
Mereka ke atas bersama anak-anak. Mereka berjalan dengan santai sambil bercanda. Canda dan tawa mengiringi perjalanan hingga ke atas. Khususnya Ian bersama Sean.
Di tempat lain, Patty yang baru saja sampai langsung mendekati Tutik. Ia duduk sambil tersenyum manis. Ketika tersenyum manis, Tutik tidak sengaja melihat Patty dan hampir saja terkejut.
"Lu ngagetin saja sih jadi orang!" teriak Tutik sambil membawa sendok.
"jangan teriak apa? Kebiasaan banget sih jadi orang teriak melulu!" kesal Patty yang agak emosi.
"Lu nya jadi orang nongol kagak ngasih salam!" kesal Tutik yang menaruh sendok itu.
"Ngapain juga ngasih salam? Biasanya aku masuk tanpa say hello. Aturan dari mana itu ma!" bentak Patty.
"Ini anak! Kalau dibilangin susah banget!" kesal Tutik.
Melihat Tutik kesal, Patty hanya bisa menghembuskan nafasnya. Ia baru sadar kalau sang ibu ternyata memiliki tanda merah di leher. Ia mengerutkan keningnya sambil bertanya, "Leher Mama kenapa?"
"Masa lu enggak tahu sih?" tanya Tutik.
"Apa jangan-jangan semalam Mama sudah mendapatkan korban?" tanya Patty balik.
"Bukan korban. Tapi pelanggan! Lu kira gue membunuh orang apa?" tanya Tutik yang semakin kesal terhadap Patty.
"Siapa tahu Mama mendapatkan pelanggan yang bagus. Lalu korban pelanggan itu menjadi korban sebaliknya. Mama kan gitu orangnya," jelas Patty yang menatap wajah Tutik sambil tersenyum licik.
Melihat senyuman sang putri licik, Tutik mengerutkan keningnya. Ia bingung dengan keadaan sang putri. Ia memutuskan untuk menghentikan pekerjaannya tersebut.
"Kenapa kamu tersenyum begitu?" tanya Tutik.
"Aku lagi tersenyum karena aku mendapatkan pelanggan dari karyawan S&T. Yang dimana perusahaan sudah aku incar sedari dulu," jelas Patty.
"Apakah dia adalah seorang manajer?" tanya Tutik yang semakin penasaran.
"Iya... dia adalah seorang manager HRD. Kemungkinan besar aku bisa masuk kesana," sambung Patty yang semakin bahagia. "Tapi ma... bagaimana nasib dunia modelku?"
__ADS_1
"Oh... iya... temui saja pihak Fendi kamu. Kamu minta cuti selama setahun. Kan enggak mungkin kamu bekerja sebagai model dengan perut membesar itu," jelas Tutik. "Lagian juga kamu hamil enggak ada bapaknya."
"Bener juga sih," ucap Patty yang baru sadar. "Sepertinya anak ini akan kujadikan sebuah senjata. Aku akan mencari konglomerat. Yang dimana konglomerat itu bisa mempertanggungjawabkan hasil perbuatannya. Jujur aku sangat jijik sekali hidup tinggal disini. Aku seperti orang pinggiran."
"Tenang saja. Oh.. iya.. apakah kamu tidak menjalankan aksi yang sudah kamu rencanakan?" tanya Tutik yang berharap Patty tidak lupa dengan rencananya itu.
"Apa itu?" tanya Patty baik.
"Menjebak Stella. Kamu umumin ke publik lalu bilang hamil. Pokoknya mama ingin melihat para orang di Negera ini menyerang Stella. Terutama langsung ke mental. Jika serangan bertubi-tubi maka mental Stella akan menjadi kacau. Terus depresi tingkat akut. Setelah itu para pemegang saham Kurumi akan mencoret nama Stella dan tidak menjadikannya sebagai ahli waris. Mereka akan memilih kamu sebagai ahli waris selanjutnya," jawab Tutik sambil memperingatkan Patty tentang masalah lalu.
"Tenang ma. Aku tidak akan sekarang melakukannya," ujar Patty.
"Kenapa kamu enggak melakukannya? Jadi orang jangan lambat kerja," kesal Tutik yang tidak suka Patty menundanya.
"Nih ma... aku kasih tahu apa yang sebenarnya terjadi. kalau mama tahu Mama pasti akan tercengang mendengarnya" sahut Patty.
"Iya apa itu?" tanya Tutik.
"Dia sekarang tinggal bersama seorang pria tampan. Sangking tampannya pria itu melindungi dia di saat aku mulai menyerangnya," jawab Patty yang kesal terhadap Stella yang dimana saat itu bersama Asmoro.
"Enggak juga kali ma," kesal Patty yang diejek. "Sedari dulu aku ditakdirkan untuk mencari uang dengan cara mudah. Lha... dia... punya uang apa sedari dulu? Hidupnya bergantung pada kita."
"bener juga pa katamu. Sebaiknya kamu harus dapatkan dia. Jangan biarkan dia bahagia!" titah Tutik yang tidak ingin melihat Stella bahagia.
"Oke... ma," sahut Tutik. "Aku akan mencari caranya merebut suaminya itu."
"Dia sudah memiliki suami?" tanya Tutik yang bingung.
"Iya... memang dia sudah memiliki seorang suami. Kalau menurutku suaminya bukan orang sembarangan," jawab Patty.
"Ini tidak bisa dibiarkan! Kenapa dia enggak ngasih ke kamu saja!" geram Tutik.
"Jadi Mama maunya bagaimana?" tanya Patty.
__ADS_1
"Mama maunya suaminya itu menjadi milikmu! Mama tidak ingin tinggal disini selamanya," jawab Tutik yang akan mencari cara.
"Mama bisa menemuinya kok jika mau," ucap Stella,
"Bagaimana caranya?" tanya Tutik yang bingung.
"Nanti aku kasih tahu dimana dia tinggal. Mama ancam saja biar dia ngasih suaminya ke aku," jelas Patty yang membuat Tutik bertanya-tanya.
"Ide kamu sangat bagus juga. Kalau begitu Mama akan ke sana untuk menemui Stella," ucap Tutik.
"Itu terserah Mama," balas Patty.
"Semuanya terserah Mama. Iya dech... kalau begitu Mama akan membuat rencana," ucap Tutik dengan bahagia.
"Hmmp... Buatnya jangan lama-lama. Keburu Stella bahagia ma," kesal Patty yang membuat Tutik. "Ternyata kamu tidak sabaran ya?"
"Bukannya aku tidak sabaran ma. Aku tidak ingin melihat Stella bahagia sedikitpun. Aku ingin membuat Stella menderita," celetuk Patty.
"Kenapa sih kamu tidak suka lihat Stella bahagia?" tanya Tutik yang ingat akan Anita.
"Karena Stella enggak boleh bahagia. Aku tidak menyukai itu," jelas Patty yang sengaja tertawa keras.
"Ya... ide kamu boleh juga," ujar Tutik. "Kok aku teringat pada Anita ya? Kemana itu orang? Aku masih bertanya-tanya sampai saat ini."
"Siapa itu Anita?" tanya Patty yang sepertinya tidak asing mengenal nama itu.
"Anita adalah kakakku. Ibu dari Stella. Aku sedari dulu memang tidak menyukai kalau Anita bahagia. Dari dulu Anita selalu mendapatkan keberuntungan. Setiap pacaran dapat pria tajir. Hingga dia menikah dengan seorang pengusaha sukses yang bernama Agatha. Aku iri sekali melihatnya. Makanya aku sengaja menghancurkan rumah tangganya biar menderita. Aku harap dia tidak akan pernah bersatu lagi dengan Agatha," jawab Tutik yang sengaja menjelaskan siapa itu Anita.
"Sepertinya nama itu tidak asing di telingaku celetuk Patty.
"Ya... memang tidak asing di telinga. Memangnya kamu tahu itu siapa?" tanya Tutik.
"Ya... setahuku sih dia tinggal di Surabaya. Aku enggak tahu apa yang dilakukannya sekarang," jawab Patty yang sedikit tahu tentang Anita.
__ADS_1
"Bagus itu," puji Tutik. "Semoga saja hidupnya sangat menderita. Aku tidak pernah membayangkan bagaimana dia menderita? Rasanya aku ingin tertawa terus.''
Kedua orang itu memang suka sekali melihat Anita dan Stella menderita. Entah ada setan apa yang ada di dalam dirinya? namun mereka tidak tahu, kalau Stella dan Anita dilindungi oleh orang-orang yang baik. Mereka sudah tahu siapa mereka sebenarnya? Ditambah lagi kejahatan bersama John juga sudah tahu.