Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Usil.


__ADS_3

"Nyonya enggak perlu ngikutin mereka. Kami sudah menurunkan mata-mata untuk mengikuti mereka," jawab pria itu.


"Suruh siapa?" tanya Alexa yang sebenarnya agak malas jika berhubungan dengan orang tidak dikenal.


"Nama saya Andi. Saya memang disuruh sama Tuan Asmoro untuk memantau mereka," jawab Andi yang memperkenalkan dirinya.


"Oh... baiklah. Kita bertukar nomor telepon. Aku ingin meminta laporan tentang mereka," pinta Alexa.


"Baiklah nyonya," ucap pria itu yang mengeluarkan nomor ponselnya.


Mereka akhirnya bertukar nomor telepon. Setelah itu Alexa berpesan agar Andi memberikan laporan itu kepada dirinya. Ia akan mendiskusikan dengan papa angkatnya tersebut.Jika hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.


"Ayo kita pergi!" ajak Alexa.


"Kakak enggak mengejar mereka?" tanya Hatori.


"Kakak enggak mengejar mereka. Biarkan saja. Orang yang tadi adalah suruhan dari Papa Asmoro. Jadinya aku aman untuk mendapatkan informasi. Setelah itu kamu akan aku berikan informasi tentang mereka," jawab Alexa yang berjalan kembali ke restorannya.


Hatori memutuskan untuk tidak bertanya lagi. Ia mengekori Alexa untuk kembali ke restoran tersebut.


Untung saja di sana Martin dan Roth sudah berada di tempat. Mereka sengaja kesana demi membantu Alexa. Ketika bekerja disana, mereka mendapatkan info kalau resto milik Alexa sedang rame. Lalu mereka memutuskan untuk kesini.


"Tuan Yamato," pekik Martin dan Roth secara bersamaan.


Jujur mereka sangat terkejut apa yang dilihatnya. Apalagi Martin, ia seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Namun Yamato memintanya untuk tidak berkata jujur akan identitasnya. Yamato meminta untuk merahasiakan siapa dirinya ketika di dunia gangster.


Beberapa saat kemudian Hatori dan Alexa sudah datang. Mereka melihat Martin lalu Hatori meminta maaf kepadanya. Ia sendiri tidak berniat untuk membuat kekacauan.


Lalu Alexa meminta Hatori menutup mulutnya. Agar ia sendiri kan menjelaskan apa yang telah terjadi untuk saat ini.


Akhirnya mereka memutuskan untuk berpamitan meninggalkan Alexa. Namun ketika ingin pergi dari sana, Scarlett berteriak sambil memanggil Hatori.


"Paman," teriak Scarlett.


"Ada apa?" tanya Hatori sambil tersenyum manis dan mendekati Scarlett.

__ADS_1


"Paman jangan lupa kesini ya. Atau enggak sering-sering ke mansion mama. Karena aku sendiri tidak mau membawa rindu ini. Karena rindu ini sangat berat bagiku. Sehari tidak bertemu dengan paman, rasanya seminggu. Seminggu tidak bertemu rasanya sebulan. Sebulan tidak bertemu rasanya setahun. Setahun tidak bertemu rasanya seabad," jelas Scarlett yang menjelaskan apa yang dimaksud dengan rindu itu berat.


Roth dan Martin hanya bisa terdiam. Mereka mulai berpikir dengan penjelasan Scarlett tentang rindu. Dari mana Scarlett bisa mendapatkan kata-kata seperti itu? Akhirnya Martin menatap Roth sambil meminta penjelasan.


Melihat Martin yang ditatap seperti itu, Roth hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah. Ia tidak menyangka kalau dirinya akan mendapatkan hukuman. Ia sadar kalau dirinya memang mendapatkan kata-kata itu dari pengawalnya. Lalu ia mengajarkan kata-kata tersebut ke Scarlett.


Lalu bagaimana deengan Hatori?Tentu saja Hatori sangat terkejut dengan apa yang didengarkan itu. Karena ia sendiri tida pernah menyangka kalau anak sekecil itu sudah berbicara apa artinya rindu.


Hatori langsung mengusap rambut Scarlett karena gemas sekali. Ia ingin sekali membawa pulang gadis kecil itu dan ingin menjaganya sampai dewasa.


"Ya sudah kalau begitu. Paman akan pulang terlebih dahulu. Jangan nakal ya... nanti biar mama tidak marah sama kamu," pamit Hatori sambil memberikan sebuah pesan itu agar tidak nakal di mansion.


"Terima kasih paman. Aku tidak akan nakal lagi setelah ini," sahut Scarlett saat tersenyum manis dan melihat sang papanya sudah berubah menjadi mode horor.


"Baiklah," balas Hatori sambil melambaikan tangannya lalu pergi meninggalkan Scarlett.


Scarlett yang melihat kepergian Hatori seakan tidak rela jika harus berpisah ama paman barunya itu. Bahkan ia ingin ikut bersaman.Ketika ia sadar kalau sang papa sudah dalam keadaan mode horor, Scarlett akhirnya mengurungkan niatnya untuk tidak membicarakan masalah ini lebih lanjut.


"Sepertinya papa sangat marah ketika aku membicarakan masalah rindu itu sangat berat sekali," ucap Scarlett yang menatap wajah Roth.


"Tapi paman yang mengajarkan aku berbicara seperti itu," jelas Scarlett yang sengaja membuka aib Roth di hadapan Martin.


"Oh... jadi kamu yang mengajarkan putriku tentang rindu ini ya?" tanya Martin.


"Maaf, aku tidak ikut-ikutan soal itu. Aku harus pergi ke toilet," pamit Roth agar tidak mendapatkan sasaran dari Martin.


Mau tidak mau Martin melepaskan sementara Roth. Ia tidak ingin membahas masalah ini disini. Dengan terpaksa Martin memutuskan untuk tidak membantu Alexa dan menghandle semua pekerjaan.


Di dalam perjalanan, Hatori membaca semua email masuk ke dalam inbox nya. Ia membaca satu persatu dan menatap kembali Agatha sedang duduk di hadapannya.


"Pa," panggil Hatori.


"Ada apa? Apakah kamu ingin membahas soal itu?" tanya Agatha.


"Iya pa," jawab Hatori.

__ADS_1


"Sebaiknya kita tidak akan membahas semua ini di dalam mobil. Jika sudah sampai kita akan membahas semua di dalam rumah atau ruangan kerja," pinta Agatha.


Terpaksa Hatori mengalah dan tidak akan membahas masalah tadi di dalam mobil. Bagi Agatha semua ini tidak akan nyaman jika masalah ini di perjalanan rumah.


Manchester Inggris.


Stella yang baru saja terbangun dari tidur siangnya menerima pesan dari Alexa. ia membuka pesan itu dan membacanya.


Ketika membacanya, Asmoro datang dengan membawa ponselnya. Pria paruh baya itu menghempaskan bokongnya di samping Stella. Ia lalu memegang tangan Stella sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Stella," panggil Asmoro dengan nada rendahnya.


"Iya kak," sahut Stella.


"Apakah kamu sudah mendapatkan pesan dari Alexa?" tanya Asmoro.


"Sudah kak," jawab Stella sambil melihat video tersebut.


"Papa mamamu sudah bertemu dengan Tutik," jelas Asmoro.


"Aku sedang melihatnya. Papa membeberkan sebua fakta sesungguhnya," ungkap Stella yang tersenyum bahagia sambil bersorak kegirangan. "Aku ingin tahu bagaimana reaksi wajah mereka, jika tahu kalau mereka masih hidup."


"Mereka sangat terkejut mendengarnya. Kemarilah mendekat denganku," ajak Asmoro yang tidak ingin Stella menjauh darinya.


"Memangnya kenapa aku harus mendekat dengan kakak?" tanya Stella.


"Aku akan memperlihatkan semuanya. Aku ingin kamu melihat wajah mereka sebenarnya," jelas Asmoro.


Dengan senyum jahilnya, Stella akhirnya mendekat kepada Asmoro. Tangannya mulai meraba pah*nya Asmoro dengan sangat pelan.


"Lihatlah dengan seksama. Wajah mereka sangta pucat sekali. Bahkan mereka juga tidak bisa mengelak apa yang telah terjadi di masa lalunya," jelas Asmoro yang tidak sengaja melihat tangan Stella yang jahil.


"Mereka sangat ketakutan sekali karena kejahatan terbongkar dengan mudah. Banyak sekali yang membicarakan semuanya," jelas Stella yang tidak henti-hentinya mengusap pah*nya Asmoro.


"Kenapa dengan tangan kamu itu?" tanya Asmoro yang menelan salivanya dengan susah payah.

__ADS_1


__ADS_2