
"Aku tidak membuatmu kesal. Tapi kamu sangat lucu sekali ketika wajahmu menjadi kesal seperti itu," ucap Ian dalam hati.
Adelia memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. Lalu Adelia menghempaskan tubuhnya di atas ranjang empuk. Jujur saja dirinya tidak kuasa menahan air mata saat melihat Stella sedang kesakitan seperti itu. Ingin rasanya Adelia memeluk saudara kembarnya itu.
"Aku jadi teringat akan sesuatu. Di mana ya aku ngomongnya? Jujur saja Aku sangat terkejut sekali mendengar ucapan dari tuan Lampard. Aku juga tidak berhak marah sama ibu. Aku tahu ibu sedang melindungiku. Makanya setahun belakangan ini hatiku sangat gelisah sekali. Seakan diriku mendapatkan bencana bertubi-tubi. Entah ini firasat atau apa ya? Aku sendiri tidak begitu paham. Kenapa baru malam ini takbir keluargaku terbuka luas? Apakah masalah keluargaku sangat berat sekali? Lalu di mana ayahku? Di mana saudara kembarku lagi? Aku ingin mengumpulkannya satu persatu," batin Adelia.
Keesokan paginya Adelia yang selesai membersihkan tubuhnya segera keluar dari kamar. Tak sengaja Adelia melihat Winda sedang membawa senjata. Jujur saja Adelia sangat ketakutan sekali dan menunduk agar tidak melihat senjata itu.
"Adelia," panggil Winda sambil membersihkan senjatanya.
"Ah... Nyonya... Bikin kaget saja," sahut Adelia yang masih ketakutan melihat senjata.
"Sepertinya kamu takut sesuatu?" tanya Winda.
"Iya nyonya. Aku takut dengan senjata yang anda bersihkan itu," jawab Adelia yang blak-blakan.
"Oh ini... Ini senjata adalah senjata favoritku. Aku baru saja mendapatkan dari menantuku. Nanti sore aku tidak langsung pulang ke rumah. Aku ada latihan di lapangan tembak," ucap Winda dengan lembut. "Kemarilah! Jangan takut seperti itu! Sebentar lagi kamu juga akan latihan menembak bersama Stella."
Dengan ketakutannya Adelia terpaksa mendekati Winda. Lalu Adelia duduk di hadapan Winda. Kemudian Adelia memandang wajah Winda dengan teduh.
"Kenapa saya dan Stella belajar tembok?" tanya Adelia.
"Ada satu alasan yang harus kamu tahu. Kamu harus bisa memegang senjata ataupun pedang. Karena nggak usah yang kamu hadapi bukan musuh ecek-ecek. Kamu tidak bisa menyelesaikan dengan nalar di luar kepala," jawab Winda dengan serius.
"Maksudnya apa nyonya?" tanya Adelia lagi.
"Maksudnya adalah kamu menghadapi orang yang serakah. Orang serakah sudah dibutakan oleh harta. Makanya aku menyuruhmu untuk belajar menembak demi melindungi dirimu. Kamu harus tahu sesuatu kalau mereka bisa membunuhmu kapan saja. Contohnya Stella. Orang yang membunuh sama yang menghajarmu adalah orang yang sama. Cepat atau lambat orang itu akan menemukanmu dan menghabisimu. Aku harap kamu paham sampai sini. Aku harap kamu bisa merebut kembali hakmu," jelas Winda yang memasang kembali senjata tersebut.
"Bagaimana aku memakainya?" tanya Adelia.
"Nanti kamu akan belajar dengan nyonyamu itu. Tenang saja Nyonya kamu bisa mengajari dengan penuh kesabaran. Aku harap kamu tidak menolaknya," jawab yang berhasil membuat Adelia terkejut.
"Maksudnya, Apakah Nyonya Alexa?" tanya Adelia.
"Iya siapa lagi? Memangnya kamu memiliki nyonya baru?" tanya Winda dengan serius.
"Enggak sih. Nyonya Winda juga Nyonya saya," jawab Adelia.
"Bener juga," celetuk Winda.
__ADS_1
"Apakah Tuan Lampard sudah memintamu untuk menghubungi ibumu?" tanya Winda.
"Sudah. Agak siangan aku akan menghubunginya. Kalau sekarang kemungkinan tidak bisa. Karena jam segini adalah jam sibuknya sedang membuat kue," jawab Adelia.
"Jangan lupakan hal itu. Karena kalian dalam masalah besar. Oh iya... Kalau perlu bantuan panggil saya saja tidak apa-apa," ucap Winda.
"Terima kasih nyonya," balas Adelia.
Tiba-tiba saja ada seorang pelayan yang mendekati mereka. Sebelum berbicara pelayan itu membungkukkan badannya sambil memberi hormat, "Selamat pagi nyonya."
"Iya ada apa?" tanya Winda.
"Di depan ada seorang tukang buah yang namanya Hatori menunggu Anda," jawab pelayan itu.
"Oh iya ya... Aku kan sedang memesan buah apel. Kok aku lupa sih?" ucap Winda.
"Apakah Hatori disuruh masuk saja ke sini?" tanya pelayan itu lagi.
"Ya disuruh masuk aja!" perintah Winda.
Pelayan itu menganggukan kepalanya sambil meninggalkan Winda. Tiba-tiba saja Adelia baru menyadari seorang pelayan itu menyebut nama Hatori. Dalam hatinya, Apakah Hatori yang dimaksud itu adalah saudara kembarku? Rasanya itu tidak mungkin. Pria itu sangat tampan bagaikan pangeran. Ah rasanya ini sangat aneh sekali.
"Iya Nyonya, ada apa?" tanya Adelia.
"Kamu kenapa sepertinya bingung?" tanya Winda.
"Aku bingung karena mendengar nama Hatori," jawab Adelia yang sepertinya tidak asing lagi dengan nama itu.
"Oh itu... Hatori adalah tukang buah langganan kami. Dia sering mengirimkan buah-buahan segar ke keluarga utama, keluarga nyonyamu dan keluarga sini," jawab Winda.
"Bukan itu nyonya. aku merasa ada sesuatu ketika melihatnya pertama kali," ujar Adelia.
"Maksud kamu?" tanya Winda sambil mengerutkan kepalanya.
Selang berapa menit kemudian, pelayan itu datang mengajak Hatori masuk ke dalam. Pelayan itu memanggil Winda, "Nyonya."
"Iya," sahut Winda.
"Hatori sudah datang nyonya," ucap pelayan itu.
__ADS_1
Tidak sengaja Adelia mengangkat kepalanya lalu menatap Hatori. Ia terkejut dan menatap dirinya versi Jujur saja Adelia tidak bisa menampiknya. Karena wajah Hatori sangat mirip sekali.
"Hatori?" pekik Adelia.
"Kamu berada di sini?" tanya Hatori yang seakan mengenalnya sudah lama sekali.
"Iya nyonya. Aku pernah melihat pas hari minggu kemarin," jawab Adelia.
Mata Winda tidak sengaja melihat wajah Hatori dengan jelas. Tiba-tiba saja mata Winda beralih ke wajah Adelia. Sontak saja wanita paruh baya itu terkejut sekali sambil menggelengkan kepalanya.
Ketika Winda berkata jujur, tiba-tiba saja Lampard dan Gio datang. Kedua pria itu tidak sengaja melihat Hatori di depannya. Tak sengaja Lampard memandang wajah pemuda tersebut. Sedangkan Gio memandang wajah istrinya yang terkejut dengan serius.
"Ada apa?" tanya Gio. "Kamu sakit?"
"Aku nggak sakit," jawab Winda. "Apakah pria ini bernama Hatori Kanagawa?"
"Maksudnya apa ya?" tanya Hatori. "Nyonya kenal nama panjang saya?"
"Hey... Wajah kalian sangat mirip sekali," sahut Lampard sambil menunjuk Adelia dan Hatori.
"Ah... Itu benar tuan. Kami juga baru pertama bertemu di Mansion Nyonya Alexa," jawab Hatori yang membuat mereka terkejut.
"Bisakah nanti sore kamu ada waktu?" tanya Lampard.
"Ada apa ya tuan?" tanya hattori yang bingung.
"Aku ingin berbicara sesuatu kepadamu," jawab Lampard.
"Suatu kehormatan khusus buat saya. Saya bisa bertemu dengan orang penting seperti anda. Kalau begitu saya tidak akan menolak undangan tersebut. Siapa tahu nanti saya bisa memiliki pekerjaan yang tetap," ucap Hatori dengan sungguh-sungguh.
"Kalau begitu aku tunggu di restoran samping Snowden Groups," pinta Lampard.
"Baik Tuan, Terima kasih banyak," balas Hatori. "Kalau begitu saya undur diri dulu."
"Eh tunggu dulu... Urusan kita belum selesai," ucap Winda dengan lembut.
"Urusan apa nyonya?" tanya Hatori yang merupakan sesuatu.
"Apakah kamu tidak mau uang pembayaran dariku?" tanya Winda yang membuat Hatori sangat terkejut.
__ADS_1