
"Bukankah kalian mengantarku ke kantor terlebih dahulu? Kenapa kamu mengantarkanku ke rumah kakek Al?" tanya Asmoro yang dirinya bingung dengan Ian.
"Maaf tuan Asmoro, sebenarnya Tuan Albert ingin bertemu dengan anda. Siang ini Tuan Albert sudah diberikan tiket oleh Tuan Tuan Albert **," jawab Leon yang bersikap formal.
"Janganlah kamu bersikap formal seperti itu. Seperti biasanya kamu memakai bahasa yang sehari-hari kita gunakan," jelas Leon.
"Hmmp... baiklah," Asmoro segera membuka pintu itu lalu memutari mobilnya.
"Kenapa juga itu orang itu memutari mobil? Aku kan bisa turun sendiri," sergah Stella.
"Biasa. Dia kan bucin sama kamu. Istilahnya dia itu enggak mau lihat kamu jatuh ke tanah," ledek Leon.
"Ya... bukan begitu kali," ucap Stella yang membuka mobil itu.
"Ulangi sekali lagi!" perintah Asmoro.
"Tidak perlu lagi," ucap Stella.
"Ulangi sekali lagi. Biar aku yang membuka pintu mobil ini," ujar Asmoro.
"Kamu itu ada-ada saja sih. Biarkan aku menjadi wanita mandiri," kata Stella.
Asmoro segera menggenggam tangan Stella. Ia mengajak Stella masuk ke dalam sambil tersenyum. Sebagai keponakan Asmoro sangat merindukan sang paman. Meski Albert sering membuat jengkel, Asmoro masih memperdulikannya.
"Paman," seru Asmoro.
Kakek Al yang sedang makan tidak sengaja mendengar suara Asmoro. Matanya langsung berbinar dan menatap ke arah pintu. Kakek Al langsung berdiri dan menuju ke depan.
"Kakek... Stella datang," salam Stella dengan lembut.
Kak Al tersenyum manis sambil melihat Stella. Ia mengulas senyum berkali-kali dan mendekati Asmoro.
"Lampard," lirih Kakek Al yang merentangkan kedua tangannya sambil menatap Asmoro.
__ADS_1
Asmoro segera memeluk Kakek Al. Ia tersenyum manis sambil mengelus-elus punggung Kakek Al.
"Bagaimana kabar paman?' tanya Asmoro.
"Kabar paman baik-baik saja," jawab Kakek Al yang menepuk-nepuk punggung Asmoro.
"Baguslah," ucap Kakek Al sembari melepaskan Asmoro dan saling memandang.
"Dari mana saja? Baru kali ini kita bertemu?' tanya Kakek Al.
Asmoro menceritakan dirinya bertemu dengan Gio dan lainnya. Setelah itu ia tidak lupa menceritakan dirinya diangkat anak oleh James Snowden. Mendengar nama Snowden, Kakek Al sangat bangga. Karena keponakan kesayangannya bisa menjadi anak angkatnya. Setelah itu Asmoro bercerita kalau dirinya memperbesar perkebunan milik kakak Kakek Al. Yang notabennya adalah kedua orang tuanya. Kakek Al sangat salut. Ditambah lagi ia juga mendirikan perusahaan besar di sektor property.
Prestasi yang dihasilkan banyak sekali ditorehkan. Hal ini memang inign membuat kedua orang tuanya bangga. Kakek Al sangat bangga sekali atas pencapaiannya sang keponakannya itu.
"Maafkan kakek ya. Kakek eenggak berharap merusak perusahaan kamu. Kakek hanya inign mendengar dan bertemu dengan kamu," jelas Kakek Al.
"Aku juga meminta maaf. Karena aku sendiri juga sibuk dengan aktifitas yang sedang penuh-penuhnya. Bukannya kakek mendapatkan tiket dari anak kakek?" tanya Asmoro yang baru saja mendapatkan informasi.
"Memang benar. Gisa menyuruh aku pergi ke Los Angeles. Surat-surat sudah diurus tinggal dokumennya saja," jelas Kakek Al.
"Bukannya begitu. Kamu harus tahu sesuatu tentang suami kamu ini. Diam-diam suami kamu berkaitan dengan dunia mafia. Aku enggak mau mati konyol hanya karena kelakuan Lampard," jelas Kakek Al.
"Memang tidak seharusnya aku mengajak Kakek Al ikut bersamaku. Mafia itu sangat kejam sekali. Sampai sekarang kematian kedua orang tuaku masih misteri. Kata dokter mereka mati karena mengkonsumsi makanan yang sudah diberikan sebuah racun. Nah, yang jadi pertanyaannya adalah siapa yang meracuni kedua orang tuaku itu. Makanya aku sengaja masuk ke dunia mafia demi mencari keberadaan orang tesebut," ucap Asmoro.
"Yang dikatakan oleh Lampard benar. Padahal kedua orang tua Lampard tidak pernah berhubungan dengan dunia bawah tanah. Mereka juga tidak mengenal siapa kelompok mafia? Inilah yang menjadi pertanyaan hingga kini," sambung Kakek Al.
"Hmmp... perlu dicari tahu ini," sahut Stella sambil tersenyum devil ketika melihat Asmoro.
Asmoro hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah. Bagaimana bisa sang istri tersenyum seperti itu? Tentu saja ini sangat mengerikan sekali.
"Senyum kamu membawa luka kepedihan di setiap musuh," batin Asmoro.
"Dimana itu Boni?" tanya Asmoro.
__ADS_1
"Apakah kakak mengenalnya?" tanya Stella balik.
"Dia keponakanku yang sangat nakal sekali. Saking nakalnya dia mendirikan sebuah organisasi dunia bawah tanah. Ada tiga nama yang sangat ditakuti oleh dia. Yaitu Klan Kanagawa, Black Horizon dan Red Immortals. Jika salah satu mereka yang datang, maka dia sudah bersiap-siap menyerah sambil mengangkat tangannya," jawab Asmoro.
"Jadi itu yang membuat takut dengan Klan Kanagawa? Hmmp... ini sangat membingungkan sekali," ucap Stella memegang dagunya.
"Ya itu benar. Klan Kanagawa adalah sebuah Klan yang sangat kejam sekali. Bagaimana tidak? Sekalinya mengamuk bisa menggetarkan dunia bawah tanah. Bahkan banyak sekali korban berjatuhan satu demi satu," ujar Asmoro.
Setelah itu mereka mulai mengobrol dengan serius. Merek menghabiskan waktu di rumah kecil ini sambil bercerita. Leon dan Ian bergabung dan bercerita tentang semuanya.
Selain itu juga Imron bersama lainnya datang. Kakek Al sangat bahagia sekali. Ia tidak menyangka kalau Asmoro sekarang dirinya menjadi orang hebat.
Tidak terasa waktu sudah semakin siang. Stella bersama Natalie langsung pergi ke kamar Kakek Al. Disana mereka mempersiapkan seluruh pakaian yang akan dibawa. oleh Kakek Al. Mereka sangat senang ketika membereskan semuanya.
Tepat jam du belas siang, Asmoro beserta lainnya mengantarkan kepergian Kakek Al. Ia sebenarnya tidak tega melepaskan Kakek Al begitu saja. Seharusnya ia ingin mengajaknya tinggal di Jakarta.
Berhubung dunia mafia sangat kejam sekali, Asmoro mengurungkan niatnya. Ia tidak ingin melihat paman tercintanya terbunuh dengan sangat konyol seperti kedua orang tuanya.
Tepat jam dua siang pesawat Kakek Al terbang. Asmoro lega dengan perasaannya. Masalah satu sudah selesai. Tinggal satu masalah lagi yaitu menutup sumur tua itu.
"Perasaanku lega. Akhirnya Kak Asmoro sudah tidak memiliki beban disini," celetuk Stella.
"Sebenarnya masalah ini sudah aku bicarakan dengan Gisa. Gisa mau mengajak Kakek Al tinggal di rumahnya itu. Gisa meminta Kakek Al berangkat kesana. Namun nyatanya Kakek Al tidak mau. Jadi yang salah bukan anak-anaknya," jelas Asmoro.
"Ya... kelihatan Kakek Al tidak mau pergi dari sini. Beliau ingin disini hingga akhir hayatnya. Apalagi Kakek Al sangat setia mengunjungi makam istrinya itu,' ucap Stella.
"Benarkah itu?" tanya Asmoro.
"Ya itu benar," jawab Stella.
"Sebenarnya aku ingin bertanya sama kamu. Kamu cinta nggak sih sama aku?" tanya Asmoro yang sedang menggenggam erat tangan Stella.
Leon dan Ian langsung terbatuk parah. Mereka tidak menyangka kalau sang ketuanya menanyakan akan hal itu di hadapannya. Stella hanya tersenyum sambil menutup wajahnya. Dengan cepat Asmoro mencium mulut Stella tanpa harus diekspos.
__ADS_1
"Bisakah kalian berciuman tanpa harus di dalam mobil ini?" kesal Ian.