
“Ya dia termasuk sangat ramah kepada fansnya,” jawab Leon yang membuat Ian menggelengkan kepalanya.
Plakkk!
Ian sangat kesal kepada Leon. Bisa-bisanya Leon mengatakan, kalau wanita itu sangat baik. Padahal wanita itu memiliki hati iblis.
“Kamu ini gila kali ya! Orang berhati iblis kamu bilang sangat baik!” geram Ian.
“Itu katanya bukan dari saya,” ujar Leon yang mengelus lengan kekarnya itu.
“Makanya kalau ngomong yang lengkap. Jangan sama-sama seperti itu. Aku bisa memukulmu lagi,” ujar Ian yang kesal pada Leon.
“Maaf,” ucap Leon sambil cengengesan. “Lalu bagaimana sekarang?”
“Aku tidak bisa membawanya pulang ke mansion karena takut Scarlett akan menangis melihat pengasuhnya seperti itu,” jawab Ian.
“Coba kamu hubungi ke Alexa saja, menceritakan apa yang sudah terjadi. Jika tidak percaya maka aku akan mengirimkan rekaman CCTV itu,” saran Leon.
“Kalau begitu baiklah. Aku akan menghubungi Alexa dan menceritakan semuanya,” ucap Ian dengan lemah.
Ian segera mengambil ponselnya dan menghubungi Alexa. Ketika telepon itu tersambung Alexa mengangkatnya sambil menyapa Ian. Di sana Ian langsung bercerita tentang kronologi yang menimpa Adelia. Kemudian Ian menyinggung tentang perkataan wanita itu yang berhubungan dengan Stella. Alexa terkejut dan bingung mau berkata apa. Alexa langsung jujur dan mengucapkan kalau Stella dan Adelia adalah kembar.
“Dari mana kamu tahu kalau Adelia kembarannya Stella?” tanya Ian.
“Maaf aku lupa. Saat Adelia melakukan donor darah untuk Stella, kak Martin meminta Kak Raka untuk melakukan tes DNA. Dalam waktu beberapa jam, tes DNA itu pun keluar. Aku juga belum memberitahu kepada bapak Lampard tentang tes DNA itu,” jawab Alexa yang membuat Ian terkejut.
“Jadi mereka?” tanya Ian.
“Real... Mereka kembar. Tinggal satu lagi yang belum ketemu,” ucap Alexa yang membuat hati Ian lega.
“Kalau begitu,” ujar Ian yang menggantung.
“Kalau Kakak sudah tahu soal ini maka rahasiakan terlebih dahulu. Adelia sedang dalam bahaya. Mereka akan mengincar Adelia karena mirip dengan Stella. Aku rasa mereka tidak tahu tentang keberadaan Adelia,” pinta Alexa.
“Alexa,” panggil Ian.
“Iya, ada apa?” tanya Alexa.
“Beberapa hari aku akan membawa Adelia ke apartemenku. Kamu bisa mengunjunginya ketika berangkat kerja. Tapi jangan bawa Scarlett. Karena aku tidak mau Scarlett melihat Adelia dengan wajah menyeramkan,” jawab Ian.
“Jangan... aku tidak setuju,” sahut Alexa.
“Kenapa Alexa?” tanya Ian.
__ADS_1
“lebih baik kamu titipkan ke mansion Papa Gio. Di sana Adelia aman dan memiliki banyak teman. Kalau di apartemenmu, Aku pastikan Adelia akan bosan karena tidak ada orang sama sekali,” jawab Alexa yang memberi saran kepada Ian.
“Kalau begitu baiklah. Aku akan melakukan saranmu. Semoga Scarlett, Edward dan Sean tidak mencarinya,” ucap Ian.
“Tenang saja. Aku akan mencarikan satu alasan agar mereka percaya. Adelia sedang merindukan ibunya yang berada di Surabaya,” ujar Alexa sambil tersenyum manis.
“Baiklah aku setuju saranmu,” balas Ian.
Di rumah kontrakan Hatori yang sedang duduk merasakan wajahnya sakit semua. Ia berteriak mengadu dan merasakan pukulan bertubi-tubi. Selain mendapatkan pukulan di wajah, Hatori juga mendapat pukulan di perutnya. Ia meringis kesakitan dan hampir menangis. Namun Hatori tidak merasakan ada darah yang keluar dari mulutnya. Ia juga meraba wajahnya baik-baik saja.
“Kamu kenapa?” tanya Bu Gita.
“Aduh Bu.... Entah kenapa aku mendapat pukulan dapat berada di mulutku, pelipisku dan wajahku. Lalu ada yang menendang perutku juga. Rasanya sakit sekali,” jawab Hatori sambil meringis.
“Dua hari ini kamu kok selalu mendapat penyakit aneh. Yang kemarin punggungmu terkena besi sekarang kena pukulan dan tendangan,” ucap Bu Gita yang tidak paham dengan penyakit Hatori. “Kamu ini kenapa sih sebenarnya?”
“Aku sendiri nggak tahu. Kenapa kayak gini? Kemarin di rontgen juga tidak apa-apa,” jawab Hatori.
“Jika di rontgen tidak apa-apa,” ucap Bu Gita yang menggantung.
Semalam Bu Gita sedang memikirkan penyakit Hatori. Wanita paruh baya itu pun tidak tidur sama sekali. Bu Gita menebak sepertinya ada sesuatu. Kemungkinan besar ada masalah dengan dua saudara kembarnya. Namun dirinya tidak tahu di mana keberadaan mereka. Saat diam Bu Gita berdoa untuk melindungi saudara kembar hattori yang lainnya. Ia pun berharap masalah ini cepat selesai.
“Bu,” panggil Hatori.
“Kenapa Ibu bengong?” tanya Hatori.
“Ibu tidak bengong. Sepertinya kamu harus beristirahat untuk memulihkan kondisi kamu. Beberapa hari ini kamu bekerja dengan keras. Biasanya jam segini kamu masih tidur di dalam kamar?” tanya Bu Gita.
Hatori tersenyum melihat Bu Gita. Ia berdiri dan berpamitan untuk masuk ke dalam kamar. Hari minggu ini Hatori tidak kemana-mana. Pria berkulit putih itu memilih untuk tidur hingga malam hari. Itulah materi yang memiliki hobi tidur.
Sedangkan Bu Gita memutuskan untuk mencari keberadaan Pak Kusno di dapur. Iya segera mendekati sang suami dan duduk di hadapannya.
“Tumben ngambil sendiri Pak,” ujar Bu Gita.
Pak Kusno segera berdiri sambil menaruh piring itu di wastafel. Setelah itu Pak Kusno duduk berhadapan dengan Bu Gita.
“Kamunya sedang sibuk dengan jahitan bajumu,” ucapan Pak Kusno dengan lembut. “Ada apa lagi dengan Hatori?”
“Perutnya kena tendang. Mulutnya kena tonjok dan begitu juga dengan wajahnya. Ibu sangat heran sekali kepada Hatori. Dua hari ini Hatori merasakan sakit yang sama. Tapi anehnya tidak ada luka sekalipun,” jawab begitu sambil menghela nafas.
“Memang aneh Bu. Bapak pikir ada sesuatu dalam diri Hatori. Kalau bapak pikir-pikir tuan muda dan tua Nona muda sepertinya memiliki ada ikatan batin khusus. Semalam bapak menganalisa kasus ini dengan mencari beberapa informasi tentang anak kembar. Dan firasat bapak benar. Kalau Hatori sedang merasakan kesakitan saudara kembarnya itu,” jelas Pak Kusno.
Mereka terdiam dan terbang ke lamunannya. Pak Kusno menyimpulkan bahwa mereka bertiga memiliki ikatan batin yang kuat. Sedari dulu Pak Kusno sering melihat Hatori kesakitan tanpa ada penyebabnya.
__ADS_1
“Kok... Ibu merasakan perasaan yang tidak enak?” tanya Bu Gita.
“Maksud ibu?” tanya Pak Kusno.
“Beberapa hari ini perasaan Ibu tertuju kepada dua anak muda kita. Entah kenapa dua Nona muda kita sepertinya dalam bahaya. Ini hanya firasat Ibu saja,” jawab Bu Gita.
“Semoga tidak terjadi apa-apa kepada dua anak muda kita,” ujar Pak Kusno yang sudah tidak sanggup melihat Hatori sendirian.
“Ibu berharap mereka bisa ditemukan dalam keadaan baik-baik saja,” saut Bu Gita yang sangat optimis untuk menemukan dua saudara kembar Hatori.
Di kamar Lampard terbangun dari tidurnya. Pria paruh baya itu menyunggingkan senyumnya sambil meraih ponselnya. Ia segera membuka ponselnya dan melihat beberapa pesan. Lempar pengertian keningnya sambil melihat pesan dari Ian.
“Masalah apa lagi ini?” tanya Lampard sambil memegang keningnya.
Lampard mewujudkan untuk bangun dan pergi keluar. Ia bergegas turun mencari keberadaan Martin. Sebelum menemukan Martin, Nano memanggilnya terlebih dahulu.
“Lampard,” panggil Nano sambil melambaikan tangannya ke arah Lampard.
Lalu Lampard melihat Nano dan bergegas mendekatinya, “Ada apa kak?”
“Ada yang ingin aku bicarakan,” jawab Nano.
“Apa itu?” tanya Lampard lagi.
“Kamu tahu tukang buah langganan Alexa wajahnya mirip dengan Adelia,” jawab Nana sambil memberitahukan sesuatu.
“Maksud kakak apa?” tanya Lampard yang tidak paham sama sekali.
“Aku tadi bertemu dengan tukang buah milik Alexa. Tukang buah itu sedang bertransaksi dengan Adelia. Ketika berhadapan wajah mereka sangat mirip sekali. Kalau aku bilang sih, Adelia versi pria,” jawab Nano.
“Mana mungkin kalau tukang buah milik Alexa sangat mirip dengan Adelia maupun Stella,” ujar Lampard.
“Bukannya tukang buah itu menyambi sebagai office boy di kantormu?” tanya Nano.
“Maaf Kak aku tidak mengenalnya sama sekali,” jawab Lampard yang tidak paham dengan karyawannya.
“Kalau begitu ya sudahlah. Ngomong sama kamu... Sama saja ngomong dengan pohon mangga milik Alexa di halaman belakang,” kesan Nano yang ingin menghajar Lampard saat ini juga.
Lampard hanya tersenyum tipis menanggapi Kakak angkatnya itu. Setelah itu lambat meninggalkan Nano yang penuh tanda tanya. Sesampainya di ruangan Martin, Lampard segera masuk dan melihat Martin sedang sibuk, “Sibuk apa?”
“Seperti biasa, sore-sore begini ingin mengecek keuangan Snowden Groups,” jawab Martin.
“Apakah kamu melakukannya setiap hari?” tanya Lampard yang duduk di sofa sambil memandang Martin.
__ADS_1