
"Kurang lebih tujuh tahun kemudian. Kira-kira kamu berusia delapan belas tahun ke depan," jawab Asmoro.
"Hmmp... maaf aku enggak tahu," ucap Stella dengan suara lirih.
"Aku tahu itu. Mereka sengaja menutup-nutupi dari kamu," ujar Asmoro.
"Ya begitulah... Aku sendiri sudah dibuang dari Kurumi Company. Aku nggak tahu kenapa ini bisa terjadi denganku. Sementara aku sendiri adalah anak dari sang pemilik Kurumi," kata Stella.
"Mereka memang begitu. Lupakan saja. Kamu sudah memiliki semuanya. Jika mereka tahu, bagaimana perasaannya? Aku yakin mereka akan berteriak-teriak dan ingin merebutnya darimu. Selama aku masih hidup mereka tidak akan bisa merebutnya darimu," jelas Asmoro.
"Aku tidak pernah memperdulikan soal itu. Aku membiarkan semuanya berjalan apa adanya. Terkadang aku sendiri bingung dengan apa yang terjadi," keluh Stella.
"Pokoknya Mulai sekarang kamu nggak usah mikirin itu. Aku akan mengajakmu ke hutan. Aku ingin melihat pembangunan markas Black Horizon. Aku harap kamu mau ikut denganku menjadi pasanganku seutuhnya," pinta Asmoro.
"Baiklah. Aku tidak akan membuat dirimu kecewa. Kemanapun kamu pergi bawalah Aku sesukamu. Karena aku adalah istri sah dan membuat kamu bahagia," balas Stella.
Di tempat lain Gio yang sedang berkumpul dengan Winda hanya terdiam. Tiba-tiba saja ponsel Gio berbunyi. Pria paruh baya itu langsung meraih ponselnya dan membaca sebuah email dari Ian. Matanya membulat sempurna lalu menatap wajah Winda.
"Ini sangat gawat sekali. John sudah mulai bergerak. Mereka menyelundupkan dua orang untuk menjadi karyawan di perusahaan makanan kita. Tadi Yudi memberitahukan kalau dua orang itu diberikan cairan berwarna biru sama John. Salah satu bahan makanan yang mau diolah dimasukkan ke dalamnya. Ditambah lagi lima baris bahan yang sudah jadi ternyata ada cairan berwarna biru. Untung saja saat itu Stella mengakuinya. Jadinya barang itu langsung ditarik semuanya," ucap Gio secara terang-terangan.
Sontak saja Winda terkejut. Ia tidak habis pikir kenapa ada orang sejahat itu. Winda hanya mengelus dadanya dan membiarkan hal itu terjadi.
__ADS_1
"Berarti kita kecolongan dong?" tanya Winda yang meraih air mineral di depannya.
"Kecolongan bagaimana? Yang intinya orang-orang itu masuk ke dalam perusahaan. Aku yakin kalau mereka masih memiliki pekerjaan di perusahaan kita," jawab Gio yang membuat Winda menganggukkan kepalanya.
"Apakah Asmoro akan menyelidiki siapa mereka?" tanya Winda.
"Pastinya. Instingku mengatakan kalau mereka adalah karyawan dari kerjaan kita. John sengaja mencari orang-orang tersebut untuk dijadikan pesuruh di perusahaan kita. Aku yakin ini semuanya ada permainan di belakang," jawab Gio yang mulai menganalisis keadaan.
"Tanggapanmu bagaimana? Itu perusahaan milik kalian bertiga. Jika kamu tidak memburu bosnya, aku yakin kita akan kesusahan mencari mereka," ungkap Winda yang mulai ketakutan.
"Kamu Jangan takut seperti itu. Seorang istri dari ketua mafia harus berani menantang maut. Aku yakin ini perintah dari salah satu petinggi Exodus," ujar Gio yang ketakutan.
"Aku nggak takut masalah itu. Yang aku takutkan itu makanan. Jika tercampur dengan bahan-bahan aneh seperti cairan biru. Aku nggak bisa membayangkan apa yang terjadi untuk ke depannya. Karena makanan kita sudah terkenal di mana-mana. Bahkan produk yang kita keluarkan adalah makanan favoritku semuanya," jelas Winda yang akhirnya Gio mengerti.
"Jangan lupakan Agatha dan Anita. Ditambah lagi sama Niwa dan Nano. Mereka juga akan mengajak Natalie ikut bergabung," sambung Winda.
"Kamu benar. Semakin banyak orang bergabung dengan kita. Semakin besar kita memiliki kekuatan baru. Sepertinya kamu harus melatih para wanita untuk dijadikan pasukan khusus. Nanti akan aku atur jadwalnya. Kemungkinan besar kita akan berlatih di hutan. Aku Masih memikirkan Di mana tempat yang paling pas buat kita latihan. Semakin ke dalam hutan itu bisa dibuat simulasi perang," ucap Gio yang memiliki rencana ingin melatih para wanita di dalam hutan belantara.
"Kamu ini ada-ada saja. Jika kamu mengajak Alexa berlatih. Dengan siapa ketiga cucuku hidup," kesal Winda yang teringat pada ketiga cucunya dan Alexa.
Melihat sang istri kesal, Gio Masih memikirkan langkah selanjutnya. Karena jika dirinya mengajak Alexa latihan. Bagaimana dengan ketiga cucunya? Apakah mereka akan dititipkan oleh mama papanya? Itu tidak mungkin.
__ADS_1
"Kamu memang memikirkan sesuatunya untuk jangka panjang. Sebab aku sendiri tidak memikirkannya hingga ke sana. Maaf perasaan wanita lebih peka ketimbang perasaan pria. Kamu memang pantas menjadi istriku.oleh sebab itu kita ditakdirkan untuk selalu bersama selamanya," Gio memuji kehebatan sang istri sambil memasang wadah memerah seperti kepiting rebus.
"Jika Alexa tidak memiliki tiga anak sekaligus. Kemungkinan juga Alexa ingin membantu menghancurkan markas Exodus. Yang kita pikirkan adalah bagaimana ketiga cucu kita? Jujur aku tidak ingin merepotkan mama dan papa," jelas Winda.
"Mama dan Papa sangat senang sekali. Jika mereka berkumpul di sana. Mereka juga berharap ketiga cucunya bisa hadir di dalam mansion mewahnya itu," ungkap Gio yang melihat kebahagiaan kedua orang tua angkatnya itu.
"Nanti deh, kita harus mencari informasinya terlebih dahulu. Aku tidak ingin merepotkan mama dan papa," sahut Winda yang memandang wajah Gio sudah menua.
"Lebih baik kita bicarakan saja dengan Alexa dan juga Martin. Begitu juga dengan Agatha. Soalnya ini masih rencanaku untuk menghajar Exodus. Kalau aku mengambil keputusan sendiri tanpa pemberitahuan siapapun. Aku yakin mereka akan marah. Kita juga harus melibatkan Papa dan Mama. Soalnya mereka bisa mengambil keputusan Bagaimana enaknya. Aku harap kamu mau mengerti dengan keputusanku ini," kata Gio dengan serius.
"Apapun yang menjadi keputusanmu. Aku selalu mendukungmu. Jangan lupakan mereka semua. Karena kamu adalah sang ketua mafia Black Horizon bagian Eropa," ucap Winda sambil memperingatkan Gio.
Teringat ucapan Winda, Gio memandang langit-langit. Tiba-tiba saja dirinya teringat pada George. Gio menatap wajah Winda kembali. Lalu Gio bertanya, "Ke mana ya George? Aku sedang butuh bantuannya."
"Apakah kamu tidak ingat dengan Ivan?" tanya Winda.
"Kamu selalu saja mengingatkan satu orang yang bisa dikatakan Playboy. Ivan masih dalam perawatan badannya bersama pesawat-pesawat kita. Setelah ini aku akan memanggilnya untuk membicarakan sesuatu," jawab Gio sambil tersenyum manis.
"Apa maksudmu? Apakah Ivan sakit?" tanya Winda sambil kebingungan.
"Nggak usah bingung seperti itu. Lagian juga Ivan berada di Indonesia sekarang. Dia hanya bertugas sebagai pilot dan co pilot. Sekarang dirinya sedang melakukan perawatan mesin pada pesawat. Maka dari itu dirinya juga harus merawat tubuhnya dengan cara masuk ke salon," jawab Gio.
__ADS_1
"Apa maksudnya?" tanya Winda yang kurang paham dengan maksud Gio.