
“Kenapa sih Kok kamu sangat posesif sekali sama papamu sendiri?” tanya Anita yang bingung kepada Agatha.
“Aku takut kamu jatuh cinta sama papaku,” jawab Agatha dengan sendu.
“Kamu itu ada-ada saja. Mana ada aku jatuh cinta sama papa. malahan aku ingin menjadi menantu yang baik buat papamu. Cepat atau lambat kita akan hidup bersama. Aku ingin Papa tinggal serumah dengan kita. Karena Papa tidak ada yang merawatnya,” ucap Anita sambil tersenyum manis.
“Kalau begitu aku yang salah ya?” Tanya Agatha.
“Memang, kamu itu salah dan terlalu cepat cemburu. Aku ingin mengabdikan diriku untuk menjadi menantu yang berbakti. Aku tidak memperdulikan kasta Papa bagaimana?” ujar Anita.
Agatha tersenyum dan merasakan hatinya lega. Sebenarnya Agatha tidak cemburu terhadap interaksi sang istri bersama papanya. Meskipun mereka tidak pernah bertemu sama sekali, Anita berharap bisa menjadi menantu baik di mata sang papa.
“Kamu sangat baik sekali menjadi wanita. Sekalinya tersakiti kamu masih bisa memaafkan,” sahut Agatha.
“Kalau untuk kamu aku memaafkanmu. Aku tidak pernah marah dengan rencanamu itu. Kamu sudah melakukan hal yang tepat. Jika tidak ada kamu, kemungkinan besar anak-anak kita menjadi korban. Bisa jadi Tuti akan menjual mereka ke orang-orang kaya. Hingga Aku kehilangan mereka semuanya. Terima kasih sayangku. Kamu sudah banyak berkorban untukku. Aku bersedia menjadi istrimu kembali,” sambung Anita sambil menatap wajah Agatha.
“Kamu memang pantas mendapatkannya. Rencana ini adalah rencana dari tuan besar Snowden. Yang di mana Tuan James juga ikut campur dalam masalah ini. Kamu pasti tahu deh yang namanya Tuan James itu?”
“Ya, aku mengetahuinya. Bahkan sampai sekarang aku sangat mengagumi kemampuannya dalam dunia bisnis. Aku terkagum olehnya. Cepat atau lambat aku ingin bertemu dengannya dan mengucapkan terima kasih banyak.”
“Kamu tenang saja. Meskipun kamu tidak bertemu dengannya. Kamu bisa bertemu dengan Asmoro atau Martin atau Ian atau si kembar. Mereka memiliki hubungan darah. Kecuali Alexa, Ian dan Asmoro. Meskipun orang luar dan tidak ada sangkut pautnya dengan Tuan James. Mereka bertiga sudah dianggap anaknya. Bahkan Alexa adalah menantu kesayangannya. Ditambah lagi Asmoro adalah seorang putra angkat yang dibanggakannya. Sebenarnya nggak Asmoro saja. Melainkan Gio dan juga Winda,” jelas Agatha.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Anita mendengar nama Winda terucap dari mulut Agatha. Matanya membulat sempurna dan mengucap nama Winda sekali lagi. Entah kenapa dirinya ingin bertemu dengan Winda saat ini juga. Ia menatap wajah Agatha lalu memintanya, “Bolehkah aku bertemu dengan Winda?”
“Ya, kamu boleh menemuinya. Apakah kamu masih mengingat Winda?” tanya Agatha yang ternyata Winda adalah teman sekolahnya dahulu.
“Iya. Aku masih mengingat wajah konyolnya itu. Rasanya aku ingin memeluknya. Sudah berapa tahun aku tidak bertemu dengannya. Aku harap dia baik-baik saja,” ungkap Anita dengan penuh kebahagiaan.
“Kamu tahu siapa Winda itu sebenarnya?” tanya Agatha yang sengaja membuat teka-teki buat Anita.
“Ya aku tahu itu. Kenapa masih juga kamu bertanya tentang Winda? Bukankah aku dahulu sering bersamanya ketika sedang beristirahat?” tanya Anita.
“Bukan itu maksudku. Dia adalah ibunya Alexa. Dia juga nenek dari ketiga cucunya yang sering kita ajak bermain kalau ke sini,” jawab Agatha yang membuat Anita benar-benar terkejut.
“Kamu nggak tanya sih kepada Alexa. Siapa kedua orang tuanya?” tanya Agatha balik.
“Aku memang tidak bertanya hal yang menyangkut pribadi seseorang. Aku memilih untuk diam. Meskipun Alexa adalah orang penting aku tidak ingin mengusik kehidupan pribadinya,” jawab Anita dengan jujur.
“Bisa dimaklumi. Hal itu wajar buat kita semuanya. Kita nggak perlu tahu tentang masa lalu atau masalah pribadi orang yang tidak memiliki masalah apapun. Kecuali kalau orang itu benar-benar membuat kesalahan yang fatal.”
“Memang boleh ya mengobrak-abrik identitas orang seenaknya?”
“Semuanya itu tidak boleh. Semuanya itu ada hukumnya. Tapi kalau para pebisnis Itu diwajibkan. Hal ini berguna untuk mencegah agar orang itu tidak menyerang kita sembarangan. Dengan kata lain orang itu sudah kita incar selamanya. Kalau aku membiarkannya saja tanpa harus menyerangnya terlebih dahulu. Kecuali kalau memang sudah mengakibatkan keluargaku hancur atau apalah. Aku berhak untuk menghancurkannya. Inilah yang dinamakan hukum bisnis.”
__ADS_1
“Itu terserah kamu. Aku sudah tidak akan mungkin perbaikan lagi sama orang-orang seperti itu. Jangankan di dunia bisnis. di kampung saja banyak sekali orang-orang saling menjatuhkan satu sama lain. Gara-gara aku menyambung hidupku dengan cara berjualan. Para tetangga tidak menyukaiku. Mereka menghembuskan kabar yang tidak-tidak.”
“Itu sudah biasa. Lebih baik kamu jangan mendengarkan mereka berbicara apapun. Kamu harus memiliki mental yang sangat kuat sekali. Mereka hanya mencambukmu untuk menjadi wanita kuat. Kelak kamu bisa melawan musuh-musuh utamamu.”
Yang dikatakan Agatha adalah benar. Agatha bukannya marah dan menghardik para tetangga Anita. Malahan Agata sendiri menguatkan sang istri agar tidak terpancing emosinya. Bahkan Agatha mencambuk sang istri agar menjadi wanita kuat. Betapa sayang dan cintanya Agatha kepada Anita. Anita juga begitu sayang kepada Agatha. Meskipun mereka melakukan pernikahan diam-diam. Yamato merestui mereka dan ingin cepat-cepat menghubungkan pernikahan mereka.
“Kalau begitu kamu nggak usah dipikir terlalu dalam. Biarkanlah saja mereka berbicara tentang kamu. Tetap semangat jalani hidup bersamaku dan anak-anak. Cepat atau lambat kita akan memiliki cucu dari Stella,” jelas Agatha yang membuat Anita tersenyum manis.
Itulah kisah cinta orang tua si kembar. Mereka sangat kompak meskipun usia tidak muda lagi. Bahkan mereka berharap bisa memberikan contoh yang baik buat anak cucunya kelak.
“Putri-putri kita tidak salah mencari seorang suami. Mereka hidupnya sangat diberkahi oleh sang pencipta. Bahkan mereka adalah anak-anakku yang tidak memiliki sifat sombong kepada sesama. Jujur hatiku tersentil melihat mereka yang akrab dengan orang-orang kalangan bawah. Beda dengan putrinya Tutik. Aku rasa putrinya itu menginginkan kemewahan. Tapi Dia sangat licik dan sering menjebak teman-temannya. Aku nggak tahu anak dan ibu sama saja saling jebak-menjebak. Aku baru saja mendapatkan informasi dari Yamada. Putrinya itu lebih mengerikan sekali ketimbang Tutik. Dia sangat terobsesi pada pria hidung belang yang memiliki uang banyak. Bahkan Tutik sendiri telah mengajarkan hal-hal yang tidak baik pada putrinya sendiri. Untung saja Stella tidak ikut-ikutan seperti itu,” jelas Agatha.
“Kata siapa Tuti tidak mengajarkan Stella seperti itu?” tanya Anita dengan serius.
“Memangnya pernah ya?”
“Sering sekali. Putri kita tidak mau cerita ke siapapun kecuali aku dan suaminya. Stella menceritakan betapa menderitanya saat itu. Kalau nggak mau mencari pria hidung belang dan membawa uang. Tutik akan memukulinya. Bahkan Tuti berani-beraninya menghukum Putri kita di gudang,” jelas Anita.
“Ternyata?” petik Agatha.
__ADS_1