Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Mahar Dari Asmoro.


__ADS_3

"Kapan kamu akan menikahi anakku ini?" tanya Agatha.


"Besok pagi aku akan membawanya ke kantor catatan sipil," jawab Asmoro.


"Kalau begitu buktikanlah. Aku nggak mau kamu ngomong saja!" perintah Agatha.


"Oke. Kalau begitu aku akan membawa putrimu pulang nggak apartemenku," pinta Asmoro.


Jederrrrrrr.


Bagai petir di malam hari. Agatha tidak ikhlas jika putrinya dibawa oleh Asmoro. Dengan cepat Agatha menarik tangan Stella dan memeluknya. Lalu Agatha menatap wajah Asmoro dengan tajam. Tatapannya itu seakan membunuh Asmoro dalam waktu sekejap.


"Lah, kok aku nggak boleh membawa Stella?" tanya Asmoro.


"Berapa mahar yang engkau berikan untuk anakku?" tanya Agatha yang tidak melepaskan Stella ke Asmoro.


"Dua penthouse mewah. Satu berada di New York city. Satu berada di Den Haag Belanda. Satu batang emas seberat satu kilogram. Satu mobil sport keluaran terbaru dan satu Mansion mewah yang berada di Paris. Ditambah lagi satu villa yang berada di Bali," jawab Asmoro dengan mantap.


Mata Agatha membulat sempurna. Mulutnya menganga seakan tidak percaya dengan mahar yang diberikan oleh Asmoro. Bagaimana bisa Agatha mendengarkan mahar sebanyak itu? Dari mana Asmoro mendapatkan uang sebanyak itu bisa membeli barang-barang tersebut?


"Jujur, aku baru mendengar mahar sebanyak itu. Ini tidak mungkin," ucap Agatha yang belum percaya sama sekali.


"Jika ingin tahu siapa aku sebenarnya. Ikutlah aku ke apartemennya Ian. Biarkanlah putra-putrimu disini bersama mamanya," ajak Asmoro yang akan menjelaskan dirinya ke Agatha.


Agatha menurut apa yang diminta oleh Asmoro. Ia melepaskan Stella dan menyuruhnya tetap di sini. Kemudian Agatha mengikuti ke mana Asmoro pergi.


Jujur saja kekayaan yang dimiliki Asmoro ternyata setara kekayaan miliknya. Ia tidak tahu siapa Asmoro aslinya? Jika ia tahu, kemungkinan besar Agatha akan pingsan.


Sesampainya di apartemen Ian. Agatha duduk dengan santai sambil menunggu penjelasan Asmoro. Sebelum menjelaskan semuanya, Asmoro menyuruh Ian menyiapkan semuanya. Setelah itu Asmoro menjelaskan siapa dirinya sebenarnya. Hingga berubah menjadi Asmoro.

__ADS_1


Ketika menjelaskan Agatha menggelengkan kepalanya. Ternyata Asmoro adalah kiblatnya saat berbisnis. Agatha benar-benar terkejut bisa bertemu dengan sang idola.


"Ternyata kamu adalah Lampard Wolf. Yang di mana kamu tidak memakai nama Snowden. Jujur aku sangat menyukai cara kerjamu dan wibawamu ketika memimpin perusahaanmu sendiri," puji Agatha.


"Apakah kamu masih tetap tidak merestuiku?" tanya Asmoro.


"Stella sangat menyukaimu. Tapi anakku sejak kecil sudah menderita. Aku tidak membutuhkan mahar mu itu. Karena aku sudah menjadi orang sukses. Lebih baik kamu simpan saja semuanya. Jika kamu menikah dengan putriku. Aku minta satu hal saja darimu," jawab Agatha.


"Apa itu?" tanya Asmoro.


"Aku hanya meminta putriku jangan dimanja. Tolong gemblengkanlah sifat Stella untuk menjadi kuat. Cepat atau lambat Stella akan menghadapi keluarga John itu. Aku nggak mau jika Stella lemah dan takut sama mereka. Itu saja pesanku," jawab Agatha yang percaya pada Asmoro.


"Kalau begitu ya sudahlah. Semua maharku ini akan aku berikan pada Stella. Aku ingin Stella menjadi wanita terhormat," jelas Asmoro yang tidak mau Stella diinjak-injak lagi oleh mereka.


Agatha hanya bisa menganggukkan kepalanya. Mau tidak mau Agatha memberikan hadiah itu kepada Stella. Memang yang dikatakan oleh Asmoro itu benar. Bagaimana jika Stella memakai barang-barang itu?


Beberapa saat kemudian ponsel Asmoro dan Ian berbunyi bersamaan. Kedua pria itu langsung mengangkatnya dan berbicara pada orang yang berada di seberang sana. Di saat mereka serius, mereka langsung mematikan ponselnya dan saling memandang. Lalu Asmoro melihat Agatha sambil berkata, "Biarkanlah setelah berada di tempatmu itu. Kami akan pergi ke markas. Malam ini akan terjadi serangan gila-gilaan."


"Siapa yang menyerangmu?" tanya Agatha.


"Exodus. Kelompok mafia itu ingin menghancurkan markas besar milik Black Horizon. Mau tidak mau aku harus turun tangan. Kemungkinan besar aku harus pergi ke sana malam ini juga," jawab Asmoro.


"Bolehkah aku ikut bersama kalian?" tanya Agatha.


"Maaf. Kami tidak bisa mengajakmu. Karena mereka sangat susah sekali ditebaknya ketika terjadi penyerangan itu," jawab Asmoro.


Agatha pun menganggukkan kepalanya. Ia tidak akan ikut turut campur dalam masalah ini. Padahal jika dirinya ikut, Agatha akan menyuruh pengawalnya ikut bertarung.


Akan tetapi Asmoro melarangnya. Karena ia hafal betul siapa itu Exodus. Setiap penyerangan tidak memiliki ciri-ciri untuk dibaca. Inilah yang membuat Asmoro kebingungan.

__ADS_1


Setelah itu Agatha pergi dari apartemen Ian. Dirinya tidak akan mencampuri masalah ini. Lalu Asmoro dan Ian masih berada di posisinya. Ia belum bergerak sama sekali. Beberapa detik kemudian, Asmoro menatap wajah Ian. Kemudian Asmoro dan Ian berdiskusi.


"Kita tidak mungkin bertarung sama mereka. Aku pastikan mereka mengkonsumsi obat terlebih dahulu. Agar kondisinya semakin fit dan tidak mudah jatuh ketika dipukul. Kalau kita bertarung sama mereka. Yang habis malahan energi kita. Jujur aku tidak akan berbuat konyol dan membiarkan para petinggi Black Horizon kehabisan energi. Waktu masih jam sembilan malam. Hubungi Ibra maupun Raka untuk mengevakuasi para pengawal. Suruh Mereka pergi dari sana. Karena aku akan menghancurkan mereka dari udara!" perintah Asmoro dengan tegas.


"Setelah itu kamu siapkan dana untuk membangun markas Black Horizon baru. Kita akan pindah dari sana. Jika kita tidak pindah, kita bisa dilacak lagi oleh orang-orang sialan itu!" tambah Asmoro.


Kemudian Ian menghubungi Raka. Lalu Ian mau minta Raka untuk mengevakuasi para pengawal. Ian memberikan waktu hanya dua jam saja. Setelah menghubungi mereka, Asmoro menatap Ian.


"Setelah ini ngapain?" tanya Ian.


"Hubungi Evan untuk menyiapkan jet pribadiku. Dengan terpaksa aku harus melakukannya. Semoga saja Giovanni Banderas paham dengan pernyataan ini!" perintah Asmoro sambil meminum air mineral di depan.


Markas Black Horizon.


Ibra yang sedang bersantai dikejutkan oleh kedatangan Raka. Kemudian Raka menyuruh Ibra bangun. Lalu membantunya untuk mengevakuasi seluruh pengawal.


"Bangunlah bro... Ikut aku mengkoordinir seluruh pengawal. Suruh mereka berkumpul di depan halaman ini!" perintah Raka.


"Memangnya ada apa?" tanya Ibra yang tidak tahu masalahnya.


"Markas mau diledakkan saat ini juga. Mau tidak mau seluruh pengawal harus dievakuasi keluar hutan ini!" perintah Raka.


"Kenapa mau diledakkan tempat ini? Apakah Kak Gio sudah bosan?" tanya Ibra yang bingung dengan keputusan Raka.


"Yang menyuruh tempat ini diledakkan bukan Kak Gio. Tapi Kak Asmoro. Kak Asmoro pasti tahu penyebab masalah ini," jawab Raka.


"Tapi ini sudah gila. Kenapa juga markas harus diledakkan seperti itu?" kesal Ibra yang berdiri meninggalkan Raka.


"Jangankan kamu. Aku sendiri juga nggak tahu kenapa tempat ini bisa dihancurkan," kesal Raka.

__ADS_1


__ADS_2