
Edward dan Sean menganggukkan kepalanya. Beberapa saat kemudian Alexa dan Martin keluar dari lift dan mendekati Lampard. Lalu Alexa memandang wajah Stella dan menyelidikinya terlebih dahulu. Setelah dirasa wajah Stella tidak mencurigakan, Alexa merasa lega.
"Siapakah nama kakak cantik ini?" tanya Scarlett.
Alexa menatap wajah Lampard seakan meminta penjelasan. Lalu Lampard meminta izin kepada anak-anaknya untuk pergi ke ruangan kerja. Sedangkan Scarlett masih menunggu jawaban dari Stella. Stella sangat canggung sebab bertemu dengan anak-anak dari kalangan atas. Sebelum menjawab Stella menatap wajah Scarlett yang cantik itu.
"Nama kakak siapa?" tanya Scarlett.
"Hmmp... Nama kakak Stella," jawab Stella.
"Nama yang sangat cantik sekali," puji Scarlett.
Sean tersenyum mendekati Stella sambil mengulurkan tangannya. Lalu Stella memegang tangan mungil Sean sambil bertanya, "Nama kamu siapa?"
"Namaku Sean Kingston Snowden. Panggil saja aku Sean," jawab Sean.
"Dan aku Edward Lion Snowden. Kakak enggak perlu memanggil aku Edward. Panggil aku Ed saja," jawab Edward sambil mengulurkan tangannya.
Stella memegang tangannya sambil mengulas tersenyum. Betapa bahagianya hidup Stella malam ini berkenalan dengan ketiga anak Alexa. Bahkan mereka sangat ramah dan baik. Stella mengira kalau anak orang kaya itu sangat sombong. Namun pandangan Stella berbeda. Sedangkan di ruangan kerja Martin, Alexa bertanya tentang perempuan itu. Lampard menyandarkan tubuhnya di sofa lalu bercerita.
"Dia Stella. Dia yang aku tuduh sebagai penculik anak-anak. Namun tuduhan itu tidak benar. Stella keluar dari hotel itu tanpa anak-anak. Kemudian Stella tertembak di taman dekat hotel," jawab Lampard.
"Syukurlah. Aku menemukan anak-anak saat melihat kontes kucing. Syukurlah mereka ditemukan selamat," ucap Alexa penuh syukur.
"Lalu kenapa kakak membawanya kemari?" tanya Martin yang mengerutkan keningnya.
"Karena Stella ingin diserahkan oleh kekasihnya ke kartel obat-obatan terlarang di Meksiko," jawab Lampard.
"Apa?" pekik Alexa.
"Apakah ada alasannya?" tanya Martin.
"Aku tanya tapi Stella menjawab tidak tahu," jawab Lampard.
__ADS_1
"Bisa dikatakan kalau Stella itu adalah human trafficking ya," ucap Alexa.
"Bisa jadi," sahut Ian.
"Aku meminta tolong sama kalian. Aku ingin kalian menampung Stella terlebih dahulu. Soalnya beberapa hari ini aku melakukan perjalanan bisnis ke Bangkok," ucap Lampard dengan meminta tolong.
"Ok. Sepertinya Stella adalah perempuan baik-baik dan sangat akrab sekali kepada anak-anak," sahut Alexa.
"Ya kamu benar. Tapi aku meminta tolong Stella jangan disuruh keluar sementara waktu," suruh Lampard.
"Baiklah," balas Alexa.
Kemudian mereka keluar dari ruangan kerjanya itu. Mereka pergi ke ruang tamu dan melihat keakraban Stella dan anak-anaknya itu. Alexa menyunggingkan senyumnya dengan manis. Karena anak-anaknya jarang akrab sama seseorang yang baru dikenalnya.
"Mama, papa," panggil Sean.
"Iya, ada apa Sean?" tanya Martin.
"Hmmp... Begini pa. Bolehkah Sean meminta kepada papa untuk merestui jalanku?" tanya Sean.
"Begini ma. Selama ini kakek hidup menjomblo. Di apartemennya, kakek tidak mempunyai nenek. Biasanya kakek kan punya nenek. Sama kaya kakek James bersama nenek Linda, Opa Gio bersama oma Winda. Bagaimana kak Stella kita jodohkan dengan kakek Lampard?" tanya Sean dengan senyum merekah.
Duaaaarrr
Seluruh orang terkejut mendengar celotehan Sean yang konyol itu. Bagaimana tidak seorang anak kecil menjodohkan orang dewasa. Lalu darimana Sean tahu kalau kakek Lampard mempunyai status jomblo. Bisa dikatakan Lampard adalah jomblo abadi.
"Sean," panggil Alexa.
"Iya ma," jawab Sean.
"Darimana kamu tahu dengan istilah jomblo?" tanya Alexa yang bingung.
"Ah... Mama tidak pernah muda saja," celetuk Sean.
__ADS_1
Mata Alexa membulat sempurna. Alexa semakin bingung dengan kata-kata Sean. Alexa menatap tajam ke arah Martin untuk meminta penjelasaan, "Apakah kamu yang mengajarinya?"
Martin menggelengkan kepalanya. Lalu Martin mengatakan dengan jujur kalau pelakunya adalah bukan dirinya melainkan orang lain.
"Bukan aku pelakunya mengajarkan bahasa gaul seperti itu. Melainkan Roth dan Ian," jawab Martin.
Blooommmm.
Terungkap sudah selama ini rahasia Ian dan Roth. Apalagi kedua orang yang notabenenya diam malah mengajarkan anak-anaknya dengan bahasa gaul yang sedang diucapkan anak muda sekarang. Melihat Alexa yang ingin meledakan amarah, Ian segera menarik Lampard untuk segera pergi.
Dengan cepat Lampard mengedipkan matanya tanda setuju. Mereka akhirnya memakai jurus langkah seribu. Agar mereka tidak menjadi amukan Alexa. Setelah masuk ke dalam mobil mereka akhirnya pergi dari mansion Alexa.
Sambil fokus menyetir Ian merutuki kebodohannya. Tadi Ian sudah berharap meminta Martin untuk tidak membuka kartunya. Malah Martin secara jujur mengatakannya, "Hufth... Ternyata Alexa masih mengerikan meskipun sudah memiliki anak tiga."
Lampard menahan tawanya karena melihat sang asisten yang sangat menderita. Kali ini sepertinya Alexa tidak bisa memaafkannya sama sekali. Karena selama main di kantor S&T dan Snowden ketiga anak Alexa selalu ditemani oleh assistennya. Jika sang CEO sedang mengadakan meeting.
"Sepertinya kamu sama Roth tidak akan selamat dari amukan Alexa," celetuk Lampard terkekeh. "Oh... Iya jadwal besok bagaimana?"
"Besok berangkat jam delapan ke Bangkok. Kita akan mengecek persiapan pabrik yang akan dibuat makanan kering. Kita akan menginap di sana semalam. Besoknya pergi ke Surabaya untuk mengecek produk baru yang akan kita luncurkan dua bulan lagi," jawab Ian.
"Surabaya?" tanya Lampard.
"Iya," jawab Ian yang menghentikan mobilnya. "Apakah kakak lupa kalau saran Kak Gio baru terencana. Yaitu roti susu yang sengaja diproduksi di pabrik Surabaya?"
Lampard segera menepuk jidatnya karena lupa dengan roti susu. Lampard baru saja mengingatnya dan tersenyum sambil mengucapkan kata maaf, "Maaf aku lupa."
Ian memaklumi Lampard yang usianya sudah kepala lima. Terkadang Ian sangat kasihan kepada Lampard sampai saat ini sang bos belum memiliki jodoh. Lalu bagaimana tanggapan tentang Sean yang akan menjodohkan Lampard dengan Stella? Yang notabenenya Stella masih muda. Ada kalanya ucapan Sean benar adanya. Bukannya Sean ingin mengejek Lampard. Tapi Sean sangat kasihan melihat Lampard. Karena selama ini Lampard tidak memiliki istri. Jangankan istri kekasih pun Lampard tidak punya. Sungguh miris sekali. Mungkin saja setelah ini Ian akan bekerja sama dengan mereka untuk menjodohkan Lampard. Semoga rencana ini segera terkabul.
"Apakah kakak akan mengajak Stella tinggal di apartemen?" tanya Ian yang masih fokus dibalik kemudi.
"Ya aku memang mengajaknya tinggal di apartemen. Tapi semuanya tidak gratis. Aku ingin memintamu membuat jadwal untuk Stella. Mulai dari bangun pagi hingga malam. Sekalian surat itu harus legal. Jika ilegal aku tidak bisa menuntutnya!" titah Lampard.
"Ok. Setelah aku membuatnya. Aku meminta Tama untuk disahkan secara hukum. Kalau terjadi apa-apa kamu bisa menuntutnya," jawab Ian.
__ADS_1
"Jangan lupa dengan nominalnya," ucap Lampard dengan dingin.
Di mansion Alexa, Stella disambut dengan tangan terbuka. Alexa meminta pelayan untuk membersihkan kamar kosong. Lalu pelayan itu segera melaksanakan perintahnya. Martin yang melihat jam di tangan sudah menunjukkan pukul setengah sembilan segera mendekati anak-anaknya. Martin menyuruhnya untuk tidur. Kemudian mereka meminta ijin dan masuk ke dalam lift bersama Martin.