Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Fitnah.


__ADS_3

"Itu loh Pa... Masa aku dituduh melemparkan anaknya Tutik ke pria hidung belang. Lalu gelasnya aku campur sama obat perangsang," kesal Stella.


"Masa iya?" tanya Agatha. "Kenapa kamu tidak memberikan anaknya itu pakai sianida sekalian?"


"Idih... Ternyata Papa sadis sekali," ejek Stella hingga membuat Adelia tertawa.


"Andaikan kamu tahu, kalau Papa adalah seorang pria paling kotor dan hina di dunia ini. Apakah kamu masih mau mengakuiku sebagai papamu? Karena aku sendiri adalah ketua mafia Yakuza clan Kanagawa. Aku harap kalian tidak membenciku," batin Agatha.


"Itu belum sadis. Kamu tahu mereka telah sadis kepadamu. Kenapa kamu tidak ingin membalasnya?" tanya Agatha balik.


"Jujur kekuatan mereka itu sangat besar sekali. Aku tidak bisa melawannya. Bahkan menghancurkannya juga nggak bisa. Semakin hari mereka mentang-mentang hidup di atas kekuasaan Kurumi. Padahal Kurumi itu milik papa sendiri. Aku nggak tahu apalagi sama itu orang pa," Stslla menjelaskan kalau keluarga Tuti itu sangat mentang-mentang sekali terhadap dirinya.


"Ya itulah... Andaikan bapa tidak menolongnya dahulu. Kemungkinan besar kita tidak akan menjadi seperti ini. Bersabarlah sayang... Kita akan keluar dari masalah ini. Papa sudah muak dengan mereka. Makanya Papa masih memilih diam. Jika mereka sudah di atas ambang, papa akan menghancurkan mereka," hibur Agatha untuk kedua anaknya itu.


Tidak sengaja Anita mendengar apa yang dikatakan oleh Agatha. Hatinya terenyuh dan merasakan Agatha juga hancur karena mereka. Jujur saat itu Anita merasa kasihan kepada adik kandungnya itu. mereka bersepakat untuk menolongnya dan membantu perekonomian hingga sukses. Siapa sangka mereka melakukan hal yang keji terhadap keluarganya itu. Tutik sengaja diam-diam untuk merebut Kurumi dari tangan Agatha. Bahkan Tutik sendiri telah merencanakan untuk menghancurkan keluarga kecil sang kakak.


Setelah Anita tahu kenapa Agatha seperti itu, Anita pergi ke kamar dan menangis. Hancur sudah hatinya Anita melihat sang suami yang menderita. Bukan sang suaminya saja yang menderita, melainkan ketiga anaknya juga ikut menderita. Jika saja tidak ada kejadian itu, kemungkinan besar sampai detik ini mereka akan hidup bahagia.


"Ya sudah kalau begitu... Jangan ngambek lagi. Biarkanlah mereka tertawa terbahak-bahak sepuasnya di atas penderitaan orang. Nanti juga dia akan kebalik. Kalau masyarakat tahu siapa mereka sebenarnya? Habislah mereka. Mereka akan kena hujat habis-habisan," ucap Agatha.


"Papa," panggil Adelia.


"Iya Adel," sahut Agatha.


"Perasaan dari tadi kita ngobrol dari a sampai z kok ada yang kurang ya?" tanya Adelia.

__ADS_1


"Maksud kamu apa?" tanya Agatha.


"Di mana Mama berada?" tanya Adelia.


"Kamu tahu nggak cerita sesungguhnya di sini? Ini bahkan lebih parah dari film drakor," jawab Agatha sambil meluapkan kekesalannya.


"Memangnya ada apa?" tanya Adelia yang masih bingung dengan Agatha.


"Mamamu tidak mengenali papa. Katanya mama, dulu aku punya suami tidak setampan ini?" Jawab Agatha dengan jujur.


Saat mendengar jawaban Agatha, kedua Kakak adik itu pun tertawa terbahak-bahak. Bagaimana bisa sang Mama tidak mengenali suaminya itu? Apalagi Agatha sangat tampan sekali mirip sama pemain drakor. Ini tidak mungkin.


"Jujur, Papa sangat tampan sekali. Mungkin saat itu Mama melihat papa tidak tampan. Jadinya saat Papa kembali semuanya sudah berubah. Begitu juga dengan Mama. Mama sekarang semakin cantik. Tapi sayangnya mama dikejar-kejar oleh pria hidung belang. Untuk dijadikan istri kesekian. Makanya Mama sekarang trauma sekali jika melihat pria-pria seperti itu termasuk papa," jelas Adelia yang memuji kedua orang tuanya itu.


"Nasib jadi orang ganteng gini ya," ujar Agatha.


"Kamu saja gih yang telepon ke ponselnya itu. Papa takut disemprot," sahut Agatha yang tidak ingin memperkeruh masalah.


"Kalau gitu baiklah. Nanti aku hubungi Mama," balas Adelia.


"Kalau gitu Papa ingin makan dulu ya," pamit Agatha.


"Siap," seru mereka serempak.


Sambungan terputus.

__ADS_1


Begitulah kisah Agatha di Surabaya. Gara-gara memiliki wajah tampan, sang istri tidak mengenalinya. Bagaimana kisah Agatha jika dibuat filmnya ya? Pasti semua orang melihatnya gregetan terutama pada Anita. Itulah nasib apes Agatha.


Alexa yang berada di kamar anak-anaknya sedang duduk manis. Wanita bertubuh mungil itu melihat sebuah pesan dari Lampard. Diam-diam Alexa berdoa agar misi sang papa angkatnya berhasil. Entah kenapa akhir-akhir ini jiwanya tidak bisa tenang.


Semakin hari Exodus selalu membuat masalah. Jujur dirinya tidak mau untuk menghancurkan markas Exodus di Meksiko. Akan tetapi dirinya harus berbuat sesuatu. Karena Alexa takut jika anak-anaknya sedang diincar oleh mereka.


"Kakak," panggil Stella.


"Ada apa?" tanya Alexa.


"Bisakah aku pergi ke Surabaya untuk bertemu mama?" Tanya Stella dengan wajah sendu.


"Aku bisa saja meminjamkan kalian pesawat pribadiku. Tapi keselamatan kalian yang paling utama. Cepat atau lambat keluarga Tuti akan mencarimu. Jangankan kamu Adelia juga sama. Jujur aku tidak bisa menolongmu kali ini," jawab Alexa dengan jujur.


Ada rasa bersalah di hati Alexa. Alexa bisa merasakan kegundahan saudara kembar itu. Terutama pada Hatori dan Stella. Semenjak lahir mereka belum melihat siapa ibunya sebenarnya? Bagaimana bentuk wajah sang ibu dan merasakan kasih sayangnya? Mau tidak mau Alexa harus membicarakan ini dengan Martin. Kemungkinan besar Martin bisa menolong mereka hanya untuk bertemu sang ibu. Atau juga sebaliknya, biarkanlah Agatha membawa Anita Ke sini untuk bertemu dengan ketiga anaknya. Alexa menunggu momen itu dan merasakan kebahagiaan mereka.


"Maafkan Aku," ucap Alexa.


"Aku tahu Kak. Di luar sana para pencari berita sedang mencariku untuk konfirmasi. Tapi aku tidak pernah melakukannya. Jika melakukannya berarti aku menjadi anak nakal sejak dulu. Tapi itu tidak mungkin terjadi. Lha wong saya ini hidupnya sering diinjak-injak mereka. Bergaul dengan mereka pun percuma. Apalagi aku dituduh memberikan obat perangsang di gelas gadis itu. Sungguh malang nasibku ini," Stella menghela nafasnya sambil melihat wajah Alexa.


"Itu namanya playing victim. Kita tidak melakukannya malah yang tersangka menuduh. Dan itu banyak terjadi di mana-mana. Kamu harus sabar untuk menghadapi mereka," ucap Alexa. "Sebentar lagi kamu harus belajar tentang segala hal. Mulai dari yang kecil maupun besar. Mau tidak mau kamu harus terlibat. Begitu juga dengan Adelia dan Hatori. Mereka juga akan terlibat dalam masalah ini. Aku sebagai kakakmu bersama lainnya akan mengajarimu untuk menjadi wanita tangguh."


Jujur saja Stella tersenyum manis. Bagaimana tidak Alexa sang kakak angkatnya akan membantunya bangkit. Di sisi lain dirinya juga ingin membalaskan dendam kepada keluarga Tutik. Begitu juga dengan lainnya, Adelia dan Hatori juga ikut melawan mereka.


"Bagaimana dengan papa?" tanya Stella.

__ADS_1


"Papamu pasti setuju dengan ini semuanya. Kamu tidak perlu takut lagi untuk menghadapi mereka. Kamu harus semangat dan jangan kendor," balas Alexa. "Apakah kamu siap?"


__ADS_2