
"Yang dikatakan Martin benar. Kita harus menumpas Exodus. Jika tidak mereka akan membuat masalah di muka bumi ini," jawab Ibra.
"Apakah Evan akan terlibat?" tanya Asmoro.
"Mau nggak mau, suka nggak suka Evan akan terlibat satu sama lain. Dia akan ikut dalam misi ini," jawab Ibra.
"Ternyata cukup sulit ya," ucap Martin.
"Kalau sudah menjadi tugas berarti kita harus melakukannya. Mereka bisa menjadi bringas dan menghancurkan seluruh makhluk hidup berada di bumi ini. Mereka sengaja membuat obat yang bisa menghancurkan otak manusia dalam waktu sekejap. Oh ya... Sampel obat yang kamu berikan kepadaku sudah aku periksa. Ternyata mereka mengambil bahan-bahan itu di sebuah hutan terlarang di kota yang tidak kelihatan manusia. Rata-rata tumbuhan yang diambil itu adalah racun yang sangat mematikan," jelas Ibra.
"Jadi kita harus bagaimana?" tanya Leon.
"Kita nggak boleh gegabah menghajar mereka habis-habisan. Kita harus menghajarnya melalui John terlebih dahulu," jawab Ibra.
"Kenapa harus John?" tanya Martin.
"Sesuai dengan informasi yang kudapatkan. John hanyalah boneka yang bisa diandalkan untuk Liam. Jika Liam sudah bosan, bisa dipastikan Lian akan membuang John dan sekeluarga. Di sini kekuasaan John hanya segelintir jari kita. mau tidak mau kita harus menikmati kesuksesan mereka terlebih dahulu," jelas Asmoro.
"Baguslah kalau begitu. Tadinya aku pikir John adalah seorang kaki tangan Liam," ujar Martin.
"Bukan. John memiliki kelemahan yang cukup signifikan. Jika dirinya dijadikan kaki tangan maka Liam bisa hancur seketika. Oleh karena itu Liam tidak pernah mengangkat John menjadi kaki tangan. Akan tetapi John dengan penuh percaya dirinya mengatakan kalau dia adalah kaki tangan Liam," tambah Ibra.
"Lalu bagaimana selanjutnya?" tanya Martin.
"Selanjutnya bagaimana? Apa maksudmu Liam sangat bangga jika John mengklaim dirinya sebagai kaki tangan?" tanya Asmoro kepada Martin.
"Yupz... Itu benar," jawab Martin.
"Kamu belum tahu aja cara kerja Liam bagaimana. Diam-diam Liam itu suka menjebak John tanpa bersuara sedikitpun. Kamu tahu kan apa maksudnya?" tanya Asmoro balik.
"Kalau begitu keluarga itu akan hancur dengan sendirinya ya?" tanya Ibra yang menebak keluarga John.
"Itu benar. John tidak sepandai Liam. Liam memiliki sifat yang sangat licik sekali. Dengan kelicikannya itu Liam bisa menjebak John dan sekeluarga. Bisa dikatakan mereka sudah masuk ke dalam perangkap secara diam-diam," jawab Asmoro.
__ADS_1
"Tapi yang aku tahu, John sangat berambisi sekali mendapatkan tahta dari Liam," ucap Leon.
"Sepertinya kamu mengetahui soal John?" tanya Asmoro yang mulai curiga.
"Kayaknya aku harus membuka siapa John sebenarnya. Ya udah deh akan aku ceritakan siapa John itu," jawab Leon.
"Harusnya kamu cerita tentang John," kesal Martin.
"Okelah aku akan cerita sesuatu," balas Leon sambil tersenyum meledek Martin.
Flashback on.
Sore yang cerah di kawasan Lex Cafe and Resto. Leon yang sedang menikmati kopi hangat bersama Willi melihat suasana yang sepi. Kemudian ada seorang pria paruh baya duduk di belakangnya. Pria paruh baya itu pun menikmati makan sore. Leon tidak tahu kalau yang sedang makan itu adalah John. Akan tetapi Leon tidak pernah mempermasalahkannya.
Sambil menikmati kopi, Leon mengambil ponselnya dan mengecek seluruh laporan hari ini. Dirinya tidak sengaja melihat satu pesan dari Sang putra. Diam-diam eyang tersenyum lucu lalu menatap Willi.
"Anakku protes. Akhir-akhir ini aku tidak pernah pulang ke rumah," ucap Leon.
"Kamu berantem sama Eka?" tanya Willi.
"I know," ucap Willi.
Beberapa saat kemudian Harlem datang lalu melewati Willi dan Leon. Kemudian Harlem mendekati pria paruh baya itu sambil menyapanya, "Tuan John."
Mendengar namanya disebut dan langsung mengangkat kepalanya sambil berkata, "Duduklah di sini."
Kemudian Harlem duduk di hadapan John. Mereka mengobrol seperti biasa. Lalu Harlem memberikan sebuah rekaman melalui ponselnya itu.
"Aku tadi mendapatkan telepon dari Tuan Liam. Tuan disuruh ke sana untuk bertemu dengannya," ucap Harlem.
"Kenapa aku disuruh ke sana? Di mana lokasinya?" tanya John.
"Lokasinya berada di Manila. Tuan Liam sudah menunggumu," jawab Harlem.
__ADS_1
"Andai saja aku bisa mendapatkan secercah harapan untuk menjadi kaki tangannya. Aku mungkin bisa menjadi seseorang yang bisa dikagumi oleh semua orang. Bahkan para musuhku ketakutan dan menunduk di hadapanku sendiri," kesal John.
"Memangnya Tuan John selama ini apa?" Tanya Harlem.
"Aku hanyalah seorang boneka. Aku sering jadi pesuruh tuan Liam. Di sisi lain Tutik menyuruhku untuk menjadi kaki tangan Tuan Liam," jawab John.
"Kalau begitu Anda harus melakukan sesuatu agar Tuan Liam bisa mempercayaimu. Jika Tuan Liam sudah mempercayaimu. Cepat atau lambat Tuan Liam bisa mengangkatmu sebagai kaki tangannya," saran Harlem.
Flashback off
"Ternyata oh ternyata... John bukan kaki tangan Liam. Kamu itu selalu beruntung mendapatkan informasi yang tak terduga," puji Ibra kepada Leon.
"Memang. Sore-sore aku selalu nongkrong di cafe. Sekalian mengambil laporan kemarin dan dilaporkan ke Alexa," jawab Leon.
"Otakmu sangat cerdik sekali. Tapi kenapa setiap bertemu musuh, kamu selalu duduk berdekatan dengan mereka?" tanya Asmoro.
"Itu hanya kebetulan saja. Mungkin saja waktu yang tak terduga itu adalah waktu yang di mana menjadi keberuntunganku sendiri," jawab Leon.
"Rencana selanjutnya apa?" tanya Martin.
"Seperti biasanya. Kita tidak akan bergerak terlebih dahulu. Biarkanlah mereka menyerang terlebih dahulu," jawab Asmoro.
"Baiklah kalau begitu. Oh ya... Agatha sudah menghubungiku. Agatha ingin bertemu dengan anak-anaknya," ucap Martin.
"Nanti sore saja sehabis pulang dari kantor. Sepertinya aku akan mengajak Stella ke kantor. Stella harus mengenal calon kantornya yang baru ini," sahut Asmoro yang membuat Martin bertanya-tanya.
"Mengapa Stella harus mengenal perusahaanmu?" tanya Martin.
"Karena Stella adalah calon istriku. Dia harus mengenal seluk beluk perusahaanku. Cepat atau lambat aku akan menikahinya dan melindungi dari orang-orang yang memiliki kejiwaan rumit seperti John," jawab Asmoro dengan terus terang.
"Syukurlah... Akhirnya kamu menikah. Aku berharap kamu bisa bahagia dan melupakan seseorang yang berada di dalam hatimu itu," ucap Ibra yang mendoakan secara tulus.
"Mulai sekarang aku sudah melupakan Bella. Wanita itu lebih memilih orang yang paling kaya di dunia ini. Aku nggak ngerti apa yang dipikirannya itu," ujar Asmoro.
__ADS_1
"Sudah Jangan diingat lagi. Suatu hari nanti kamu akan mendapatkan kebahagiaan secara utuh. Memiliki keluarga, putra-putri yang lucu dan aset yang melimpah ruah. Setelah itu kamu tidak akan pernah mendapatkannya," sahut Leon yang mengerti masa lalu Asmoro.
"Jika kamu tidak mau menerima Stella. Bisa dipastikan Ian akan mendapatkannya. Secara finansial Ian sudah mendapatkan aset yang melimpah ruah. Dia juga tidak menolak memiliki istri dua," balas Ibra yang tersenyum manis.