
"Apakah kamu sudah menemukan Stella?" tanya John.
"Tidak tuan. Nona Stella menghilang. Kami sudah mencarinya kemanapun," jawab pemuda itu.
"Aku yakin Stella masih berada di sini. Stella tidak akan pergi jauh," ucap John. "Lebih baik kalian stand by. Cepat atau lambat dia akan muncul!"
Pemuda itu menganggukkan kepalanya dan meminta izin untuk pergi. Setelah itu John kembali menikmati suguhan pemandangan yang cukup menarik.
"Instingku tidak pernah salah kalau Stella bersembunyi. Cepat atau lambat aku pastikan dia akan keluar karena kelaparan," batin John.
Di dapur Stella sangat bersemangat menyiapkan makanan. Tanpa disadari olehnya, ada sepasang mata yang melihat dirinya. Sepasang mata itu tersenyum simpul memandangi Stella yang sangat energik. Tak sengaja Scar mencurigai pemilik sepasang mata itu. Kemudian Scar mencoba untuk mengintipnya dan tersenyum manis.
"Sepertinya ada yang jatuh cinta nih," ucap Scar.
Glek.
Sang pemilik sepasang mata itu pun akhirnya menunduk melihat Scar. Lalu Scar dengan cepat merentangkan kedua tangannya sambil berkata, "Kakek."
Pemilik sepasang mata itu adalah Lampard. Lampard memang sengaja mengintip Stella karena melihat aktivitas gadis itu. Lampard bersyukur kalau Stella tidak merepotkan Alexa.
Lampard membungkukkan badannya lalu menggendong tubuh mungil Scar. Lampard bergegas pergi dari sana sambil mengusap-usap dagunya ke Scar.
"Haduh kek... Scar geli," ucap Scar sambil merasakan geli.
"Salah sendiri," ujar Lampard yang baru saja sampai di taman.
"Kek," panggil Scar dengan manja.
"Ada apa?" tanya Lampard dengan lembut.
"Apakah Kakek menyukai Kak Stella?" tanya Scar.
Mata Lampard membulat sempurna. Tiba-tiba saja Scar mengatakan yang belum pantas dikatakan. Apalagi soal pembicaraan orang dewasa. Darimana Scar menemukan kata-kata seperti itu ya?
"Scar," panggil Lampard.
"Iya kek," sahut Scar.
"Darimana kamu menemukan kata-kata itu?" tanya Lampard.
"Dari Paman Roth dan paman Ian," jawab Scar yang dibarengi hati Ian meringis.
"Oh... Iya... Ditambah lagi dengan paman Imron," tambah Scar.
Bagai petir di malam hari yang membelah pohon. Bisa-bisanya ketiga pria itu mengajarkan keempat anak kecil dengan kata-kata yang tidak pantas. Lampard semakin geram dan akan menghajar mereka satu-persatu.
"Oh... Jadi kalian yang mengajarkan kata-kata orang dewasa ke anak kecil," batin Lampard.
__ADS_1
"Scar... Kakek mau bilangin sama kamu," ucap Lampard.
"Apa itu kek?" tanya Scar yang matanya tertuju kepada dua orang yang sudah berumur senja. "Kakek... Aku mau turun."
"Mau kemana kamu?" tanya Lampard.
"Ada kakek James dan nenek Linda yang datang," jawab Scar dengan mata berbinar.
"Kamu itu selalu saja begitu. Ya sudah kakek akan menurunkan kamu," ucap Lampard.
"Makasih kakek tampan," puji Scar.
"Dari dulu kan kakek tampan," ujar Lampard dengan penuh percaya diri.
"Tapi sayang," ucap Scar yang menggantung.
"Sayang kenapa?" sahut Alexa yang baru saja datang.
"Kakek Lampard tidak memiliki nenek seperti kakek James," jawab Scar dengan jujur.
Mereka akhirnya tertawa mendengar jawaban Scar. Entah kenapa malam ini Scar suka sekali menggoda Lampard. Bahkan Scar bisa menimbulkan gelak tawa untuk orang sekitarnya. Lalu bagaimana dengan tanggapan Lampard? Lampard tidak marah kepada Scar. Hatinya juga tidak terluka sama sekali. Lampard bersyukur bisa membuat hiburan bagi orang sekitarnya.
"Ayolah kek... Turunkan aku! Aku ingin bermain bersama kakek James," rengek Scar dengan manja.
"Baiklah kalau begitu. Kakek akan menurunkan kamu," ucap Lampard yang menurunkan Scar.
Lampard melihat James dan Linda yang sedang duduk. Lampard segera mendekati mereka lalu menghempaskan bokongnya di kursi kosong.
"Pa," panggil Lampard.
"Katanya kamu dari Bangkok?" tanya James.
"Iya pa. Tiga pabrik sudah dibangun. Dus bulan lagi akan beroperasi," jawab Lampard.
"Syukurlah kalau begitu,'' ujar James. "Oh... Ya... Papa memiliki banyak kenalan. Papa harap kamu bisa memilih salah satu dari mereka untuk dijadikan istri."
"Aku juga begitu. Aku ingin membuat papa bahagia," ujar Lampard.
"Tapi apakah kamu masih mengingat kejadian di masa lalumu?" tanya James yang menyelidiki Lampard.
"Sangat sulit untuk melupakannya. Aku enggak tahu harus bagaimana?" jawab Lampard yang berputus asa.
"Lupakan dia. Jangan kamu ingat lagi siapa dia," pinta James yang sedih melihat anak angkatnya tidak berdaya.
"Baiklah pa. Aku akan berusaha melupakannya," balas Lampard.
"Kakak mau tahu bagaimana cara melupakannya?" tanya Martin yang akan memberikan solusi.
__ADS_1
"Apa itu?" tanya Lampard.
"Carilah pacar setelah itu menikahlah. Jalan kita dan kakak hampir sama. Tapi bedanya aku memilih damai dan mau menerima cinta pertamaku," usul Martin.
"Kamu masih enak memiliki Alexa sejak kecil. Aku tidak memiliki perempuan jadinya ya," ucap Lampard.
"Bangkitlah kak dari keterpurukanmu. Jangan berpangku pada pekerjaan yang banyak. Cepat atau lambat kakak harus memiliki keturunan untuk melanjutkan perusahaan S&T," saran Martin dengan tulus.
"Bukankah S&T akan dipegang oleh anak-anakmu?" tanya Lampard.
"Aku enggak akan menjadi egois. Biarkan mereka memilih jalan hidupnya. Syukur-syukur salah satu dari mereka yang akan memegang Snowden Groups," jawab Martin.
"Apakah mereka tidak akan tertarik dengan perusahaan?" tanya Lampard. "Seharusnya kamu mengenalkan mereka tentang ketiga perusahaan yang sedang berdiri itu."
"Mereka masih kecil. Mereka akan menjadi anak yang normal seperti lainnya. Aku tidak akan menekan mereka untuk memegang perusahaan sejak dini. Aku ingin melihatnya tumbuh dan berkembang seperti anak biasanya. Kelak kalau sudah waktunya aku dan Alexa yang akan membimbing mereka untuk dijadikan CEO," jawab Martin.
"Martin benar. Jangan terlalu memforsir anak kecil. Biarkan mereka menjadi anak normal. Nanti akan ada masanya mereka memegang perusahaan. Papa pernah melakukan itu dan menerapkan ke Martin. Akhirnya Martin memberikan hasil yang memuaskan pekerjaan," ucap James yang membetulkan perkataan Martin.
"Kalau begitu baiklah. Aku tidak akan memaksa," balas Lampard.
"Terapkan juga pada anak-anakmu kelak," usul James.
"Ya pa," balas lampard.
Setelah menata makanan Alexa melepaskan apron dan melipatnya. Kemudian Alexa memegang tangan Stella dan mengajaknya ke taman.
"Kita mau kemana kak?" tanya Stella.
"Aku akan memperkenalkan kamu ke keluargaku," jawab Alexa.
Deg.
Jantung Stella berdetak kencang. Tubuhnya mulai bergetar dan mengeluarkan keringat dingin. Lalu Stella menghentikan langkahnya sambil memegang erat tangan Alexa.
"Kak," panggil Stella.
"Iya ada apa?" tanya Alexa.
"Bisakah aku tidak ikut kakak?" tanya Stella.
Alexa mulai membalikkan tubuhnya lalu menatap wajah Stella. Alexa tersenyum manis dan mengerti perasaaan Stella.
"Apakah kamu takut untuk bertemu keluargaku?" tanya Alexa.
"Aku sangat takut kak," jawab Stella dengan jujur.
Alexa mulai menelisik mata Stella kemudian menangkap ada sebuah trauma besar yang dialaminya. Alexa tidak tahu apa yang dialaminya itu. Lalu Alexa mengelus punggung tangannya agar tidak terlalu takut, "Sepertinya kamu takut dengan orang kalangan atas?"
__ADS_1