
“Kalau kamu nggak percaya tanyakan saja pada Ian. Atau juga pada Leon dan juga William. Mereka adalah saksi hidupku ketika membuat para musuh menyerah,” jawab Asmoro.
Stella menelan salivanya dengan susah payah. Ia memang salah dan sengaja melakukannya agar untuk mengerjai Asmoro. Sekarang dirinya yang menjadi tawanan Asmoro hingga sore nanti. Tanpa basa-basi Asmoro langsung membuka baju Stella dan melihat kulit mulus itu. Sesuai wajahnya yang putih itu, Stella memiliki tubuh yang berwarna seperti putih susu. Hal ini dikarenakan Stella sendiri adalah keturunan dari Jepang asli.
Siang itu juga Asmoro langsung menghajarnya tanpa ampun. Bukannya berteriak Stella sangat menikmatinya. Stella juga merasakan kepuasan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Sementara Adelia bersama Natalie dan juga Dila sedang menunggu kehadiran Stella. Mereka harap-harap cemas Karena Stella tidak muncul sama sekali. Beberapa saat kemudian datang Ian yang membawa air mineral lalu menaruhnya di atas meja. Ian tahu kalau mereka sedang menunggu kedatangan Stella.
“Kalian pasti menunggu kedatangan Stella ya?” tanya Ian.
“Memang benar kami sedang menunggunya. Kami ingin berembuk untuk menciptakan makan malam yang sangat sederhana. Tapi hingga saat ini Stella tidak muncul sama sekali,” jelas Natalie.
“Percuma kamu menunggunya. Mereka sedang bercocok tanam di dalam kamarnya Kak Asmoro. Aku berharap mereka segera mendapatkan bayi yang sangat lucu sekali. Hingga aku bisa menjadi seorang paman,” ucap Ian.
__ADS_1
“Aku baru tahu kalau papa menyukai seorang perempuan. Padahal dulunya beliau sangat membenci yang namanya perempuan. Katanya perempuan itu sangat cerewet sekali dan meminta barang-barang mewah yang tidak tahu aturannya. Selain itu juga perempuan itu tidak pernah memakai logika kalau sedang memiliki banyak masalah. Mereka selalu memakai emosi,” jelas Natalie yang membuat mereka terkejut setengah mati.
“Nggak ada yang salah jika pria mengatakan seperti itu. Tapi nggak semuanya perempuan seperti itu. Buktinya saja Adelia, Alexa, Mama Linda, kak Winda bersama Kak Niwa. Satu lagi kamu bersama Stella. Kalian tidak pernah memakai emosi ketika memiliki masalah besar. Kalian memang sangat pandai untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan cepat dan tepat. Contohnya saja kemarin. Memang kalian sangat konyol namun berguna juga. Kalau nggak gitu masalah ini tidak akan pernah selesai sama sekali,” puji Ian.
“Ngapain juga pakai emosi? Bukankah kita diberikan akal sehat untuk menyelesaikan semua masalah tanpa harus ada emosi? Jika pakai emosi juga percuma tidak akan pernah selesai sedikitpun,” jawab Adelia dengan jujur.
“Masalah sudah selesai. Aku tidak akan pulang ke Manchester karena menunggu keputusan dari papa,” ucap Natalie yang membetulkan posisi duduknya.
“Sebentar. Aku tadi menemukan sebuah undangan. Undangan itu ditujukan buat ketua Asmoro. Ada seorang pria memberikan undangan itu dengan perkataan yang tidak mengenakkan,” ucap Dila.
“Apakah kamu sudah memberikan undangan itu kepada Kak Asmoro?” tanya Ian.
“Aku sudah memberikannya kepada ketua Asmoro. Tapi pria itu sepertinya mengejek ketua Asmoro. Pria itu mengatakan seperti ini. Suruh bosmu datang. Kalau dia nggak memiliki perempuan yang diajaknya ke pesta. Aku sudah menyiapkannya banyak sekali. Ya... Aku harap bosmu itu bisa merasakan kehangatan perempuan. Soalnya aku menyediakannya dengan gratis. Dia bisa memilih siapa yang diajak bermalam di hotel,” jelas Dila yang membuat mereka menghafalkan tangannya termasuk Adelia.
__ADS_1
Mereka sangat kesal terhadap pernyataan pria itu. Bisa-bisanya pria itu mengatakan kalau Asmoro adalah pria yang tidak memiliki pasangan. Jujur Natalie sebagai anak angkatnya sangat marah sekali. Ia akan mencari informasi untuk menghancurkan orang itu secara bertubi-tubi.
“Aku harus melakukannya. Aku tidak ingin melihat papa Asmoro menderita seperti itu. Karena papa sekarang sudah bahagia bersama mama baruku,” kesal Natalie.
Ian dari tadi memperhatikan Natalie juga aku sangat kesal. Ia menggelengkan kepalanya agar Natalie tidak bertindak di luar batasnya. Lalu Ian berkata, “Kamu tidak tahu siapa Stella sebenarnya?”
“Maksud kamu apaan?” tanya Natalie.
“Sepertinya kalian harus bersatu untuk membuat rencana agar orang itu hancur bertubi-tubi,” saran Ian yang sengaja memberikan clue.
Adelia tersenyum sambil berseru, “Aku tahu ini. Sepertinya kita harus meminta Kak Stella bergabung bersama kita. Kita akan membuat rencana agar bisa menghancurkan orang tersebut. Sepertinya aku tidak akan mengajak para pengawal dari kakek untuk mengawal kita semuanya.”
“Maksud kamu apaan?” tanya Dila.
__ADS_1