Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Dimana Stella?


__ADS_3

"Enggak. Kapan aku mengajari kamu?' tanya Asmoro. "Mungkin kamu sering banget kumpul sama mereka. Jadinya dia mengajari yang enggak-enggak."


"Benar juga sih? Aku merasa begitu. Tapi tak apa. Semakin banyak aku mengerti tentang pria, semakin lama aku paham dengan permintaan," jelas Stella yang tidak mengakuinya.


"Kamu ini sangat aneh sekali sih. Tidak apa-apa kamu belajar tentang banyak hal. Agar kamu menjadi pandai dan bisa membuat dan memahami perasaan orang," ucap Asmoro.


Mata Stella tidak sengaja melihat terlihat jelas apa yang berada di bawah. Ia segera melepaskan Asmoro lalu lari meninggalkan ke toilet. Namun Asmoro semakin bingung apa yang dilakukan oleh Stella. Dalam hatinya kenapa sang istri meninggalkannya begitu saja.


Asmoro pun terkejut apa yang ada di bawah itu. Ia terdiam dan menatapnya sambil tersenyum. Ternyata sang istri takut dengan benda kesayangannya itu.


Semakin hari semakin konyol saja Asmoro ini. Lama-lama ia menjadi pria tidak tahu malu di hadapan Stella. Bahkan harga diri seorang mafia lenyap sudah. Ia sudah tidak memperdulikan dunia bawah tanah yang sedang ramai atau selesai. Itu bukan urusannya lagi. Yang sekarang di dalam otaknya adalah Stella, Stella dan hanya Stella.


Stella yang merasakan jantungnya berdegup kencang menghembuskan nafasnya dengan kasar. Jujur hampir setiap malam ia merasakannya dan juga memegangnya. Namun Stella sangat malu sekali.


"Apa yang dilakukan oleh Kak Asmoro sangatlah aneh sekali. Jujur tapi aku sangat menyukainya," jelas Stella.


Tiba-tiba saja Stella memukul kepalanya. Semenjak menikah Stella menjadi agak sedikit m*sum. Hal dikarenakan hampir setiap malam dirinya selalu melakukannya bersama Asmoro.


"Kenapa otakku semakin mes*m seperti ini? Wah... jangan-jangan aku udah terkontaminasi sama Kak Asmoro. Aku harus meminta pertanggungjawaban darinya," kesal Stella.


Stella kembali lagi ke toilet. Ia melihat Asmoro sedang membersihkan tubuhnya itu.


"Kak," seru Stella.


"Ada apa?" tanya Asmoro yang sedang membilas tubuhnya di bawah guyuran shower.


"Kamu harus bertanggung jawab atas otakku ini," jawab Stella yang sedikit kesal terhadap Asmoro.


"Tanggung jawab apa? Apakah kamu sedang hamil?" tanya Asmoro yang masih membilas tubuhnya.


"Otak kok bisa hamil?" tanya Stella. "Sekarang kakak harus tanggung jawab atas diriku. Setelah menikah otakku tidak baik-baik saja. Otakku semakin mes*m. Itu gara-gara Kak Asmoro."

__ADS_1


Asmoro tidak memperdulikan kata-kata Stella. Ia mendekati Stella sambil memeluknya. Ia sengaja mengajak Stella mandi bersama.


"Kak," seru Stella yang terkena guyuran air hangat.


"Ada apa?' tanya Asmoro.


"Kamu harus tanggung jawab," jawab Stella.


"Kalau itu aku tidak akan tanggung jawab sekali. Aku hanya bisa menolong untuk membersihkan tubuh mungil kamu," ucap Asmoro yang sengaja membuka baju Stella secara perlahan.


Mau bagaimana lagi keadaannya sekarang? Ingin meminta pertanggung jawaban malah terkena jebakan dari Asmoro. Ia sekarang akan menuruti keinginan Asmoro.


Sedangkan di lapangan tembak, Ian sedang mengecek beberapa senjata untuk dibuat latihan para wanita. Ian sengaja ingin mengajari keempat wanita tersebut memegang pistol.


"Sepertinya aku harus mengajari mereka latihan tembak," celetuk Ian sedang memegang air softgun.


"Memang kita harus melakukannya. Aku juga ingin mengajari Dilla lebih dalam lagi," ucap Imron yang melihat beberapa senjata tergeletak di meja.


"Semenjak dirinya dipindah tugaskan untuk menjaga Papa James dan Mama Linda. Dilla sudah lama tidak memakai senjata api. Dia memang menyerahkan senjata apinya ke kak Gio untuk sementara waktu," kata Imron.


"Padahal tempat yang dipakai oleh Mama dan papa jauh dari perkotaan," ucap Ian.


"Meskipun jauh dari perkotaan, tempat itu sangat aman sekali. Bahkan mama dan papa sering keluar masuk mansion itu. Mereka sangat ramah kepada warga penduduk di sana. Bahkan mama sering banget membantu mereka jika ada kesusahan," ujar Imron.


"Sedari dulu mama memiliki rasa sosial yang tidak bisa dihilangkan. Semakin hari semakin lama mama mejadi wanita sangat bijak sekali," jelas Ian. "Tiba-tiba saja aku ingin pulang ke Jogjakarta."


"Oh... ya... kamu sudah lama tidak kesana. Sering-seringlah kamu pergi ke makamnya," ucap Imron.


"Pastinya. Aku akan kesana setelah dari sana. Aku juga ingin menengok rumah yang sudah lama tidak ditempati," ujar Ian yang menaruh pistol itu.


"Setelah menikah kamu akan tinggal dimana?" tanya Imron yang mulai mengambil senjata yang berjenis Glock.

__ADS_1


"Akau belum tahu mau tinggal dimana? Pastinya aku ikut dengan Adelia. Kalau sudah takdirnya berpisah dengan Kak Lampard. Aku akan berpisah. Cepat atau lambat kita memiliki kehidupan yang berbeda. Aku juga tidak akan mengurusi dia. Begitu juga sebaliknya," jawab Ian.


"Ya.. kamu benar. Aku juga merasa begitu. Meskipun aku bersama jacob. Kak Asmoro adalah segalanya," jelas Imron.


"Kapan kamu akan menikahi Dilla?" tanya Ian.


"Aku harus pergi ke desanya. Aku harus meminta restu kepada kedua orang tuanya," jawab Imron.


"Aku juga sama," kata Ian.


"Kamu sangat beruntung mendapatkan seorang wanita spesial tersebut," puji Imron.


"Semua wanita itu sangat istimewa dan spesial. Jangan pernah kamu samakan dengan wanita satu ke wanita lainnya. Pria itu tidak akan ada habisnya jika membicarakan banyak wanita. Bahkan mereka pun sering membanding-bandingkan istrinya dengan orang lain. Istrinya malah menjadi wanita yang hebat. Dia sudah memberikan banyak anak untuknya. Tapi para pria tidak pernah menghargainya sama sekali. Itulah kenapa aku tidak ingin membicarakan atau membandingkan antara wanita satu ke wanita lainnya. Nikmatilah hidupmu bersama orang tercinta kamu. Nanti kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang sungguh luar biasa," jelas Ian.


Ternyata selama ini Imron salah. Ia sering sekali membandingkan Dila dengan wanita lainnya. Seharusnya dia tidak boleh melakukannya. Namun ia sudah terlanjur melakukannya. Maka dari itu Imron baru saja mendapatkan sentilan dari Ian.


"Selama ini aku memang salah. Seharusnya aku tidak melakukan hal itu. Tapi kenapa aku melakukannya. Itulah yang membuat Dila pergi dariku," ungkap Imron.


"Dila itu sebenarnya gadis yang sangat baik sekali. Jarang ada kamu menemukan gadis seperti dia. Dia tidak pernah menuntut kamu apapun," ucap Ian.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Imron.


"Jangan dilakukan lagi. Mulai sekarang kamu harus menyayangi Dila. Jangan jadi orang bodoh yang demi menahan hawa nafsunya. Setiap orang memang memiliki kesalahan. Kesalahan itu bisa membuat manusia menjadi lebih dewasa. Jika saja kita tidak memiliki kesalahan. Kita juga tidak akan pernah belajar mengakui kesalahan tersebut. Aku yakin kamu bisa melakukannya," pesan Ian yang berkata bijak sambil menepuk punggung Imron.


"Di mana Stella?" tanya Imron.


"Seperti biasa Kak Asmoro selalu saja menahan Stella di dalam kamar," jawab Ian.


"Makanya kalau setiap pagi Kak Asmoro selalu bahagia," puji Imron sambil tersenyum manis.


"Itulah efek orang sudah menikah. Aku yakin Kak Asmoro akan membuka hatinya untuk seorang gadis. Dan sekarang menjadi kenyataan," kata Ian.

__ADS_1


"Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang ini?" tanya Imron.


__ADS_2