Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Aku Sudah Gila.


__ADS_3

Sejam berlalu. Semenjak kepergian Asmoro dari sana, Ian mendapatkan sebuah pesan. Pesan dimana dirinya terkejut. Yang di mana keterkejutannya membuat Ian segera menyusul Asmoro. Namun tanpa disadari olehnya, ada beberapa mobil hitam yang melintasi jalan. Mobil itu seperti mobil ambulance. Namun Ian lihat bukan seperti bukan. 


“Tumben biasanya enggak ada mobil yang berlalu lalang di sini? Dan kenapa mobil itu seperti mobil ambulance. Tapi kok bukan ya?” tanya Ian dalam hati.


Sangking penasaran dengan mobil itu, Ian melihat mobil yang berada di belakang. Ian tahu kalau mobil itu adalah milik Willy. Lalu Ian mengirim pesan ke Willi untuk menunggu Asmoro. Namun sebelum pesan itu terkirim, Asmoro datang dan melihat Ian.


“Ah... akhirnya aku mendapatkan benang sulam buat Stella,” celetuk Asmoro dengan tersenyum lebar.


Tak lama mobil itu datang lagi dan berjumlah banyak. Asmoro yang melihat itu langsung terkejut dengan apa yang dilihatnya. Ia mengerutkan keningnya ke arah kaca jendela. Lalu Asmoro berkata, “Tumben... ada iring-iringan mobil hitam.”


“Aku nggak tahu soal itu. Aku juga baru tahu soal itu,” sahut Ian.


“Lha? Aku kira kamu tahu?” tanya Asmoro yang bingung dengan Ian.


“Itu mobil iring-iringan mobil jenazah. Yang di mana jenazah itu adalah korban dari kelinci percobaan Exodus,” jawab Kuncoro yang hadir secara tiba-tiba.


Sontak saja mereka terkejut dengan kehadiran Kuncoro secara tiba-tiba. Mereka geram dan saling memandang. Lalu tidak sengaja kedua pria itu melihat Kuncoro dan memasang wajah datar.


“Dasar setan lu!” teriak Asmoro sambil melemparkan satu benang ke arah Kuncoro.


“Percuma saja kamu memukul dan melemparkan benang rajut. Ujung-ujungnya kamu tidak memegangku,” kek Kuncoro sambil tertawa terbahak-bahak.


“Dasar raja nggak ada akhlak,” maki Asmoro.


“Enggak usah kau maki aku. Aku tidak akan sakit hati sama makian kamu,” ejek Kuncoro lagi.


Asmoro mengusap wajahnya berulang kali. Lalu Asmoro menetralisir keadaan hatinya biar tidak takut. Lalu Asmoro menghadap ke arah Kuncoro sambil bertanya, “Kamu kok tahu kalau mereka adalah korban kelinci percobaan dari Exodus?”


“Ya tahulah,” jawab Kuncoro. “Seluruh keturunan dari kerajaan Deep sudah menulis garis takdirnya sendiri. Mereka juga sudah menegang alam seperti pembuatan obat-obatan terlarang dan menjadikan manusia dijadikan sebagai objek untuk kelinci percobaan.” 


“Apa!” pekik Ian.


“Ya... itu benar,” jawab Kuncoro. “Mereka sengaja menulis garis takdir itu dan harus dilaksanakan.”


“Cukup gila,” kesal Ian. “Aku ingin membuntutinya tadi.”


“Kamu nggak bisa membuntutinya dengan seenaknya. Jika kamu ketahuan membuntutinya, mereka akan mengincar mu dan membunuhmu.”


“Jadi selama ini nggak ada yang tahu apa-apa itu?” tanya Ian lagi.


“Ya... enggak tahu. Jika ada yang tahu mereka akan mengejarnya dan membunuhnya,” jawab Kuncoro sambil melipat kedua tangannya di dada.


“Aku harus ngapain?” tanya Asmoro.


“Kamu harus mencari keturunan dari si penyihir itu. Jika kamu bisa menemukan aku akan memberikan kalian senjata untuk membunuhnya,” jelas Kuncoro.


“Maksudnya apa?” tanya Asmoro yang tidak bisa di masuk akal.


“Lama-lama aku bisa gila jika aku bertemu dengan hak beginian,” kesal Ian yang tidak bisa mencerna apa yang telah terjadi saat ini.

__ADS_1


“Kamu gila?” tanya Asmoro sambil memandang wajah Ian.


“Iya bang... aku bisa gila karena ini,” jawab Ian. “Masalah ini sangat membuat aku jengah!”


“Aku juga. Semenjak minum air di sumur tua itu!” geram Asmoro.


“Kamu tidak bisa merubah takdir itu. Kamu harus menjalani takdir ini dengan serius. Jika kamu berusaha melepaskan takdir ini. Kamu tidak akan bisa. Kamu akan dipenuhi perasaan bersalah di relung hatimu. Mereka akan semakin menggila dan menjadikan seluruh manusia di muka bumi ini menjadi zombie. Jika itu terjadi, bumi ini akan musnah dengan cepat,” jelas Kuncoro.


“Siapa keturunan nenek sihir itu?” tanya Ian. 


“Dia adalah John Smith dan Liam Knock,” jawab Kuncoro. “Melalui dua orang itu nenek sihir bisa mengendalikan bumi ini.” 


“Terus aku nggak boleh mengejar mereka?” tanya Ian lagi.


“Jangan sekali-sekali kamu mengejar mereka. Kalian harus mencari sumur itu lalu menutupnya!” perintah Kuncoro.


“Kenapa harus ditutup? Bukankah kita bisa membakar sumur itu?” tanya Asmoro.


“Itu lebih baik. Kamu harus mencari sumur itu lalu membakarnya,” jawab Kuncoro.


“Bagaimana aku harus mencarinya?” tanya Asmoro. 


“Kamu harus pergi ke Jepang. Carilah sebuah hutan bernama Yawata no Yabushirazu. Hutan itu bisa ditempuh melalui jalan raya. Waktu yang dibutuhkan untuk ke sana hanya setengah jam saja,” jawab Kuncoro. “Tapi yang perlu kalian ingat.”


“Apa itu?” tanya Asmoro.


“Jika tidak tepat tanggal lima belas bagaimana?” tanya Ian.


“Nggak ada guna kamu. Malah capek-capek dan menghabiskan waktu,” jawab Kuncoro yang mendapat hembusan nafas berat dari Ian.


“Tambah parah kamu,” kesal Ian.


“Memang perjanjiannya seperti itu. Kamu harus mentaati peraturan itu. Jika ingin menghabisi mereka,” jawab Kuncoro.


“Ketimbang berdebat seperti itu. Lebih baik aku pulang untuk mencari keberadaan istriku,' kesal Asmoro. “Jalan!”


“Hehehe... mantan pacarmu masih hidup,” efek Kuncoro.


“Aku tahu itu” jawab Asmoro semakin kesal dengan Kuncoro.


“Mantan kamu itu ingin menguasai dunia. Dia berada di barisan John. Yang lebih cerdiknya lagi, mantan kamu ingin membunuh Liam Knock.”


Mata mereka membulat sempurna. Mereka terkejut dengan pernyataan Kuncoro. Bagaimana bisa mantan kekasih Asmoro ingin membunuh suaminya itu? Bahkan Asmoro sendiri pernah mendengar kalau sang mantan sangat mencintainya.


“Itu tidak mungkin,” ucap Asmoro.


“Itu mungkin,” jawab Kuncoro.


“Menurutku itu mungkin,” celetuk Ian yang membuat Asmoro terkejut.

__ADS_1


“Dari mana Bella berpikiran kalau Bella bisa menguasai dunia?” tanya Ian. “Jangan bilang kalau Bella itu adalah jelmaan dari penyihir itu.”


“Bukan,” jawab Kuncoro sambil mengedikkan bahunya.


“Lalu aku harus bagaimana?” tanya Ian.


“Jika John mati... Bella juga akan mati. Karena kekuatan sebenarnya berada di John semua. John itu kalah finansial. Jika John memiliki segalanya. Bella akan disingkirkan begitu saja,” jelas Kuncoro.


“Kamu ini membuat aku spot jantung saja,” kesal Asmoro.


“Nggak usah spot jantung seperti itu,” ledek Kuncoro.


“Bagaimana dengan Kurumi?” tanya Ian.


“Tenang saja. Kurumi akan kembali ke tangan Agatha dengan cepat. John tidak bisa membuat perusahaan itu menjadi besar. Setelah kepergian Agatha dari Kurumi, seluruh aset yang dimiliki Agatha sudah dibekukan. Lagian juga surat berada di tangan Agatha,” tambah Kuncoro.


“Jadi masalah ini sudah selesai?” tanya Asmoro.


“Belum sepenuhnya selesai. Masih ada Patty dan Tutik. Mereka akan melancarkan serangan demi serangan untuk mendapatkan keinginan dan ambisi mereka,” jawab Kuncoro.


“Apakah mereka akan tahu tentang tiga lembar itu?” tanya Ian.


“Cepat atau lambat pasti tahu. Tapi mereka nggak berhak untuk membunuh mereka. Dan kamu Asmoro? Jangan terlalu lambat untuk mengajari Stella. Atau apakah istriku yang akan mengajariku agar Stella bisa menjadi kuat?” 


“Istri? Memangnya kamu memiliki seorang istri?” tanya Ian yang penasaran siapa itu istri dari Kuncoro.


“Astaga! Bener-bener dah ini anak! Jika kamu bukan asisten dari Asmoro  sudah ku lempar kau ke daerah konflik di daerah Afrika sana.


“Ngapain aku ke sana?” tanya Ian sambil mengejek Kuncoro.


“Membantu perang,” gerutu Kuncoro yang masih bisa didengarkan oleh Ian.


Ian akhirnya tertawa terbahak-bahak mendengar Kuncoro yang mulai kesal karena ulahnya. Ian sungguh berani mengerjai Kuncoro dan meledeknya habis-habisan.


“Kamu salah mangsa,” seru Asmoro.


“Maksud kamu apa?” tanya Kuncoro.


“Dia adalah seorang ketua pasukan khusus ketika diperbantukan untuk perang. Strategi yang digunakan langsung membuat semua musuh lari tunggang langgang,” jawab Asmoro dengan jujur.


Kuncoro terkejut dan merutuki kesalahannya. Ia teringat dengan seorang panglima perang yang mumpuni. Ia menatap wajah Ian sambil memakinya, “Sialan kamu Asmoro! Kenapa kamu enggak cerita dari awal?”


Asmoro tertawa terbahak-bahak mendengar makian dari Kuncoro. Kemungkinan besar Kuncoro lupa dengan anggota perangnya yang mumpuni. Kemungkinan besar Ian adalah anggota perang yang mumpuni yang sedang dicarinya. 


Memang ketika terjadi pertempuran itu Kuncoro telah kehilangan banyak orang-orang penting yang mengabdi di sisinya. Mereka hilang begitu saja. Namun Kuncoro tidak menemukan orang-orang tersebut.


“Aku harus pulang ke tempatku,” pamit Kuncoro.


“Ngapain pulang?” tanya Ian.

__ADS_1


__ADS_2