Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Itu Masih Wacana Saja.


__ADS_3

"Aku tahu pemilik mobil itu siapa?" jawab Stella yang mulai ketakutan dengan keadaan sekitarnya.


"Memangnya siapa yang punya mobil itu?" tanya Asmoro sambil mengerutkan keningnya.


"Mobil itu adalah milik Patty. Dialah yang membuat aku seperti ini. Aku nggak tahu, kenapa Patty sangat membenciku," jawab Stella dengan murung.


"Itu masalah klasik. Kamu tahu kenapa dia melakukan itu? Karena dia kira kamu itu anaknya Tutik. Lalu nenekmu atau kakekmu itu ingin memberikan ahli waris Kurumi ke kamu. Kenapa bisa begitu? Karena kamu adalah anak tertua. Usiamu sama usia dia tidak beda jauh. Di situlah Patty merasakan Ada kesenjangan sosial. Yang di mana dirimu telah mendapatkan semuanya. Sedangkan dia tidak memiliki apa-apa. Sebenarnya itu salah besar. Aku tahu dia tidak tahu duduk perkaranya bagaimana? Karena kedua orang tua dia telah meracuni atau mendoktrin otaknya untuk merebut Kurumi Company dari tanganmu sendiri," jelas Asmoro.


"Itu sangat menyeramkan sekali. Aku tahu nggak semudah itu mendoktrin anak sendiri," ucap Stella yang masih menatap mobil itu.


"Itu gampang. Anak kecil itu ibarat air bening lalu kita tumpahin pewarna berwarna merah semuanya menjadi warna merah. Itulah Tutik yang membuat anaknya seperti itu. Semoga kamu paham dengan penjelasanku ini," jelas Asmoro.


Yang dikatakan Asmoro itu benar. Asmoro mengetahui hal itu dari Raka maupun Martin. Mereka berdua sering mengobrol tentang anak-anaknya. Lalu Asmoro saat itu suka menimbung dan mengetahui seluk beluk tentang anak kecil. Meskipun demikian Raka dan Martin tidak menjadi masalah. Malah dirinya membagi pengalamannya kepada Asmoro.


Stella masih menghadap ke arah kaca sambil menatap mobil putih itu. Hampir lima menit pemilik mobil itu akhirnya keluar bersama seorang pria. Matanya membulat sempurna. Apa yang dikatakan kepada Asmoro sangat benar. Sang pemilik mobil itu adalah Patty. Untung saja dirinya tidak keluar dari mobil. Jika keluar Patty akan menghajarnya habis-habisan. Akan tetapi Asmoro paham apa yang dipikirkan oleh Stella.


"Ayo kita keluar!" ajak Asmoro.


"Aku nggak mau keluar terlebih dahulu. Di depan masih ada kuntilanak. Ah rasanya itu tidak mungkin kalau aku menyebutnya kuntilanak," kesal Stella.


Tanpa disadari Stella, Asmoro memegang tangannya dengan erat. Asmoro bertujuan untuk membuang rasa takut Stella. Akan tetapi Stella memegang tangan Asmoro lebih erat lagi.


"Mulai sekarang kamu nggak perlu takut lagi menghadapi orang itu. Karena aku adalah orang yang berkuasa di Indonesia maupun di luar negeri. Kamu tahu apartemen-apartemen indah yang sudah menyebar ke seluruh negara adalah milikku semuanya. Selain itu aku masih memiliki banyak aset yang tidak bisa terhitung sama sekali. Aku yang akan menghancurkan Kurumi jika kamu sangat menginginkannya," jelas Asmoro.

__ADS_1


"Aku harus bilang sama papa. Jika tidak bilang aku adalah anak yang lancang," balas Stella yang tidak memiliki wewenang atas perusahaannya itu.


"Jika sudah dihancurkan dan melemparkan mereka ke ujung neraka, akulah orang yang pertama membangun perusahaan itu menjadi besar. Aku sudah bilang jangan pernah takut lagi sama dia. Dia bukan siapa-siapa di sini. Kekuasaannya dia hanya sebatas jari saja. Jika dia membuat ulah yang menyelesaikannya adalah kedua orang tuanya itu yang bodoh. Makanya itu realita kehidupan dia sangat lucu. Saking lucunya aku membaca semua artikelnya itu di luar nalar semua. Bisa-bisanya membuat masalah yang menyelesaikan adalah kedua orang tuanya. Ditambah lagi dia adalah shopaholic. Yang di mana sebutan itu dikhususkan untuk para pecinta pemburu barang-barang yang aneh-aneh. Semoga kamu tahu apa maksudku," beber Asmoro yang mengetahui sifat licik Patty.


Melihat mereka sudah menjauh, habis Stella menjadi damai. Akan tetapi Stella masih sedikit gusar. Namun hatinya langsung tertancap kepada Asmoro ketika berbisik menguatkan hatinya.


"Ayo kita keluar! Aku tidak mau lama-lama di sini," ajak Stella yang membuat Asmoro tertawa.


Stella akhirnya keluar dari mobil dengan diikuti Asmoro. Beberapa saat kemudian dirinya teringat pertemuan pertama kali dengan Lampard. Jujur Stella tersenyum kecil karena berani melawan Lampard yang arogan. Beberapa saat kemudian Asmoro mendekat sambil memegang tangan Stella. Entah kenapa dirinya juga teringat pertemuan pertama kali dengan Stella. Jujur pas terkena peluru Asmoro tidak pernah membawanya ke rumah sakit. Ia sengaja berhenti di parkiran.


"Sepertinya kamu sedang bahagia?" tanya Asmoro.


"Aku teringat pertemuan dengan Tuan Lampard. Aku ingin berterima kasih kepadanya. Kalau tidak ada Tuan Lampard kemungkinan hidupku sudah tidak ada," jawab Stella yang membuat hati Asmoro berdetak kencang.


"Selamat pagi Tuan Asmoro," siapa Leon sambil membungkukkan badannya.


"Kalian mengenalku?" tanya Asmoro.


Mata Leon membulat sempurna. Bagaimana bisa dirinya tidak mengenal sang bosnya sendiri. Sebelum Leon mengenalnya, Gio sudah memberitahukannya. Agar mereka tidak terkejut. Kemudian Leon mendekatinya sambil membisiki sesuatu.


"Si bos ini dikasih jiwa muda malah bertanya. Jangan seperti opa opa yang pikun itu," ledek Leon yang membuat Stella terkekeh.


"Baguslah kalau kamu masih mengenalku. Berarti kak Gio yang memberitahukannya?" tanya Asmoro.

__ADS_1


"Pastinya," jawab Leon.


"Kamu tahu di dalam ada Patty?" tanya Asmoro sambil berbisik.


"Sudah tahu. Katanya dia ke sini ingin memeriksakan kandungannya. Tapi bener nggak nya hamil aku masih menyelidikinya. Untung saja Kak Rinda yang memeriksanya secara langsung. Kita bisa lihat apa yang akan terjadi nanti," jawab Leon dengan serius sambil menatap ke sekeliling arah.


"Tenanglah. Rinda adalah urusan Raka. Mau nggak mau Rinda harus membocorkan rahasianya. Meskipun mereka terkena kode etik kedokteran. Kamu tahu kan apa maksudnya," ucap Asmoro.


Leon mengangguk paham apa yang dikatakan oleh Asmoro. Kemudian Leon mengajak mereka ke ruangan Raka. Sebenarnya Asmoro sangat malas sekali jika dikawal seperti ini. Akan tetapi Leon sudah mendapatkan surat dari Gio untuk mengawalnya. Ditambah lagi dengan perlakuan yang istimewa dari rumah sakit. Jujur bagi Asmoro ini sangat menyebalkan sekali.


"Lain kali jangan begini ya," ucap Asmoro setelah sampai di ruangan Raka.


"Sesuai dengan surat pemberitahuan dari Kak Gio. Kakak harus mendapatkan pengawalan ketat," ujar Leon.


"Tapi kenapa kok Aku dikawal seperti ini? Dahulu Aku tidak pernah dikawal seperti ini. Jujur aku lebih suka zaman dahulu," kesal Asmoro.


"Yang namanya perintah tetap saja dijalankan Kak. Nggak mungkin aku melepaskan Kakak begitu saja. Selama Kakak masih menjadi Asmoro. Cepat atau lambat Asmoro terancam jiwanya. Ditambah lagi dengan John yang ingin menghancurkan S&T," ucap Leon dengan jujur.


"Dari dulu dia nantangin seperti itu. Aku bosan!" geram Asmoro.


"Itu masih wacana saja. Lebih baik Kakak masuk aja terlebih dahulu untuk bertemu Kak Raka. Disaat Stella sedang diperiksa kita bisa mengobrol lebih jauh lagi," pinta Leon.


"Apakah ada yang penting buat aku?" tanya Asmoro.

__ADS_1


__ADS_2