
"Ya itu benar," jawab Ibra. "Mereka sudah gila melakukan percobaan pada manusia. Seharusnya mereka melakukan percobaan hidup pada tikus putih. Aku sebagai ilmuwan palsu melakukan percobaan itu memakai tikus putih."
"Ya itulah mereka. Sekarang kita tidak bisa melaporkan kasus ini kepolisian. Jika melakukannya, maka nyawa seluruh keluarga kita terancam bahaya. Mereka adalah mafia paling kejam di muka bumi ini," jelas Raka.
"Kamu benar. Kita tidak bisa gegabah melakukannya. Aku dengar Kak Lampard sudah menemukan keluarga Stella satu persatu," ucap Ibra sambil tersenyum.
"Ya... Kemarin Adelia sekarang Hatori. Aku tahu mereka bingung dan terjebak dalam situasi yang tidak bagus seperti ini," ujar Raka.
"Sungguh terlalu. Jujur Agatha tidak bisa disalahkan dalam kasus ini. Karena Agatha sendiri juga terdapat dalam situasi yang tidak mengenakkan. Sepertinya masalah pelik ini akan menjadi besar. Cepat atau lambat kita juga akan turun tangan menghadapi mereka. Ditambah lagi John sudah mendirikan markas di sini," tambah Ibra.
"Mau tidak mau aku akan mengungsikan Rara dan Rinda dari Indonesia. Kemungkinan besar mereka akan menetap di Finlandia," sahut Raka dengan lemah.
"Aku setuju pendapatmu. Karena peperangan ini akan menjadi besar," imbuh Ibra yang dibarengi Martin dan Agatha masuk ke dalam.
"Kalau Rara dan Rinda ke Finlandia, Apakah mereka baik-baik saja? Sementara Exodus sudah menyebar dan menduduki benua tersebut?" Tanya Martin yang membuat Ibra dan neraka lesu.
"Lalu aku harus bagaimana? Nyawa keluargaku terancam," tanya Raka.
"Jalan satu-satunya adalah kita tidak boleh terpisah dari mereka. Yang aku tahu dari Alexa, mereka dengan mudah melacak keberadaan keluarga kita di manapun berada. Itulah yang aku takutin. Sementara itu Alexa berusaha untuk menutup semua akses identitas keluarga kita dengan dibantu Jacob dan Imron," jawab Martin.
Setelah mendapatkan pencerahan dari Martin, Raka akhirnya mengangguk paham. Kalau dipikir-pikir omongan Martin ada benarnya juga. Karena Exodus sudah menduduki daerah Eropa sana.
Martin mendapatkan informasi itu dari Nathalie dan Nano. Mereka selalu memberikan informasi itu agar Martin meneruskannya ke Lampard. Maka dari itu Martin dan Alexa mengetahui semuanya.
"Kalau kamu tidak percaya akan aku kirimkan informasi dari Natalie. Natalie bersama Kak Nano selalu menggali informasi daerah Eropa sana. Seluruh Mafioso angkat tangan karena ulah Exodus," jelas Martin.
"Lalu bagaimana dengan George?" tanya Ibra.
"Aku belum tahu semuanya tentang itu. Kemungkinan besar Kak Lampard dan Kak Gio akan mengirimkan tiket pesawat untuk ke sini. Mau tidak mau mereka akan bergabung dengan Black Horizon cabang Asia," imbuh Martin yang melihat Agatha terdiam dengan wajah pucat.
__ADS_1
"Jadi selama ini John?" tanya Agatha.
"Iya. Pasti kamu sudah mendengar informasi tersebut. Aku harap kamu tidak terkejut mendengar semua ini," jawab Martin.
"Hey... Kak Martin," panggil Ibra.
"Apa itu Ibra?" tanya Martin.
"Siapa orang itu?" tanya Ibra. "Bukankah kita tidak boleh membicarakan ini dengan orang asing?"
"Aku tidak membicarakan semua ini di hadapan orang asing. Kamu tahu dia adalah papa kandungnya Stella," jawab Martin yang membuat mereka terkejut.
"Apakah itu benar?" tanya Ibra.
"Ya itu benar. Tapi sekarang Agatha meminta tes DNA," jawab Martin.
Ibra dan Raka melihat wajah Agatha yang mirip sekali dengan Stella. Lalu kedua pria itu bingung atas permintaan Martin. Kenapa juga Martin memintanya untuk tes DNA. Seharusnya mereka sudah jelas kalau Agatha adalah papanya.
"Iya ada apa?" tanya Martin sambil membuka kulkas.
"Kenapa Tuhan Agatha meminta tes DNA? Bukankah wajah mereka sudah mirip sekali? Tidak usah pakai tes DNA pun kita sudah tahu kalau mereka adalah keluarga," tanya Raka balik.
"Masalahnya sekarang kedua gadis itu tidak percaya kalau Agatha adalah ayahnya. Yang lebih parahnya lagi mereka menolaknya mentah-mentah. Aku sendiri juga bingung kenapa ini bisa terjadi," jelas Martin sambil meraih air mineral di dalam kulkas itu.
"Ini sangat aneh sekali. Bagaimana bisa mereka tidak mengakui tuan Agatha?" tanya Raka.
"Semua ini salahku. Aku meninggalkan mereka dalam keadaan bayi. Dan aku sengaja memisahkan mereka satu persatu, agar mereka selamat. Jika tidak begitu maka mereka akan dihabisi oleh John dan Tutik," jawab Agatha.
"Baiklah, kami mengerti masalah kamu sekarang. Di sini juga kamu tidak bisa disalahkan. Begitu juga dengan istrimu Anita. Jika di telusuri maka kasus ini sangat rumit sekali. Kamu ingin menghancurkan mereka. Dan kami ingin menghancurkan Exodus," jelas Ibra.
__ADS_1
"Ya... Kita sama-sama terjebak dalam hal gila seperti ini. aku sangka masalah ini tidak melibatkan banyak orang. Tapi masalah ini semakin membesar. Kalianlah akhirnya terlibat dalam masalahku ini. Kalau begitu aku mau minta maaf terlebih dahulu," ujar Agatha.
"Kamu tidak perlu meminta maaf seperti itu. Sekarang kita rapatkan barisan dan mencari celah untuk menghajar mereka satu persatu. Jika tidak mereka bisa menghancurkan kita," jelas Martin.
"Kalau begitu aku akan memanggil kamu kakak saja. Karena usiaku dan usiamu jauh berbeda," sahut Raka yang meminta izin untuk memanggil Kakak kepada Agatha.
Mata Agatha berbinar sempurna. Bahwa di dunia ini masih ada saja orang yang menghormatinya. Ditambah orang-orang itulah yang akan membantu menyelesaikan masalah keluarganya. Agatha tersenyum bahagia sambil membungkukkan badannya lalu berkata, "Aku sebagai Agatha menerima nama panggilan tersebut."
"Kenapa Kak Agatha membungkuk seperti itu?" tanya Ibra.
"Ini sebagai penghormatanku karena telah diterima oleh kalian. Apalagi kalian memanggilku kakak. Aku sangat berterima kasih kepada kalian," jawab Agatha.
"Kapan kakak akan melakukan tes DNA?" tanya Raka.
"Kalau bisa sekarang saja. Aku hanya membutuhkan bukti itu untuk menjelaskan kepada Adelia dan Stella. Aku yakin mereka akan tahu sesungguhnya," jelas Agatha.
Kemudian Raka berdiri sambil mengajak Agatha pergi ke suatu ruangan. Di sana Raka akan mengambil sampel darah Agatha. Sedangkan Ibra dan Martin menunggu mereka yang melakukan tes DNA. Mereka larut dalam pikiran masing-masing.
"Bagaimana ini? Masalah semakin rumit," ucap Ibra.
"Itu dia. Mau tidak mau kita harus menyelesaikan semuanya. Apakah ada berita terbaru?" tanya Martin.
"Oh iya sebentar," jawab Ibra yang meraih map yang sudah dibaca oleh Raka lalu menyodorkan ke arah Martin. "Sepertinya kak Martin harus mengetahui ini semua."
"Apa itu?" tanya Martin sambil membuka map itu.
"Baca saja. Nanti kakak tahu sendiri," jawab Ibra.
Martin akhirnya membaca berkas-berkas tersebut. Matanya membulat sempurna karena beberapa fakta yang ditemukan oleh Ibra membuat Martin yakin.
__ADS_1
Sebelumnya Martin sudah menduga kalau mayat-mayat tersebut terkena racun dengan dosis tinggi. Martin tidak bisa menganalisis racun itu. Begitu juga dengan istrinya, Alexa juga mengira orang-orang itu sengaja dibuat kelinci percobaan. Sampai sekarang Alexa mencari keberadaan markas yang dipakai untuk membuat obat-obatan terlarang tersebut.
"Apakah kakak merasa, kalau mereka sudah berbuat konyol seperti itu?" tanya Ibra.