Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Perintah Stella.


__ADS_3

"Ya tariklah semuanya. Masak kita biarkan saja seperti itu. Kalau sudah masuk ke negara lain. Bisa-bisa perusahaan kita hancur," jelas Stella.


"Apakah itu benar?" tanya Ian yang mulai meledek Stella.


"Itu benar. Semoga saja orang-orang seperti itu tertangkap dengan cepat. Aku sudah tidak sabar lagi menangkap mereka," jawab Stella dengan jujur lalu berhenti tepat berada di tempat penggilingan.


Melihat Stella berhenti di sana, Asmoro mendekatinya dan menatap bahan-bahan makanan yang akan digiling. Namun Stella mulai mendekati dan mengambil tepung itu memakai tangan. Tiba-tiba saja Stella mencium sejenis aroma kimia yang sangat tajam sekali.


"Rasanya ini ada yang tidak beres? Sepertinya kita harus membuangnya,". ucap Stella.


Dengan cepat Ian mengambilnya dan tidak melihat apa-apa. Ia melihat bahan makanan itu tidak apa-apa. Namun Stella langsung menampiknya dengan cara menggelengkan kepalanya.


"Tarik semua bahan-bahan itu. Jangan sampai bahan-bahan itu dipakai oleh mereka. Kamu tidak bisa mencium aroma bahan kimia tersebut. Sebab bahan kimia itu hanya bisa dicium dengan penciuman tajam!" perintah Stella.


"Baiklah... Tarik semuanya Ian. Memang apa yang dikatakan Stella itu benar. Jika Stella sudah memaparkan bahan makanan ini. Maka buanglah semuanya. Aku yakin dengan instingku orang itu berada di sini. Mereka memang sengaja melakukannya karena disuruh orang," jelas Asmoro yang mendapatkan perintah dari Stella.

__ADS_1


"Kalau begitu baiklah," sahut Ian.


"Rinto," panggil Asmoro.


"Iya Kak," sahut Rinto.


"Cari mereka dan lemparkan ke ruangan bawah tanah!" perintah Asmoro yang tidak main-main untuk saat ini.


"Bolehkah aku menyiksanya?" tanya Sheila yang tiba-tiba saja ingin menyiksa orang.


Mata Stella membulat sempurna. Untung saja Ian saat ini tidak mendengarnya. Sebab saat ini Ian sedang menghubungi orang yang bekerja di bagian bahan makanan ini.


"Aku yakin orang itu masih menyimpan obat tersebut. Ternyata oh ternyata Apakah itu yang dinamakan cairan biru yang dipakai untuk melukai banyak orang di dunia ini?" tanya Stella.


"Kamu tahu itu semuanya?" tanya Asmoro balik.

__ADS_1


"Ratu Noe yang bernama Sheila sudah memberitahukan aku. Kita disuruh bersatu untuk menghancurkan sang pemilik cairan biru itu. Cairan biru itu ternyata ada. Orang-orang yang memegang cairan biru itu membuatnya sebagai senjata utama untuk menghancurkan para manusia. Kalau kita tidak menyelamatkannya sekarang. Mereka akan mati konyol karena kebanyakan mengkonsumsi cairan berwarna biru itu," jawab Stella yang menjelaskan efek dari cairan biru itu.


"Ya sudah kalau kamu sudah tahu semuanya. Aku tidak akan menutupinya lagi. Pada awalnya aku memang sengaja menutupinya. Agar kamu tidak terpengaruh dengan dongeng Ratu Noe dan Raja Noe," sambung Asmoro.


"Aku memang sudah ditakdirkan sebagai jelmaan Ratu Noe sebenarnya. Memang berat ujung-ujungnya. tapi aku harus bersatu denganmu untuk menghabisi mereka semua," tambah Stella.


Setelah Ian menghubungi orang-orang yang memegang mesin pembuat bahan makanan itu. Ian mendekati mereka dan bertanya, "Kalau kayak gini kita nggak bisa ekspor bos."


"Kalau nggak bisa ekspor ya nggak apa-apa. Kita berhenti saja dulu. Jika kita melakukannya tanpa harus mengecek dan finishing. Barang itu keluar dengan seenaknya. Semua orang dari kalangan anak-anak hingga untuk usia tua bisa mengkonsumsi makanan tersebut. Jika itu terjadi cepat atau lambat cairan biru itu bisa membunuh jantung dengan cepat," jelas Stella.


"Turuti saja permintaan Stella untuk saat ini. Kita juga nggak bisa mengelak sedikitpun. Jika barang itu sampai keluar. Yang rugi kita semua. Mereka tidak mau memesan barang itu dan membiarkan perusahaan ini terbengkalai. Ketika semuanya sudah hancur. Para musuh bisa bertepuk tangan dengan seenaknya," tahun Asmoro.


"Memang susah kalau bekerja dengan anak indigo," gerutu Ian hingga membuat Stella tertawa.


"Aku bukan anak indigo. Aku memang diberikan kepercayaan untuk mencium aroma cairan berwarna biru. Ya sudah deh kalau begitu kita pergi ke gudang saja. Aku juga merasakan ada yang janggal dengan beberapa kardus yang ditumpuk di pojok kiri," jelas Stella yang mulai menebak.

__ADS_1


__ADS_2