
"Karena tidak ada yang berani mengakses informasi Exodus lebih dalam. Bila ada yang mengakses informasi tersebut bisa dipastikan nyawa mereka terancam. Bisa saja mereka mengirimkan pembunuh bayaran untuk membunuh mereka," jawab Jacob. "Aku sudah menanyakan ini semua ke mafia-mafia lainnya. Mereka angkat tangan dan tidak mau mengusik."
"Aneh. Sungguh aneh sekali," kesal Ian.
"Oh ya ada satu lagi informasi yang hampir lupa tidak aku bagikan. John Smith seorang CEO dari Kurumi Company adalah kaki tangan Liam Knock. Bahkan John Smith diam-diam memiliki beberapa pabrik tersembunyi di Indonesia. John sangat pintar menyembunyikan sesuatu dari publik dan kepolisian. Obat yang diproduksinya adalah obat keras. Yang di mana dosisnya tidak tanggung-tanggung bisa membuat orang itu gagal jantung dalam waktu sekejap. Para dokter hingga profesor masih menyelidiki senyawa kimia apa. Bahkan Raka sendiri pun tidak tahu dan masih mencarinya," ujar Jacob yang menjelaskan secara gamblang.
"Ada lagi bio dari John?" tanya Ian.
"Dia memiliki seorang istri dan dua anak perempuan. Yang satu anak tiri dan satu anak kandung. John berencana akan menjual anak tirinya itu demi menguasai Kurumi Company," jawab Jacob.
"Ke mana John akan menjualnya?" tanya Lampard seakan curiga dengan Stella.
"Liam Knock," jawab Jacob lagi.
"Siapa nama anak itu?" tanya Lampard yang penasaran dengan jawaban Jacob.
"Stella Marlina Kanagawa. Ketika lulus SMA, Stella sudah dibuang ke jalanan. Mereka berharap tidak akan menemukannya. Lalu John memanggil pengacara yang menangani seluruh aset Kurumi. Sang pengacara itu pun tidak akan memberikan uang sepeserpun kepada mereka. Kecuali sang ahli waris itu sudah meninggal," jawab Jacob.
"Astaga... Kejadian lalu terulang lagi. Oh... ****!" geram Lampard.
"Apakah Stella yang kita selamatkan pada tempo hari itu?" tanya Ian.
"Jadi yang menyerang rumah sakit adalah John," jawab Lampard dengan penuh keyakinan. "Seluruh pengawal John memakai lambang X di leher belakang."
"Aku akan menyuruh Alexa untuk menginterview mereka," ucap Martin yang sedari tadi memperhatikannya.
"Baiklah kalau begitu. Aku mulai curiga dengan mereka yang ingin menghancurkan Stella. Jika Alexa tahu," ucap Lampard yang tersenyum mengembang sambil berdiri.
"Mau ke mana?" tanya Gio.
"Mau membuat bom untuk nanti malam," ucap Lampard.
"Pergilah jauh-jauh dari kami. Jangan mendekati kami jika belum selesai!" titah Martin.
"Sialan lu. Untung lu adik gue. Kalau enggak pasti gue lempar ke daerah konflik!" geram Lampard yang segera meninggalkan ruangan khusus itu.
"Langkah selanjutnya apa?" tanya Martin.
"Kita harus mencari kebenaran sesungguhnya. Siapa itu Stella? Lalu hubungan John itu apa? Begitu juga dengan Exodus. Aku yakin ini ada sesuatu yang disembunyikan," jawab Lampard. "Jacob! Aku ingin kamu mencari data-data Stella!"
"Baik kak," balas Jacob.
__ADS_1
Jacob segera mencari data-data tentang Stella. Sedangkan Lampard keluar melihat para pengawalnya yang membawa tas. Lalu sang pengawal itu mendekati Lampard sambil menyerahkan tas tersebut, "Tuan... Peralatan anda untuk membuat peledak."
Lampard menganggukan kepalanya sambil meraih tas itu. Kemudian Lampard menarik Ian pergi ke suatu tempat. Yang di mana tempat itu berada di lantai bawah tanah. Rencananya Lampard akan membuat peledak dengan kekuatan tinggi. Sesampainya di sana Lampard mulai melakukan ritual pembuat peledak.
Sean yang duduk manis di taman terkejut didatangi kedua adik kembarnya dan Rara. Mereka memandang wajah Sean yang sepertinya sedang bingung. Lalu Rara menepuk bahu Sean. Hingga Sean menatap Rara, "Ada apa Ra? Datang-datang kamu memukulku?"
"Kenapa kamu enggak pernah main ke rumahku?" tanya Rara.
"Hmmp... Aku sibuk sekolah," jawab Sean dengan sabar.
"Oh iya deh kamu sudah bersekolah," ucap Rara yang menepuk jidatnya.
"Kamu ke sini datang sama siapa? Jangan-jangan kamu pergi sendiri ke sini," tanya Sean yang curiga.
"Aku datang bersama papa," jawab Rara yang duduk. "Kok aku akhir-akhir ini tidak bertemu dengan Kakek Lampard ya?"
"Kakek jarang ke sini. Kakek sedang bekerja," jawab Sean yang cerdas.
"Oh... Sama kaya papa yang selalu sibuk?" tanya Rara.
"Iyalah. Kata kakek kalau tidak bekerja nanti kita makan apa?" tanya Sean.
"Benar juga sih," ucap Sean. "Apakah kalian sudah siap hari ini?"
"Siap kak," jawab Edward. "Memangnya ada apa?"
"Begini... Kamu tahukan kakek belum mempunyai nenek?" tanya Sean.
"Ya tahulah. Malahan kakek bisa dikatakan jomblo," jawab Rara yang menatap Edward.
"Merasa ditatap Edward membuang wajahnya. Edward tidak terlalu suka jika ditatap Rara. Kemudian Edward pun protes, "Kenapa sih kamu suka menatap wajahku?"
"Hmmp," ucap Rara yang malu-malu dan membuang wajahnya.
"Apakah kamu menyukai adikku itu?" tanya Sean.
"Ah... Tidak. Aku tidak mau," jawab Rara yang blak-blakan.
"Lalu kenapa kamu suka sekali memandang wajah adikku seperti orang jatuh cinta?" tanya Sean.
Para pengawal yang menjaga keempat anak-anak Alexa dan Raka terkejut. Bagaimana bisa mereka mendengar kata-kata cinta keluar dari anak kecil yang sangat polos itu? Siapa yang telah meracuni otak Sean hingga bisa mengucapkan kata-kata jatuh cinta?
__ADS_1
"Ah... Tidak... Aku tidak jatuh cinta," jawab Rara dengan jujur.
"Kalau begitu mari kita berkumpul di sini," ajak Sean.
"Bukannya kita sudah berkumpul?" tanya Scarlett yang sedari tadi sibuk dengan coretannya.
"Ah... Kamu benar juga. Maksudnya ayo kita mengadakan pertemuan rahasia," celetuk Sean.
"Ada apa kak?" tanya Rara.
Sean melihat pengawalnya yang mengelilinginya hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar. Sean meminta mereka untuk pergi terlebih dahulu, "Bisakah kalian menjauh dari sini?"
Mereka menganggukan kepalanya sambil mundur lima langkah. Lalu Sean melihat mereka yang mundur menatap wajah ketiga adiknya itu, "Apakah kalian sudah siap dengan pertemuan rahasia kita ini?"
"Siap kak," balas mereka serempak.
"Kalau begitu baiklah. Kakek Lampard kan tidak memiliki nenek. Bagaimana kalau kita menjodohkan kakek Lampard dengan Kak Stella?" tanya Sean.
"Aku setuju kak. Aku rasa kak Stella pantas mendampingi kakek Lampard," jawab Scarlett.
"Bagaimana Ed?" tanya Sean.
"Aku sudah membicarakan ini sama opa Gio. Tetapi opa Gio tidak menanggapinya," jawab Edward dengan wajah kecewa.
"Opa Gio tidak akan mungkin membantu kita. Kamu tahukan kalau opa sangat sibuk sekali dengan pekerjaannya," ucap Sean yang menatap wajah Edward dengan kecewa.
"Lalu?" tanya Edward.
"Jika kita sudah fix seratus persen. Kita akan meminta kakek Gio membantu kita. Aku harap kakek Gio mau ikut dalam rencana ini," ujar Sean.
"Bagaimana caranya kita menjodohkan kakek Lampard?" tanya Scarlett.
"Ya kita ngomong saja sama kakek. Kalau tidak mau kita mogok makan. Istilahnya kita berdemo," jawab Sean yang dipenuhi otak brilian.
"Apakah kita akan melakukannya?" tanya Edward yang memutar bola matanya dengan malas.
"Tentu tidak," jawab Sean.
Sean mendekatkan wajahnya sambil berbicara bisik-bisik. Yang di mana pengawal itu tidak akan bisa mendengarnya. Setelah selesai mereka tersenyum mengembang. Mereka akan melakukan apa yang dikatakan oleh Sean.
Di dalam mansion, Stella dan Alexa bertemu dengan Raka. Raka ke sini ingin mengajak Rara bermain bersama Sean dan si kembar. Lalu Raka tidak sengaja melihat Stella dan bertanya, "Bagaimana dengan lukamu itu?"
__ADS_1