Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Hampir Saja.


__ADS_3

"Apakah Tuan Lampard sangat menakutkan?" tanya Stella.


"Tidak. Tuan Lampard sangat baik. Bahkan sangking baiknya Tuan Lampard sering membagikan bonus pada kami,'' jelas Adel.


Di kamar Alexa, Scar menganggu sang mama sedang berdandan. Scar merengek agar sang mama memperhatikannya.


"Mama,'' rengek Scar.


"Ada apa?'' tanya Alexa yang selesai berdandan.


"Mama tahu enggak?' tanya Scar yang memandang wajah Alexa.


"Enggak tahu,'' jawab Alexa yang langsung membuat sang putri cemberut.


Alexa segera mengangkat tubuh mungil Scar dan memandang wajah sang putri cemberut. ia sangat gemas kemudian menciumnya bertubi-tubi hingga berteriak kegelian.


Tak lama Martin keluar dari toilet hanya memakai handuk kecil yang melingkar di pinggangnya. Lalu pria itu melihat sang istri dan si anak sedang bercanda. Betapa bahagianya hidup Martin namun hatinya bersedih. Kapankah sang kakak bernama Lampard akan bahagia seperti dirinya.


"Mama,'' panggil Scar.


"Iya... sayang,'' panggil Alexa.


"Apakah mama tahu kalau Kak Stella sama Kak Adel sangat mirip sekali seperti aku sama Ed?'' tanya Scar yang memegang pensil alis milik Alexa.


"Apakah itu benar?" tanya Alexa yang melihat mata indah sang putri.


"Iya ma. Kak Stella memiliki wajah yang sama. Bahkan senyumnya juga sama,'' ujar Scar yang mengingat wajah Stella dan Adel. "Apakah mereka bersaudara sama seperti Scar dan Ed?"


Alexa mengedikkan bahunya tanda tidak tahu. Alexa tidak akan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka. Alexa memilih untuk tidak berbicara apapun. Stella yang menunggu kedatangan di kembar hanya bisa menghela nafasnya. Disaat Stella kembali ke atas, seorang wanita berusia senja datang menghampirinya. Wanita itu memanggil Stella dengan memakai nama Adel. Kemudian Stella meminta maaf kalau dirinya bukan Adel.


"Adel,'' panggil Linda nama wanita berusia senja.


"Maaf nyonya. Saya bukan Adel,'' sahut Stella dengan lembut.


Mata Linda membulat sempurna lalu menghampiri Stella lebih dekat. Linda menatap wajah Stella yang sangat mirip sekali dengan Adel, "Jika kamu bukan Adel, lalu kamu siapa?''


"Dia Stella ma,'' sahut Lampard yang menggendong Ed. "Stella Marlina Kanagawa nama panjangnya.''


Mata Linda membulat sempurna karena tidak asing lagi dengan nama Kanagawa. Airmatanya menetes dan meraih tangan Stella, "Apakah kamu putri dari Agatha Kanagawa?"


"Bukan. Aku adalah putri dari John Smith,'' jawab Stella.

__ADS_1


Deg.


Linda bingung dengan jawaban dari Stella. Lampard mengatakan kalau Stella memiliki nama Stella Marlina Kanagawa, namun Stella sendiri tidak mengakui Agatha itu siapa? Linda semakin bingung dan menghela nafasnya. Setelah itu datang Nathalie bersama Sean. Nathalie tidak sengaja melihat sang nenek sedang bingung. Nathalie segera mendekati Linda dan membantunya untuk berdiri tegak.


"Nenek,'' panggil Nathalie.


"Anak nakal... kamu di sini?" tanya Linda yang kesal sama Nathalie.


"Nenek,'' teriak Sean.


"Aish... cucuku,'' sahut Linda. "Sudah lepaskan nenek! Nnenek masih bisa berdiri tegak.''


"Maaf nek telah membuatmu terkejut,'' ucap Stella dengan ketakutan.


"Nenek terkejut dengan nama bapakmu itu. Kamu memiliki bapak namanya John Smith. Tapi mama margamu seperti orang Jepang. Yaitu marga Kanagawa. Kamu tahu pemilik Kanagawa sangat terkenal sekali pada masanya,'' jelas Linda yang tidak marah sama sekali kepada Stella.


"Jadi nenek tahu nama Kanagawa?" tanya Nathalie yang curiga.


"Ya... nenek tahu. Nenek memang pernah berlangganan roti susunya sama owner-nya langsung. Hampir tiap hari sang owner mengirimkan kue susu ke nenek. Dan yang makan kalian. Apakah kamu ingat itu?" tanya Linda yang sepertinya memberikan sebuah petunjuk.


"Stella,'' panggil Nathalie yang menatap wajah Stella bingung.


"Iya kak,'' sahut Stella.


Stella menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu. Jujur baru kali ini Stella mendengar nama Agatha. Sementara itu Nathalie menghembuskan nafasnya secara kasar. Nathalie terpaksa diam dan tidak bertanya lebih lanjut. Nathalie akan meminta Alexa untuk ikut menyelidiki kasus Stella.


"Kakek," panggil Ed.


"Ada apa?" tanya Lampard.


"Bolehkah Ed berharap?" tanya Ed.


"Apa itu?" tanya Lampard.


"Ed ingin kakek memiliki seorang nenek," jawab Ed.


"Kalau kakek enggak mau?" tanya Lampard.


Sontak saja Ed yang tadi ceria berganti sendu. Entah kenapa permintaan kali ini Lampard tidak menyanggupinya. Bukan tidak menyanggupinya, hati Lampard sepertinya terluka semakin dalam ketika teringat masa lalunya yang suram. Sebelum menurunkan Ed, Lampard membisiki sesuatu agar Ed tidak bersedih. Bukannya sedih, Ed tertawa terbahak-bahak mendengar jokes yang dilempar oleh Lampard.


"Ternyata menyenangkan memiliki seorang cucu," batin Lampard.

__ADS_1


Di kejauhan Ian bersama Imron sedang menunggu para pengawalnya melihat Lampard yang sendu. Mereka paham apa yang dirasakan oleh Lampard. Mereka saling menatap dan mulai berdoa dalam hati supaya Lampard dapat menemukan jodohnya segera.


"Apakah kamu merasa kalau pacarmu itu mirip sama gadis yang telah kalian temukan?" tanya Imron.


"Maksudnya Adelia?" tanya Ian.


"Iya. Gadis itu kembar bagai pinang dibelah dua," jawab Imron.


"Aku baru paham semalam ketika mereka sedang duduk di taman," jawab Ian. "Apakah kamu tidak ikut dalam pertemuan semalam?"


"Aku ikut sebentar. Aku pergi ke S&T untuk memeriksa jaringan keamanannya," jawab Imron.


"Ada apa dengan S&T?" tanya Ian.


"Kita hampir saja kecolongan. Ada seseorang yang masuk ke dalam jaringan itu. Aku enggak tahu motifnya apa?" jawab Imron.


"Apakah kak Lampard tahu?" tanya Ian lagi.


"Belum tahu. Tapi Shubuh tadi sudah normal lagi. Kemungkinan besar hari Minggu aku meminta Jacob untuk membantuku mengamankannya," jawab Imron lagi.


"Siapa yang membobol pertahanan cyber S&T?" tanya Ian yang mulai serius.


"JS," jawab Imron yang memberikan sebuah teka-teki.


Ian terdiam dan otaknya mulai berpikir secara keras. Ian mulai menerka-nerka siapa sebenarnya orang itu. Ia tidak mungkin gegabah menentukan siapa pelakunya.


"Apakah kamu tahu, siapa pelakunya?" tanya Imron.


"Aku hanya menerka bahwa kelakuan ini adalah John Smith," jawab Ian. "Tapi aku tidak bisa menuduhnya tanpa bukti yang jelas."


"Kamu benar. Sepertinya kita akan mencari bukti itu sendiri. Aku harap semuanya cepat clear," ujar Imron.


Beberapa saat kemudian datang Willi dan Leon membawa dua puluh pengawal. Leon sudah membaginya dalam dua kelompok. Kelompok pertama tugasnya melindungi keluarga Snowden. Yang lainnya ditugaskan untuk menjadi pengawal bayangan.


"Apakah pengawal sudah siap?" tanya Lampard.


"Semuanya sudah siap. Aku sudah membaginya menjadi dua kelompok. Kelompok satu tugasnya untuk melindungi keluarga besar Snowden. Kelompok dua tugasnya menjadi pengawal bayangan. Aku sudah menaruhnya di titik-titik tertentu," jawab Leon yang menjelaskan semuanya.


"Baguslah. Aku tidak mau mereka kecolongan untuk menculik ketiga cucuku!" geram Lampard yang sangat protektif sekali dengan ketiga cucunya.


Di tempat lain John mengamuk sambil membuang barang-barang yang ada di depannya. John mengira kalau aksinya semalam bisa terlaksana akhirnya gagal total.

__ADS_1


"Argh!!!" teriak John dengan frustasi.


__ADS_2