
Yang dikatakan Yamato itu benar. Yamato telah menguatkan hati Sang putra. Yamato tidak ingin melihat Sang putra dan menantunya bersedih terus-terusan.
"Kapan papa pulang?" tanya Agatha secara terang-terangan.
Ceklek.
Pintu terbuka.
Hatori masuk ke dalam sambil membawa anak kucing. Dari tadi Hatori keluar dari rumah dan berjalan-jalan. Ia sudah berpamitan kepada adik-adiknya untuk melakukan pengenalan kota Jakarta sesungguhnya. Kedua adiknya pun setuju.
Hattori segera mendekati mereka duduk di hadapan Anita. Anita yang melihat Hatori membawa kucing seperti anak kecil. Ingin rasanya marah namun ditahan. Tidak seharusnya usia dewasa masih seperti anak-anak. Meski sifat kekanak-kanakannya ada, Hatori tidak pernah manja kepada siapapun.
__ADS_1
"Kamu ngapain pulang membawa kucing seperti ini?" tanya Anita.
"Entahlah Ma. Aku kali ini seperti kehilangan seseorang. Wajah imut dan menggemaskan itu selalu terbayang di dalam otakku ini. Aku sangat bingung sekali," ucap Hatori sambil menaruh kucing itu di meja.
"Memangnya dia siapa? Kalau kamu suka kejar saja. Apa salahnya sih kamu berjuang untuk mendapatkannya? Jadi cowok jangan pantang menyerah seperti itu. Nanti kamu ditertawakan oleh kedua adikmu," ucap Agatha yang tidak ingin putranya menjadi lemah hanya karena seorang perempuan.
"Ini sangat sulit sekali diceritakan. Aku tidak akan cerita sebelum waktunya tiba. Aku akan menunggu waktu di mana Dia sudah menjadi dewasa. Aku tidak akan menikah kecuali dengannya," ujar Hatori memutuskan untuk berdiri dan meninggalkan mereka.
"Ada apa dengan pria itu? Sepertinya pria itu patah hati," tanya Yamato kepada Agatha.
"Papa kan sudah tahu jawabannya tadi. Menurutku Hatori sedang jatuh cinta. Tapi dengan siapa Hatori jatuh cinta? Hatori sama kayak aku Pa. Dia orangnya tertutup dan jarang banget berbicara. Setiap masalah diet selalu memecahkannya sendiri tanpa bantuan orang lain," jelas Agatha.
__ADS_1
"Syukurlah, cuma satu orang saja yang mirip dengan kamu. Kedua cucu perempuanku sangat mirip sekali dengan Anita. Aku sangat bersyukur sekali karena kedua itu dia perempuanku tidak memiliki sifat darimu," ledek Yamato yang sebenarnya kesel juga kepada Agatha.
"Apa benar. Aku tidak menyangka kalau Hatori benar-benar mirip denganku. Aku harus bagaimana ini? Kenapa kedua putriku hanya mewarisi wajahku ini? Tapi untuk sifat tidak sama sekali. Kedua putriku memiliki sifat bar-bar. Saking bar-barnya, aku sendiri bingung," kesal Agatha.
"Semuanya telah impas buat aku. Aku bersyukur jika kedua putriku memiliki sifat sepertiku. Masa ketiga wajahnya mirip banget sama kamu. Aku sendiri bingung dengan wajah ketiga anak-anakku ini. Tapi Tuhan maha adil. Tuhan telah memberikan sifat-sifatku kepada kedua putriku. Bahkan mereka memiliki insting yang cukup kuat. Rasanya aku bangga setelah melahirkan tiga bayi sekaligus," ungkap Ani yang bersyukur kepada sang pencipta.
"Sepertinya Stella akan mewarisi sifat-sifatku ini. Meskipun lembut Stella memiliki kekejaman di atas rata-rata," ucap Yamato.
Anita sangat terkejut mendengar pernyataan dari Papa mertuanya itu. Tapi Anita juga bersyukur, kalau Sang Putri salah satu harus ada yang bangkit. Jika tidak, keluarga Tutik akan menyerangnya secara bertubi-tubi. Itulah yang ditakutkan oleh Anita.
"Katakan pada Stella kalau dia sudah pulang," perintah Yamato.
__ADS_1
"Memangnya ada apa?" Tanya Agatha.