Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Tidak Percaya Akan Hal Itu.


__ADS_3

Setelah Kuncoro bercerita, Asmoro hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar. Bagaimana bisa ia mendapatkan cerita yang tidak jelas itu? Rasanya Asmoro ingin mencari sang raja itu dan menghajarnya habis-habisan.


"Sorry bro... Gua nggak percaya dengan cerita Lu itu. Itu cerita gue anggap dongeng. Mana ada zaman modern begini cerita begituan. Pokoknya gue pengen menghancurkan Exodus. Soalnya itu ketua mafia yang bernama Liam sudah membuat kekacauan di muka bumi ini. Sekarang lo paham kan?" ucap Asmoro sambil berapi-api.


"Lu bisa ngomong gitu karena punya darah dari kerajaan Noe. Memang lu semuanya ditakdirkan untuk menumpas mereka. Kalau lu nggak percaya Pergilah ke suatu tempat di dalam hutan belantara itu. Lu akan mendapatkan jawaban atas kerajaan Noe. Memang bagi lo itu hanya bualan belaka. Bagi gue itu sangat penting. Sudah gue bilang kalau lu masih ada keturunan dari kerajaan Noe. Seluruh keluarga Snowden itu adalah memiliki darah dari kerajaan Noe," jelas Kuncoro.


"Lu jangan mengada-ngada. Gue memang minum air sumur itu. Karena gue kehausan. Kenapa juga harus dibuat masalah besar seperti ini?" Kesal Asmoro. "Kalau begitu gue pengen ketemu rajanya. Gue pengen mengajar rajanya itu! Biar nggak gangguin gue sama keturunan Snowden!"


"Percuma lu mau menghajar sang raja Noe. Lu punya tingkatan berapa? Sementara lu belum punya apa-apa. Kalau lu udah punya, lu bisa menghajar rajanya. Lu mengganggu aja nggak bisa. Gitu mau menghajar rajanya Noe," ledek Kuncoro yang berhasil membuat Asmoro frustrasi.


Memang benar apa yang dikatakan Kuncoro. Asmoro memang belum menguasai apapun. Bahkan memegang makhluk astral pun Asmoro tidak bisa. Jujur Kuncoro sangat kesal sekali kepada Asmoro. Bisa-bisanya Asmoro ingin menghajar dirinya sendiri. Andaikan amarah Kuncoro meledak. Bisa dipastikan Asmoro opname selama tiga bulan. Itu tergantung dari parahnya luka yang dimiliki oleh Asmoro.


"Ini sungguh sangat aneh sekali. Kalau begitu aku tidak akan menghajar sang raja Noe. Aku ingin bertemu dengannya saja. Kapan aku bisa bertemu dan mengatakan Jangan pernah ganggu gue lagi!" perintah Asmoro yang kesal terhadap Kuncoro.


"Pusing ya ngomong sama elu. Elu itu emang kurang ajar sama gue. Sudah tahu gue adalah rajanya Kenapa masih nanya?" tanya Kuncoro dengan kesal.


"Udahlah. Lu pergi aja Dari sini. Jangan ganggu gue lagi," usir Asmoro sambil berdiri meninggalkan Kuncoro.

__ADS_1


"Lu nggak akan pernah lari dari kenyataan. Soalnya gadis takdir lo harus menerima semuanya. Memang konyol tapi itu adalah kenyataan. Dan sekarang gue akan ngelepas lu untuk sementara waktu. Jika sudah waktunya tiba. Kalian bisa akan gue kumpulkan dalam satu wadah. Di situ kalian akan mendapatkan ilmu baru untuk bisa menyentuh kerajaan Noe secara nyata. Dah itu pesan gue buat lu. Gue akan kembali lagi seminggu ke depan. Gue mau tidur," ucap Kuncoro sambil menjelaskan dengan mendetail.


"Terserah apa kata lu. Mending lu nggak usah balik lagi ke sini. Gue pengen hidup normal seperti dulu. Dan biarkan tubuh gue kembali seperti dulu lagi. Bisa dikatakan kembalikan aku di usiaku yang ke lima puluh dua tahun," kesal Asmoro yang tidak mau menjadi muda.


"Jangan pernah bermimpi untuk menjadi tua. Karena lu akan menjadi muda hingga menyelesaikan tugas utama lo untuk membasmi mereka," sahut Kuncoro yang tiba-tiba saja menghilang tanpa pamit.


"Terserah apa kata lu. Lu itu memang setan. Kalau setan nggak usah ganggu. Gue capek sendiri sama lu!" bentak Asmoro yang tidak melihat Kuncoro.


Begitulah Asmoro yang kesal kepada Kuncoro. Bisa-bisanya hidupnya sekarang menjadi sangat membingungkan. Percaya tidak percaya Asmoro harus mengakuinya. Jika tidak para petinggi kerajaan Noe akan mengganggunya.


"Jujur ini sangat membingungkan untukku. Kenapa bisa hidupku seperti tidak nyata? Sebelum minum air sumur sialan itu. Hidup gue nggak akan jadi seperti ini. Sekarang gue bisa jadi gila gara-gara air sumur sialan itu!'' bentak Asmoro dalam hati.


Di tempat lain Gio sedang membaca koran. Tiba-tiba saja angin berhembus dengan lembut. Gio mencium aroma maskulin dari makhluk tiba-tiba saja muncul. Ya... Dia adalah Guntur. Lalu ia membiarkannya saja. Sungguh dirinya sangat malas bertemu sama orang itu.


"Ternyata sang raja Noe sudah menemukan keturunannya sendiri," celetuk Guntur.


"Jujur gue nggak percaya soal itu. Lu mau ngomong apa aja terserah. Pokoknya jangan ganggu gue seenaknya pada pagi ini," ucap Gio yang sengaja tidak menatap keberadaan Guntur.

__ADS_1


"Lu itu aneh. Malam-malam manggil gue dan nanyain siapa sih Raja sang Noe itu? Hari ini gue Sudah dapat kabar beritanya. Dan elu ngacangin gue. Oh... God... Lu panglima paling brengsek di dunia!" kesal Guntur.


Beberapa saat kemudian Gio menatap Guntur dan ingin menghajarnya. Namun hari ini dirinya sangat malas sekali.


"Bisa nggak sih kalau ngomong sama orang nggak usah pakai gue elu. Ternyata kamu itu berasal dari kerajaan. Kenapa ngomongnya lu gue? Memangnya di kerajaanmu ada orang yang memanggil seperti itu!" kesal Gio.


"Kamu itu memang lucu sekali. Aku sudah di sini sebelum kamu lahir. Aku di sini karena terkontaminasi oleh bahasa gaul anak sekarang. Makanya aku Bersama sang raja dan lainnya bisa memakai bahasa gue elu," jelas Guntur.


"I don't care bro. Sedari dulu memang aku nggak pernah peduli soal itu. Kalau begitu Pergilah dari sini. Aku lagi sibuk membaca berita," ujar Gio yang mengusir Guntur dari hadapannya.


"Percuma kamu ngusir aku. Aku memang ditakdirkan untuk mengawalmu. Sebentar lagi putrimu itu akan menjadi calon prajurit yang tangguh. Tapi aku akan mencarikan seseorang yang tepat untuk menemaninya. Begitu juga dengan suaminya. Cepat atau lambat mereka juga akan mendapatkannya masing-masing. Sudah itu saja," jelas Guntur yang tiba-tiba saja menghilang dari pandangan Gio.


"Apakah ada Guntur di sini?" tanya Winda sambil membawa kopi.


"Ada. Aku usir saja dari sini. Semakin lama kalau ada dia. Keluarga kita menjadi sangat aneh. Aku belum tahu kenapa ini bisa terjadi? Kenapa kita bisa diusik oleh orang-orang yang tidak kelihatan seperti itu? Memangnya apa salahku sama mereka?" tanya Gio balik lalu menjambak rambutnya.


"Nggak usah dipikirin begitu mendalam. Semuanya itu percuma. Lagian juga masalah ini di luar nalar kita," hibur Winda agar Gio tidak terlalu stres.

__ADS_1


"Mereka menginginkan anak kita untuk menjadi bagian dari penghancuran Exodus. Tapi aku tidak mengijinkan karena Alexa sudah memiliki tiga anak kecil. Aku sudah memberikan tugas untuk memantau dari CCTV ketika terjadi penyerangan. Aku nggak ingin Alexa dalam bahaya. Begitu juga dengan ketiga cucuku," kesal Gio.


"Kalau Alexa sudah ditakdirkan bagaimana?" tanya Winda.


__ADS_2