
"Aku lupa siapa yang menjadi muridku. Yang pastinya aku mendapatkan cacian dari mereka. Karena aku tidak cocok menjadi seorang guru apalagi dosen. Mereka malah menghujatku habis-habisan untuk turun dari mimbar," jawab Asmoro sambil terkekeh.
"Apakah kakak tahu sesuatu? Kalau kakak itu nggak mirip sama sekali untuk menjadi seorang guru maupun dosen. Kakak itu mirip sekali menjadi ketua mafia atau juga seorang vokalis dari musisi Cadas. Lihat saja wajah Kakak yang sangat menyeramkan itu. Pertama kali lihat Kakak aku sudah ketakutan seperti itu," Jelas Stella yang membuat Asmoro tertawa.
"Kamu benar. Jujur sadari dulu aku tidak ingin sekali menjadi guru maupun dosen. Kalau ingin mengajari secara langsung aku tidak memakai teori. Aku langsung praktek dan mengajarinya satu persatu. Kadang-kadang Aku nggak suka yang namanya teori. Soalnya teori itu adalah hal yang sangat membosankan sekali," ucap Asmoro dengan jujur.
"Bukankah kita sekolah dulu itu harus memakai teori terlebih dahulu baru praktek?" tanya Stella.
__ADS_1
"Kamu tahu kalau aku dulu jarang sekali masuk ke dalam kelas. Nilai raporku berwarna merah semuanya. Almarhum Papa sampai geleng-geleng kepala karena aku. Aku sendiri juga tidak tahu kenapa nilaiku merah," Jelas Asmoro yang berkata jujur kepada Stella tentang nilainya yang berwarna merah semuanya.
"Aku yakin pada waktu itu Kak Asmoro langsung kena hukuman. Aku sendiri jarang sekali lapor ku berwarna merah," ungkap Stella dengan jujur.
"Perempuan dan laki-laki itu lain Jika masih kecil. Apalagi kalau sedang tumbuh dewasa. Perempuan itu lebih rajin masuk sekolah ketimbang anak laki-laki. Terus anak laki-laki itu sering bolos ketika mendapatkan pelajaran yang tidak disukainya. Contohnya aku ini. Aku tidak menyukai matematika. Fisika maupun kimia. Pokoknya semuanya serba hitung-hitungan. Apalagi belajar bahasa Inggris. Sering mutusin untuk bolos sekolah. Terus aku tinggal tidur di dalam kamar. Yang lucunya lagi kedua orang tuaku tidak tahu. Kalau saat itu aku tidur di rumah hingga sore. Tahu-tahunya aku keluar malam. Mereka menganggapku sedang belajar dengan serius," jelas Asmoro.
"Iya kan. Nggak selamanya kami ini pemalas tapi bisa membuat orang-orang bahagia. Memang aku sendiri telah mengejar semuanya. Sekarang aku sudah mendapatkannya satu persatu. Yang belum itu satu," kata Asmoro sambil tersenyum.
__ADS_1
"Apa itu? Apakah itu seorang baby?" Tanya Stella.
"Iya. Aku memang sangat menginginkannya untuk meneruskan cita-citaku kelak. Menjadi seorang pria sukses maupun wanita sukses. Dan kamu tahu kita harus mendukungnya. Kita juga tidak boleh keras kepala untuk menjadikannya seorang bisnisman. Menyuruhnya untuk mendalami hobi. hobi itu bisa menjadikan ladang Uang bagi mereka," jelas Asmoro.
"Kamu benar. Ya sudah kalau begitu. Aku ingin tidur buat besok pagi," Pamit Stella sambil membetulkan bantalnya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Asmoro.
__ADS_1
"Masak buat sarapan. Emangnya kamu nggak makan?" tanya Stella.