
"Aku mau yanng berjenis kelamin perempuan," jawab Stella.
"Perempuan?" pekik Ian dan Lane sambil mengerutkan keningnya.
"Nyonya Stella, mereka bukan manusia. Mereka adalah hewan berbulu. Jangan kamu meminta perempuan," ucap Ian.
"Oh... iya ya... maafkan aku. Aku meminta betina," sahut Stella yang melihat singa kecil yang sedang menunjukkan dirinya sebagai singa baik.
"Betina?" tanya Lane.
"Iya," tunjuk Stella ke singa berwarna putih. "Aku mau itu."
Lane melihat singa itu dan mendekatinya sambil menunjuk singa itu, "Dia jantan bukan betina."
"Tapi aku suka dia," ucap Stella yang membuat mereka menganggukan kepalanya paham.
"Ya sudah deh. Aku akan mengambilkannya ke kamu," sahut Lane yang membuka kandangnya.
Lane segera mengambil bayi singa itu dan menggendongnya. Ia segera keluar dari kandang dan memberikannya ke Stella.
"Dia jantan. Bukan betina," ucap Lane sambil menyodorkannya ke Stella.
Stella meraih singa itu dan menggendongnya. Ia sangat menyukai singa itu dan mendekapnya seperti bayi yang menggemaskan.
"Terima kasih," ucap Stella sambil tersenyum manis.
'Apakah kamu sudah selesai?" tanya Ian.
"Ya... aku sudah selesai," jawab Stella. "Kalau begitu aku bawa ya."
"Boleh," ucap Lane.
"Kalau begitu, ayo kita kembali," ajak Ian.
Stella menuruti keinginan Ian kembali ke tempat semula. Mereka berjalan dengan santainya. Ia berharap singa itu tidak menyerang Stella. Kalau saja singa itu menyerangnya, maka singa tersebut riwayatnya akan tamat dengan cepat di tangan Asmoro.
"Kak," panggil Stella.
"Lebih baik kamu memanggilku Ian saja. Meskipun usia aku lebih tua darmu. Cepat atau lambat aku akan menjadi adik iparmu," pesan Ian kepada Stella.
"Baiklah. Meskipun aku tidak enak hati sama kamu," ucap Ian.
Setelah itu mereka akhirnya sampai ke tempat semula. Ian duduk di tempat semula. Sedangkan Stella kembali lagi ke ruangan kerja Asmoro.
__ADS_1
Untung saja singa itu tenang dan damai bersama Stella. Singa itu seakan-akan mendapatkan kehidupan yang damai bersama Stella.
Ceklek.
Pintu terbuka.
Stella masuk ke dalam dan melihat Asmoro sedang membuat jurnal. Ia lalu mendekati Asmoro sambil kegirangan.
"Kak," panggil Stella.
"Apakah kamu enggak marah lagi?" tanya Asmoro sambil mengangkat wajahnya dan terkejut.
"Aku enggak marah lagi sama kamu," jawab Stella sambil melepaskan singa itu di atas meja Asmoro.
Singa itu duduk dengan santai sambil memandang Asmoro dengan gagahnya. Asmoro hanya bisa menghela nafasnya sambil bertanya, "Kamu ambil di kandang?"
"Iya. Aku memang mengambilnya dari kandang. Aku benar-benar jatuh cinta sama dia," jawab Stella sambil tersenyum manis dan duduk di hadapan Asmoro.
Ian menganggukan kepalnya dan terdiam. Ia juga menyukai singa itu sambil memegang kepalanya.
"Jika menyukainya, kamu ambil aja. Aku belum memberikan nama dia dan ketiga adiknya itu," ucap Asmoro sambil tersenyum manis.
"Aku bawa pulang ke Jakarta ya?" tanya Stella.
"Cuma satu saja?" tanya Asmoro.
"Mending kamu taruh sini saja. Kita tidak mungkin membawanya ke Jakarta," ucap Asmoro.
"Bagaimana kalau kita taruh di markas?" tanya Stella yang memberikan saran.
"Benar juga. tapi di sana ada singa milik Kak Gio sama Kak Winda. Nanti dech aku urus," jawab Asmoro. "Siapa yang mengantarkan kamu ke kandang singa?"
"Ian," jawab Stella.
"Ya udah enggak apa-apa," ujar Asmoro.
"Apakah kakak akan menghukumnya?" tanya Stella yang tidak ingin Asmoro marah ke Ian.
"Jika kamu bahagia dan tidak marah lagi sama aku. Aku tidak akan memarahi kamu," jawab Asmoro.
"Terima kasih ya," sahut Stella.
Asmoro tersenyum manis sambil menatap wajah Stella. Jujur, baginya wajahnya Stella sangat lembut dan meneduhkan jiwanya. bahkan dirinya tidak bosan memandanginya.
__ADS_1
Jakarta Indonesia.
Tepat jam 12.00 siang, Hatori menuruti keinginan Agatha. Ia beranjak dari duduknya lalu senngaja mengambil jasnya tersebut. Sebelum keluar dari ruangannya, Hatori mendapatkan sebuah pesan dari Agatha. Sembari tersenyum manis, Hatori membalasnya dan menaruh ponselnya di kantong jasnya itu.
Ketika ingin keluar, Hatori berpapasan lagi dengan Pak Kevin bersama Patty. Memang Patty sudah tidak bekerja lagi disini. Namun ia masih bisa masuk ke dalam melalui akses yang diberikan oleh Pak Kevin.
"Oh... kita bertemu lagi rupanya," ejek Patty.
Hatori hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum tidak bisa diartikan sama sekali. Namun Patty dan Pak Kevin berhenti sejenak. Pak Kevin mendekatinya sambil berkata, "Malam ini tamatlah riwayat kamu."
"Kita buktikan saja. Siapa yang akan tamat terlebih dahulu?" tanya Hatori sambil tersenyum konyol dan meledek Pak Kevin.
"Kamu!" geram Pak Kevin sambil menunjuk ke arah Hatori.
"Kok marah sih? Ternyata kamu seorang pengecut yang menghadapi kematian ya?" tanya Hatori sambil mengejek Pak Kevin.
Pak Kevin semakin geram atas tindakan Hatori. Hatinya sangat panas dan tersulut emosi. Dirinya seakan ingin membunuh Hatori. Akan tetapi ia mengurungkan niatnya.
"Ayo kita ke ruangan aku!" ajak Pak Kevin yang mendekati Patty.
Mereka akhirnya ke ruangan Pak Kevin. Tanpa disadari oleh Pak Kevin, jiwanya sekarang terancam. Agatha sudah mengincarnya terlebih dahulu.
Jujur selama ini Pak Kevin tida mengetahui siapa Agatha. Ia memiliki sifat merendahkan orang lain. Ia tidak peduli dengan rasa sakit yang ditimbulkan para korbannya itu.
Sementara Agatha sengaja memantau keadaan sang putra. Ia sangat geram sekali kepada Pak Kevin sambil tersenyum licik. Namun malam ini dirinya akan membalikkan keadaan.
Hatori yang sudah sampai ke lobi melihat resepsionis berteriak memanggil namanya. Ia tersenyum sangat ramah sekali.
Hatori akhirnya keluar dari lobi. Ia berjalan dengan santai. Lalu ada seorang pria mendekatinya sambil membisikinya, "Lebih baik Tuan ikut dengan kami."
Hatori menganggukan kepalanya. Ia menuruti keinginan pria itu. Lalu pria itu mengajaknya ke area parkir.
Pak Kevin bersama Patty ternyata melihatnya. Mereka tertawa terbahak-bahak dan saling berhadapan. Namun dibalik itu semuanya, mereka tidak menyadarinya. Kalau orang yang bersama Hatori bukanlah orang suruhannya. Mereka adalah pengawal bayangan milik Hatori. mereka sengaja ditugaskan untuk bermain skenario milik Pak Kevin.
"Tamatlah riwayat dia kali ini. Ia tidak akan bisa selamat dari tanganku," bisik Patty.
"Ya... aku bisa mengambil uang perusahaan ini sebanyak-banyaknya," ucap Pak Kevin dengan tertawa terbahak-bahak.
Saat mereka berkata seperti itu, ada seseorang yang mendengarnya. Dia adalah Martin, sang pemilik perusahaan ini. Jujur kali ini ia sangat geram sekali. Ingin marah tapi ia menahan amarahnya.
Martin akan terdiam lalu mencari cara agar tidak melukainya. Ia lalu segera meninggalkan ruangan itu untuk menuju ke ruangan Agatha.
Tak selang berapa lama, Gio datang sambil mengejar Martin. Ia langsung menepuk pundak Martin. Marti pun menoleh dan melihat Gio.
__ADS_1
"Kak Gio," pekik Martin.
"Kenapa kamu kesini?" tanya Gio.