
"Aku tahu semuanya tentang itu. Aku juga memikirkan, bagaimana cara menghancurkan cairan berwarna biru. Jika diteruskan maka semua orang akan mati. Kalau mereka memakai dosis yang sangat tinggi sekali," jawab Stella.
"Apakah kamu sudah membereskan baju?" tanya Asmoro.
"Emangnya kita mau kemana?" tanya Stella balik sambil melepaskan Asmoro.
"Hari ini kita akan pergi ke Manchester. Aku ingin membereskan kantorku yang berada di sana sedang bermasalah," jawab Asmoro yang merasakan Stella lupa dengan jadwalnya hari ini.
"Maaf, aku lupa akan hal itu. Kenapa kamu di jalan nggak ngingetin aku?"
"Aku kira kamu ingat. Ya sudah beres-beres sana. Sudahlah kamu beres-beres kita akan berangkat langsung," jawab Asmoro yang menyuruh Stella beres-beres.
"Di walk in closed, ada sebuah koper kecil yang berwarna hitam. Kamu isi beberapa baju formalku di sana. Itu kan sisanya masih banyak. Kamu isi bajumu di sana juga. Aku harap kamu paham tempatnya di mana," jelas Asmoro.
Stella akhirnya menuruti keinginan Asmoro. Ia langsung pergi ke kamar dan menuju ke walk in closed. Disana rela mengambil koper hitam yang dimaksud oleh Asmoro. Lalu dalam menuruti apa yang diinginkan oleh Asmoro.
Sambil membereskan bajunya, Stella tersenyum manis. Ia tidak menyangka akan pergi bersama Asmoro. Ia semakin bingung apa yang akan dilakukannnya bersama Asmoro.
Asmoro masuk ke dalam kamar. Ia melihat Stella tersenyum lalu mendekatinya.
"Sepertinya kamu bahagia sekali ya?" tanya Asmoro.
"Aku akan pergi bersamamu," jawab Stella sambil menatap wajah Asmoro.
"Persiapkan diri kamu. Aku akan mengajakmu pergi ke luar negeri. Kamu harus mendampingi aku," ucap Asmoro yang mengajak Stella kemanapun.
"Apakah kamu enggak malu mengajakku?"
"Ngapain harus malu? Bukankah kita sudah ditakdirkan untuk bersama? Akan aku tunjukkan kepada dunia. Kalau aku memiliki seorang istri," jawab Asmoro yang mulai memeluk Stella.
"Jika orang sudah terkenal dan seseorang pebisnis akan risih mengajak istrinya pergi," celetuk Stella tersenyum manis.
"Aku bukan mereka. Aku adalah Asmoro atau Lampard. Aku ingin kamu tahu. Ngapain saja aku di luar. Aku tidak ingin kamu curiga sedikitpun. Kamu bisa menjadi benteng dalam pernikahan kita," jelas Asmoro.
"Maksud kamu benteng seperti Takashie?" tanya Stella yang mulai bingung.
"Iya itu. Kamu bisa melindungi aku dari perempuan-perempuan nakal di luar sana," jawab Asmoro.
"Maksud kamu apa?" tanya Stella yang tidak mengerti.
"Nanti kamu akan paham apa yang akan terjadi nanti," jawab Asmoro.
Stella semakin bingung apa yang dikatakan oleh sang suami. Ia tidak paham maksudnya apa? Asmoro memintanya tidak usah terlalu memikirkannya. Ia akan membiarkan istri kecilnya itu mengetahui apa yang akan terjadi?
Ian yang sudah sampai di apartemen langsung membereskan pakaiannya. Untungnya Ian malam tadi tidak jadi pulang. Ia bersama Asmoro memutuskan untuk beristirahat.
"Semuanya sudah beres. Tunggu jam sebelas berangkat. Aku rasanya ingin mengajak Adelia pergi jalan-jalan terlebih dahulu. Sebelum pergi jalan-jalan, Ian memutuskan untuk mandi.
__ADS_1
Sebelum mandi, Adelia datang membawa makanan. Ia sengaja memasak khusus buat Ian.
"Kak Ian," panggil Adelia.
"Eh, Del," sahut Ian sambil mendekati Adelia.
"Aku kesini mau mengantarkan nasi teriyaki," ucap Adelia sambil menyodorkan tempat nasi.
Ian tersenyum manis. Ia segera mengambil tempat nasi itu dan mengajak Adelia masuk ke dalam dapur.
"Apakah kamu sibuk hari ini?" tanya Ian sambil menaruh box nasi itu ke atas meja.
"Aku tidak pernah sibuk hari ini. Aku juga belum bekerja. Aku bingung apa akan kulakukan?" jawab Adelia yang memajukan mulutnya sepanjang sepuluh sentimeter.
"Hmmp... Kalau kamu tidak ada pekerjaan? Apakah kamu mau berjualan online?" tanya Ian.
"Maksudnya?" tanya Adelia balik.
"Terman-temanku sekarang lagi tahun. Mereka sering banget membuat keranjang sampah dari daur ulang Jika kamu berminat, aku akan menjadikan kamu admin. Kamu bisa menjual barang-barang itu hingga ke luar daerah. Syukur-syukur kamu bisa menjualnya hingga ke luar negeri," jelas Ian.
"Oh... aku tahu itu. Kalau ada barang-barangnya tidak apa-apa sih. Soalnya dulu basickku di marketing," ujar Adelia.
"Ya... sudah. Nanti akan aku bicarakan sama mereka. Aku sendiri ingin menyalurkan bakat mereka ketika gabut," kata Ian.
"Apakah itu pegawai S&T Company?" tanya Adelia.
"Ya... udah, aku tidak apa-apa. Nanti aku promosikan kepada orang lain,'' sahut Adelia.
Ian mencium aroma masakan khas milik Adelia. Ia sungguh sangat kelaparan untuk saat ini. Semalam ia hanya memakan biskuit. Ia juga tidak mengajak Asmoro untuk sarapan.
Di tempat lain, Patty dan Tutik sedang sarapan. Mereka sangat bahagia karena hari ini bisa makan enak. Ketika satu suap untuk makan, mereka kedatangan seseorang pria paruh baya. Tanpa permisi pria itu masuk ke dalam.
"Patty!"
"Tutik!"
Pria itu sengaja berteriak untuk memanggil nama mereka. Ia masih bingung kenapa Tutik dan Patty tinggal di rumah kecil ini. Ia tersenyum smirk sambil menemukan sebuah ide.
"John... Merry... awas saja kalian. Kalian akan mati di tanganku! Aku akan mencuci otak Tutik dan Patty. Aku tahu mereka sama jahatnya. Jika aku melakukannya. Aku yakin mereka akan memiliki tingkat kekejaman di atasmu," jelas pria itu.
Mereka sengaja menghentikan sarapannya. Mereka keluar dari dapur lalu menuju ke depan. Tutik yang sedang makan enak-enak menggerutu dan ingin memaki orang itu.
Ketika Samapi disana, Tutik dan Patty hampir saja memaki orang itu. Akan tetapi mereka terkejut. Mereka mulai mengingat siapa pria itu? Lalu Tutik mendekatinya sambil menyapanya, "Tuan Liam."
Ya... nama pria itu adalah Liam Knock. Ia memang sengaja datang untuk menemui mereka. Ia sudah berjanji akan menemui mereka untuk bekerja sama.
"Iya ini aku," sahut Liam.
__ADS_1
"Ada apa gerangan Anda kesini?" tanya Tutik.
"Aku kesini untuk mengajakmu kerja sama. Jika kalian mau, temui aku di Hotel Bekasi. Ada hal yang akan aku bicarakan," jelas Liam yang tidak ingin berlama-lama disini.
"Baiklah. Nanti aku temui di sana," jawab Tutik yang penuh kegirangan.
"Ajak juga anakmu," ucap Liam yang segera pergi meninggalkan mereka.
Melihat kepergian Liam, Tutik mengerutkan keningnya. Ia bingung dengan apa yang dilakukan oleh Liam? Sebenarnya apa yang terjadi untuk saat ini? Apakah Tutik merasakan ada hal ganjil?
Patty mendekati Tutik sambil melihat bayangan Liam semakin menghilang. Ia bingung sekelas Liam, mengajaknya bekerja sama. Padahal ia sendiri tidak pernah bertemu dengan pria paruh baya itu.
"Itu siapa?" tanya Patty.
"Oh... iya. Mama belum cerita ya. Dia adalah Liam Knock. Dia adalah bosnya John dalam pengedaran obat-obatan terlarang seluruh dunia. Mama pernah bekerja sama dengan John. Tapi mama tidak pernah mengedarkan obat-obatan terlarang di negara ini. Mama sengaja mengedarkan di negara Amerika saat itu. Bisa dikatakan kalau mama adalah admin. Melihat itu John marah dan menyuruh Mama berhenti. Terus John menyuruh kembali kesini. Saat itulah mama mencari pria lain untuk melampiaskan nafsu hanya demi kesenangan. Eh... kebablasan sampai saat hamil kamu. Kamu juga bukan anaknya si tukang bengkel. Karena saat itu Mama sering melakukannya banyak laki-laki. Jadi jangan salah jika kamu tidak memiliki ayah," jelas Tutik dengan panjang lebar.
Patty terdiam karena tidak tahu apa-apa. Ia juga bingung apa yang harus dilakukan untuk saat ini. Percuma saja kalau dirinya mencari sang ayah. Karena sang ibu sudah mengakui semuanya. Lalu anak ini? Ah... sudahlah. Ia juga melakukannya dengan banyak pria. Jadi wajar jika ia sendiri tidak bisa menentukan siapa calon ayahnya yang sesungguhnya.
"Ngapain kita bertemu dengan orang itu ma?" tanya Patty.
"Diam-diam begini tanpa sepengetahuan John, Mama sering mendapatkan sebuah tender besar. Dan uangnya itu sangat banyak dan mengalir deras. Untuk saat ini aku belum tahu apa yang akan diperintahkan oleh pria itu," jawab Tutik yang pergi ke dapur untuk melanjutkan makannya.
"Sepertinya itu boleh. Dari segi wajahnya, pria tua itu sepertinya pandai sekali di ranjang. Aku sudah lama tidak pernah melakukannya dengan pria luar," ucap Patty tersenyum smirk.
Mulai saat ini aku akan merayumu. Aku ingin kamu menjadi milikku selamanya. Aku tidak mau kehilangan kamu," jelas Patty yang akan menjerat Liam ke dalam pelukannya.
Memang itulah Patty. Jika ada pria tajir sudah seperti cacing kepanasan. Ia tahu kalau Liam adalah tambang emasnya. Lalu bagaimana dengan Asmoro? Ah.. iya... Asmoro masih dalam genggaman tangannya dengan erat. Ia akan mencari cara untuk memisahkan Stella dan membuatnya menderita.
Namun, apakah Patty tahu kalau saat ini bahaya akan mengancamnya? Patty tidak pernah tahu akan hal itu. Karena Patty tidak mengetahui siapa itu Asmoro?
***
"Del," panggil Ian sambil mengeringkan rambutnya yang basah.
"Kamu mau pergi sama aku enggak?" tanya Ian.
"Pergi kemana?" tanya Adelia yang mengerutkan keningnya.
"Aku akan mengajakmu berjalan-jalan. Lalu ikut aku ke Manchester," jawab Ian.
"Ngapain kita kesana?" tanya Adelia.
"Kamu bisa menemani Stella disana," jawab Ian.
"Maksud kamu apa? Ngapain juga Kak Stella ikut?" tanya Adelia.
"Ada pesta antar perusahaan," jawab Ian.
__ADS_1
"Lalu apa hubungannya dengan aku?" tanya Adelia yang tidak paham.