Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Perlahan Tapi Pasti.


__ADS_3

“Kamu mau tahu


siapa yang melakukannya?” tanya Asmoro.


“Iya, aku harus


tahu itu. Aku tidak bisa membiarkan mereka diam,” jawab Stella.


“Dia adalah John


Smith. Dia memiliki cairan berwarna biru. Dia juga yang membuat manusia menjadi


zombie. Aku tidak habis pikir sama orang tersebut. Bisa-bisanya orang itu


membuat manusia menjadi zombie,” jawab Asmoro dengan kesal.


Mata Stella


membelalak sempurna. Bagaimana bisa ia mendengar siapa pelaku sebenarnya?


Kenapa hidup Stella semakin sulit saja? Namun Stella mulai berpikir dengan


kepala dingin. Ada apa sebenarnya yang telah terjadi pada John dan Tutik?


“Kamu jangan


memikirkan mereka. Mereka tidak pantas kamu pikirkan. Sedari dulu mereka tidak


pernah membuat kamu bahagia sama sekali. Ingatlah mereka membuat kamu


menderita. Terutama pada si Patty,” ucap Asmoro yang memperingatkan Stella pada


Patty.


“Aku tidak


menyangka kalau John bisa melakukan seperti ini,” ujar Stella yang menatap


wajah Asmoro.


“Apa aku harus


cerita tentang John? Apakah kamu harus tahu semuanya walau menyakitkan seperti


itu?” tanya Asmoro yang menatap wajah ceria dan senyum mematikan.


“Huaha... Kakek


Asmoro sangat menyeramkan sekali,” ucap Stella dengan jujur.


“Belum


menyeramkan sama sekali,” sahut Asmoro yang tersenyum dan mengecup mulut


Stella.


“Kakak! Kenapa kakak


mencuri ciumanku?” kesal Stella sambil merengek manja.


“Lagian juga kamu


adalah istriku,” jawab Asmoro yang membuka pintu. “Jadi wajar aku menciummu


setiap jam.”


“Coba saja pada


awal bertemu? Kamu memang pria jahat,” ujar Stella yang masih kesal yang


tiba-tiba saja mengingat kejadian dimasa lalu.


“Kamu adalah


wanita yang pertama kali membentakku pertama kali. Kamu yang berani mengejekku


saat itu. Aku akan mengingatnya. Aku tidak akan sakit hati hingga nanti. Bahwa


kisah kita yang satu itu akan aku simpan di dalam memori indah di sini,” kata


Asmoro yang menunjuk otaknya.


“Apakah kamu


tidak menceritakan kepada anak cucumu kelak?” tanya Stella.


“Tidak akan. Aku


malu sekali pada mereka. Sang ketua mafia kalah sama perempuan sih,” jawab


Asmoro yang membuat Stella tertawa.


Melihat Stella


tertawa, Asmoro hanya tersenyum saja. Asmoro baru berhasil membuat istri kecilnya


bahagia. Jujur baru kali ini Stella tertawa lepas seperti itu. Dirinya baru


menyadari kalau istrinya perlu tertawa.


“Aku akan


berjanji akan membuatmu tertawa selamanya. Karena kamu adalah wanita yang


sangat penting bagiku,” batin Asmoro.


“Ayo kita keluar!


Aku ingin melihat seberapa markas jadi,” ajak Asmoro.


“Ya... baiklah,”


ujar Stella.


Mereka akhirnya


keluar dari mobil. Asmoro segera mendekati Stella. Ia langsung memeluk Stella


sambil berbisik, “Jangan takut pada kegelapan.”


“Memangnya aku


anak kecil?” tanya Stella.


“Ah... iya...


berapa usia kamu?” tanya Asmoro yang tidak ingat pada usia Stella.


“Apakah kamu


tidak mengingat usiaku?” tanya Stella yang merangkul tubuh Asmoro.


“Aku lupa,” jawab


Asmoro.


“Aku berusia dua


puluh lima tahun,” jawab Stella. “Beberapa bulan lagi aku akan berulang tahun


yang ke dua puluh enam tahun. Aku sudah mulai menua.”


“Kamu enggak


bakalan tua nanti. Kamu adalah Ratu Noe yang sangat cantik sekali.” Asmoro


menghibur Stella agar tidak menjadi sedih.


“Hehehe... bukannya

__ADS_1


manusia semakin lama semakin menua?” tanya Stella.


“Memang benar.


Tapi aku sama kamu tidak pernah bisa tua,” jawab Asmoro.


“Kok bisa?” tanya


Stella yang membuat Asmoro bingung.


“Semuanya bisa.


Nanti kamu akan paham setelah ini,” jawab Asmoro.


Jujur Asmoro


sekarang bingung dengan pertanyaan Stella. Sebab Stella adalah keturunan dari


Kerajaan Noe. Yang dimana orang-orangnya di sana tidak bisa menjadi tua. Asmoro


mendapatkan informasi dari Ivan sang co pilot.


“Nggak usah


dipikirkan,” ujar Asmoro yang masih merangkul Stella.


Lalu Asmoro mengajak


Stella pergi ke utara selama dua ratus meter. Di sana banyak pegawai yang masih


membangun markas. Ia tersenyum manis sambil menunjukkan tempat yang dibangun


itu.


“Lihatlah, sudah


hampir tujuh puluh persen markas hampir jadi,” seru Asmoro yang bahagia.


“Bisakah aku


bersembunyi disini?” tanya Stella yang membuat Asmoro menganggukan kepalanya.


“Apa yang enggak


buat kamu?’ tanya Asmoro sambil tersenyum manis. “Sekarang aku tanya sama kamu.


Kenapa kamu bersembunyi disini?”


“Demi menghindari


Patty dan Tutik. Ditambah lagi aku akan membuat rencana untuk menyerang Patty,”


jawab Stella yang ingin menyerang Patty.


Mendengar jawaban


Stella, Asmoro menyunggingkan senyumannya. Ternyata Stella sekarang sudah


bangkit dari keterpurukan. Ia percaya kalau Stella berani melawan Patty. Ia


harus mendukung keinginan Stella. Ia akan memfasilitasi keinginan Stella.


“Kalau kamu mau


balas dendam nanti aku buatkan rencana,” celetuk Asmoro yang memandang wajah


Stella.


“Baiklah,” balas


Stella.


Begitu keinginan


yang didengarkan oleh sang suami, Stella langsung tersenyum. Jujur dirinya


juga tidak akan membiarkan Patty dan Tutik membuatnya dirinya menderita.


Saat melihat


markas dibangun, Asmoro dikejutkan oleh kedatangan Ibra dan Raka. Kedua dokter


itu melihat pasangan yang baru saja menikah langsung berdeham dengan kencang


secara bersamaan. Hingga membuat Stella menoleh ke belakang.


“Bukannya mereka


dokter?” tanya Stella.


“Hallo... kakak


ipar,” sapa Ibra dan raka secara serempak.


Asmoro tersenyum


melihat Raka dan Ibra di belakang mereka. Lalu Raka mengajak mereka ke saung


yang tidak jauh dari lokasi tersebut.


“Apakah tempat


ini tidak ada hewan buasnya?” tanya Stella.


“Tidak. Mereka


tidak ada,” jawab Ibra.


“Adapun kami akan


menangkapnya dan menjadikannya sebagai hewan peliharaan,” ucap raka.


“Masa iya sih?”


tanya Stella. “Padahal mereka sangat ganas."


“Nggak ganas.


Bilamana kamu memperlakukan mereka sangat baik,” jelas Asmoro. “Mereka memiliki


perasaan sama seperti manusia.”


“Dia hewan Kak,”


celetuk Stella.


“Kemana Disyaku?”


tanya Asmoro.


“Oh... Disyamu


baru saja melahirkan bayi dua,” jawab Ibra.


“Apakah kamu


memiliki seorang istri lagi?” tanya Stella yang mulai marah dan ngambek.


“Ada. Dia sangat


ganas sekali. Kamu harus mengenalnya,” jawab Asmoro yang membuat Stella semakin


geram.


“Semuanya pria


sama saja. Sudah memiliki seorang istri malah nikah lagi,” kesal Stella. “Lalu


kamu menjadikan aku yang kedua?’

__ADS_1


“Ya... enggak lah.


Aku akan menjadikanmu yang pertama,” jawab Asmoro yang berhenti melihat


Raka yang mempersilahkan duduk di saung.


Tak lama kemudian


datang Farrel yang membawa anak singa yang baru saja diambil dari induknya. Ia


mendekati Asmoro untuk digendong oleh Asmoro.


“Kak, lihatlah,”


panggil farell,” panggil Farrel yang tidak sengaja melihat Stella.


“Kak Farel?”


pekik Stella.


“Ngapain kamu


disini?” tanya Farell.


“Dia kesini


karena ikut denganku,” sahut Asmoro. “Bukannya dia adalah anak buahmu yang


bekerja di WO maupun EO?”


“Iya... dia


adalah anak buahku. Dia menghilang tanpa jejak,” jawab Farrell yang memberikan


singa itu ke arah Asmoro. “Kenapa kakak bawa Stella kesini?”


“Dia memang


istriku,” jawab Asmoro yang membuat Farrel terkejut.


“Apakah kakak


serius?” tanya Farrell yang membuat Asmoro yang menganggukan kepalanya.


“Itu benar,”


jawab Stella. “Aku sekarang sudah menikah,” jawab Stella. “Bisakah kamu


memberikan singa itu kepadaku?”


“Kamu ingin


menggendong singa kecil ini?” tanya Farrell yang memberikan singa kecil itu


kepada Stella.


“Aku ingin


menggendongnya,” jawab Stella yang meraih singa itu lalu digendongnya.


“Aku harap singa


itu menjadi singa yang baik,” ucap farrel yang membuat Stella.


“Kakak ini


ada-ada saja. Mana ada singa bisa menjadi anak yang baik?” tanya Stella.


“Ya... bisa kalau


dididik dengan baik,” jawab Farrel yang tersenyum bahagia. “Lebih baik kamu


jangan memanggilku kakak. Aku sekarang bukan bosmu lagi.”


“Kenapa aku tidak


boleh memanggilmu kakak?” tanya Stella yang sengaja dibiarkan oleh Asmoro


mengobrol kepada Farrell.


“Karena kamu


bukan lagi pegawaiku. Aku juga bukan bosmu lagi. Sekarang kamu adalah istri


dari Kak Asmoro,” jelas Farrell. “Yang dimana kamu itu lady mafianya Kak


Asmoro.”


“Apa yang


dikatakan oleh Farrel itu benar,” sahut Asmoro. “Karena kamu sekarang istri


dari ketua mafia Black Horizon.”


“Baiklah. Aku


tidak akan memanggil kamu kakak lagi,” ucap Stella. “Lalu aku harus memanggil


kamu apa?”


“Kamu boleh


memanggil nama saja. Sebab aku sekaranglah yang akan memanggil kamu kakak.”


“Apakah itu


penting?” tanya Stella.


“Ya... itu


penting,” jawab Asmoro.


“Lama-lama kamu


mengerti apa yang akan terjadi nanti,” ujar Asmoro yang membuat Stella


menganggukan kepalanya.


“Okelah... aku


harus pulang ke kota. Besok akan ada acara untuk acara ulang tahun seorang


klien,” pamit Farrell.


“Hati-hati,” seru


Stella.


Akhirnya Farrel


pergi meninggalkan markas. Ia harus pergi ke hotel untuk memeriksa pekerjaan


anak buahnya.


Apakah Farrel


sakit hati melihat Stella bersama Asmoro? Jawabannya tidak. Farrel pulang


dengan senyum merekah di bibir. Farrel turut mendoakan kebahagiaan Stella dan


juga Asmoro. Bahkan ia juga berharap Stella ada yang melindunginya. Agar


kejadian yang lalu tidak akan pernah terulang lagi.


“Apakah dia


sangat lucu sekali?” tanya Asmoro yang melihat Stella memandangi anak singa


itu.

__ADS_1


__ADS_2