
"Tugas yang seharusnya kalian kerjakan Untuk menumpas keberadaan kelompok geng mafia Exodus. Kalian harus melakukan itu. Jika tidak kalian yang akan menjadi tawanan kami!" tegas Guntur.
"Memangnya kami terpilih untuk itu?" tanya Gio.
"Kalian adalah keluarga yang dipilih untuk menumpas mereka. Jadi kalian mau tidak mau harus melaksanakan tugas itu," jawab Guntur. "Oh ya satu lagi. Markasmu sebentar lagi akan diserang oleh Exodus."
"Apakah itu benar?" tanya Gio.
"Ya itu benar. Sementara Lampard akan mempertemukan ketiga saudara itu ke orang tuanya. Aku harap pertemuan kali ini akan mendapatkan hasil yang sempurna. Sudah cukup ketiga saudara kembar itu merasakan penderitaan yang amat luar biasa. Tugasnya Lampard adalah melindungi ketiga ahli waris itu dari keserakahan dari keluarga John," jawab Guntur.
"Lalu, tugas dari ketiga ahli waris itu apa? Apakah kamu mintanya juga dan memberinya kekuatan seperti kami?" tanya Gio yang malas menanggapi Guntur.
"Mau tidak mau. Sang pemilik itu akan memberikan suatu kekuatan untuk membalaskan rasa sakit hati mereka terutama ke keluarga John. Aku ingin mereka menjadi orang-orang yang hebat," jawab Guntur.
"Kamu ini sangat aneh sekali. Di dunia nyata tidak ada yang seperti itu. Nggak bisa dicerna oleh nalar manusia. Biarkanlah kami menumpasnya tanpa ada kekuatan yang aneh-aneh seperti itu," ucap Gio.
"Percuma saja kamu menolaknya. Yang namanya takdir harus dikerjakan. Jika melawannya aku yakin kamu tidak akan bisa menolaknya. Karena kekuatan itu akan jatuh ke garis tangan seseorang yang sudah ditentukan," jelas Guntur.
"Terserahlah. Apa katamu? Sekarang aku ingin pulang. Jangan pernah menggangguku jika bersama dengan keluargaku," kesal Gio yang meninggalkan ruangan itu tanpa mengajak Guntur.
Setelah pertemuannya dengan Guntur, Gio pergi meninggalkan kantor. Jujur saja dirinya sangat kesal sekali bila bertemu dengan Guntur secara mendadak. Ia ingin Guntur memberitahukannya terlebih dahulu. Namun apa dikata, Guntur tidak memiliki ponsel.
Penjelasan Guntur, Kuncoro dan Abraham.
Mereka adalah manusia yang berasal dari masa depan. Mereka sudah melihat masa lalu terlebih dahulu. Jujur mereka sangat mirip sekali sama orang yang diikutinya itu. Seperti Kuncoro mirip sekali dengan Asmoro. Guntur yang mirip sekali dengan Gio. Abraham mirip sekali dengan Ibrahim alias Ibra.
Sebelum ditugaskan ke masa lalu, mereka sengaja melihat keadaan di masa lalu. Jujur saja mereka sangat terkejut sekali dengan keadaan masa lalu. Jika ini dibiarkan terus kemungkinan besar bumi akan hancur karena keserakahan manusia. Terutama pada satu kelompok yang menamakan dirinya Exodus. Yang di mana kelompok itu ingin menghabisi orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka. Mau tidak mau ketiga pria itu turun ke masa lalu untuk mencari kembarannya satu persatu.
Memang konyol sih. Kehidupan ketika pria itu di luar nalar. Kenapa mereka dikejar-kejar sama orang yang mirip dengannya? Ditambah lagi mereka harus tunduk pada peraturan yang ada. Ini sangat aneh sekali.
Asmoro yang bersama Ian menatap lurus ke depan. Iya tidak mau menatap ke belakang. Karena bagi Asmoro jok belakang sangat menyeramkan sekali. Bukan karena hantu melainkan ada Stella yang berwajah sangat menggemaskan baginya.
__ADS_1
Lalu bagaimana dengan Ian? Otomatis Ian tidak bisa menengok ke belakang. Dikarenakan Ian sendiri sedang membawa mobil dan pandangannya lurus ke depan.
"Stella," panggil Asmoro yang tidak merubah posisinya.
"Iya," sahut Stella. "Ada apa?"
"Kamu jadi pergi ke rumah kontrakanmu yang lama?" tanya Asmoro.
"Jadi. Aku hanya ingin mengambil barang-barangku yang masih tersisa di sana. Semoga saja baju-bajuku masih ada di sana," jawab Stella.
"Memangnya ke mana Kak baju-bajunya?" tanya Adelia.
"Setiap aku tinggal bekerja. Baju-bajuku menghilang dari rumah kontrakan itu. Aku sendiri bingung apa yang harus dilakukan. Sementara itu rumah kontrakanku selalu terkunci. Jika ada temanku yang masuk mereka selalu meminta kuncinya terlebih dahulu," jawab Stella yang membuat Adelia bertanya-tanya.
"Sering sekali aku kehilangan baju ketika bekerja. Padahal baju yang aku beli itu termasuk harga yang murah. Setelah aku selidiki yang mencuri bajuku adalah Patty Smith," jawab Stella.
Mata Adelia membulat sempurna. Bagaimana bisa seorang modeling terkenal mencuri baju sang kakak? Ini sangat aneh sekali. Lalu Adelia menatap Stella sambil menggelengkan kepalanya, "Aku nggak percaya soal itu Kak. Bukankah dia seorang modeling terkenal? Apalagi namanya sudah masuk ke kancah internasional?"
"Berarti ini sangat aneh sekali. Menurutku bagaimana bisa seorang modeling mencuri baju-baju dari orang yang tidak memiliki apa-apa," sahut Ian.
"Jangankan kamu. Aku yang tadi mendengarkan apa yang dimaksud Stella terkejut. Jujur saja pernyataan setelah itu membuat aku kaget," ucap Asmoro.
"Itulah yang dinamakan dinamika kehidupan. Kalau dijelaskan bakalan bingung sendiri dan tidak ada pegangannya," celetuk Stella.
"Nggak usah dipikirkan. Biarkan saja. Lagian juga dia sebenarnya nggak mampu untuk membeli pakaian atau apapun," sahut Asmoro.
"Bagaimana dia membuat rencana saat memancingku untuk keluar?" tanya Stella.
"Percuma saja. Kalau kamu keluar juga nggak ada yang bisa diuntungkan buat mereka. Bisa-bisa keluarga Snowden akan menuntut keluarganya. Yang kita tahu pasti mereka memiliki jejak kejahatan yang sudah menumpuk," jawab Asmoro.
"Yang penting kita sabar saja menghadapi mereka. Kalau nggak sabar mereka akan menginjak-nginjak kita," jelas Adelia yang membuat kedua pria itu setuju.
__ADS_1
"Arahnya ke mana?" tanya Ian.
"Belok kiri masuk ke dalam gang pertama udah sampai situ aja," jawab Stella yang mendapat anggukan Ian.
Kemudian Ian langsung membelokkan mobilnya ke arah kiri dan masuk ke dalam gang. Pas waktu sampai di gang Stella meminta berhenti di tengah-tengah.
"Udah berhenti di sini saja aku tak masuk ke sana dulu," pinta Stella.
"Aku ikut," seru Adelia yang tidak ingin berpisah dari kembarannya itu.
Ketika ingin keluar ada seseorang pria berada di rumah kontrakannya itu. Dari tadi Asmoro melihat orang itu dengan serius. Lalu Asmoro meminta mereka tidak keluar dari mobil.
"Di mana rumahmu itu?" tanya Asmoro.
"Ada di depan sana," jawab Stella sambil menunjuk rumah di depan itu.
Tiba-tiba saja Stella terkejut dengan penglihatannya itu. Ia melihat ada seseorang yang berdiri tegak di depan rumah. Kemudian Stella menggelengkan kepalanya sambil berdoa agar tidak ketahuan.
"Kamu kenapa Stella?" tanya Asmoro.
"Pria yang di depan sana adalah Harlem. Dia adalah mantan pacarku dulu. Tapi dia sering melakukan kekerasan dan memukul fisikku. Semenjak itulah aku ketakutan jika bertemu dengan dia," jawab Stella.
"Bukannya orang itu yang menembak kamu?" tanya Asmoro yang melihat jelas wajah Harlem.
Jujur saja Stella masih ketakutan dengan Harlem. Ia tidak ingin bertemu Harlem apalagi menyapanya. Sungguh ia tidak bisa membayangkan jika terjadi kekerasan fisik lagi.
"Maksud Tuan Asmoro apa ya?" tanya Adelia.
"Jangan panggil aku Tuan. Karena aku bukanlah tuanmu. Panggil saja Kakak seperti Stella memanggilku," kesal Asmoro.
"Baik kak aku paham," sahut Adelia.
__ADS_1
"Kenapa ya orang itu di sini?" tanya Stella dengan tubuh bergetar.