
"Aku tidak capek kek. Aku baru saja berlari bersama kak Stella dan Kak Adel,'' jawab Scar yang membuat hati Lampard menghangat.
"Uh... semangat sekali kamu,'' puji Lampard.
"Oh... ya kek. Aku tadi lihat om-om yang memakai baju hitam-hitam. Om-om itu mendekati Scar dan mengajak beli permen. Tapi Scar enggak mau. Untung saja ada paman Roth dan paman Derek datang. Merdeka langsung pergi ketakutan,'' bisik Scar.
"Apakah itu benar Scar?'' tanya Lampard.
"Iya. Scar takut kek,'' bisik Scar yang tiba-tiba saja murung.
Melihat wajah Scar murung hati Lampard bergejolak hebat. Lampard merasakan ada sesuatu yang akan terjadi. Tiba-tiba saja Scar memanggil nama Stella. Lamlolard semakin bingung dan menatap wajah Jacob.
"Dimana Leon?'' tanya Lampard.
"Ada di ujung jalan'' jawab Jacob.
Dor!
Sebuah tembakan yang terdengar cukup nyaring. Para pengunjung yang berada di sana langsung kocar-kacir. Mereka langsung menetapkan diri. Lampard sengaja memberikan Scar ke Kan. Namun Scar tidak mau. Scar menangis histeris.
Sementara di area terjadi tembakan Alexa dan Stella segera menyelamatkan Sean dan Ed. Mereka segera pergi ke tempat lain. Namun naas bagi Stella, tepat arah jam tiga ada seorang pria memegang pistol dan mengarahkan ke Stella. Pria itu sengaja menarik pelatuk dan...
Dor!
Dor!
Stella langsung membungkuk sambil melindungi Sean. Punggungnya terkena peluru dua kali. Lalu Alexa yang melihat itu tidak mengejar sang tersangka. Alexa segera menggendong Ed dengan tubuh bergetar.
Beberapa saat kemudian datang Martin dan Roth. Kedua pria itu sangat terkejut melihat Stella yang masih memeluk Sean. Namun punggungnya sudah mengeluarkan banyak darah. Sean meraung-raung memanggil nama Stella yang mulai pucat. Tiba-tiba saja...
BUGH!
__ADS_1
Tubuh Stella terjatuh karena tidak bisa menahan lebih lama lagi. Sean semakin ketakutan melihat darah yang keluar dari punggung Stella. Martin segera menggendong tubuh mungil Sean dan meminta Alexa menjauh dari area tersebut.
"Roth, panggil ambulance secepatnya!" teriak Martin. "Alexa segera pergi dari sini!"
Alexa dan Martin mengajak anaknya pergi. Mereka tidak mau jiwa anaknya keguncang karena peristiwa ini. Sedangkan Roth langsung menghubungi ambulance. Dari arah yang berlawanan Lampard dan Ian tiba. Mereka terkejut melihat Stella yang sudah terbujur lemas. Dengan cepat Lampard segera memegang tubuh mungil Stella.
"Stella.... bangun... jangan tidur disini. Buka matamu Stella!" panggil Lampard.
"Tu... Tu... Tuan,'' ucap Stella dengan lemah.
"Bertahanlah,'' bisik Lampard.
"Sakit Tuan... Aku sudah enggak kuat lagi,'' ucap Stella yang semakin lemah.
"Jangan berbicara seperti itu,'' bisik Lampard.
Beberapa saat kemudian terdengar suara ambulance. Ambulance itu langsung berhenti di depan Lampard. Sejumlah petugas medis menurunkan brangkar dan meminta Lampard minggir terlebih dahulu. Namun Lampard menggelengkan kepalanya dan mengangkat tubuh mungil Stella lalu membaringkannya ke brangkar tersebut.
Di tempat lain seorang pemuda yang baru saja membeli sarapan merasakan punggungnya sakit terkena peluru. Pemuda itu cepat-cepat pulang ke rumah kontrakan dengan berjalan cepat. Namun tidak disangka semakin cepat berjalan maka punggungnya semakin sakit. Pemuda itu hampir saja terjatuh jika tidak memegang tiang listrik.
"Heran... punggungku tiba-tiba saja sakit kaya tertusuk besi panas,'' ucap pemuda itu.
"Hatori,'' panggil Bu Gita.
"Iya Bu,'' sahut Hatori dengan lirih sambil meringis.
"Kamu kenapa?'' tanya Bu Gita.
"Punggungku sakit Bu,'' jawab Hatori sambil menyodorkan sarapan itu. "Tolong kasihkan sarapan ini ke bapak. Sebentar lagi aku pulang.''
Bu Gita mengambil makanan itu dan tiba-tiba saja Hatori terjatuh dan pingsan. Bu Gita berteriak histeris memanggil nama Hatori. Seketika orang-orang hyang berlalu-lalang datang melihat Hatori. Para pria yang melihat Hatori itupun langsung mengangkat tubuh sang pemuda itu. Mereka akhirnya memb asa masuk ke dalam bersama Bu Gita.
"Bu, Hatori taruh mana?'' tanya salah satu pemuda itu.
"Taruh di kamarnya langsung,'' jawab Bu Gita.
Mereka segera masuk ke dalam kamar kemudian membaringkan tubuh Hatori. Setelah membaringkan tubuh Hatori para pemuda itu keluar dari kamar sambil menatap Bu Gita.
__ADS_1
"Apakah Hatori tidak dibawa ke rumah sakit?'' tanya salah satu pemuda itu.