
“Janganlah kamu berpura-pura bodoh!” ketus Lampard.
“Apa maksud Tuhan? Aku tidak mengerti kenapa Tuhan menyebutku pura-pura bodoh?” tanya Stella.
“Kamu ingin mencoba merayuku ya?” tanya Lampard dingin.
“Enak saja Tuan menuduhku merayu! Seumur-umur Aku tidak pernah merayu pria. Tuan tahu sendiri kan kalau aku Wanita biasa?” tanya Stella yang mulai emosi.
“Maksud kamu?” Tanya Lampard yang sedang membuka kancing kemejanya.
“Aku bukan perayu tuan! Asal Tuan tahu kalau aku adalah wanita baik-baik. Aku tidak menyangka kalau tuan memiliki pikiran pendek. Apakah tuan tidak bisa membedakan mana wanita baik serta wanita buruk?” kesel Stella.
“Di mataku wanita itu sama saja. Tidak ada yang baik dan sangat menyusahkan buatku. Kamu adalah salah satu contohnya buat aku,” ucap lempar sambil membuka kemejanya itu.
“Oh... Makasih tuan... aku telah menyusahkan anda. Seumur-umur saya tidak pernah atau ingin menyusahkan orang. Saya adalah wanita mandiri yang di mana dituntut untuk menghidupi diri sendiri tanpa bantuan orang lain. Jika anda Tuhan berkata seperti itu maka bumi dan langit tidak ada yang mau memberikan satu jodoh buat Anda. Jadi ingatlah kata-kata saya tuan,” ucap Stella yang tidak mau diinjak-injak harga dirinya.
“Kamu!” pekik Lampard. “Bisa-bisanya kamu berkata seperti itu! Aku juga berdoa buat kamu semoga jodohmu adalah kakek-kakek! Itu sumpahku malam ini buat kamu!”
“Oh... Terima kasih Tuan atas sumpahnya itu. Aku berharap bisa mendapatkan jodoh kakek-kakek. Kelak suatu hari nanti, kakek-kakek itu akan menjadi sugar daddy untukku. Ah iya tuan, semoga anda mendapatkan jodoh sugar baby yang bisa menghangatkan suasana malam anda,” ucap Stella sambil menantang Lampard.
“Kamu menantangku ya?” tanya Lampard dengan suara meninggi.
“Saya tidak menantang anda!” sungut salah yang tidak terima dengan tuduhan Lampard.
“Kamu sudah berani membohongiku ternyata! Kamu tadi mengatakan sesuatu dengan gaya menantangmu! Tapi kenapa kamu mengelak dan bersungut kepadaku! Jika aku tidak mempunyai kasihan kepadamu! Maka aku melepaskanmu!” geram Lampard yang tidak mau ditantang sambil melepaskan kaosnya yang masih menempel di tubuhnya.
“Dasar kakek tua! Jahat sekali sih jadi orang! Bisa nggak punya hati nurani sama orang sakit! Jika nggak sakit aku ingin menghajarnya!” geram Stella yang tidak sengaja menangkap Lampard bertelanjang dada. “Argh!!!!!”
Cepat-cepat menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia tidak sengaja melihat tubuh kekar milik Lampard. Pria berkulit putih itu pun langsung mendekatinya sambil tertawa mengejek, “wanita seperti kamu bukannya menyukai roti sobek seperti milikku!”
Memang usia Lampard sudah menua. Di usia kepala lima, Lampard sering sekali berolahraga dan membentuk tubuhnya menjadi atletis. Ia sengaja tidak membiarkan tubuhnya menjadi kendor sedikitpun.
Dengan jahilnya Lampard mulai naik ke atas ranjang. Lampard sengaja tubuhnya menyentuh Stella. Tak disengaja Stella yang sadar atas kejahilannya Lampard langsung mengambil bantal dan melemparkannya.
__ADS_1
“Jangan memperkosa aku!” teriak Stella dengan kencang.
“Siapa yang mau memperkosamu?” tanya lambat sambil membuka laci nakasnya itu.
“Tapi Kenapa Kakek di sini?” tanya Stella yang masih dalam posisi menutup wajahnya.
“Ternyata percaya dirimu tinggi sekali ya. Kamu tahu aku sedang mengambil sesuatu?” tanya lambat sambil meraih ponsel rahasianya.
“Cepatlah turun dariku! Aku nggak mau Kakek di sini,” kesal Stella.
“Baiklah kalau itu maumu. Kamu yakin akan begini terus? Apakah kamu nggak mau lihat tubuhku ini? Semuanya masih gratis!” Sindir Lampard.
“Cepatlah! Jangan di sini! Nanti kalau terjadi apa-apa denganku, Apakah kamu mau bertanggung jawab?” tanya Stella semakin geram.
“Sebentar,” balas Lampard yang sengaja memegang tangan Stella yang lembut itu.
“Jangan pegang tanganku! Aku nggak mau lihat kakek mesum di sini!” teriak Stella dengan kencang hingga suaranya terdengar di luar.
“Ada apa ya?” tanya Raka dalam hati sambil melangkahkan kakinya Ke ruangan yang pintunya masih terbuka sedikit.
Raka memutuskan untuk mengintip dan melihat Lampard sedang berada di atas Stella. Ia sangat kesal lalu masuk ke dalam. Dengan gaya ke bapaknya itu, Raka mendekati sang kakak.
“Apa yang kamu lakukan Kak?” tanya Raka yang melihat Stella ketakutan.
“Oh ini... Aku mengambil kedua ponselku yang di dua tempat berbeda,” jawab Lampard dengan jujur.
“Lalu, kenapa Stella sampai ketakutan seperti ini?” tanya Raka yang memasukkan kedua tangannya kantong celana.
“Jujur, aku nggak tahu,” jawab Lampard yang mulai mengejek Stella.
“Kak Raka! Tolong aku!” seru Stella sambil menatap wajah Raka.
“Ada apa?” tanya Raka.
__ADS_1
“Tolong jauhi kakek mesum ini dari aku!” kesal Stella.
“Maaf Stella Aku harus pergi,” pamit Raka yang tidak mau ikut-ikutan terseret masalah dengan Lampard.
“Dokter!” teriak Stella yang meminta pertolongan.
Setelah melihat Lampard sedang mengambil ponsel, Raka segera meninggalkan kamar itu. Ia tidak mau menolong Stella. Karena ruangan itu adalah area pribadi Lampard. Di dalam perjalanan menuju ke ruangan khusus Raka mulai tertawa terbahak-bahak. Pria yang berprofesi dokter itu sangat lucu sekali ketika melihat adegan itu. Memang Lampard adalah pria yang memiliki sejuta kejahilan.
Selesai mengambil ponsel, Lampard turun dari ranjang itu. Ia meraih kemejanya lalu memakai dengan cepat. Sedangkan matanya masih melihat Stella berada zona nyaman dengan posisi tersebut. Ia tidak menyangka kalau Stella itu bukanlah gadis nakal. Setelah memakai kemeja Lampard memanggil Stella, “Stella.”
“Ada apa kakek?” tanya Stella.
“Apakah kamu nggak capek seperti itu?” tanya Lampard.
“Aku nggak mau lihat... Karena kakak tidak memakai baju,” jawab Stella.
“Aku sudah memakai baju. Kamu tahu aku di sini mau tidur. Berhubung ada kamu, Aku akan tidur di tempat lain. Apakah kamu paham?” tanya Lampard. “Turunkan tanganmu itu dari wajahmu!”
Stella menurunkan tangannya dari wajahnya itu. Ia melihat sosok pria itu sambil menghela nafasnya. Dalam hati, Stella mengucap syukur agar dijauhi dari kakek mesum seperti Lampard.
“Apakah kamu sudah percaya dengan omonganku?” tanya Lampard.
“Ya aku percaya sekarang. Tapi jangan lakukan lagi,” jawab Stella yang membuang wajahnya ke sembarang arah.
“Kalau begitu aku pergi dulu!” pamit Lampard yang segera meninggalkan ruangan tersebut.
Dalam hati, Lampard bercorak kegirangan. Entah kenapa dirinya kepikiran untuk menggoda Stella. Secara tidak sadar, Lampard memuji kecantikan Stella. Hatinya tidak bisa menampik kalau Stella itu memiliki wajah teduh dan menyejukkan.
“Jujur aku akui kalau Stella itu gadis yang lembut. Sepertinya aku mulai tertarik pada Stella. Ternyata aku masih normal untuk menyukai seorang wanita,” ucapkan dalam hati.
Sesampainya di ruangan khusus itu, Lampard masuk ke dalam kemudian melihat Raka. Ia menghempaskan bokongnya di sofa single. Matanya menatap tajam ke arah Raka seolah meminta jawaban dari pertanyaannya tersebut. Akan tetapi Raka yang mendapat tatapan tajam itu hanya bisa terbengong. Saat terbengong Lampard memanggilnya, “Raka!”
__ADS_1