Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Kasihan Imron 2.


__ADS_3

Imron yang sedang makan malam bersama Jacob langsung terbatuk-batuk. Pria bertubuh kekar itu sedari tadi merasakan firasat tidak enak. Mungkin saja Imron mengetahui kalau dirinya sedang ada membicarakannya.


Uhuk...


Uhuk...


Uhuk...


Uhuk...


Uhuk...


Imron langsung mengambil air tepat berada di depannya. Imron segera menghabiskannya agar tidak terbatuk kembali. Namun naas dirinya tidak bisa menghalau batuk tersebut.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" tanya Jacob.


"Sepertinya ada yang membiarkan aku. Hingga aku terbatuk seperti ini," jawab Imron sambil menahan batuknya.


"Pasti yang ngomongin para penggemarmu ya?" tanya Jacob sambil tersenyum manis.


"Boro-boro. Kalau batuk seperti ini Itu tandanya orang terdekat kita yang ngomongin. sepertinya ada beberapa orang yang ngomongin aku," kesal Imron yang meraih ponselnya lalu menuliskan sebuah status di aplikasi berwarna hijau memiliki gambar telepon.


Isi status tersebut.


Setelah menulis status, Imron melanjutkan makan dengan pelan-pelan. sementara William, Leon dan Ian sedang duduk sambil menunggu kedatangan Asmoro. Tak sengaja mereka mengotak-atik ponselnya. Biasanya di jam segini mereka sangat kepo terhadap status orang. Terutama pada status Scarlett maupun Rara. Kedua gadis kecil itu, sudah pandai membuat status. Padahal mereka belum sekolah sama sekali.


Tidak sengaja mereka melihat status Imron. Dan benar saja, ketika mereka sedang membicarakan kisah asmara pria tersebut. Imron menjadi batuk-batuk. Mereka tidak menyangka kalau pembicaraannya itu sampai ke telinga Imron.

__ADS_1


"Imron oh Imron.. maafkanlah kami yang tidak sengaja membicarakan kamu. Aku sangat kasihan dengan kisah cintamu itu. Padahal kamu sendiri ingin sekali menikah. bukannya menikah malah putus. Sampai kapanpun kami akan mendukung keputusanmu. Tetaplah semangat dan jangan pernah menyerah. Nanti akan aku kirimkan seribu bidadari dari langit. Kamu bisa memilihnya dan menjadikan salah satu dari mereka seorang istri," ucap Ian dengan tulus sambil menahan tawanya.


Seketika tawa Leon dan William meledak. Sebenarnya mereka tidak menertawakan Imron. Melainkan mereka mendengar ucapan Ian. Ya, mereka bisa dikatakan para pengawal sangat br*ngsek sekali. Bukannya berduka malah tertawa terbahak-bahak. andai saja ada Imron di sebelahnya. Kemungkinan besar mereka akan mendapatkan hukuman dan dilemparkan ke daerah konflik beberapa hari saja.


"Kalian tega banget sih menertawakan Imron?" tanya Ian.


"Sebenarnya aku tidak tega menertawakannya. Kami sengaja menertawakan kamu itu," jawab Leon secara blak-blakan.


"Terserah kamu deh. Jika saja Imron berada di sini. Kemungkinan besar kalian akan ditendang ke daerah konflik. Aku yakin kamu tidak akan bisa kembali lagi ke sini," jelas Ian.


"Kita bisa memakai perlindungan dari Kak Asmoro. karena kita sedang dibutuhkan," ujar Leon yang berani terhadap Imron.


"Kenapa sih kalian berdua Kalau bertemu sering berantem seperti ini? Lama-lama kalian aku nikahkan," kesal Ian.

__ADS_1


"Kamu tahu kalau kita jarang bertemu seperti ini. Aku tidak pernah berantem sama Imron. Imron sudah menjadi kakakku. Kami saling berbagi dan bercerita tentang masalah pribadi. Aku sangat menyukainya terutama dalam mengambil keputusan. Meskipun dibicarakan, Kak Imron tidak pernah marah sama sekali. Bahkan Kak Imron sendiri sangat berterima kasih sekali. bukannya marah Kak Imron malah membuat perbaiki kesalahan. Itulah yang aku suka darinya," jelas Leon.


"William, Apakah pekerjaanmu sudah selesai? Apakah kamu menemukan sebuah kesulitan ketika masuk ke dalam perusahaan milik Boni?" tanya Ian.


__ADS_2