Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Beban Berat Stella.


__ADS_3

“Iya Nona itu benar. Mereka membawanya ke suatu tempat. Ketika kami mengikutinya beberapa orang dari mereka mencegah dan menghajar kami secara brutal. Kami tidak bisa mengimbanginya karena mereka terlalu kuat untuk kami,“ jelas pria itu.


“Bodoh kalian. Badan sekekar baja tapi tidak bisa mengalahkan musuh. Kalian adalah sampah buat aku!“ maki Patty dengan nada geram.


“Maafkan kami nona,“ balas pria itu dengan penuh penyesalan.


“Pergilah kau dari sini. Kalian tidak berguna sama sekali di mataku. Jika kamu berhasil menangkap Stella. Aku akan memberikanmu uang. Sekarang pergilah dari sini!“ usir Patty.


Pria itu segera pergi dari hadapan Patty. Pria itu hanya menghela nafasnya secara kasar. Jujur ia serba salah kepada sang nonanya itu.


Sementara Patty memegang pisau buah itu kembali. Tangan satunya lagi memegang foto Stella. Patty segera menusukkan pisau itu ke mata Stella. Setelah itu Patty meremas foto tersebut. Lalu memaki Stella dengan wajah bermuram durja, "Dasar gadis sialan! Gue nggak akan pernah ngelepasin elu begitu aja! Gara-gara elu gue nggak bisa jadi CEO Kurumi Company! Kalau lu masih hidup, jika kita bertemu gue akan menghabisi elu pakai tangan gue!


Dengan jengkelnya Patty membuang foto Stella ke tempat sampah. Ia belum puas sama sekali jika Stella belum mati. Ia akan memakai cara apapun untuk menghabisi Stella.


Sore yang cerah di kediaman Alexa. Lampard yang sedang bersantai menikmati kopi cappucino duduk di pinggir kolam. Tak lama Gio datang dan mendekatinya. Pria paruh baya itu menghembaskan bokongnya di samping Lampard. Mereka terdiam sejenak tanpa ada sepatah kata pun. Setelah itu Lampard langsung mengeluarkan suaranya agar tidak diejek oleh Gio. Karena tiba-tiba saja menjadi patung dadakan.


“Ada apa kak Gio?" tanya Lampard. "Sepertinya kakak memiliki masalah besar".


“kamu tahu apa masalah sebenarnya?“ tanya Gio balik.

__ADS_1


“Kamu itu aneh. Aku tanya malah balik nanya. Jika kamu bukan ketua mafia di atasku, akan aku lempar ke kawah Semeru sana,“ kesal Lampard.


“Begini nih... orang jarang healing dan selalu membuat masalah. Banyak masalah malah ngajak gelut. Kamu mau tahu nggak masalahnya apa sebenarnya?“ tanya Gio.


“Masalah dengan Black Horizon itu sudah biasa aku hadapi. Sekarang apa masalahnya?" tanya Lampard balik.


“Aku bersama Raka berencana memindahkan Stella ke markas. Jika terus-terusan di sana, cepat atau lambat rumah sakit akan diserang lagi. Sampai saat ini Stella masih belum sadar. Keadaannya sangat kritis. Mau nggak mau kamu harus setuju. Soalnya ini demi kepentingan bersama," jawab Gio.


“Kepentingan bersama maksudmu... Ya aku paham. Kenapa nggak di rumah Alexa saja?" tanya Lampard lagi.


“Aku nggak mau anak-anak Alexa murung. Mereka tidak akan ceria lagi seperti dulu kala. Kamu tahu kan Alexa seperti apa? Jika dia melihat orang terdekatnya yang sedang terkulai lemas dan berbaring di brangkar mereka akan bersedih berkepanjangan, "jelas Gio.


“Kita bisa bergandengan tangan bersama. Kita akan menjaga perusahaan dan keluarga bersama-sama. Kamu tahu resiko orang mempunyai nama besar. Banyak orang-orang yang tidak menyukai kita, mereka akan memiliki banyak cara akan menyingkirkan kita dari dunia bisnis. Kalau kita tidak pegangan tangan, kita akan hancur bersama-sama. Camkan kata-kata aku Lampard! Kita adalah satu saudara yang saling membutuhkan satu sama lain. Kamu jangan pernah menganggap Alexa putrimu. Anggaplah dia seorang wanita tangguh yang membantu menjaga keluarga kita. Jika kamu terus-terusan menganggap Alexa putrimu Kamu salah besar. Alexa akan menjaga anak-anaknya dengan cara dia sendiri. Apakah kamu paham soal itu?“ tanya Gio dengan nada menekan.


Lampard mulai mencoba mencerna apa kata-kata yang dilontarkan oleh Gio. Semakin hari nama mereka dikenal di dunia bisnis, maka nyawa dan keluarga kita. juga terancam. Di sini Gio menginginkan berjabat tangan untuk saling melindungi satu sama lain.


Masalah semakin runyam ditambah dengan Stella yang sedang dikejar-kejar oleh ketua mafia Exodus. Lampard sedang memikirkan, bagaimana cara agar Exodus mau menuruti peraturan yang dibuat oleh Black Horizon. Akan tetapi itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.


Begitu juga dengan Stella, Stella sedang berjuang dari kritisnya untuk hidup kembali. Meskipun sedang kritis tapi otaknya sedang bekerja. Di manapun Stella berada, dirinya selalu dalam bahaya. Ia sedang mengeluarkan air mata seakan ingin meminta bantuan kepada orang yang merawatnya.

__ADS_1


Raka bersama Ibra sedang menatap wajah sang pasien tersebut yang bersedih. Raka hanya bisa terdiam dan menatapnya secara berulang. Jujur gadis itu sedang menahan beban yang berat. Semakin hari dirinya seperti ada yang mengejarnya. Raka tidak habis pikir dengan sang pasien itu. Awal pertemuannya sudah memiliki masalah berat ditambah sekarang ini. Wajahnya sangat polos dan hatinya lembut bisa membuat orang terpanah. Diam-diam Raka mendoakan agar Sheila terlepas dari beban itu.


Lama terdiam Ibra menatap Raka yang sedang bersedih. Kemudian Ibra memutuskan untuk keluar dari kamar tersebut. Saat Ibra keluar, Raka mulai mengikutinya. Mereka kembali ke kantor Raka dengan penuh pertanyaan.


Sesampainya di sana mereka duduk di sofa. Lalu Ibra menyaldiki wajah Raka dan bertanya, "Ada apa kau? Jangan sampai kamu menyukai gadis itu. Bagaimana dengan istrimu di rumah bersama putrimu itu.“


“Jangan bahwa mereka! Rinda dan Rara adalah hidupku. Aku mengenal Stella dari Kak Lampard. Awal bertemu dia terkena tembak di area perut. Kami berdua bertanya kenapa kamu seperti ini? Sepertinya kamu ada masalah berat. Stella menjawab kalau dirinya dijual pacarnya ke ketua mafia Exodus. Jadi Jangan berpikiran aneh-aneh, “jawab Raka hingga membuat Ibra terkejut.


“Berarti Stella ada hubungannya dengan Exodus?“ tanya Ibra.


“Bukan hubungan tapi Stella akan dijual ke mafia Exodus. Pertama kali Stella dirawat di sini, rumah sakit diserang oleh pengawal Exodus. Aku masih menyelidikinya bersama Rinda tentang Exodus yang sudah berani menginjakkan kaki di negara ini. Sampai sekarang aku masih belum bisa menyimpulkan, apakah mereka datang atau diundang oleh seseorang?” ujar Raka.


“Kalau aku pikir mereka tidak akan pernah datang ke sini. Kalau datang ke sini maka mereka mencari kematiannya sendiri. Kamu tahu kan selama Black Horizon dan Blue Diamond bekerja sama dengan para mafia dan gangster di Asia, jika mereka ingin masuk ke kawasan Asia harus meminta izin terlebih dahulu. Aku yang sering berada di markas pusat Asia tidak pernah mendapat surat izin apapun dari Exodus," terang Ibra dengan serius.


Raka hampir melupakan surat perjanjian antara para mafia di Asia. Lalu Raka menyimpulkan bahwa Exodus itu ada yang mengundangnya. Jika ada yang mengundangnya Siapa orangnya?


“Sepertinya kamu harus mencari jawaban ke Kak Lampard dan Kak Gio. Kita tidak bisa mengira-ngira soal ini. Kita harus mencari titik terangnya dan mengeratkan jabat tangan untuk saling melindungi antara anggota dan keluarga," pesan Ibra.


 

__ADS_1


__ADS_2