
"Biarkanlah apa yang terjadi pada diri Anda tuan. Kita tidak bisa menyangkal karena keadaan. Sampai saat ini aku tidak mempermasalahkan soal itu," jawab Evan yang tersenyum manis.
"Lalu, apa yang telah terjadi saat ini?" tanya Lampard yang fokus membawa mobil.
"Anda akan merasakan bahwa sesungguhnya jiwa muda telah kembali. Bahkan bisa menggaet para wanita-wanita muda untuk dijadikan kekasih anda. Sekali-sekalilah Anda menjadi bad boy. Karena di usia segitu jiwa muda untuk menggaet banyak wanita lebih mudah. Contohnya saya... saya sudah memiliki istri dua dan kekasih lima," saran Evan yang mulai menyesatkan sang bosnya itu.
"Apakah kamu serius?" tanya Lampard yang terhenyak kaget mendengar pengakuan Evan sang co pilotnya itu.
"Ya... itu benar... bahkan hidupku sangat bahagia sekali untuk saat ini," jawab Evan.
"Astaga... apa-apaan ini. Bisa-bisanya Evan sialan ini bisa mempengaruhi hidupku. Bagaimana aku bisa menjalani hidup seperti Evan?" tanya Lampard dalam hati.
Sepanjang perjalanan Lampard menggerutu sambil membawa mobil. Bisa-bisanya ia memiliki seorang partner di dunia penerbangan yang mengajarkan dirinya memiliki banyak wanita. Ini tidak mungkin! Jika boleh memilih dirinya akan hidup sendiri.
Ketika sampai di tempat penyimpanan pesawat, Lampard meminta Evan untuk bersiap-siap menyalakan mesin pesawat. Sedangkan dirinya mulai memasukkan mobilnya ke dalam bagasi barang pesawat.
Markas Exodus.
Beberapa orang yang berkumpul di sana langsung membuat strategi untuk menyerang markas Blue Diamond. Di sana mereka berembuk pendapat.
Tak lama Kung Lao sangat geram sekali sama teman-temannya. Sebab mereka hanya mengambil keuntungan saja. Sang ketua bagian Manila menggelengkan kepalanya. Mau tidak mau Kung Lao menggebrak meja yang cukup kuat. Hingga meja itu...
Brakkkkk!
Meja itu terpecah menjadi dua. Seluruh anggota di sana hanya melihat Kung Lao menelan salivanya dengan susah payah. Lalu mereka menunduk ketakutan sambil berkata, "Maaf"
"Hanya kata maaf kalian ucapkan!" bentak Kung Lao dengan nada emosi.
"Kami enggak tahu apa jadinya," jawab mereka serempak.
"Baiklah," ucap Kung Lao dengan menurunkan emosinya. "Berikan obat berwarna merah darah itu ke setiap pengawal. Aku ingin mereka bertarung tanpa rasa lelah sekalipun. Meskipun dihajar sekalipun sama mereka."
Sang Asisten yang bernama Ku Tak Sanggup langsung mengiyakan permintaan Kung Lao. Ia akhirnya berdiri dan menuju ke gudang untuk mengambil obat warna merah darah itu. Setelah itu Ku Tak Sanggup membawa obat itu dan menaruhnya di meja.
"Apakah ini yang dimaksud?" tanya Ku Tak Sanggup.
__ADS_1
"Ya... obat ini sudah diupgrade ke versi baru yang bernama Stronger. Aku pastikan ketika mereka menyerang pengawal kita tidak akan mati konyol seperti dulu lagi," jelas Kung Lao.
"Oke bos," sahut Ku Tak Sanggup dengan senyum merekah. "Berapa yang harus kami minum?"
"Dua saja. Kalian bisa dalam mode on selama empat hari ke depan. Aku ingin mencetak sejarah bahwa perang ingin aku masukkan ke buku rekor dunia," jawab Kung Lao yang mulai tertawa kecil lalu besar hingga terbahak-bahak.
"Kalau begitu baiklah. Aku setuju," balas Ku Tak Sanggup.
"Kalau begitu lakukanlah," perintah Kung Lao.
Selesai mendapat perintah Kung Lao, Ku Tak Sanggup langsung mengumpulkan satu pleton pasukannya. Kemudian ia membagi-bagikan obat itu ke mereka. Dalam beberapa menit tubuh mereka bereaksi hebat. Belum sampai markas Blue Diamond mereka langsung menyerang satu sama lain. Lalu Ku Tak Sanggup melihat mereka sedang bertarung satu dengan lainnya.
"Apa-apaan ini?" tanya Ku Tak Sanggup.
Ku Tak Sanggup memutuskan untuk lari ke dalam dan melaporkan kejadian saat halaman depan. Dengan nafasnya tersengal-sengal Ku Tak Sanggup mendekati Kung Lao sambil memanggilnya, "Tuan."
"Ada apa?" tanya Kung Lao.
"Tuan... di luar sana para pengawal saling menyerang," jawab Ku Tak Sanggup.
"Apakah itu benar?" tanya Kung Lao yang tidak percaya.
Kung Lao sangat terkejut sekali mendapat laporan dari Ku Tak Sanggup. Pria itu akhirnya memutuskan untuk pergi keluar. Hingga akhirnya Kung Lao melihat para pengawal saling menyerang. Kung Lao tersenyum dan sangat takjub sekali melihat mereka saling menyerang.
Ketika sadar Kung Lao langsung berteriak dan menghentikan mereka. Namun Kung Lao tidak bisa menghentikan mereka. Beberapa saat kemudian para pengawal yang terpengaruh obat itu langsung menyerang Kung Lao.
Dalam hitungan detik Kung Lao berlari dan masuk ke dalam markas. Lalu dirinya langsung memegang daun pintu itu dan membanting pintu itu dan menindihnya.
Sekujur tubuh Kung Lao langsung melemas. Bagaimana bisa mereka saling menyerang? Bukannya mereka akan menyerang Blue Diamond? Kung Lao sadar lalu berteriak dengan kuat memanggil Ku Tak Sanggup.
"Ku Tak Sanggup! Ku Tak Sanggup!" panggil Kung Lao berkali-kali.
Merasa namanya terpanggil Ku Tak Sanggup berlari mendekati Kung Lao sambil menunduk, "Ada apa Tuan?"
"Apakah kamu memberikan obat itu sekarang?" tanya Kung Lao.
__ADS_1
"Iya tuan," jawab Ku Tak Sanggup. "Aku sangka obat itu akan bereaksi dua jam kemudian."
"Haduh... matilah aku," Kung Lao sudah tidak sanggup berkata apa-apa lagi.
"Kenapa tuan?" tanya Ku Tak Sanggup.
"Kamu salah besar Ku Tak Sanggup. Seharusnya kamu memberikannya pas bertepatan sampai sana. Kamu memberinya sekarang. Dan kamu tahu apa yang terjadi?" tanya Kung Lao balik.
"Mereka saling menyerang satu sama lain," jawab Ku Tak Sanggup. "Sekarang apa yang harus kita lakukan tuan?"
"Kita akan tinggal di sini sampai obat itu habis atau mereka mati konyol," jawab Kung Lao.
"Mati dech gue," sahut Ku Tak Sanggup.
Terpaksa mereka akhirnya berdiam diri di dalam. Mereka tidak bisa melakukan apapun. Mau tidak mau mereka akhirnya pasrah dan memilih berdiam diri.
Lampard dan Evan sudah bersiap untuk menerbangkan pesawat memutuskan untuk berdoa dulu. Setelah itu Lampard menerbangkan pesawat itu dengan terbang rendah.
Lampard langsung menuju ke markas besar Exodus. Dalam perjalanan Evan mengarahkan di mana letak yang tepat untuk menjatuhkan sebuah rudal.
Lampard menuruti apa kata Evan. Ia mencoba terbang rendah dan tidak memperdulikan apa yang terjadi di bawah. Ia menekan salah satu tombol untuk membuka bagasi penyimpanan itu dan membiarkan rudal jatuh ke bawah.
Rudal itu langsung menyala dengan aktif dan terbang ke bawah dan...
Boooooommmmmmmm!!!
Terjadi suara ledakan besar di bawah dan membuat pesawat yang dikendarai oleh Lampard mulai oleng. Akan tetapi Lampard sangat lihai mengendalikan pesawat itu yang hampir saja terjatuh ke bawah.
"Huaha!" teriak Lampard dengan kencang dengan dibarengi oleh Evan.
Mereka sangat bersyukur sekali bisa selamat dari peledakan itu. Akhirnya Lampard tersenyum sambil berkata, "Habislah kalian."
"Semoga saja mereka tidak menyerang lagi!" seru Evan.
Selesai penyerangan Lampard memutuskan untuk pulang ke Jakarta dengan bantuan Evan. Sementara Jacob dan Ian di tempat terpisah sedang mengobrol dengan para pengawal Blue Diamond.
__ADS_1
Di sana mereka bercerita tentang kengerian para pengawal Exodus. Mereka memberitahukan obat apa yang dipakainya. Salah satu dari mereka memberikan beberapa obat yang telah diambilnya secara diam-diam.
"Apakah obat ini telah membuat kalian malah?" tanya Jacob.