
"Aku bekerja demi menambahkan uang biaya hidup mama. Sementara aku sendiri menganggur sudah lama. Dari zaman aku lulus sekolah sampai 3 tahun belum mendapatkan pekerjaan sama sekali. Aku mencoba mencari di internet lalu mendapatkannya. Hingga suatu hari aku pergi ke Jakarta demi memenuhi panggilan tersebut. Untungnya aku memiliki basic menyukai anak kecil. Jadinya aku ke Jakarta dan merawat si kembar dan juga tuan muda Sean," Jawab Adelia yang membuat hati Stella sedih.
"Maafkanlah aku dek. Aku nggak tahu kalau kamu menderita juga di Surabaya. Padahal Kak Hatori dan kamu ada di Jakarta. Kenapa kita tidak bertemu dan bercerita langsung?" tanya Stella.
"Nggak semudah itu kali Kak. Namanya takdir itu sangat unik sekali. Tuhan Memang mempersatukan kita dengan jalan seperti ini. Kita tidak boleh mengeluh. Ataupun marah terhadap yang lainnya. Memang ini sangat berat bagi kita. Tapi ada hikmah yang telah kita petik bersama. Aku sangat bersyukur sekali. Saat kita bertemu dan menjadikan saudara semuanya," jelas Adelia sambil merentangkan kedua tangannya.
Mereka akhirnya berpelukan melepaskan kepedihan yang dirasakan. Air mata mereka luruh seperti sungai mengalir. Jika seandainya mereka bersatu, mereka tidak akan seperti ini.
Asmoro yang tidak sengaja melihat mereka langsung meneteskan air matanya. Pria paruh baya itu melepaskan kacamatanya dan menghapus air matanya. Kemudian Asmoro berkata dalam hati, "Kesedihan kamu sama saja dengan yang kurasakan. Aku tahu kamu menyesali keadaan keluargamu. Aku akan mengejar mereka lalu membunuhnya. Maka dari itu berikanlah aku senjata untuk membunuh kembali."
"Kak," panggil Ian yang mengetahui Asmoro menangis.
"Ada apa?" tanya Asmoro yang menetralkan keadaan hatinya.
"Apakah kakak menangis?" tanya Ian yang sengaja memberikan tisu ke arah Asmoro.
Asmoro meraih tisu itu lalu mengelap air matanya. Ia menghela nafasnya dengan kasar. Bagaimana bisa dirinya menangisi sang istri? Ya... Hati mereka sudah menyatu dan terikat dengan tali tidak terlihat.
__ADS_1
"Merasakan kesedihan Stella sama saja seperti jantung tertusuk pisau," ucap Asmoro.
"Kakak," panggil Ian. "Begitu juga dengan aku kak. Aku tidak tahu apa yang telah terjadi pada keluargaku."
"Oh.. Ya... Apakah kamu mau memb uka kasus kematian kedua orang tuamu?" tanya Asmoro.
"Hmmp... Aku tidak mau kak. Aku yakin mereka sudah tenang. Kematiannya juga kematian biasa," jawab Ian.
"AKu memiliki firasat tentang kematian kedua orang tuamu. Aku rasa mereka tidak mati karena sakit. Aku merasakan kalau mereka mati dibunuh," jelas Asmoro.
"Enggak kak," sahut Ian.
"Itu hanya firasat kakak," jawab Ian yang menatap langit-langit sambil menahan kepedihan di hatinya.
"Firasat bisa dibuktikan. Apa benar kedua orang tuamu mati karena sakit?" tanya Asmoro yang menatap Ian sedih.
"Aku yakin itu," jawab Ian.
__ADS_1
"Kenapa kamu enggak yakin? Yakinlah kepada hatimu,' jelas Asmoro.
"Kalau dibunuh?" tanya Ian dengan penuh tanda tanya.
"Dibunuh pasti ada tersangkanya. Aku yakin pembunuhnya masih berkeliaran dengan bebas," jawab Asmoro dengan penuh tersenyum hingga membuat Ian tanda tanya.
"Astaga kakak. Kenapa kamu tiba-tiba saja menjadi cenayang sih?" tanya Ian dengan kesal.
"Aku bukan cenayang," jawab Asmoro dengan penuh ketegasan.
"Lalu apa?" tanya Ian.
"Lalu kamu harus jujur kepadaku," jawab Asmoro. "Hanya menekan beberapa nomor di layar ponselku. Aku bisa terhubung ke Alexa maupun Sean. Aku akan memilih Sean. Aku akan menyuruh Sean untuk mencari keberadaan informasi atas kematian tentang kedua orang tuamu."
"Memangnya Sean bisa mencari barang bukti seperti itu?" tanya Ian yang mulai menelan salivanya dengan susah payah.
"Tentu. Aku bisa membayarnya seratus juta rupiah hanya sekali informasi itu. Aku yakin Sean bisa melakukannya," jelas Asmoro.
__ADS_1
"Dia anak kecil kak," seru Ian yang tidak terima dengan Sean jika mencari informasi.
"Memangnya kenapa?" tanya Asmoro. "Kamu jangan meremehkan anak kecil."