Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Calon Pemimpin Baru.


__ADS_3

"Iya itu benar. Bagaimana kalau saat ini kita akan mencetak seorang bayi yang sangat lucu sekali?" bisik Asmoro yang membuat Stella menjadi tegang.


Melihat istri kecilnya, Asmoro tersenyum iblis. Rasanya ia ingin cepat-cepat menggendong seorang bayi. Ia mulai mendekati Stella dan memegang ujung handuk yang berada di depan.


Akhirnya Stella memutuskan untuk kabur ke dalam walk in closed. Ia baru sadar kalau dirinya memakai handuk. Ia tak buru-buru mengambil pakaian dan memakainya di sana.


Bagaimana dengan Asmoro? Asmoro tidak memperdulikan akan hal itu. Asmoro memang sengaja menggodanya dan tidak melakukan olahraga ranjang di siang ini.


Betapa lucunya Stella saat ini. Asmoro bisa melihat kalau wajah Stella sedang memerah. Akhirnya Asmoro mengerutkan untuk pergi membersihkan tubuhnya.


Selesai bertemu dengan Asmoro, Ian pergi menemui Adelia di bawah. Ia ingin meminta izin kepada Agatha untuk mengajak Adelia. Namun jantungnya berdetak dengan kencang. Ia berharap Sang papa mertuanya tidak marah untuk kali ini.


"Menemui papa mertua sangat menyeramkan. Jujur kalau aku boleh milih. Lebih baik aku bertemu dengan musuh bebuyutanku di jalan," keluh Ian di dalam hatinya.


Apa yang dikatakan oleh Ian benar apa adanya. Ia berniat untuk mengajak Adelia ke Manchester. Namun, Apakah Agatha dan Yamato akan mengizinkannya? Inilah pertanyaan yang paling sulit sekali untuk ditebak. Sebab Ian sudah memiliki janji di dalam hatinya. Janji itu untuk menggembleng Adelia menjadi orang besar yang memiliki nama.


Sesampainya di apartemen, pria bertubuh kekar itu masuk ke dalam kamar. Ia melihat Agatha dan Yamato sedang bermain catur. Sebelum berbicara pada intinya, Ian memilih untuk berbasa-basi terlebih dahulu. Ia saat ini sedang merangkai kata-katanya. Agar ajakan ke Manchester itu tidak ditolak oleh mereka.


Agatha yang merasakan ada orang, langsung menghentikan permainannya sejenak. Ia menatap calon menantunya lalu mengajaknya duduk. Kemudian Agatha mulai berbicara terlebih dahulu. Agatha langsung menuju ke poinnya. Agar Ian tidak mempermainkannya.


"Apa benar kamu ingin mengajak Adelia ke Manchester?" tanya Agatha dengan serius.


"Aku serius pa.aku sudah berjanji dalam hatiku untuk menggembleng Adelia menjadi gadis tangguh yang tidak bisa diinjak-injak oleh orang lain. Cepat atau lambat Adelia akan menjadi orang besar. Mengingat Adelia adalah calon ahli waris dari perusahaan Ayashi," jawab Ian sambil menjelaskan tujuan utamanya.


"Yang kamu katakan itu benar. Seharusnya aku menggembleng mereka untuk menjadi wanita yang tangguh," ucap Agatha.


"Kalau ada mereka kita lepaskan saja. Aku tahu kamu adalah asisten yang berbakat. Kamu bisa membuat karakter orang semakin kuat. Begitu juga dengan Asmoro. Aku percaya juga Stella bisa menjadi yang sangat kuat sekali," jelas Yamato.


"Kalau aku memberikannya kepada mereka. Lalu aku bagaimana? Sedangkan anak-anak perempuanku adalah anak-anak yang banyak aku banggakan," sahut Agatha yang tidak terlihat dengan keputusan Yamato.


"Bukankah kamu masih memiliki anak laki-laki bernama Hatori? Kamu bisa menggemblengnya untuk dijadikan sebagai pemimpin baru di Ayashi," kesal Yamato.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan istriku Pa?" tanya Agatha yang membuat bingung Yamato.


Jujur, kalau Yamato bisa mengeluh dan melemparkan sang putranya itu, pasti akan dilemparkannya ke suatu daerah. Ketika dirinya belum bertemu Anita, Agatha memiliki kecerdasan tinggi. Bahkan Agatha sendiri tidak sebodoh ini. Tapi kenapa setelah bertemu dengan Anita? Agatha membuat Yamato menjadi kesal.


"Kalau begitu biarkanlah aku yang membimbingnya," kesal Yamato.


Ian menahan tawanya sambil melihat kedua pria itu sedang bertengkar. Ternyata di usianya sudah senja, Yamato sendiri bisa bercanda habis-habisan. Padahal Ian sendiri mengetahui kalau Yamato adalah seseorang pria yang sangat serius sekali. Sangking seriusnya tidak ada yang berani mengerjainya.


"Kalau kamu ketawa-ketawa saja. Nggak baik ditahan sampai wajahmu memerah seperti itu. Kamu tahu ketawa itu lebih baik ketimbang menangis," ucap Yamato yang membiarkan Ian tertawa.


Bukannya tertawa Ian malah memilih untuk diam. Entah kenapa ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pembicaraan ini. Sebelum ia berdiri, Ian ditahan oleh Yamato.


"Kamu tahu nggak anak Muda? Kalau aku ini adalah seorang pria yang memiliki kebahagiaan tiada tara," ucap Yamato.


"Kebahagiaan bagaimana? Hampir tiap hari, Papa sangat tegang sekali untuk menjalani hidup. Bayangkan saja di bawah kepemimpinanmu, banyak sekali orang-orang yang ingin berteriak karena stress menghadapi papa," sahut Agatha yang ternyata tidak sengaja membuka kartu sang papa.


"Aku memang sering sekali membuat orang tegang. Tapi untuk saat ini tidak akan kulakukan. Karena seluruh karyawanku harus bahagia ketika bekerja," sahut Yamato dengan jujur.


"Sepertinya masalah di kantor juga sama saja. Apa yang harus kita lakukan untuk saat ini? Jika bertemu dengan karyawan memiliki tingkat kesetresan tinggi?" tanya Ian.


"Aku sempat berdiskusi bersama Asmoro. Asmoro pernah berkata kepadaku, beberapa bulan terakhir para karyawan sangat tegang sekali. Dia juga mengeluh apa yang akan dilakukannya sekarang," ucap Agatha.


"Lebih baik kita akan mencari solusinya. Mereka adalah manusia yang harus diberikan kebahagiaan. Tanpa adanya mereka, perusahaan tidak akan menjadi besar seperti ini," jelas Ian.


"Sebentar lagi kamu akan pergi ke Manchester. Aku tahu para kolegamu yang bekerja sama dengan LS Group. Kamu bisa tanyakan bagaimana caranya agar para karyawan tidak jenuh," saran Agatha.


Ian akhirnya menganggukkan kepalanya. Ia juga harus mencari solusinya agar perusahaan bisa bertahan lama. Ia bersama Asmoro sadar akan pentingnya memperhatikan karyawan. Setelah itu Adelia keluar dari kamarnya. Ia melihat Ian yang sedang mengobrol sama Agatha dan juga Yamato. Gadis bermata sipit itu mendekatinya sambil meminta izin, "Pa."


"Ada apa?" tanya Agatha.


"Apakah Papa mengizinkan aku pergi ke Manchester?" tanya Adelia dengan lirih.

__ADS_1


"Kalau kamu ingin pergi pergilah. Papa melepaskanmu agar kamu bisa menimbang ilmu dari perjalanan bisnis. Cepat atau lambat kamu harus menjadi wanita tangguh dan strong," jawab Agatha yang ingin anaknya menjadi wanita kuat.


"Baik pa. Aku sangat berterima kasih kepada papa," jawab Adelia yang menunduk ketakutan.


Melihat Sang Putri ketakutan, Agatha hanya menggelengkan kepalanya. Ia berdiri lalu mengajak Adelia ke ruangan kerjanya. Di sana Adelia duduk berhadapan dengan Agatha. Jujur, baru kali ini Agatha melihat sang anak ketakutan.


"Kamu Kenapa takut seperti itu? Kamu Nggak salah kok," tanya Agatha.


"Tapi Pa, aku takut nanti papa marah," jawab Adelia.


"Kamu nggak perlu takut Papa marah. Suatu hari nanti, kamu akan menjadi sesosok pemimpin dalam perusahaanmu sendiri. Jika Ian membantu proses dalam pembentukan wanita kuat di hatimu. Nanti akan berguna buat kehidupanmu ke depan. Apalagi Ian adalah asisten yang nggak kaleng-kaleng. Dia bersama Yamada dan juga Imron masuk ke dalam sepuluh besar asisten yang tidak main-main dalam pekerjaannya. Mereka bertiga sudah menduduki sepuluh besar itu hingga sepuluh tahun berturut-turut. Bayangkan jika mereka bisa menduduki anak tangga itu berlama-lama. Pasti kekasihmu itu memiliki kualitas yang bagus. Papa akan menggembleng Hatori untuk menjadi pria kuat. Sekarang Stella sudah berada di tangan Asmoro. Jadi untuk saat ini Kami bertiga membagi tugasnya satu sama lain. Jangan kamu lupakan tentang Tutik dan juga Patty. Kedua orang serakah ini akan membunuhmu. Karena kamu sangat mirip sekali sama Stella. Ingatlah pesan papa yang satu ini," jelas Agatha sambil memberikan pesan kepada Adelia agar tidak takut untuk menghadapi hari lainnya.


Ketika Agatha menyebutkan dua nama wanita itu. Hati Adelia menjadi marah dan ingin menghajarnya. Adelia tidak menyandang calon sang kakak mendapatkan perlakuan yang tidak enak. Jujur untuk saat ini, Adelia akan memasang sikap tegas. Mengingat kasus korupsi yang belum selesai.


Meskipun Adelia diam, Adelia membuat rencana agar kedua wanita itu bisa tertangkap olehnya. Ditambah lagi Adelia sendiri tidak akan membiarkan mereka bahagia sedikitpun.


"Terima kasih papa. Jika Papa tidak mengingatkanku soal ini. Mungkin saja aku akan mundur dari masalah ini. Jujur ini sangat menyesakkan bagiku. Mengingatkan Stella sudah menderita karena mereka," jelas Adelia.


"Andai saja mereka tidak melakukannya dengan parah. Papa dan mamamu akan mau memaafkannya dengan tulus. Kamu jangan pernah takut untuk menghadapi mereka. Yang penting kamu harus bisa mencari celah agar selamat dari mereka untuk saat ini," sambung Agatha. "Ya sudah kalau begitu. Papa harap kamu tidak boleh takut lagi untuk mengungkapkan semua keinginanmu. Papa akan berusaha untuk menjadi pria yang mengerti atas kebutuhan anak istrinya."


"Baik Pa. Selamanya aku akan mencintai papa. Terima kasih telah membuatku seperti ini. Oh ya, aku berencana ingin keluar rumah terlebih dahulu," pamit Adelia.


"Pergilah bersenang-senang. Bapak akan mengirimkan uang agar kamu bisa belanja habis-habisan," ucap Agatha yang merayu pacarnya lalu mengirimkan sejumlah uang ke rekening Adelia.


"Tidak perlu. Aku masih memiliki uang di dalam dompet. Itu jatah dari Kak Ian. Hampir setiap minggu kalian memberikanku uang banyak. Agar Kak Ian sendiri melihatku gemuk dan berisi," tolak Adelia secara terang-terangan.


"Kamu nggak boleh menolaknya sedikitpun. Kamu harus menerimanya. Anggap saja papa menebus semua kesalahan kepada dirimu," jelas Agatha.


"Ya nggak gini kali papa. Melihat papa tersenyum, Aku sudah memaafkan Papa sedari dulu. Jujur aku selalu berdoa agar keluarga ini diberkahi rezeki yang melimpah," ucap Adelia yang membuat Agatha bangga.


"Kapan kamu pergi ke Manchester?" tanya Agatha sambil membuat Adelia tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2