
Dokter muda itu pun berpikir sejenak untuk memenuhi keinginan Pak Kusno itu. Lalu dokter itu menganggukan kepalanya sambil menjawab, “Baiklah pak. Kalau itu keinginan bapak. Saya akan melakukan rontgen untuk tubuh anak bapak.”
“Terima kasih dok. Saya akan membayar berapa pun biayanya,” ucap Pak Kusno.
“Kalau begitu bapak tunggu di sini. Saya akan mempersiapkan semuanya,” ujar dokter muda itu langsung meninggalkan Pak Kusno.
Dokter muda itu pun pergi ke ruangan Raka sambil menghela nafasnya. Namun sebelum ke sana dokter itu menyuruh para suster untuk mempersiapkan ruangan radiologi. Setelah itu dokter muda masuk ke dalam ruangan Raka.
“Bagaimana dengan gadis itu?” tanya dokter muda itu.
“Gue enggak bisa memastikan kondisinya gimana. Gadis itu kehilangan banyak darah. Satu peluru hampir mengenai tulang ekor dan satunya lagi hampir terkena jantung,” jawab Raka dengan lemah.
“Kak Lampard kemana?” tanya dokter itu.
“Kak Lampard kembali ke perusahaan,” jawab Raka. “Tumben nanyain Kak Lampard?”
“Selalu saja begitu,” kesal dokter muda itu lagi.
“Jangan-jangan lu masuk ke Black Horizon lagi?” tanya Raka.
Tak lama mereka kedatangan seorang suster senior. Suster itu membungkukkan badannya dan memberi hormat, “Selamat siang Dokter Raka dan Dokter Ibra. Saya ke sini hanya memberitahukan kalau ruangan radiologinya sudah siap dipakai.”
“Apakah pasien sudah siap?” tanya Ibra nama dokter muda itu.
“Sudah dibawa ke sana dok,” jawab suster itu.
“Makasih Suster Rossa,” balas Ibra.
“Sama-sama dokter,” balas Rose nama suster itu yang kemudian pergi meninggalkan Raka dan Ibra.
“Siapa yang akan kamu rontgen?” tanya Raka.
“Seorang pemuda yang katanya tubuhnya terkena sayatan pisau. Tangannya tertusuk jarum. Setelah aku periksa enggak ada apa-apa. Si pasien tidak ada bekas sayatan di punggung apalagi tangannya. Kata bapaknya pas menuju kesini teriak-teriak kesakitan dan wajahnya pucat,” jawab Ibra.
__ADS_1
“Ya... mending kamu periksa secara mendetail. Siapa tahu ada sesuatu di dalam tubuhnya,” ucap Raka yang menyuruh Ibra mengecek secara teliti.
“Kalau gitu gue kesana dulu. Kalau ada apa-apa tolong hubungi gue,” pinta Ibra yang meninggalkan Ibra.
Melihat Ibra pergi menjauh, Raka hanya menghela nafasnya. Raka tidak habis pikir dengan keadaan Stella. Raka kemudian berpikir kalau begini terus akan berdampak pada rumah sakit. Raka tidak mau terulang kembali kejadian seminggu yang lalu.
“Masalah semakin pelik. Jika Stella tetap di sini terus menerus akan terjadi penyerangan. Kemungkinan besar rumah sakit ini akan mendapatkan image buruk di mata masyarakat,” batin Raka.
Di tempat lain Jacob sudah memulihkan data-data milik S&T Company. Ia sangat bersyukur sekali karena orang yang ingin membobol tempat itu langsung mendapatkan sial sepanjang hidupnya. Memang Jacob dan Imron adalah seorang hacker cukup mendunia. Nama hackernya pun unik diambil nama makanan tradisional Indonesia.
“Bagaimana data S&T Company?” tanya Lampard.
“Semuanya sudah aman pak bos. Aku sudah menambahkan anti virus,” jawab Jacob.
“Jangan kamu memberikan anti virus yang namanya she's gone!” geram Lampard.
“Bagaimana jika aku memberi anti virus yang namanya broken heart?” tanya Jacob yang meledek Lampard lalu lari meninggalkannya sambil menarik tangan Nathalie. “Yank... kita pergi dari sini sebelum si kakek tampan ngamuk!”
“Jacooooooooooooooooooooooooooooobbbbbbbbbb!” teriak Lampard dengan suara menggelegar.
“Awas saja kalau itu sampai terjadi. Aku akan menggantungnya di Monas!” geram Lampard.
“Apakah kakak akan pergi ke markas?” tanya Ian.
“Ya... aku akan pergi ke sana,” jawab Lampard meninggalkan ruangan itu.
Dia ruangan serba putih Adel berbaring sambil melihat Stella tertidur pulas. Bulir-bulir kristal mulai keluar dari sudut matanya. Hatinya berdetak kencang seakan tidak terima apa yang terjadi dengan Stella. Namun dirinya tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolongnya. Di dalam hati terdalam, Adel merasakan sesuatu ketika memandang wajah Stella. Jujur Adel mengakui kalau dirinya sangat mirip sekali dengan Stella. Seluruh pengawal dan pelayan di mansion Alexa mengatakan sangat mirip sekali. Lalu di dalam otaknya ada satu pertanyaan sedang menari indah. Pertanyaan itu adalah apakah kita saudara kembar?
Seketika Adel memejamkan matanya sambil menahan rasa sakit Stella. Ia hanya bisa menangis lirih dan memanggil nama Stella agar cepat sadar. Tak lama Raka datang dengan membawa catatan. Pria berparas tampan itu terkejut ketika melihat Adel dan Stella yang sangat mirip sekali. Jujur seminggu lalu ia datang hanya dua kali saat mengantarkan putrinya dan menjemputnya saja. Raka tidak bertemu dengan dua orang itu.
“Kalian sangat mirip sekali,” celetuk Raka.
“Ah... iya Tuan... Seluruh pelayan dan pengawal sering mengatakan hal sama. Bahkan Nyonya Alexa mengatakan hal sama,” jawab Adel.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian dua suster datang dan memeriksa keadaan Adelia. Suster itu tersenyum ramah kemudian mencabut selang itu.
“Apakah sudah selesai?” tanya Adel.
“Sudah. Kami hanya mengambil satu kantung untuk satu orang. Jadi darah yang dibutuhkan untuk si pasien sudah dipenuhi. Sebentar lagi sang pasien dipindahkan ke tempat observasi,” jawab Raka.
Adelia paham akan hal itu. Jika dilihat luka Stella memang sangat parah. Dua peluru itu hampir mengenai tulang ekor dan area jantung. Namun Tuhan masih memberikan hidup kedua buat Stella. Seluruh tim dokter yang menanganinya sangat takjub dengan keajaiban itu. Mereka tidak menyangka kalau Stella tidak mengalami komplikasi dan gagal jantung. Bahkan jantungnya masih bekerja dengan baik.
“Apakah Stella bisa sadar dok?” tanya Adelia.
“Aku tidak bisa memastikan apakah dia sadar dalam waktu dekat. Aku hanya butuh doamu agar Stella sadar. Di sini seluruh tim dokter berharap Stella sadar. Bahkan bisa tersenyum kembali,” jawab Raka dengan ramah. “Setelah ini kamu harus ikut dengan suster untuk memulihkan keadaanmu.”
“Baik dok,” balas Adelia dengan ramah.
Kemudian Adel mengikuti suster itu keluar dari ruangan tersebut. Sementara Raka bingung dengan Stella. Mau tidak mau Raka akan membicarakan kasus ini ke Lampard. Ia langsung memeriksa Stella dengan hati-hati.
Di kamar sebelah Hatori tidak merasakan sakit lagi. Ia bisa tersenyum manis dan menyapa sang dokter sedang memeriksa keadaannya.
“Apakah kamu baik-baik saja?” tanya Ibra.
“Aku sudah baikan dok,” jawab Hatori.
“Enggak berteriak lagi?’ tanya Ibra lagi.
“Sudah enggak dok. Punggungku sudah tidak sakit lagi,” jawab Hatori polos. “Dok.”
“Iya,” sahut Ibra.
“Apakah saya terkena santet?” tanya Hatori yang membuat Ibra mengerutkan keningnya.
“Santet?” tanya Ibra yang sebenarnya paham dengan istilah penyakit santet.
“Iya dok,” jawab Hatori.
__ADS_1
“Oke... kalau begitu kita buktikan melalui CT Scan. Jika kamu terkena santet pasti ada suatu benda yang masuk ke dalam tubuhmu,” ucap Ibra yang membuat Hatori membelalakan matanya.
“Dokter tahu dengan santet?” tanya Hatori.