
"Kalau kakek enggak mau bagaimana?" tanya Asmoro sambil meraih tubuh mungil Sean.
"Kakek, apakah kakek ingin hidup sendiri?" tanya Sean mulai menjadi dewasa.
"Kamu belajar bicara seperti itu dari mana sih? Harusnya perkataan itu tidak boleh diucapkan. Karena kamu itu masih anak-anak. Kamu belum waktunya menjadi dewasa," ucap Asmoro yang tidak mau sang cucu berkata aneh-aneh.
"Aku tidak ngomong aneh-aneh kek. Lagian kayaknya nggak mau ngajakin aku main," kesal Sean.
"Bukannya begitu. Kamu itu belum waktunya tunggu menjadi pria kuat seperti kakek," bisik Asmoro yang tidak ingin sang jujur berkata-kata dengan dewasa.
Sontak saja Agatha tertawa mendengar pernyataan dari Sean. Agatha tidak pernah menyangka kalau mereka sangat lucu. Namun hatinya tiba-tiba saja bersedih. Diam-diam Agatha merasakan hatinya hancur. Andai saja waktu bisa diulang kembali. Agatha akan bahagia ketika mereka sedang tumbuh kembang. Lalu Agatha mencoba melupakan hal itu.
__ADS_1
Namun dengan cepat, Scarlett menghibur Agatha dengan kata-kata yang lucu. Agatha akhirnya tersenyum lagi.
Di dapur mereka sedang membuat puding. Memang sudah selesai. Namun tadi Agatha meminta puding itu. Berhubung dirinya sedang di dapur. Maka Anita membuat puding yang kedua kalinya.
"Memangnya papa suka puding?" tanya Adelia.
"Sedari dulu papamu itu suka puding sama salad buah. Maka dari itu dulu sebelum terjadi perpisahan. Mama sering membuatkannya. Meskipun rasanya tidak begitu manis, papamu sangat menyukainya," jawab Anita.
"Kamu banyak-banyak belajar tentang masak-memasak. Jangan biarkan suami kamu makan di luar. Ini saranku sih. Rata-rata pria yang makan di luar akan mengenal perempuan lain. Jadi laki-laki itu memiliki prinsip sekali mendayung tiga pulau terlampaui," ujar Adelia yang membuat Stella mengganggukan kepalanya.
"Memang benar Kak. Rata-rata mereka makan di luar itu katanya bosan. Bukankah kita harus mengucapkan terima kasih kepada sang istri. Malahan menyakiti hati istri," kesal Stella.
__ADS_1
"Jangan terlalu dipikirin seperti itu. Semua orang itu memiliki pikiran yang berbeda. Saking bedanya orang-orang itu tidak mengenal yang namanya belas kasihan. Untuk mencari pria yang setia itu sulit sekali. Kalau dihitung bisa jadi satu atau dua. Sisanya isinya tidak setia," saran Anita.
"Aku nggak mau cari cowok yang nggak setia ma. Aku sudah capek mendapatkan cowok yang kurang ajar plus tukang selingkuh. Bener-bener deh mereka itu sangat-sangat tidak bisa menguntungkan pihak perempuan. Mana ada perempuan harus berkorban dianya nggak mau," kesal Stella yang mulai gusar terhadap pria seperti itu.
"Kamu sudah mendapatkan pria tertampan dan setia. Mama yakin jika Asmoro itu orangnya setia. Dia tidak akan pernah melepaskan kamu sedikitpun. Sama halnya dengan sang asisten. Sang asisten orang yang sangat setia sekali," jelas Anita.
"Aku nggak tahu apalagi ma. Aku terkadang masih ragu dengan keputusannya Kak Asmoro yang menikah dengan cepat seperti ini," jelas Stella.
"Biarkanlah kalian menikah terlebih dahulu. Kami sedang memikirkan banyak cara. Agar kamu terlepas dari jerat manusia gila itu. Jika kamu sudah lepas, kamu bisa lega," Anita memberikan saran agar Stella untuk setia kepada Asmoro.
"Apakah dia benar-benar mencintaiku? Di sinilah aku mau membinasakan keraguan yang mendalam. Jika Kak Asmoro setia. Aku bisa memberikan kesetiaan ini. Jika tidak, akulah orang yang pertama bisa menghancurkan apapun dalam waktu sekejap," sahut Stella.
__ADS_1