
“Sore tadi papa telepon Bu,” jawab Hatori.
“Lalu kenapa kamu lemes begitu?” tanya Bu Gita.
“Semenjak kepulangan aku dari rumah sakit. Aku merasa dibayangi oleh seorang anak perempuan yang usianya sama aku,” jawab Hatori. “Dia sedang terbaring lemah.”
Bu Gita beranjak dari duduknya lalu mendekati Hatori. Ia segera mendekatinya dan menghempaskan bokongnya di samping Hatori, “Seorang gadis... terbaring lemah.”
“Iya Bu. Jika aku perhatikan gadis itu sangat mirip aku. Dan di samping gadis itu ada lagi seorang gadis yang sedang bersedih untuk meminta bantuanku. Entah kenapa aku merasa kok ini sangat aneh sekali?” tanya Hatori.
“Mungkin kamu terlalu capek. Akhir-akhir ini kamu terlalu capek karena lembur terus,” jawab Bu Gita yang paham dengan kondisi Hatori.
“Bener juga sih Bu. Ya udah dech Bu... aku mau tidur terlebih dahulu. Besok aku diundang sama Nyonya Alexa ke rumahnya,” jawab Hatori.
“Nona Alexa itu ya... Yang memiliki suami Tuan Martin?” tanya Bu Gita.
“Iya Bu... aku disuruh sama Nyonya beli buah di pasar,” jawab Hatori.
“Tumben kok menyuruh kamu. Biasanya nyonya bisa menyuruh orangnya,” ucap Bu Gita yang membingungkan.
“Lha... masa ibu lupa... kalau aku dulu adalah tukang buah di pasar. Lalu aku bertemu sama nyonya pas aku kerja. Lalu nyonya minta aku membungkuskan jeruk sebanyak lima kilo. Aku bilang saja jeruknya asem. Si nyonya enggak percaya dan bertanya, kenapa bisa asem? Lalu aku jelaskan buah masak dan belum masak. Nah setelah itu Nyonya memintaku untuk menjadi api buah untuk keluarganya,” jelas Hatori yang membuat Bu Gita terkejut.
“Apakah itu benar?” tanya Bu Gita seakan tidak percaya apa yang dikatakan oleh Hatori.
“Ya... semenjak itu aku diminta untuk menjadi ahli buah dan mencarikannya buah untuk keluarga besarnya,” jawab Hatori dengan semangat.
“Memang sedari dulu waktu kecil kamu bisa membedakan mana buah yang belum masak dan sudah masak. Meskipun keahlian kamu yang kamu miliki sangat aneh sekali... ternyata membawa hoki,” ujar Bu Gita dengan bahagia. “Ya... udah dech kamu istirahat terlebih dahulu.”
“Baik Bu,” balas Hatori yang menaruh baju tersebut di meja dan segera meninggalkan Bu Gita.
__ADS_1
Melihat kepergian Hatori , senyum terbit tercetak jelas di bibir Bu Gita. Wajahnya menghangat ketika Hatori sudah mulai ceria. Ia berdiri untuk melanjutkan pekerjaannya. Namun sebelum melanjutkan pekerjaannya, Pak Kusno segera mendekatinya sambil membawa kopi, “Bu.”
“Iya pak,” sahut Bu Gita.
“Baru saja bapak mendapatkan telepon dari Tuan Agatha. Tuan meminta aku untuk mencari keberadaan kedua putrinya,” ucap Pak Kusno.
“Apa?” pekik Bu Gita. “Maksudnya Nona Stella dan Nona Adelia?”
“Iya... sama nyonya Anita. Tuan Agatha ingin mengajaknya untuk tinggal di Tokyo,” jawab Pak Kusno. “Tapi sekarang yang jadi pertanyaan aku tidak tahu keberadaan mereka?”
“Apakah kita harus menyewa detektif untuk mencari keberadaan mereka?” tanya Bu Gita.
“Tuan Agatha hilangnya begitu. Katanya lebih cepat lebih baik,” jawab Pak Kusno.
“Ini yang susah sih pak. Ibu enggak tahu keberadaan Nyonya Anita. Terakhir aku dengar, Nyonya tinggal di Semarang. Kalau sekarang ibu enggak tahu lagi,” ucap Bu Gita. “Terus identitas Nona Adel dan Nona Stella juga tidak ada. Ibu juga masih tanda tanya kalau mereka masih hidup atau sudah tiada.”
“Tuan bilang kalau mereka masih hidup,” ujar Pak Kusno.
Pak Kusno menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Jika kita ke sana maka mereka akan menjadikan umpan untuk memancing Tuan Muda Bu. Jika Tuan Muda hadir ke permukaan maka mereka akan menyingkirkannya dengan cara menghabisnya.”
“Kan ada Nona Stella?” tanya Bu Gita.
“Ibu pikir gampang kalau bicara. Jika kita ke sana sama juga menyetorkan nyawa. Ibu tahu kalau yang namanya Tutik itu awannya iblis. Dia akan mencari cara agar bisa menemukan Tuan Muda dan kedua nona muda.” ujar Pak Kusno yang membuat Bu Gita hanya bisa terdiam. “Sabarlah Bu. Kita akan mencari cara agar kita menemukan solusinya.”
Sementara Hatori sudah berbaring di atas ranjangnya. Ia mulai memejamkan matanya sambil menarik nafasnya. Otaknya mulai berpikir untuk mencari jawaban yang sedari tadi mengganggu pikirannya. Tak lama ia mulai terlelap tidur dengan damai.
Setelah berada di bawah alam sadar, Hatori melihat banyak bunga bermekaran dengan indah. Ia mulai mengendus aroma semerbak wangi bunga tersebut. Hatori pun sadar kalau dirinya sedang berdiri di tengah taman. Ia memejamkan matanya sambil merentangkan kedua tangannya. Di dalam hatinya ia merasakan ada rasa yang damai yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Selesai merasakan kedamaian sejenak, Hatori membuka matanya sambil mencari orang. Ia mulai berjalan sambil melihat suasana taman yang sangat sepi.
__ADS_1
“Tempat apa ini?” tanya Hatori dalam hati. “Kok aku enggak bisa menemukan seseorang satu pun.”
Beberapa saat kemudian mata elangnya menangkap ada seorang gadis muda sedang kebingungan. Gadis itu berlari ke sana kemari seperti kehilangan arah. Ia segera berlari dan menangkap gadis itu sambil menatapnya, “ Kamu siapa?”
Gadis yang berlari tadi sangat terkejut dengan tindakan Hatori. Ia menatap wajah pria yang baru saja menangkapnya. Matanya membulat sempurna sambil bertanya, “Kamu siapa?”
“Lalu, kamu siapa? Kenapa wajah kita sangat mirip?” tanya Hatori.
“Stella!” seru seorang gadis yang baru saja datang sambil membawa bunga mawar merah. “Aku sudah menemukannya.”
“Sebentar Del,” sahut Stella nama gadis itu lalu menatap wajah Hatori yang sangat mirip wajahnya.
“Siapa nama kamu?” tanya Stella.
Sedangkan Adel nama gadis yang memanggil nama Stella berlari ke arahnya. Ia semakin mendekat sambil menatap wajah Hatori, “Dia siapa?”
“Aku enggak tahu. Sedari tadi dia memandangiku. Aku tanya nama hanya diam saja,” kesal Stella yang menarik tangannya dari genggamannya.
Jujur Hatori ingin berkata sesuatu. Namun mulutnya terbungkam karena melihat ada satu lagi gadis yang datang dengan wajah yang mirip sekali dengannya. Ia menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Kalian adalah aku dalam versi perempuan.”
“Aku pun juga. Kamu juga mirip sama kami. Tapi versi pria,” sahut Stella.
“Apakah kita saudara kembar?” tanya Hatori.
“Aku tidak tahu,” jawab Stella yang mengedikkan bahunya.
“Enggak tahu ya. Baiklah kalau begitu,” ucap Hatori yang hatinya menghangat sambil tersenyum sumringah.
Ketiga anak manusia itu saling memandang dan tidak berkata apa-apa. Mereka seakan terikat dengan tali yang kuat. Sebelum berpisah mereka saling berpegangan tangan sambil melemparkan senyuman yang manis.
__ADS_1
Pagi yang cerah di kawasan perkampungan, Hatori terbangun dari tidurnya. Matanya membulat sempurna sambil memandang kamarnya yang bisa dikatakan biasa. Ia memijit keningnya sambil berkata, “Mimpi itu sangat nyata. Tiba-tiba saja aku bertemu dengan dua orang gadis yang sangat mirip aku. Bahkan saat berpegangan, batin kami terikat. Lalu, siapakah mereka?”