Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Benarkah Lampard Dalam Bahaya?


__ADS_3

Hatori terdiam dan membiarkan wajah kedua gadis itu tersimpan di dalam memorinya. Matanya mulai terpejam lagi sambil menyebut nama kedua gadis tersebut sambil berkata, “Stella dan Adelia.”


“Hatori! Hatori!” teriak Bu Gita.


Hatori terkejut dan mulai beranjak dari duduknya sambil menyahut, “Apakah kamu tidak bekerja hari ini?”


“Oh iya Bu... aku lupa,” jawab Hatori sambil melihat jam.


Mansion Alexa.


Adelia yang terbangun dari tidurnya merasakan dadanya sesak. Semalam ia bermimpi bertemu dengan Stella dan seorang pria yang sangat mirip sekali dirinya. Namun ia tidak mengerti siapa pria tersebut? Kenapa dirinya merasakan sesuatu. Lalu ia memutuskan untuk bersih-bersih.


Di bawah Lampard dan Ian menghempaskan bokongnya sambil memegang keningnya. Ia sedang menunggu Alexa dan Martin turun. Ketika berdiam diri Lampard memandang wajah Ian yang sudah lelah sekali.


“Apakah malam ini kita harus menyelidikinya?” tanya Lampard.


“Bisakah aku beristirahat malam ini?” tanya Ian.


“Boleh... kita akan menundanya besok. Aku akan menerjunkan satu orang mata-mata yang bisa masuk ke dalam,'’ jawab Ian.


“Buat apa mata-mata?” tanya Martin yang baru saja datang.


“Kamu tahukan anggota Exodus yang di bawah naungan John Smith membuat ulah?” tanya Lampard.


“Ya,” jawab Martin yang duduk di hadapan mereka.


“Apakah kamu mencurigai sesuatu?” tanya Ian.


"Ya... tapi aku tidak mendalaminya soal kasus itu," jawab Martin.


"Kalian bicara apa sih? Kok aku enggak diajak?" tanya Alexa yang baru saja datang.


"Soal Exodus," jawab Lampard.

__ADS_1


"Mereka adalah organisasi dari dunia bawah tanah. Aku tidak bisa cerita saat ini. Takut ada yang mendengar. Aku akan kirimkan kepada kalian," ucap Alexa.


"Tidak apa-apa. Aku berharap semuanya baik-baik saja," ujar Lampard.


"Ya.. itu benar," balas Martin. "Apakah kakak lewat di situ?"


"Akhir-akhir ini aku lewat situ demi menghemat waktu," jawab Lampard.


Martin memegang dagunya sambil berkata, "Jika kakak sering lewat sana. Berarti Papa dalam bahaya."


"Dari mana Kak Lampard dalam bahaya?" tanya Ian yang memandang wajah Lampard.


Plakkkkkk!


Lampard sangat kesal terhadap Ian. Bisa-bisanya Ian menganggap masalah ini sangat ringan seperti baja putih di iklan tv. Jujur masalah ini sangat berat sekali untuk dikulik.


"Jangan samakan masalah ini dengan iklan baja ringan," kesal Lampard.


"Bagaimana kabarnya Stella?" tanya Alexa.


"Stella belum bangun dari tidurnya. kemungkinan besar Stella berpengaruh sama obat bius," jawab Lampard.


"Aku dengar Stella dipindahkan ke markas Black Horizon ya?" tanya Martin.


''Iya itu benar. Selesai aku bertemu dengan Kak Gio, Stella harus dipindahkan. Mengingat kejadian yang lalu bahwa rumah sakit pernah diserang oleh anggota Exodus. Kami tidak ingin terulang lagi," jawab Lampard.


"Kakak benar. jika begitu aku bisa tenang. Aku harap semuanya baik-baik saja," ujar Martin.


"Apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" tanya Alexa.


"Entahlah. Jalan masih panjang belum ada pemikiran selanjutnya. Kita tidak terlalu terpaku oleh dunia bawah tanah. Kita harus berpikir ke perusahaan kita. Jangan sampai gara-gara masalah Stella, kita lengah lalu musuh menyerang," saran Lampard. "Dan kamu Alexa... Jangan sampai lengah sedikitpun. Jika kamu lengah anak-anakmu dalam bahaya."


"Baiklah Kak. Aku akan sering-sering membagi waktuku antara dunia bawah sama dunia atas. Aku harap masa ini cepat selesai," jawab Martin.

__ADS_1


"Bagaimana mau selesai? KIta sendiri aja terlilit masalah besar. Dari awal kita telah disibukkan oleh penyerangan demi penyerangan dari Exodus secara mendadak. Ditambah lagi masalah Stella. Aku sempat berpikir ingin melepaskan Stella begitu saja. Menahannya juga kita mendapat masalah besar. Jadi di sinilah bingung sak karepe dewe," ungkap Lampard yang memang dirinya bingung.


"Ya kamu benar. memang masalah ini tidak semudah yang kita bayangkan seperti memberikan telapak tangan. Kita akan mencari solusinya secara pelan-pelan. Hingga kita bisa mendapatkan jawabannya," jawab Martin.


"Apakah kita harus menyerang musuh?" tanya Alexa hingga membuat papa angkatnya matanya membulat sempurna.


"Idemu sangat mengerikan. Jika saja yang kita hadapi adalah Mafioso, kita masih bisa menyerangnya. Yang kita hadapi sekarang adalah mafia asal Meksiko. Kalau menyerangnya maka kita akan menyetorkan nyawa kepada mereka. Jangankan kita, mafioso dari Italia dan menyerah apalagi kita. Coba deh kamu bicarakan pada Pablo. Siapa tahu pamanmu itu mendapatkan taktik yang bisa membantai mereka, "ucap Lampard.


"Paman sekarang sudah pensiun dari dunia permafia-an. Paman memilih menetap tinggal di Bali. Jika aku ingin bertemu. Berarti menunggu Sean libur sekolah. Kamu tahu kan kalau Sean tergila-gila dengan Bali. Bahkan aku disuruh membuat mansion di sana. Sejenak aku mikir buat apa. Lagian juga aku sering menetap di Jakarta," ucap Martin yang membuat lemper tertawa.


"Kalau begitu aku yang akan pergi ke sana. Sekalian berlibur di daerah Bali sana. Jujur hampir seabad aku tidak liburan," ungkap Ian yang bersemangat untuk liburan.


"Ingin rasanya aku melempar asistenku ini ke daerah konflik sana. Biar dia merasakan sepanjang hari tanpa liburan. Bukannya hari ini hari Minggu? Seharusnya dia pergi meninggalkanku untuk pergi ke pusat perbelanjaan," kesal Lampard.


"Kamu tahu itu namanya bukan liburan. Hampir setiap hari aku keluar masuk ke pusat perbelanjaan satu dan lainnya. Dan aku merasa sangat bosan sekali," ujar Ian yang sedang curhat.


"Bener juga ya... apa yang kamu katakan. Aku akan memberikan waktu selama tiga hari dua malam untuk berlibur. Aku akan memberikan kamu akomodasi untuk liburan. Selama kamu berlibur, aku akan mendesain sebuah senjata terbaru," sahut Lampard dengan serius.


"Kalau begitu baiklah. Aku akan mencari waktu yang tepat. Sewaktu aku tinggal markas aman," kata Ian.


"Tidak perlu memikirkan markas. Masih ada aku dan Kak Gio. Ditambah lagi dengan Ibra," ucap Lampard yang mempersilakan Ian liburan.


"Siapakah Ibra?" tanya Martin.


"Oh iya... aku belum cerita siapa Ibra? Ibra adalah dokter yang merawat aku ketika jiwa iblisku bangkit kembali," jawab Lampard.


"Apakah Ibra orang baru?" tanya Martin.


"Bukan... dulu Ibra adalah pengawalku. Dia adalah seorang multitalented dalam bidang kedokteran. Aku sengaja menyekolahkan dia hingga sukses seperti ini. Lalu aku angkat dia menjadi seorang dokter di Black Horizon. Dia sangat ahli sekali bisa membedakan obat asli dan juga racun," jawab Lampard yang menjelaskan tentang Ibra.


"Jujur aku tidak mengenalnya. kemungkinan besar Alexa yang tahu. Oh iya besok di Snowden Groups ada meeting tentang kemajuan perusahaan. Aku harap kakak hadir di dalam perusahaan tersebut," pinta Martin.


"Kalau begitu aku akan melihat jadwal Kak Lampard dulu," sahut Ian.

__ADS_1


__ADS_2