
“Kamu mau tahu
siapa yang melakukannya?” tanya Asmoro.
“Iya, aku harus
tahu itu. Aku tidak bisa membiarkan mereka diam,” jawab Stella.
“Dia adalah John
Smith. Dia memiliki cairan berwarna biru. Dia juga yang membuat manusia menjadi
zombie. Aku tidak habis pikir sama orang tersebut. Bisa-bisanya orang itu
membuat manusia menjadi zombie,” jawab Asmoro dengan kesal.
Mata Stella
membelalak sempurna. Bagaimana bisa ia mendengar siapa pelaku sebenarnya?
Kenapa hidup Stella semakin sulit saja? Namun Stella mulai berpikir dengan
kepala dingin. Ada apa sebenarnya yang telah terjadi pada John dan Tutik?
“Kamu jangan
memikirkan mereka. Mereka tidak pantas kamu pikirkan. Sedari dulu mereka tidak
pernah membuat kamu bahagia sama sekali. Ingatlah mereka membuat kamu
menderita. Terutama pada si Patty,” ucap Asmoro yang memperingatkan Stella pada
Patty.
“Aku tidak
menyangka kalau John bisa melakukan seperti ini,” ujar Stella yang menatap
wajah Asmoro.
“Apa aku harus
cerita tentang John? Apakah kamu harus tahu semuanya walau menyakitkan seperti
itu?” tanya Asmoro yang menatap wajah ceria dan senyum mematikan.
“Huaha... Kakek
Asmoro sangat menyeramkan sekali,” ucap Stella dengan jujur.
“Belum
menyeramkan sama sekali,” sahut Asmoro yang tersenyum dan mengecup mulut
Stella.
“Kakak! Kenapa kakak
mencuri ciumanku?” kesal Stella sambil merengek manja.
“Lagian juga kamu
adalah istriku,” jawab Asmoro yang membuka pintu. “Jadi wajar aku menciummu
setiap jam.”
“Coba saja pada
awal bertemu? Kamu memang pria jahat,” ujar Stella yang masih kesal yang
tiba-tiba saja mengingat kejadian dimasa lalu.
“Kamu adalah
wanita yang pertama kali membentakku pertama kali. Kamu yang berani mengejekku
saat itu. Aku akan mengingatnya. Aku tidak akan sakit hati hingga nanti. Bahwa
kisah kita yang satu itu akan aku simpan di dalam memori indah di sini,” kata
Asmoro yang menunjuk otaknya.
“Apakah kamu
tidak menceritakan kepada anak cucumu kelak?” tanya Stella.
“Tidak akan. Aku
malu sekali pada mereka. Sang ketua mafia kalah sama perempuan sih,” jawab
Asmoro yang membuat Stella tertawa.
Melihat Stella
tertawa, Asmoro hanya tersenyum saja. Asmoro baru berhasil membuat istri kecilnya
bahagia. Jujur baru kali ini Stella tertawa lepas seperti itu. Dirinya baru
menyadari kalau istrinya perlu tertawa.
“Aku akan
berjanji akan membuatmu tertawa selamanya. Karena kamu adalah wanita yang
sangat penting bagiku,” batin Asmoro.
“Ayo kita keluar!
Aku ingin melihat seberapa markas jadi,” ajak Asmoro.
“Ya... baiklah,”
ujar Stella.
Mereka akhirnya
keluar dari mobil. Asmoro segera mendekati Stella. Ia langsung memeluk Stella
sambil berbisik, “Jangan takut pada kegelapan.”
“Memangnya aku
anak kecil?” tanya Stella.
“Ah... iya...
berapa usia kamu?” tanya Asmoro yang tidak ingat pada usia Stella.
“Apakah kamu
tidak mengingat usiaku?” tanya Stella yang merangkul tubuh Asmoro.
“Aku lupa,” jawab
Asmoro.
“Aku berusia dua
puluh lima tahun,” jawab Stella. “Beberapa bulan lagi aku akan berulang tahun
yang ke dua puluh enam tahun. Aku sudah mulai menua.”
“Kamu enggak
bakalan tua nanti. Kamu adalah Ratu Noe yang sangat cantik sekali.” Asmoro
menghibur Stella agar tidak menjadi sedih.
“Hehehe... bukannya
__ADS_1
manusia semakin lama semakin menua?” tanya Stella.
“Memang benar.
Tapi aku sama kamu tidak pernah bisa tua,” jawab Asmoro.
“Kok bisa?” tanya
Stella yang membuat Asmoro bingung.
“Semuanya bisa.
Nanti kamu akan paham setelah ini,” jawab Asmoro.
Jujur Asmoro
sekarang bingung dengan pertanyaan Stella. Sebab Stella adalah keturunan dari
Kerajaan Noe. Yang dimana orang-orangnya di sana tidak bisa menjadi tua. Asmoro
mendapatkan informasi dari Ivan sang co pilot.
“Nggak usah
dipikirkan,” ujar Asmoro yang masih merangkul Stella.
Lalu Asmoro mengajak
Stella pergi ke utara selama dua ratus meter. Di sana banyak pegawai yang masih
membangun markas. Ia tersenyum manis sambil menunjukkan tempat yang dibangun
itu.
“Lihatlah, sudah
hampir tujuh puluh persen markas hampir jadi,” seru Asmoro yang bahagia.
“Bisakah aku
bersembunyi disini?” tanya Stella yang membuat Asmoro menganggukan kepalanya.
“Apa yang enggak
buat kamu?’ tanya Asmoro sambil tersenyum manis. “Sekarang aku tanya sama kamu.
Kenapa kamu bersembunyi disini?”
“Demi menghindari
Patty dan Tutik. Ditambah lagi aku akan membuat rencana untuk menyerang Patty,”
jawab Stella yang ingin menyerang Patty.
Mendengar jawaban
Stella, Asmoro menyunggingkan senyumannya. Ternyata Stella sekarang sudah
bangkit dari keterpurukan. Ia percaya kalau Stella berani melawan Patty. Ia
harus mendukung keinginan Stella. Ia akan memfasilitasi keinginan Stella.
“Kalau kamu mau
balas dendam nanti aku buatkan rencana,” celetuk Asmoro yang memandang wajah
Stella.
“Baiklah,” balas
Stella.
Begitu keinginan
yang didengarkan oleh sang suami, Stella langsung tersenyum. Jujur dirinya
juga tidak akan membiarkan Patty dan Tutik membuatnya dirinya menderita.
Saat melihat
markas dibangun, Asmoro dikejutkan oleh kedatangan Ibra dan Raka. Kedua dokter
itu melihat pasangan yang baru saja menikah langsung berdeham dengan kencang
secara bersamaan. Hingga membuat Stella menoleh ke belakang.
“Bukannya mereka
dokter?” tanya Stella.
“Hallo... kakak
ipar,” sapa Ibra dan raka secara serempak.
Asmoro tersenyum
melihat Raka dan Ibra di belakang mereka. Lalu Raka mengajak mereka ke saung
yang tidak jauh dari lokasi tersebut.
“Apakah tempat
ini tidak ada hewan buasnya?” tanya Stella.
“Tidak. Mereka
tidak ada,” jawab Ibra.
“Adapun kami akan
menangkapnya dan menjadikannya sebagai hewan peliharaan,” ucap raka.
“Masa iya sih?”
tanya Stella. “Padahal mereka sangat ganas."
“Nggak ganas.
Bilamana kamu memperlakukan mereka sangat baik,” jelas Asmoro. “Mereka memiliki
perasaan sama seperti manusia.”
“Dia hewan Kak,”
celetuk Stella.
“Kemana Disyaku?”
tanya Asmoro.
“Oh... Disyamu
baru saja melahirkan bayi dua,” jawab Ibra.
“Apakah kamu
memiliki seorang istri lagi?” tanya Stella yang mulai marah dan ngambek.
“Ada. Dia sangat
ganas sekali. Kamu harus mengenalnya,” jawab Asmoro yang membuat Stella semakin
geram.
“Semuanya pria
sama saja. Sudah memiliki seorang istri malah nikah lagi,” kesal Stella. “Lalu
kamu menjadikan aku yang kedua?’
__ADS_1
“Ya... enggak lah.
Aku akan menjadikanmu yang pertama,” jawab Asmoro yang berhenti melihat
Raka yang mempersilahkan duduk di saung.
Tak lama kemudian
datang Farrel yang membawa anak singa yang baru saja diambil dari induknya. Ia
mendekati Asmoro untuk digendong oleh Asmoro.
“Kak, lihatlah,”
panggil farell,” panggil Farrel yang tidak sengaja melihat Stella.
“Kak Farel?”
pekik Stella.
“Ngapain kamu
disini?” tanya Farell.
“Dia kesini
karena ikut denganku,” sahut Asmoro. “Bukannya dia adalah anak buahmu yang
bekerja di WO maupun EO?”
“Iya... dia
adalah anak buahku. Dia menghilang tanpa jejak,” jawab Farrell yang memberikan
singa itu ke arah Asmoro. “Kenapa kakak bawa Stella kesini?”
“Dia memang
istriku,” jawab Asmoro yang membuat Farrel terkejut.
“Apakah kakak
serius?” tanya Farrell yang membuat Asmoro yang menganggukan kepalanya.
“Itu benar,”
jawab Stella. “Aku sekarang sudah menikah,” jawab Stella. “Bisakah kamu
memberikan singa itu kepadaku?”
“Kamu ingin
menggendong singa kecil ini?” tanya Farrell yang memberikan singa kecil itu
kepada Stella.
“Aku ingin
menggendongnya,” jawab Stella yang meraih singa itu lalu digendongnya.
“Aku harap singa
itu menjadi singa yang baik,” ucap farrel yang membuat Stella.
“Kakak ini
ada-ada saja. Mana ada singa bisa menjadi anak yang baik?” tanya Stella.
“Ya... bisa kalau
dididik dengan baik,” jawab Farrel yang tersenyum bahagia. “Lebih baik kamu
jangan memanggilku kakak. Aku sekarang bukan bosmu lagi.”
“Kenapa aku tidak
boleh memanggilmu kakak?” tanya Stella yang sengaja dibiarkan oleh Asmoro
mengobrol kepada Farrell.
“Karena kamu
bukan lagi pegawaiku. Aku juga bukan bosmu lagi. Sekarang kamu adalah istri
dari Kak Asmoro,” jelas Farrell. “Yang dimana kamu itu lady mafianya Kak
Asmoro.”
“Apa yang
dikatakan oleh Farrel itu benar,” sahut Asmoro. “Karena kamu sekarang istri
dari ketua mafia Black Horizon.”
“Baiklah. Aku
tidak akan memanggil kamu kakak lagi,” ucap Stella. “Lalu aku harus memanggil
kamu apa?”
“Kamu boleh
memanggil nama saja. Sebab aku sekaranglah yang akan memanggil kamu kakak.”
“Apakah itu
penting?” tanya Stella.
“Ya... itu
penting,” jawab Asmoro.
“Lama-lama kamu
mengerti apa yang akan terjadi nanti,” ujar Asmoro yang membuat Stella
menganggukan kepalanya.
“Okelah... aku
harus pulang ke kota. Besok akan ada acara untuk acara ulang tahun seorang
klien,” pamit Farrell.
“Hati-hati,” seru
Stella.
Akhirnya Farrel
pergi meninggalkan markas. Ia harus pergi ke hotel untuk memeriksa pekerjaan
anak buahnya.
Apakah Farrel
sakit hati melihat Stella bersama Asmoro? Jawabannya tidak. Farrel pulang
dengan senyum merekah di bibir. Farrel turut mendoakan kebahagiaan Stella dan
juga Asmoro. Bahkan ia juga berharap Stella ada yang melindunginya. Agar
kejadian yang lalu tidak akan pernah terulang lagi.
“Apakah dia
sangat lucu sekali?” tanya Asmoro yang melihat Stella memandangi anak singa
itu.
__ADS_1