
“Ya... itu benar. Aku tidak akan membiarkan Nathalie mati konyol,” jawab Nano. “Semakin hari semakin lama Exodus semakin berulah. Aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi jika para mafia sudah saling bergesekan.”
“Kalau begitu kita harus melakukan sesuatu,” ucap Lampard.
“Sesuatu bagaimana? Kamu tahukan kalau BLak Horizon sengaja aku tidurkan hingga jangka waktu yang belum aku tentukan?” tanya Gio yang membuat Lampard terkejut.
“Apa-apaan kamu?” tanya Lampard dengan kesal.
“Ya... aku memang sengaja membuat Black Horizon cabang Eropa tertidur. Aku senang aja mempersilahkan Red Imortal berkibar untuk melebarkan sayapnya. Selain itu aku sudah membuat perjanjian sama Nano kalau Red Immortal membantu melindungi Taurus Corps daerah Eropa,” jelas Gio.
“Terserah apa katamu. Yang penting kamu tidak membuat masalah hingga terjadi peperangan antar ketua mafia. Aku sudah bosan Black Horizon sering dijadikan sebagai kambing hitam,” ujar Lampard dengan serius.
Gio yang sedang duduk santai ini hanya bisa menganga. Apa benar apa yang dikatakan oleh Lampard itu sebuah fakta? Sementara itu yang mengambil minuman di rak hanya bisa menggelengkan kepalanya. Bagaimana tidak sang adik tidak mengetahui kalau Black Horizon sering terkena fitnah? Bahkan ketika Black Horizon mati suri sekalipun.
“Apa kamu tidak percaya apa yang dikatakan dengan Lampard?” tanya Nano.
“Mana ada Black Horizon terkena fitnah?” tanya Gio.
“Kudet banget ya kamu,” kesal Nano yang membawa minuman kaleng menuju ke sofa lalu menghempaskan bokongnya di sofa.
“Bukannya aku kurang update bro. Kamu tahukan akhir-akhir ini aku banyak sekali pertemuan antar perusahaan? Beberapa investor asing ingin sekali menanamkan modalnya dan memintaku untuk membuka cabang di negara Amerika. Aku belum bisa untuk mengecek keadaan basah tanah,” jelas Gio.
Yang dikatakan Gio memang benar apa adanya. Akhir-akhir ini Gio sangat sibuk dengan perusahaan. Lalu bagaimana dengan Lampard? Lampard selalu memantau perkembangan antar mafia negara Eropa dan Amerika. Ia tahu sendiri kalau Black Horizon sering terkena fitnah.
“Lampard,” tanya Gio yang mulai memandang wajah Lampard.
“Iya kak,” sahut Lampard yang menaruh ponselnya di meja.
“Apakah kamu tahu soal itu?” tanya Gio.
__ADS_1
“Iya aku tahu soal itu. Banyak yang mengira kalau kakak yang membuat masalah,” jawab Lampard.
“Apakah kamu percaya soal itu?’ tanya Gio.
“Tidak terlalu. Aku baru menyelidikinya beberapa malam terakhir,” jawab Lampard.
“Kalau begitu, siapa yang melakukannya?” tanya Gio.
“Yang pastinya bukan Exsodus. Mereka sengaja memancing kamu keluar untuk melakukan sesuatu untuk mengusir Exodus,” jawab Lampard,
“Apakah itu benar?” tanya Gio yang memegang wajahnya malas.
“Iya... iya yang dikatakan oleh Lampard benar apa adanya. Mereka menginginkan kamu keluar dari sarangnya bersama Alexa untuk meminta bantuan,” jawab Nano.
“Bukan meminta keluar sarang. Mereka ingin Black Horizon bangkit lagi dari kematian. Cepat atau lambat Exodus semakin kurang ajar,” tambah Ian sambil menyodorkan ponselnya ke arah Gio.
Gio segera mengambil ponsel milik Ian sambil membaca satu pesan dari seseorang. Matanya membulat sempurna ketika ada peringatan dari seseorang tentang Exodus.
“Seseorang yang bernama Miyako dari klan Yakuzha memperingatkan kalau Exodus sudah mulai menguasai sebagian Asia. Aku tidak habis pikir, kenapa ini langsung menyebar dengan cepat?” tanya Ian.
Mereka terdiam sejenak untuk memandang wajah Ian. Mereka tidak menyangka dalam jangka beberapa bulan sudah mulai menguasai sebagian Asia. Lalu mereka saling memandang sambil memberikan pertanyaan di dalam hati. Pertanyaan yang masih tersimpan dalam hati adalah kalimat sama. Bahkan mereka mengedikkan bahunya secara bersamaan.
“Lalu, bagaimana dengan Red Immortal?” tanya Lampard.
“Sudah aku bilangin kalau Red Immortal masih dalam mode diam yang masih terkendali. Biarkan mereka membuat ulah terlebih dahulu sama mafia lainnya. Jika mereka sudah menyenggol Red Immortal aku akan membantainya dengan tangan sendiri,” jawab Nano dengan serius.
“Tapi kakak tahu kalau Exodus pernah membakar markas Red Immortal?” tanya Lampard dengan serius.
“Ya itu benar. Kebetulan ada Alexa dan Martin yang sedang berkunjung ke markas. Tapi untunglah mereka tidak membawa anak-anak ke sana. Alexa dan Martin langsung menolong pemadaman kebakaran tersebut,” jawab Nano.
__ADS_1
“Kalau begitu ap[a yang akan kita lakukan? Jika Exodus berbuat anarki seperti itu. Semakin lama kalau kita biarkan akan menjadi,” ucap Ian.
“Apakah kita akan membalas dendam ke mereka?” tanya Lampard yang memiliki rencana yang unik.
“Jangan bilang kamu akan bekerja sama dengan pihak interpol untuk menghancurkan markas besarnya?” tanya Gio yang mulai menatap tajam ke arah Gio.
“Bisa jadi, Aku akan meminta Alexa untuk membantuku memanggil Derek untuk berkoloborasi membuat bom yang dahsyat untuk menghancurkan markasnya,” jawab Lampard yang membuat Gio kesal.
“Memangnya aku salah dengan rencanaku?” tanya Lampard.
“Tidak. Kamu tidak salah lagi sang pembuat masalah dan keonaran di tubuh Black Horizon,” kesal Gio yang mengetahui dampak apa yang terjadi masa depan di dunia mafia.
“Sialan lu!” bentak Lampard dengan kesal.
“Bukan begitu. Jika kakak gegabah sedikit saja maka dunia mafia akan bergesekan satu sama lain. Mereka tidak segan-segan mengumpulkan seluruh kartel obat-obatan terlarang untuk bekerja sama menghancurkan seluruh organisasi bawah tanah. Lalu mereka akan mencuci tangannya agar lolos dari interpol. Kalau saranku sekarang diam saja, Kakak tahukan kita memiliki jurus diam tapi mematikan,” jelas Ian yang sedari tadi diam tapi menyimak pembicaraan mereka.
“Yang dikatakan Ian benar apa adanya. Jika kita terlalu gegabah akan berdampak buruk bagi mereka. Sang ketua akan mulai memanipulasi keadaan ditambah lagi pindah memutar balikkan fakta dan data yang mereka punya,” tambah Nano.
Terpaksa Lampard harus terdiam dulu. Namun hatinya memulai ada amarah yang sedang berkobar. Sedangkan yang lainnya juga begitu. Mereka paham dengan keadaan yang ada. Di sisi lain mereka harus memperhatikan gerak gerik Lampard yang tidak sabaran. Dalam diam merdeka akan membuat pertemuan rahasia.
Di rumah kontrakan Hatori yang selesai makan memutuskan untuk pergi ke depan. Hatori melihat Bu Gita yang masih menjahit baju pesanan tetangga. Ia segera mengambil baju yang selesai dijahit untuk melakukan pengecekan terakhir. Saat mengambil gunting, entah kenapa dirinya melihat seorang gadis terbaring di brankar kamar mewah. Ia menunduk lesu dan tidak bersemangat sama sekali.
Beberapa saat kemudian Bu Gita mengangkat wajahnya sambil tersenyum dengan lembut. Ia tidak sengaja melihat wajah Hatori tertunduk lesu. Ia memutuskan untuk menghentikan pekerjaannya sebentar sambil bertanya, “Ada apa?”
Hatori pun mulai tersenyum dengan penuh kesedihan. Entah kenapa malam ini Hatori sangat sedih sekali. Namun jantungnya berdenyut hebat. Tubuhnya kembali melemas dan memutuskan untuk duduk kembali.
“Ada apa kamu bersedih?” tanya Bu Gita dengan lembut.
“Enggak tahu Bu. Aku bingung dengan apa yang terjadi hari ini,” jawab Hatori.
__ADS_1
“Memangnya papa kamu enggak telepon?’ tanya Bu Gita.