
"Ya… baiklah aku ikut dengan kalian."
jawab Martin.
Meskipun kesal dengan Kuncoro, Martin langsung berdiri dan keluar dari ruangan kerjanya. Ia segera mencari keberadaan Alexa. Ia menuju ke dapur dan melihat Alexa bersama ketiga anaknya makan.
"Aku ikut Kak Asmoro ya?"
Tanya Martin yang meminta izin sama Alexa.
"Mau kemana?"
Tanya Alexa yang melahap makanannya.
"Ke markas."
"Markas mana Yang?"
"Black Horizon."
"Bukannya sudah hancur kemarin itu markas?"
"Itu markas memang udah hancur Al."
Sambil membuka kulkas dan mengambil air mineral dingin.
"Lalu, Memangnya ada markas lagi?"
Tanya Alexa.
"Aku ingin mengajak Martin ke laboratorium milik Ibra. Di sana Ibra sudah menyimpulkan cairan berwarna biru itu."
Jawab Asmoro.
"Cairan berwarna biru? Maksudnya apa ya pa?"
Tanya Alexa yang masih bingung.
Asmoro menceritakan tentang kejadian di pabrik. Lalu Alexa paham dan sangat terkejut sekali. Baru kali ini pabrik makanan yang gabungan milik Martin dan juga milik sang papa ada yang membuat keracunan. Alexa tidak menyangka kalau ini bisa terjadi.
"Siapa Mereka pa?"
Tanya Alexa.
"Dia adalah mata-mata John.Kamu tahu kan selama ini Kurumi kalah sayang dengan kita. Kurumi mengalami kerugian selama beberapa kuartal ini. Hal ini disebabkan karena bahan-bahan bakunya yang sudah kadaluarsa."
__ADS_1
Jawab Asmoro yang menghempaskan bokongnya dan duduk di hadapan Alexa.
"Bagaimana papa tahu soal itu?"
"Kamu itu meremehkan Papa saja. Kamu tahu kan beberapa karyawan milik Kurumi hijrah ke perusahaan S&T. Sebelumnya aku menyuruh Dion menyelidikinya lebih lanjut. Aku kira mereka itu mata-mata. Tapi perkiraanku salah besar. Mereka sengaja dipecat karena mengetahui kebusukan John."
Jelas Asmoro yang membuat Martin dan Alexa terkejut.
"Terus yang Tutik itu gimana?"
Tanya Martin yang sangat penasaran sekali.
"Entahlah. Aku sendiri nggak tahu. Sepertinya kasusnya Kurumi itu sangat rumit sekali. Aku nggak tahu harus bagaimana untuk menangani Kurumi."
Asmoro membuka botol tersebut sambil meminumya.
"Jika masalah itu sudah rumit. Bagaimana dengan Kak Agatha?"
Tanya Martin yang sebenarnya sudah mengenal baik tentang Agatha.
"Nah itu dia masalahnya. Kalau serumit gini, Agatha tidak akan mau mengurus semuanya. Sepertinya Agatha akan merebut perusahaan itu dan merubah konsep lebih baru lagi."
Asmoro menatap langit-langit sambil membayangkan Bagaimana Kurumi diambil lagi oleh sang pemiliknya.
Ucap Alexa yang berkata jujur tentang produk Kurumi.
"Apa yang kamu katakan itu benar? Di tangan Agatha seluruh produk dari Kurumi itu sangat terkenal sekali. Mulai dari kalangan bawah hingga atas semuanya suka. Apalagi di waktu-waktu tertentu Kurumi sering mengadakan games berhadiah. Dulu aku masih ingat. Ketika aku muda. Yah bisa dikatakan dulu aku pemburu hadiah gratis hanya demi membahagiakan kedua adikku ini."
Asmoro sengaja menunjuk Martin.
Mata Alexa membulat sempurna. Memang benar apa yang dikatakan oleh Asmoro. Asmoro sangat menyayangi Martin dan juga Jacob. Ia juga sebagai pemimpin bagi keluarga Snowden. Yang di mana keluarga Snowden itu, menjadikan Asmoro sebagai keluarga sesungguhnya.
"Aku baru sadar kalau Papa sangat menyayangi Paman Martin."
Ucap Alexa.
"Ya kamu benar. Meskipun dia sedang berengsek pun. Aku masih merangkulnya dan mencoba menyadarkannya pelan-pelan. Kalau Jacob anaknya sangat menurut sekali. Kalau suamimu itu pemberontak habis-habisan. Maka dari itu Martin sangat cocok sekali menjadi ketua gangster."
ujar Asmoro yang membuka kartu Martin di depan orangnya.
"Aku tahu itu papa. Tapi bisakah Papa mengingat? Kalau Paman Martin itu suka aku ketika masih bayi."
Pinta Alexa yang membuat Asmoro membuka masa lalunya.
"Ya… dulu malah menganggapmu sebagai adik kecil. Hampir setiap hari Martin jarang sekali pulang ke rumah. Dia lebih suka tinggal bersama Kak Gio. Jadi, Selama tinggal bersama Kak Gio, Martin sudah menganggapmu sebagai adik kecilnya. Eh, sekarang kamu jadi istrinya."
__ADS_1
Jawab Asmoro dengan jujur.
"Apa yang dikatakan oleh papamu itu benar. Aku memang sengaja tidak tinggal di rumah utama. Aku lebih sering tinggal di rumah Kak Gio. Yang di mana rumah itu memiliki banyak sekali kenangan. Selain itu juga, rumahnya kak Gio sama sekolah aku sangat dekat. Jadi aku sudah meminta izin kepada Mama Linda untuk tinggal bersama Kak Gio. Ditambah lagi ada kehadiran kamu di rumah. Jujur kamu saat itu sangat lucu sekali. Kamu sering banget tersenyum sambil memamerkan gigimu yang masih satu itu."
Ucap Martin yang mengakui semuanya.
"Bahkan Martin sendiri sering banget mengganti popokmu. Memandikanmu juga pernah. Terus menyuapimu juga pernah. Bisa dikatakan Martin itu adalah pria serba bisa."
Sahut Asmoro.
"Jadi selama ini?"
Tanya Alexa dengan mata yang melotot.
"Ya kamu benar. Aku memang melakukannya. Karena saat itu Kak Gio dan kak Winda sering sekali mengadakan perjalanan bisnis ke luar negeri. Lalu di rumah hanya ada para pelayan, satu babysitter dan juga beberapa penjaga. Tapi, aku tidak percaya pada baby sitter. Jadi semuanya aku kerjakan sendiri."
Jawab Martin sambil tersenyum manis.
"Bukannya dulu babysitter Alexa bermasalah? Yang katanya babysitter-nya mau menculik Alexa?"
Tanya Asmoro yang mengingat masa lalunya.
"Apakah aku benar-benar pernah diculik?"
Tanya Alexa sambil menatap wajah Martin.
"Ya… kamu memang pernah diculik oleh seseorang. Sebelumnya pengasuhmu itu sudah membuat skenario. Kebetulan sekali pas malam minggu aku tidak pulang ke rumah utama. Jadinya aku mengerjakan tugas-tugas ku di rumah. Kalau tiap malam aku sering pergi ke taman untuk melepas lelah karena seharian belajar. Entah kenapa pas waktu di taman aku mendengar pengasuhmu itu membawa seorang pria. Aku pun bersembunyi di belakang pohon. Aku sangka mereka pacaran. Ujung-ujungnya Dia sedang membuat rencana untuk menculikmu dan membuang ke suatu daerah."
Jelas Martin yang membuat Alexa menggelengkan kepalanya.
"Terus bagaimana kasus itu? Padahal saat itu aku berada di Jakarta. Tapi kamu nggak bilang kalau ada kasus penculikan."
Tanya Asmoro.
"Yah kasusnya sih sederhana. Aku mulai menceritakan pada Kak Gio. Kak Gio nggak percaya sama aku. Soalnya wajahnya sang pengasuh itu sangat kasihan di mata kak Gio. Begitu juga dengan Kak Winda. Aku juga tidak tahu kenapa Kak Winda nggak mempercayaiku."
Jawab Martin sambil meminum air milik Asmoro.
"Masalahnya gini. Si pengasuh itu memiliki wajah orang gak punya. Terus ditambah lagi si pengasuh itu berhasil mengambil hati kak Gio dan kak Winda. Nah kebetulan sekali mereka tidak akan pernah percaya sedikitpun. Kecuali kalau ada bukti yang valid."
Jelas Asmoro yang suka memprediksi keadaan.
"Lalu bagaimana nasibku pada waktu itu?"
Tanya Alexa yang sangat penasaran sekali dengan nasibnya
__ADS_1