
"Aku masih banyak pekerjaan. Aku tidak mungkin meninggalkan pekerjaan ini. Sebab pekerjaan ini aku harus berkonsentrasi penuh," jawab Hatori yang menolak tumpangan Jacob.
'Ya sudah kalau begitu. Kami balik dulu ya," pamit Imron.
"Siap," balas Hatori.
Mereka akhirnya meninggalkan Hatori. Mereka tidak akan memaksa Hatori begitu saja. Sebab pekerjaan Hatori hampir sama dengan pekerjaan Ian. Namun ada bedanya, Hatori hanya mengurusi bagian kantor. Kalau Ian mengurusi semua jadwal milik Asmoro. Bahkan Ian memiliki tanggung jawab yang lebih besar lagi.
Setiap Asmoro tidak berada di tempat, Ian sering menggantikan posisinya. Bahkan ia diberikan hak veto. Yang di mana Ian bisa menandatangani dokumen-dokumen penting kecuali Asmoro tidak berada di tempat. Ditambah lagi kalau dokumen sangat urgen sekali. Itulah peraturan perusahaan milik Asmoro.
Namun pada awalnya, ketika peraturan itu dibuat, banyak berbagai pihak menolaknya. Mereka sangat mengkhawatirkan keadaan perusahaan tersebut.
Jujur sampai sekarang mereka belum percaya sama sekali sama Ian. Mereka sangat menolak keberadaan Ian di perusahaan. Ian akhirnya tidak keberatan soal itu. Bahkan penolakan itu menjadi cambuk bagi dirinya sendiri. Agar Ian bisa memiliki proses dengan santai. Siapa tahu Ian di masa depan, bisa menjadi seutuhnya bos.
Itulah peraturan S&T yang lain dari yang lain. Ian sangat berusaha agar menjadi yang terbaik. Namun kebaikannya itu kadang-kadang mengundang sejumlah polemik di perusahaan tersebut. Sampai sekarang Ian belum bisa menemukan apa jawabannya.
Itulah bedanya pekerjaan Hatori dengan Ian. Sama-sama kaki tangan tapi bedanya di pekerjaan masing-masing.
Di tempat lain Raka dan Ibra sedang berdiskusi tentang obat yang diberikan oleh Asmoro. Mereka sudah melakukan penelitian berulang kali. Mereka bingung dengan keadaan obat tersebut.
"Aku nggak tahu obat ini dipakai untuk apa? Dalam ilmu kedokteran obat ini tidak ada. Tapi kenapa obat ini kalau dipakai bisa menghancurkan beberapa sistem saraf yang bisa melemah secara perlahan," jelas Ibra.
"Jangankan kamu. Aku sendiri saja belum tahu obat itu. Sepertinya bahan-bahan itu tidak ada di negara sini. Mereka seperti mengambil di tempat tersembunyi," tambah Raka.
"Ini sangat aneh sekali. Apakah aku harus pergi untuk menemui profesor Evan?" Tanya Ibra.
"Kita coba sekali lagi. Kita akan memakai sains. Siapa tahu nanti kita menemukan jawabannya," jawab Raka.
"Apakah kamu yakin bisa menemukan bahan itu?" Tanya Ibra.
Akhirnya mereka memilih diam sebentar. Mereka berpikir sejenak untuk mencari jawaban dari obat tersebut.
Masih ingatkah? Ketika terjadi penyerangan di rumah sakit pas Stella sedang dirawat. Tidak sengaja salah satu pengawal dari mereka sudah tidak bernyawa. Lalu saat itu Willi menemukan sebuah tempat obat di kantong celananya. Ia mengambil obat itu dan menyimpannya. Beberapa hari ini kemudian Willi memberikan obat itu ke Asmoro.
Sudah hampir beberapa bulan ini mereka sudah meneliti obat tersebut. Sampai saat ini mereka masih mengambang dengan jawaban obat ini Apakah ada tanaman herbal yang bisa membuat tubuh manusia lumpuh? Pesanan dari mereka, semua tanaman bisa dijadikan obat dan membuat tubuh kita sehat.
__ADS_1
"Apakah sianida?" tanya Raka.
"kalau sianida langsung mati di tempat. Mereka tidak akan menyerang lagi habis-habisan," jawab Ibra.
"baru kali ini kita meneliti sebuah obat tapi belum ada jawabannya sama sekali," kesal Raka.
"Ini yang menjadi tantangan terbesar selama hidupku," ujar Ibra yang membuat Raka menganggukan kepalanya.
"Jalan satu-satunya adalah kita akan mencari profesor Evan. Ia akan membantu kita," sahut Raka.
Dalam hitungan detik, mereka melakukan kesepakatan untuk menghubungi Asmoro. Mereka akan mendiskusikan tentang obat ini.
"Bagaimana kita menghubungi Kak Asmoro?" tanya Raka.
"Buat apa kita menghubungi Kak Asmoro?" tanya Ibra.
"Aku ingin meminta izin berpetualangan mencari obat itu," jawab Raka.
"Percuma kamu pertukangan. Jangan kamu jawab ingin menyusuri gunung dan hutan yang berada di dunia ini?" tanya Ibra.
"Memang benar," jawab Raka.
"Kita bertemu sama dengan kak Asmoro saja," ajak Raka.
"Jangan bilang kamu ingin berpetualangan untuk mencari bahan-bahan obat itu," ucap Ibra yang mendapat keinginan Raka.
"Astaga... senior... senior... kenapa juga kamu menuduhku berpetualangan hanya demi mencari bahan-bahan obat-obatan itu," ujar Raka yang ingat sama Rinda dan Rara. "Aku punya anak dan istri. Kenapa juga aku meninggalkan mereka demi obat itu?"
"Sadar juga akhirnya. AKu berharap kamu tidak berbuat aneh-aneh. Kasihan mereka nantinya harus kehilangan kamu," sahut Ibra.
"Kamu mendoakan aku mati?" tanya Raka yang semakin kesal terhadap Ibra.
"Enggak juga kali. Kamu kira hidup itu disamakan dengan cerita Ninja Hatori atau Goku ya? itu mah beda. Mereka memiliki misi. Lha kamu?" tanya Ibra yang meledek Raka sang juniornya.
"Aku ingin mencari bahan yang digunakan untuk obat-obatan terlarang," jawab Raka yang sebenarnya malas mencari bahan-bahan obat tersebut.
__ADS_1
"Mereka memakai dimensi waktu. Mereka sangat cepat menemukan tujuh bola naga. Mereka juga melalui banyak rintangan dan tantangan," kata Ibra.
"Sudahlah. Sebenarnya aku malas membahas obat itu. nanti juga bertemu sendiri," kesal Raka.
"Masih sore. Lebih baik kita ke apartemen Kak Asmoro," ajak Ibra.
"Jangan ke apartemen Kak Asmoro. mereka sudah menikah dan ingin mencetak beberapa generasi baru. Agar mereka tidak akan punah hingga esok nanti," ucap Raka yang membuat Ibra tergelak tawanya.
Seketika mereka kedatangan beberapa pengawal pengawal perempuan. mereka serempak membungkukkan badannya sambil menyapa dengan serempak.
"Selamat sore tuan," sapa mereka dengan semangat.
"Ada apa kalian di sini?" tanya Ibra yang mengerutkan keningnya.
"Kami ingin mengingatkan Tuan Ibra dan Tuan Raka untuk segera latihan menembak di tempat biasa," jawab mereka lagi.
"Astaga... kok gue lupa dengan jadwal latihan merakit pistol?' tanya Raka yang membuat mereka mengedikkan bahunya.
Mereka akhirnya pergi meninggalkan Raka dan Ibra. Kedua pria itu akhirnya memutuskan untuk pergi latihan.
Meski dokter, mereka memiliki bakat yang tidak biasa. Mereka sangat ahli untuk merakit senjata. Bahkan mereka bisa membongkar berbagai jenis senjata.
Apartemen Agatha.
Selesai anak-anak Alexa bermain, mereka membersihkan sisa kekacauan tersebut. Mereka sangat bahagia kedatangan tamu yang lucu dan menggemaskan.
Melihat Agatha yang selesai menyelesaikan pekerjaannya, Anita dan Stella tersenyum. Mereka melihat keceriaan wajah Agatha.
"Sepertinya papa sangat ceria sekali?" tanya Stella.
"Sangat," seru Agatha yang mengecek email.
"Apa gara-gara kedatangan mereka?" tanya Anita.
"Iya... mereka sangat polos sekali. setiap mereka berkata, aku selalu tertawa," jawab Agatha.
__ADS_1
"Mereka diam-diam mempelajari bahasa orang dewasa," ucap Adelia yang datang dengan membawa beberapa cangkir yang berisi teh hijau.
"Bagaimana mereka bisa mengenal bahasa dewasa? Bukankah mereka tinggal di mansion mewah itu?" tanya Anita.