Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Mencari Informasi Tentang Agatha.


__ADS_3

"Kamu tahu itu?" tanya Lampard.


"Ya... Aku tahu itu. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tidak ada badai mereka selalu membuat ulah. Padahal mereka tidak ada yang menggeseknya," jawab pria itu.


"Ini sangat sulit dijelaskan dengan logika. Jujur aku akui, kalau aku memang ketua mafia. Namun aku masih memiliki sifat penolong. Maka aku harus melakukannya," ujar Lampard.


"Coba kamu cari informasi di dunia bawah tanah soal mereka. Kamu akan tercengang mendapatkan informasi yang menurut aku aneh," suruh Lampard.


"Apanya yang aneh. Jacob sudah mencari keberadaan informasi itu di bawah tanah. Ujung-ujungnya laptop terbakar," kesal Lampard.


"Kak Nano," panggil Jacob yang baru saja tiba.


Pria itu bernama Nano. Nama asli Nano adalah Anthonio Banderas. Tapi pria ini bukan aktor laga di film Hollywood. Semenjak sang aktor karirnya melejit membintangi film terkenal, Nano sempat stres. Karena hampir tiap hari seluruh orang yang bekerja sama dengan Nano sering menanyakan, apakah Anda seorang aktor tersebut? Dengan berat hati dan meminta izin kedua orang tuanya dirinya memakai nama panggilannya menjadi nama aslinya.


"Kemarilah,'' seru Nano.


Jacob segera mendekati dua pria paruh baya itu sambil menaruh minumannya. Jacob duduk berhadapan lalu melihat Nano dan Lampard secara bergantian. Merasa dilihat seperti itu kedua pria itu merasa geram dan ingin menghajar Jacob.


"Ada apa kamu melihatku seperti itu?" tanya Lampard.


"Apakah disini ada yang mengenal Agatha Kanagawa?'' tanya Jacob.


Mendengar nama Agatha, mata Nano membulat sempurna. Lalu pria paruh baya itu berbalik bertanya, "Kenapa kamu menanyakan soal Agatha?''


"Apakah kakak mengenalnya?" tanya Jacob.


"Dia adalah teman SMAku. Bahkan aku sama dia adalah satu geng. Dia tidak bisa berbahasa Indonesia dengan fasih dan juga lancar. Setelah lulus SMA, Agatha sengaja tidak melanjutkan kuliahnya. Dia sengaja membuka usaha kecil-kecilan yaitu membuat roti. Dengan kegigihannya membuka usaha, Agatha memiliki sebuah pabrik roti bernama Kurumi Company. Setelah itu dia menikah dengan seorang perempuan asal Surabaya,'' jelas Nano.


"Apakah nama istrinya Tutik?'' tanya Lampard.


"Tidak. Kabar terakhir yang aku dengar Agatha memiliki anak kembar tiga. Dua perempuan satu laki-laki,'' jawab Nano.


"Ada yang tidak beres dengan Kurumi Company,'' celetuk Jacob.


"Maksud kamu apa?'' tanya Nano.

__ADS_1


"Kurumi sedang berada di tangan John Smith,'' sela Lampard.


"Apa!" teriak Nano.


''Iya,'' jawab Lampard.


"Kamu tahu siapa John Smith?" tanya Nano.


"Bukannya dia adalah kaki tangan seorang mafia,'' jawab Lampard.


"Itu benar. Dia adalah pria serakah. Dia memiliki hobi bermain perempuan dan mengkonsumsi obat-obatan terlarang," tambah Nano.


"Mengkonsumsi obat-obatan terlarang? Lalu bagaimana dia bertemu klien jika dirinya seperti itu?" tanya Lampard.


"Entahlah. Aku juga enggak tahu. Aku sudah lama tidak memegang Red Immortal. Sekarang Red Immortal berada di tangan Nathalie," terang Nano.


"Kalau begitu bisa dikatakan gawat jika John sakau ketika bertransaksi?" tanya Jacob.


"Tidak tahu. Aku tidak memperdulikannya. Aku hanya terdiam dan tidak memperdulikannya. Yang perlu kalian garis bawahi jangan sampai bertemu dengan Exodus. Cepat atau lambat sang big bos akan menghancurkan kamu!" titah Nano.


"Kami sudah berurusan dengan Exodus hanya karena perempuan ini. Dan kami terjebak dalam lingkarannya," keluh Lampard.


"Bagaimana caranya?" tanya Jacob.


"Kumpulkan saja para singa betina. Jika mereka sudah berkumpul kita bisa mengarahkan ke markas mereka. Biar mereka menggempur satu persatu," jawab Nano yang tersenyum manis.


Mereka menepuk jidatnya dan menggelengkan kepalanya. Bagaimana tidak Nano memberikan ide yang sangat mengerikan? Entahlah si Nano yang memiliki jiwa absurd.


"Mengerikan!" tegas Lampard.


"Memang sangat mengerikan. Alexa, Nathalie, Kak Niwa, Kak Winda lalu digabung sama Mama Linda. Dalam sekejap mereka akan hancur berkeping-keping," celetuk Jacob.


"Coba saja kamu pasti bisa kok untuk melakukannya," suruh Nano.


"Lalu, apakah yang akan kamu lakukan?" tanya Lampard.

__ADS_1


"Melihat mereka melakukan aksinya," jawab Nano.


"Semoga aku tidak mendapatkan jodoh seperti mereka," celetuk Jacob yang memandang Nathalie sedang duduk bersama Alexa dan Stella.


"Untung saja ya... Tapi kenapa matamu berada pada putriku?" tanya Nano dengan geram.


Jacob langsung membuang wajahnya. Wajahnya memerah karena sangat malu terpergok oleh Nano. Jujur saja Jacob terpesona dengan apa yang dilihatnya. Namun dirinya dapat mengendalikan keadaan agar tidak terlalu jauh.


"Aku lagi melihat Alexa," celetuk Jacob.


"Ah... Kamu itu... Ada-ada saja. Kalau Martin ngamuk aku tidak akan membela kamu," kesal Lampard.


"Apakah kak Nano pernah mendapatkan informasi tentang Agatha setelah memiliki anak?" tanya Jacob.


"Sudah enggak. Kemungkinan Gio yang mendengarnya. Setelah aku menikah dengan Niwa, aku sudah pindah ke Madrid," jawab Nano yang telah kehilangan kontak. "Kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Berita tentang Agatha sekarang masih simpang siur. Ada yang mengatakan kalau Agatha masih hidup. Tapi keberadaannya entah kemana? Ada yang mengatakan kalau dirinya telah meninggal karena dibunuh. Tapi sampai sekarang aku enggak tahu siapa pelakunya," jelas Jacob.


"Kalau begitu kamu tanyakan saja pada Gio," saran Nano.


"Sore tadi aku bertemu dengan Kak Gio. Tapi jawabannya enggak tahu. Ini yang membuat aku bingung," jawab Jacob.


"Kemungkinan besar Gio juga sama dengan aku yaitu kehilangan kontak. Atau juga Gio jarang mengikuti perkembangan Kurumi karena terlalu fokus pada pekerjaannya," imbuh Nano.


"Memang benar sih. Apa yang kakak katakan. Memang Kak Gio sering menutup mata dan telinga. Ya bisa dikatakan Kak Gio kurang update," celetuk Nano.


Sementara di meja lain Stella tertawa karena ulah Nathalie dan Alexa. Entah kenapa dua wanita berkelas sering berbuat konyol. Bahkan mereka tidak pernah malu kepada yang lainnya. Malam ini Stella sangat berterima kasih kepada Tuhan. Karena dirinya telah dipertemukan oleh orang baik. Dahulu Stella menganggap orang kalangan atas itu sangat menakutkan. Namun sekarang berbeda. Bahkan pertemuan malam ini Alexa mengajak seluruh pelayan untuk bergabung dan membaur. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya. Mereka juga tidak jijik dan saling mengobrol.


"Sepertinya kamu bahagia melihat mereka yang sedang berkumpul?" tanya Alexa.


"Ya... Kak... Aku baru sadar kalau mereka para pelayan yang tadi membantu kita memasak bergabung dengan keluarga kakak," jawab Stella. "Apakah mereka tidak jijik atau bagaimana?"


"Di keluarga besar kami tidak ada kata jijik. Jika ada rejeki lebih aku memilih mengumpulkan mereka lalu membuat pesta. Atau juga kita melakukan bakar ayam atau apalah. Karena kami sama dengan mereka di mata Tuhan," jelas Alexa.


Stella sangat terharu mendengar penjelasan dari Alexa. Meski usianya belum menginjak kepala tiga namun dirinya telah berbuat kebaikan yang melimpah ruah. Mulai saat ini Stella akan menanamkan ilmu itu di dalam dirinya. Meskipun miskin Stella akan mencoba berbagi.

__ADS_1


"Kamu tahu Stella, pelayan yang kerja disini sangat betah sekali. Sangking betahnya mereka tidak ingin bekerja di tempat lain," ucap Nathalie.


"Apakah itu benar?" tanya Stella.


__ADS_2